
Glukk...
Susah payah Selena menelan salivanya saat melihat bagaimana panas dan coolnya Lucas dalam balutan pakaian pilihan Serra. Dia merasakan area bagian bawahnya terus berkedut hingga nyaris terasa nyeri.
Melihat dada dan lengan terbuka Lucas membuat sekujur tubuhnya panas dingin. Ingin rasanya Selena menyentuh dan bermanja diatas pangkuan Lucas. Tapi ada dinding tinggi yang menghalanginya, yakni Serra. Dia adalah dinding yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Lucas.
Serra menyeringai sinis melihat Selena yang seperti seekor cacing kepanasan. Serra memang sengaja melakukannya, dia ingin memberikan pelajaran pada bibit pelakor itu supaya tidak main-main dengannya. Dan membuatnya tersiksa adalah tujuan Serra.
"Selena, kenapa kau berkeringat banyak sekali? Apa cuaca pagi ini sepanas itu? Perasaan suhu di dalam ruangan ini biasa-biasa saja." Serra menatap Selena dengan seringai meremehkan.
Sontak Selena mengangkat wajahnya dan menatap Serra tak bersahabat. "Apa maksudmu?!" Dia berkata sinis dan tidak sopan. Padahal yang ada dihadapannya adalah Nyonya rumah dan istri dari majikannya.
"Jaga bicaramu saat bicara dengan, Serra. Hormati dia karena Serra nyonya di rumah ini!!" Sahut Lucas menimpali. Dia memberikan pembelaan pada istrinya.
"Tuan, kenapa Anda malah membelanya? Jelas dia yang memancing emosi saya lebih dulu." Selena tidak terima.
"Karena aku ada istrinya!!" Sahut Serra menimpali. "Daripada kau sibuk melayangkan protes pada suamiku. Sebaiknya siapkan jus untukku. Aku haus dan ingin minum jus segar."
Selena tak lantas menuruti permintaan Serra. Dia hanya menatapnya dengan dingin dan tajam. Lucas pun segera mengambil tindakan tegas. "Kau tuli ya? Apa kau tidak mendengar apa yang Serra perintahkan?!"
Wanita itu mengepalkan tangannya. Dengan kesal Selena menatap Serra yang menyeringai tajam padanya. Wanita itu menatap Selena dengan senyum penuh kemenangan.
"Baik, Tuan."
Selena meninggalkan meja makan dan pergi ke dapur untuk membuat jus segar permintaan Serra. Bukannya buah yang ia ambil dari dalam lemari pendingin, melainkan satu plastik cabai merah yang dia ambil. Selena berencana memberi Serra jus cabai.
5 menit kemudian Selena kembali sambil membawa jus segar yang Serra minta. "Ini jus yang kau minta," ucap Selena sambil meletakkan jus itu di depan Serra.
Serra urung untuk meminum jus tersebut saat mencium aromanya yang begitu menyengat. Dengan tajam dia menatap Selena yang berdiri di samping meja.
"Kau saja yang meminumnya, karena aku tidak jadi haus. Dan habiskan tanpa sisa," perintah Serra menuntut.
Selena menggeleng. "Aku alergi dengan minuman dingin, jadi tidak bisa meminumnya." Jawabnya menimpali.
__ADS_1
"Alergi minuman dingin atau karena kau tahu ini adalah jus cabe merah? Kau pikir bisa mengelabuhi dan membohongiku dengan mencampurkan pisang untuk menetralkan aromanya? Aromanya terlalu menyengat, bahkan orang buta sekalipun tahu jika ini adalah jus cabai!!" ujar Serra dengan tatapannya yang dingin dan tajam.
Mendengar apa yang Serra katakan membuat Lucas penasaran. Lucas mengambil gelas Jus itu lalu mencium aromanya, Serra tidak berbohong, itu benar-benar jus cabai.
Byurrr...
"Aaahhh!! Mataku, mataku!!" teriak Selena sambil memegangi matanya yang kemasukan jus cabai yang di lemparkan oleh Lucas kearahnya.
Lucas sangat marah, menurutnya Selena benar-benar sudah keterlaluan. "Seret dia, siapkan 50 kg jus cabai dan paksa dia untuk meminumnya sampai habis!!"
"Baik, Tuan!!"
Selena menggeleng. "Tidak, aku mohon jangan lakukan itu. Aku tidak mau!! Aku tidak bersalah, Lucas kau tidak boleh melakukan ini padaku. Lucas... Lucas..!! Aaaahhahaa... pedih, mataku benar-benar pedih."
Serra menggulirkan pandangannya pada Lucas, dia menatap pria itu tak percaya.
"Lu, apakah yang kau lakukan ini tidak keterlaluan?! Dia hanya memberiku satu gelas jus cabai, tapi kenapa kau membalasnya dengan 50 kg jus cabai?! Bahkan kau sampai menyiramkan jus itu ke wajahnya. Bagaimana jika dia sampai buta?!"
Lucas mengangkat bahunya dengan acuh."Aku tidak peduli. Dia buta atau tidak itu tidak ada urusannya denganku!! Sudah Jangan pikirkan wanita itu lagi, cepat makan Sarapanmu sebelum dingin." Pinta Lucas.
Serra tidak tahu bagaimana nasib Selena selanjutnya. Dia memang ingin wanita itu mendapatkan pelajaran, tapi tidak dengan cara seperti ini. Menurutnya cara Lucas sangatlah kejamdan tidak manusiawi sama sekali.
Jujur saja, Serra masih belum mengenal dengan baik seperti apa sebenarnya pria yang dia nikahi ini. Iblis atau Malaikat?
-
-
Pesawat yang ditumpangi oleh ketiga pria itu baru saja mendarat di bandara internasional, di kota Seoul. Jantung pria itu berdebar dua kali lebih cepat dari sebelumnya melihat sebuah sedan hitam menjemputnya diluar bandara, dia mengenal betul logo yang terdapat pada mobil tersebut.
Lalu pandangannya bergulir pada dua berjalan disampingnya, dalam hatinya Ia terus bertanya-tanya siapa mereka sebenarnya.
"Siapa sebenarnya kalian berdua ini?" tanya Bryan memastikan.
__ADS_1
Keduanya lantas menoleh. "Kenapa kau begitu tegang dan ketakutan? Dan siapapun kami, itu sama sekali tidak penting bagimu!!" jawab si Pemuda berkulit Tan yang berjalan di sisi kanan Bryan.
"Kenapa kau hanya berdiri saja, masuklah jangan sampai dia menunggu kita terlalu lama," ucap si jangkung.
Bryan tak bergeming sama sekali, iya masih berdiri ditempat yang sama, meskipun orang yang menjemputnya memintanya untuk masuk ke dalam mobil. Bryan memiliki firasat buruk, mungkinkah dia yang dimaksud oleh mereka berdua adalah orang itu? Jika itu benar, artinya nyawa Bryan sedang dalam bahaya.
"Apa yang kau pikirkan? Apa kau tidak ingin masuk ke dalam?"
Bryan menatap keduanya bergantian. "Aku tidak bisa ikut dengan kalian, kecuali Kalian berdua mau memberitahuku siapa orang yang kalian maksud itu!!"
"Kau terlalu banyak penawaran, Bung. Maaf sekali, laki-laki Aku tidak suka padamu!!" tubuh Bryan jatuh tak sadarkan diri setelah sebuah alat menyentuh kulit lehernya. Karena membawanya dalam keadaan tak sadarkan diri jauh lebih mudah.
Dan mereka berdua tidak tahu kejutan seperti apa yang tenga sudah disiapkan oleh bosnya untuk menyambut kedatangan mantan anak buahnya yang telah berkhianat ini. Dan mereka hanya bisa berdoa, semoga saja Bryan tidak pernah seburuk seperti para penghianat yang lain.
-
-
"Untuk apa bunga-bunga itu? Kenapa banyak sekali?"
Serra menoleh dan mendapati Lucas berjalan menghampirinya. "Oh, ini?! Rencananya aku mau mengirim mawar mawar ini ke toko bunga milik Jia. Dia kekurangan stok mawar karena tingginya permintaan dari para konsumennya, apalagi petani mawar langganannya sudah tidak bisa mengirim bunga dalam jumlah banyak lagi, mereka kekurangan tenaga kerja sementara permintaan pasar sangat tinggi. Jadi aku berencana mengurangi bebannya," ujar Serra menjelaskan.
Lucas menepuk kepala coklat Serra. "Baiklah kalau begitu. Aku akan mengantarmu ke sana untuk mengantar mawar-mawar itu."
Serra mengangguk. "Memang itu yang aku harapkan. Terimakasih, Lu. Karena selalu ada untukku, dan selalu terdepan untuk melindungiku. Sungguh betapa beruntung aku memiliki suami sepertimu." Serra menatap langsung ke dalam manik mata Lucas.
"Sama-sama, Sayang. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membuktikan jika aku sangat mencintaimu." Ucapnya sambil membawa Serra ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu, Lucas Xiao. Sangat-sangat mencintaimu." Bisik Serra sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku juga!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.