
"Lucas!!"
Serra terkejut melihat kemunculan Lucas di depannya. Apakah dia melihat semuanya? Apakah suaminya itu melihat apa yang baru saja dia lakukan? Lalu bagaimana dia akan menilainya setelah ini? Serra benar-benar tidak tau bagaimana Lucas akan menilainya, dia hanya bisa berdoa semoga pria itu tidak melihat semuanya.
"Kenapa tegang sekali, apa kau baru saja melakukan kesalahan?" Tanya Lucas sambil menepuk kepala coklat Serra.
Buru-buru wanita itu menggeleng. "Tidak, aku tidak melakukan apapun kok. Jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku, oke. Ya sudah, kau lanjutkan saja mengobrolnya, aku dan Jia masih belum puas menikmati hidangan disini. Jia, ayo coba makanan yang lain juga." Kemudian Serra menarik Jia menjauh dari suaminya.
Lucas mendengus geli melihat tingkah istrinya. Meskipun dia melihat semuanya, tetapi Lucas sengaja tidak mengatakan apapun pada Serra. Karena dia tidak ingin membuat wanita itu merasa enak padanya.
"Tuan, sepertinya Anda telah salah menilai, Nyonya. Dia bukanlah wanita lemah yang mudah untuk ditindas, dan dilihat dari cara dia membanting pria itu, sepertinya ilmu bela diri yang dia miliki tidak main-main." Ucap Frans dan mengalihkan perhatian Lucas dari Serra yang sedang menikmati hidangan pesta bersama Jia.
Lucas mengangguk. "Kau benar. Dia memang bukan wanita sembarangan, dan sepertinya selama ini aku sudah terlalu meremehkannya." Ucap Lucas menimpali.
Meskipun demikian. Namun Lucas tetap tidak bisa lepas tangan begitu saja. Mungkin Serra memang menguasai tehnik bela diri yang sangat luar biasa, akan tetapi dia tetaplah seorang wanita. Dan Lucas tetap akan melakukan yang terbaik untuk melindunginya.
"Tetap awasi mereka, aku menyapa yang lain dulu."
"Baik, Tuan."
-
-
Seorang pria mencurigakan terlihat mondar-mandir diantara mobil-mobil mewah itu. Pandangannya memperhatikan sekelilingnya, memastikan apakah keadaan benar-benar aman atau tidak.
Dan saat dirasa telah aman, dengan segera dia menghampiri sebuah mobil sedan berwarna hitam metalik lalu merusak remnya. Tak ingin aksinya dipergoki apalagi diketahui oleh si empunya mobil, ia pun segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam mobil silver yang terparkir di seberang jalan.
"Bagaimana, kau sudah melakukannya?" Tanya seorang pria yang duduk dibalik kemudi.
"Beres, ayo cepat pergi dari sini sebelum ada yang melihat kita." Ucapnya.
Pria itu mengangguk. Segera ia menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melaju pergi. Pekerjaan mereka berjalan mulus, dan malam ini mereka bisa berpesta menikmati hasil dari pekerjaannya malam ini.
-
-
Acara telah berakhir. Semua tamu undangan berbondong-bodong meninggalkan aula pesta, termasuk Serra dan Lucas. Karena sudah lewat tengah malam, tidak salah jika Serra mulai tidak bisa mempertahankan kesadarannya. Terlihat beberapa kali dia menguap menahan kantuk.
"Kenapa? Mengantuk?" Serra mengangguk. Lalu Lucas menuntun kepala Serra untuk bersandar di bahu kanannya. "Sekarang tidurlah, aku akan membangunkanmu setelah sampai nanti." Ucapnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Serra mengangguk. "Baiklah."
Mobil sedan itu mulai melaju menuju jalan raya. Awalnya tidak ada yang salah pada laju mobil tersebut. Tapi semakin lama, si sopir merasakan ada yang tidak beres pada mobilnya. Mobil yang dia kemudikan dengan kecepatan tinggi itu tidak bisa dikontrol dan rem juga tidak berfungsi.
Ia menoleh kebelakang dan mendapati Lucas menutup matanya. Melihat tuannya tertidur, dia merasa tidak enak untuk membangunkannya. Sebisa mungkin pria itu bersikap tenang dan mencoba mengontrol laju kendaraan yang dikemudikannya. Namun tiba-tiba...
BRAAAKKKK!!!!!!
Lucas dan Serra sama-sama terkejut saat merasakan hantaman yang keras, Lucas mendekap tubuh wanitanya ketika mobil yang mereka tumpangi terbalik beberapa kali. Tiba-tiba mereka merasa bumi berputar dan segalanya menjadi terbalik.
Mobil sedan hitam itu terbalik setelah menghindari kecelakaan dengan sebuah truk bermuatan penuh yang maju dari arah berlawanan. Supir banting setir ke kanan dan malah membuat mobil tersebut terbalik beberapa kali dan terseret sampai bermeter-meter ke depan.
Lucas yang masih setengah sadar mendengar suara kaca pecah dan erangan dari arah depan, dari kursi kemudi lebih tepatnya. Lalu pandangannya beralih pada Serra yang sedang tak sadarkan diri di pelukannya. Tak ada luka sedikit pun pada wajahnya, karena pelukan Lucas yang melindunginya. Namun kakinya tak baik-baik saja, kakinya terjepit.
"Serra, bangun. Katakan jika kau baik-baik saja," lirih Lucas sambil menepuk pipi Serra. Tapi tak ada jawaban, dan hal itu membuat Lucas menjadi sangat panik dan cepat.
Melihat orang-orang yang berkerumun di-sana, Lucas pun segera meminta bantuan pada mereka supaya segera melarikan istri dan supirnya ke rumah sakit.
Dan Lucas tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa Serra. Ia juga akan memburu orang yang telah menyebabakan kecelakaan ini sampai dapat dan membalas dengan setimpal.
-
-
"Kita perlu bicara, Tuan. Dan kabar yang akan saya sampaikan ini mungkin akan melukai perasaan Anda juga bisa membuat istri Anda terpuruk." Ucap dokter itu dengan tak enak hati.
Lucas memicingkan kedua matanya. "Apa maksudmu?" Ia menatap dokter itu penasaran.
"Maaf, Tuan. Dengan berat hati saya tetap harus menyampaikan ini. Ada kemungkinan jika istri Anda akan mengalami kelumpuhan."
Lucas merasakan lututnya melemah mendengar apa yang dokter katakan. Lumpuh? Bagaimana ia bisa menyampaikan hal menyakitkan itu pada Serra, Lucas tidak ingin melihat istrinya sampai hancur setelah mengetahui bagaimana kondisinya saat ini.
"Lalu apakah dia masih bisa disembuhkan, Dok? Misalnya dengan menjalani terapi dan lain sebagainya?" Tanya Lucas memastikan.
"Saya juga tidak bisa menentukannya, Tuan. Adapun kemungkinannya itu sangat kecil." Jawabnya.
Lucas terdiam. Tidak bisa, dia tidak bisa membiarkan Serra terpuruk sendirian setelah mengetahui keadaannya saat ini. Dia pasti hancur saat mengetahui jika dirinya tidak mungkin bisa berjalan lagi. Dan Lucas harus melakukan sesuatu agar Serra tidak terlalu terpuruk dengan keadaannya saat ini.
"Dokter, bisakah kau membantuku. Bebat salah satu mataku dengan perban, dan katakan padanya jika keadaanku juga tidak baik-baik saja. Beritahu dia jika kecelakaan itu tak hanya membuat dia kehilangan kemampuan untuk berjalannya, tetapi juga membuatku kehilangan salah satu penglihatanku!!"
Dokter itu terkejut mendengar permintaan Lucas. Apakah ini tidak terlalu berlebihan, berpura-pura demi membuat keadaan menjadi seimbang agar istrinya tidak terpuruk dengan keadaannya saat ini. Dan begitu besarkah rasa cinta yang Lucas miliki untuk Serra sampai-sampai dia rela melakukan apapun untuknya.
__ADS_1
Bisa saja Lucas berpura-pura lumpuh atau buta sepenuhnya. Tapi jika dia melakukannya, bagaimana ia bisa menjadi kaki untuk Serra nantinya. Dan jika dia sampai pura-pura buta sepenuhnya, bagaimana ia bisa melindungi Serra dari mereka yang ingin menindasnya?!
Memang hanya cara satu itu yang paling tepat dan masuk akal untuk ia ambil sebagai keputusan yang tepat. Karena Lucas bisa merekayasa kondisi matanya sendiri agar Serra percaya jika dia juga tidak dalam keadaan baik.
-
-
Kelopak mata itu terbuka perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah sosok yang sangat dia kenal. Ya, dan orang itu adalah Lucas.
"Lu, kita ada dimana?" Tanya Serra kebingungan.
"Rumah sakit, kita mengalami kecelakaan semalam. Dan kau semalaman tidak sadarkan diri," jelas Lucas.
Serra mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tidak bisa. Dan itu membuatnya panik, lalu pandangannya bergulir pada Lucas. "Lu, ada apa dengan kakiku? Kenapa tidak bisa digerakkan?" Tanya Serra dengan suara bergetar.
Lucas menggenggam tangan Serra dan mengunci tatapannya. "Serra, kau tidak mungkin bisa berjalan lagi. Kau, mengalami kelumpuhan. Kakimu terjepit dan itu yang membuatmu lumpuh!!"
Jlederrr..
Bagaikan tersambar petir disiang hari, hati Serra hancur berkeping-keping mendengar ucapan Lucas. Air matanya sudah tidak bisa dia bendung lagi, Serra menangis sejadi-jadinya.
"Tidak, Lu. Aku tidak mau lumpuh, aku tidak mau jadi orang yang tidak berguna. Aku tidak mau, aku ingin kakiku normal lagi. Aku ingin bisa berjalan lagi, aku tidak mau lumpuh!!"
Lucas mendekap Serra dengan erat. Membaurkan wanita itu menumpahkan semua kesedihannya di bahunya. Dagu Lucas bersandar pada kepala coklat Serra.
"Tenang, Sayang. Tenangkan dirimu, aku mohon jangan menangis lagi. Jika kau tidak ingin lumpuh, aku pun sebenarnya juga tak ingin kehilangan salah satu mataku." Ucap Lucas dan segera menyadarkan Serra.
Sontak wanita itu mengangkat wajahnya dari pelukan Lucas dan mendapati sebuah perban membebat mata kirinya. Serra tak memperhatikannya dari tadi. Perban itu juga melilit keningnya, ada bercak darah pada permukaan perban itu.
"Lu, i...ini?"
Lucas mengangguk. "Ya, Sayang. Kecelakaan itu membuatku kehilangan mata kiriku, ada serpihan kaca yang masuk dan menusuk hingga menyebabkan pendarahan hebat." Jelas Lucas.
Serra tersenyum hambar. "Apa itu artinya sekarang kita berdua adalah pasangan yang tidak sempurna. Bukankah ini sangat lucu," Serra mengigit bibir bawahnya untuk meredam isakannya. Lucas sekali lagi membawa Serra ke dalam pelukannya dan mendekapnya seperti tadi.
Saat ini kedua orang tua Serra dan kakaknya sedang berada di luar negeri. Itulah kenapa mereka tak tampak di rumah sakit menemani Serra. Namun bukan berarti Lucas tak menghubungi mereka, dan kemungkinan saat ini mereka bertiga sudah dalam perjalanan pulang.
-
-
__ADS_1
Bersambung.