"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa

"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa
Nasib Sial Jenny


__ADS_3

"Berhenti kau Lucas Xiao!!"


Lucas menghentikan langkahnya atas perintah seorang wanita yang sedang menangis tersedu-sedu di pemakaman suaminya. Ya, wanita itu merupakan istri dari pria yang meninggal tersebut. Dia menatap Lucas dengan tatapan tajam penuh kebencian.


Wanita itu menyambar segelas air putih yang ada dimeja lalu menyiramkan ke wajah Lucas, dan parahnya lagi dia melakukannya di depan banyak orang.


"Pergi kau dari sini!! Apa kau pikir suamiku senang melihat kedatanganmu!! Pergi kau brengsek, kedatanganmu sama sekali tidak diharapkan disini!!" Ucap wanita itu dengan sinis.


"Mulut Anda sangat tajam Nyonya Park, padahal aku datang dengan naik baik dan untuk memberikan penghormatan terakhir pada suamimu. Tapi beginikah sikapmu pada orang yang berniat baik datang untuk melayat?" Balas Lucas menimpali.


"Aku tidak butuh kebaikan palsumu. Dan jika bukan karena dirimu, putri tidak akan mati!!" Teriak wanita itu penuh emosi.


Lucas menyikapi amukan wanita itu dengan sikap dingin. Dia tak memberikan respon apapun bahkan ketika Nyonya Park menyiramnya dengan air dan melempar gelas kearah kepalanya hingga membuat keningnya terluka.


Diam bukan berarti Lucas menerima semua perlakuan buruk wanita itu padanya. Dia sudah memperlakukannya di depan banyak orang.


Jika saja ini bukan tempat pemakaman, pasti Lucas sudah langsung memberikan pelajaran pada wanita itu. Dia masih berusaha menahan amarahnya, karena dia menghargai mendiang Tuan Park yang semasa hidupnya berhubungan baik dengannya.


Alasan kenapa wanita itu sangat membencinya adalah karena Lucas menolak untuk menerima perjodohan dengan putrinya.


Dan karena penolakan Lucas, akhirnya putri dari Nyonya dan mendiang Tuan Park memilih mengakhiri hidupnya. Lalu dia menyalahkan Lucas sebagai biang utama atas kematian putrinya. Meskipun pada kenyataannya itu bukanlah salah Lucas.


Lucas mendekati nyonya Park lalu berbisik pelan di telinganya. "Hati-hati dengan sikap Anda ini, Nyonya. Jangan membuat kesalahan fatal dengan mengatakan ini dan itu. Kau baru saja mempermalukanku di depan banyak orang, kesalahanmu sangat besar dan tidak bisa dimaafkan. Kali ini aku melepaskanmu, tapi tidak untuk nanti!!"


Tubuh wanita itu gemetar ketakutan saat merasakan sesuatu menempel pada perutnya. Keringat dingin mulai bercucuran ketika dia melihat benda itu adalah pistol. Lucas membungkamnya dengan pistol itu hingga dia tidak bisa berkata-kata lagi.


Lucas menyeringai dingin. "Tidak perlu tegang. Kalian berdua pasti akan segera bertemu lagi secepatnya. Dan terimakasih atas penolakannya!! Felix, kita pulang."


"Baik, Tuan."


-


-

__ADS_1


Tubuh Jenny terguling di halaman rumah Lucas. Rupanya Serra tak membiarkannya pergi begitu saja. Dia meminta Molly untuk memberikan sedikit pelajaran pada adik angkat dari suaminya tersebut. Jenny sudah terlalu sering membuat masalah dengannya.


"Hentikan, jangan mencakarku lagi!! Yakk!! Wanita sialan, cepat suruh hewan sialanmu ini untuk berhenti. Ahhhh, wajahku. Jangan mencakar wajahku!!"


Jenny terus berteriak. Wajah dan tubuhnya penuh luka cakaran Molly, akan tetapi bukan cakaran yang begitu parah. Serra bisa mengontrol Molly dengan baik. Ketika Serra mengatakan 'beri sedikit pelajaran padanya' Molly yang memberikan cakaran-cakaran kecil pada Jenny. Meskipun hanya cakaran kecil saja, akan tetapi luka bekas cakarannya akan membekas dan meninggalkan jejak permanen.


"Molly, cukup!!" Seru Serra. "Comeback," dan Molly pun meninggalkan Jenny yang sudah hancur-hancuran begitu saja.


Tidak hanya dipenuhi luka cakaran Molly, tetapi pakaian yang dia pakai pun jadi compang-camping tidak karu-karuan. Rambutnya acak-acakan bercampur kotoran dan liur Molly.


Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian mereka berdua. Terlihat Lucas turun dari mobilnya dengan sebuah perban melilit keningnya. Ada noda darah tepat diatas alis kanannya. Melihat kedatangan Lucas segera dimanfaatkan oleh Jenny.


"Kakak," tubuh Lucas terhuyung ke belakang karena pelukan Jenny yang tiba-tiba. "Hiks, Kak beri pelajaran pada istrimu itu. Lihatlah apa yang dia lakukan padaku. Dia meminta hewan sialan itu untuk menyerangku sampai babak belur begini!!" Jenny mengadukan Serra pada Lucas.


Alih-alih mendengarkan aduan Jenny. Lucas malah mendorongnya hingga dia tersungkur ke lantai. "Kau kotor, jangan sembarangan menyentuhku. Dan Serra tidak mungkin melakukannya jika bukan kau yang lebih dulu mencari masalah dengannya!!" Jawab Lucas menimpali.


Lucas meninggalkan Jenny begitu saja lalu menghampiri Serra yang berjalan kearahnya. Serra terlihat cemas melihat perban yang melilit kening suaminya. "Lu, ini kenapa? Kenapa bisa sampai di perban begini?" Ia menatap langsung ke dalam mata kanan Lucas.


"Yakk!! Kenapa aku malah diabaikan?! Kakak, kau sangat keterlaluan!!"


.


.


Lucas melepas jasnya lalu membaringkan tubuhnya di sofa yang ada disudut kamarnya. Sebelah tangannya menutupi sebagain wajahnya. Kepalanya sedikit pusing akibat hantaman gelas tadi. Serra datang membawa beberapa butir obat dan segelas air putih.


Ia menghampiri Lucas lalu memberikan obat dan air minum itu padanya. "Minum dulu obat ini. Ini bisa mengurangi nyerinya," Lucas menerima obat itu lalu meneguknya dengan sekali tegukan.


"Untuk apa Jenny datang kemari?" Tanya Lucas penasaran.


Serra menggeleng. "Aku sendiri tidak tau. Dia datang membawa dua preman dan sepertinya untuk menculikku. Tapi beruntung ada Molly, mereka kemudian kabur dan Jenny tentu tidak aku biarkan sebelum mendapatkan pelajaran." Ujar Serra memaparkan.


"Wanita itu!! Dia benar-benar sudah bosan hidup rupanya. Aku sendiri yang akan memberikan pelajaran padanya!!"

__ADS_1


"Aku tidak setuju!!" Serra menggeleng. "Jika kau yang turun tangan. Dia bisa mati mengenaskan. Biarkan saja, biar orang lain yang memberikan pelajaran padanya!!"


"Hm, baiklah kalau menurutmu begitu. Aku tidur sebentar." Ucap Lucas, Serra mengangguk.


"Baiklah,"


-


-


Brakkk...


Suara dobrakan keras pada pintu mengejutkan Daniel dan Deriel yang sedang bersantai di ruang keluarga apartemen Jenny. Keduanya segera keluar untuk melihat siapa yang datang. Alangkah terkejutnya mereka berdua melihat Jenny kembali dalam keadaan yang begitu buruk. Sedangkan Jenny terkejut dengan keberadaan mereka berdua di rumahnya.


"Nunna, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau hancur begitu?!" Tanya Daniel penasaran.


"Sedang apa kalian berdua di sini, dan bagaimana kalian bisa masuk kemari?" Alih-alih menjawab pertanyaan Daniel, Jenny malah balik bertanya dan menatap kedua kakak beradik itu penasaran.


Kemudian Deriel menunjukkan sebuah kunci cadangan pada Jenny. "Dari kunci ini. Apa kau lupa, saat kau mabuk, Nunna memberikan kunci ini pada kami." Jawab Deriel.


"Kembalikan kunci itu padaku dan cepat angkat kaki kalian dari sini. Aku tidak Sudi melihat muka kalian disini lagi!!" Jenny mengusir si kembar keluar dari apartemennya. Tetapi sayangnya mereka memiliki 1001 cara untuk tetap bertahan.


"Hehehe, jadi kau meminta kami menyebarkan foto bug*lmu ketika berada di hotel. Baik, akan kami sebarkan dengan suka hati." Jawab Daniel menimpali.


Mata Jenny membulat sempurna. Dia menggeleng kuat. "JANGAN!!" serunya. "Aku mohon jangan sebarkan foto itu. Kalian bisa tinggal disini sesuka hati kalian!!"


"Nah begitu dong baru benar."


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2