
Duduk terlalu lama di kursi roda membuat Lucas merasa tidak nyaman. Dengan hati-hati dan sedikit memaksakan, pria itu bangkit dari kursi rodanya dan mencoba untuk berjalan normal seperti biasanya. Tapi sial, kaki kirinya yang mengalami cidera belum bisa diajak kompromi dengan baik.
Bruggg...
Dengan sigap Serra menahan tubuh suaminya yang hampir kehilangan keseimbangan. "Kau mau kemana? Jangan memaksakan diri, Lu. Ayo, aku akan membantumu untuk duduk kembali,"
"Aku bosan duduk diatas benda sialan itu terlalu lama!!" Jawabnya datar.
Serra mengambil napas panjang dan menghelanya. "Lalu kau ingin bagaimana? Cidera di kaki kirimu bisa semakin lama sembuhnya jika terlalu banyak kau gerakkan. Lukanya bisa terbuka lagi," ujar Serra memberi nasehat.
Akhirnya Lucas memilih mengalah. Dia menuruti permintaan Serra, karena Lucas tau apa yang Serra lakukan itu juga demi kebaikannya. "Bantu aku untuk duduk kembali." Pinta Lucas, Serra mengangguk.
Serra menatap Lucas dengan sendu. Banyak luka yang menghiasi tubuh suaminya, beruntung Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup meskipun nyawanya sempat berada di ujung tanduk.
Sepasang biner Hazel Serra mengunci mata kanan milik Lucas. Mata kirinya mengalami cidera akibat benturan ketika mobil yang di kendarai oleh Frans terbalik. Hatinya mencelos melihat perban yang membebat kening dan mata kiri Lucas.
"Apa ini terasa sakit?" Serra memegang mata berbalut perban itu dan menatapnya dengan sendu.
Lucas menggeleng. "Serra, bagaimana jika cidera ini malah berakibat fatal pada penglihatanku. Bagaimana jika nantinya aku malah jadi pria cacat? Apa kau masih mau menerimaku apa adanya, karena aku sudah tidak sempurna lagi." Tanya Lucas tanpa mengakhiri kontak mataya.
"Dasar bodoh?! Pertanyaan macam apa itu? Apapun dan bagaimana pun keadaanmu nantinya, aku akan tetap mencintaimu dan menerimamu apa adanya. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak," ujar Serra menimpali.
Lucas menarik lengan Serra hingga wanita itu jatuh di pangkuannya. Dengan cepat dia meraih dagu Serra lalu mengecup dan mel*mat bibir ranum miliknya. Ciuman itu adalah bentuk terimakasih Lucas pada istrinya, dia sungguh beruntung memiliki Serra disisinya.
Hubungan yang berawal dari sebuah kesepakatan perlahan tapi pasti menumbuhkan benih cinta di hati mereka masing-masing, hingga keduanya saling mencintai dengan sepenuh hati. "Aku mencintaimu, Serra Xiao." Ucap Lucas sesaat setelah melepas tautan bibirnya.
"Aku juga mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." Jawab Serra lalu berhambur ke pelukan Lucas.
Dan pemandangan mereka berdua yang sedang berpelukan mesra membuat Jenny yang baru saja tiba di kediaman Lucas langsung terbakar api cemburu. Bagaimana tidak, dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Lucas dan Serra yang sedang berpelukan.
__ADS_1
Sambil menahan dongkol dihatinya. Jenny menghampiri mereka berdua. "Kakak, aku datang." Serunya dan membuat perhatian keduanya teralihkan. Lucas menatapnya dengan dingin.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Lucas dingin.
"Kak, beginikah sikapmu saat adikmu datang berkunjung?! Kau jangan keterlaluan!! Lagipula aku datang dengan niat baik, aku hanya ingin memastikan apakah kau baik-baik saja atau tidak!!"
"Bukankah kau sudah melihatnya? Jadi untuk apa bertanya lagi. Pergilah, aku mau istirahat. Serra, ayo kembali ke kamar." Serra mengangguk. Kemudian dia mendorong kursi roda Lucas dan membawanya pergi dari hadapan Jenny.
"Yakk!! Kenapa aku malah ditinggalkan?! Kakak, kau sangat menyebalkan!!"
-
-
Sebuah mobil mewah berhenti di halaman luas mansion milik keluarga Xiao. Seorang pria turun dari mobil tersebut lalu melenggang masuk ke dalam. Beberapa pria membungkuk menyambut kedatangannya.
Pria itu mengangkat kedua tangannya seraya berputar, bibirnya mengukir smrik tipis."Akhirnya Mansion ini bisa aku kuasai juga. Mulai hari ini dan seterusnya, aku adalah bos kalian. Untuk itu kalian semua harus patuh dan tunduk padaku jika masih ingin melihat matahari terbit dari timur!!"
Langkah kaki jari terhenti di depan sebuah lukisan yang terpajang di dinding ruang tamu. Kerasnya yang ayu dan menawan membuat Jerry jatuh dalam pesonanya.
"Ngomong-ngomong siapa wanita dalam lukisan itu?" Tanya Jerry pada salah seorang anak buah Lucas.
"Dia nyonya disini, dan beliau adalah Istri dari Bos besar." Jawabnya.
"Oh, jandanya Lucas. Dia hebat juga ya, bisa memiliki istri secantik dan semolek ini. Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Jerry lagi.
"Beliau tinggal di kediaman pribadinya. Rumah milik Bos besar."
"Kalau begitu antarkan aku ke sana!! Apapun milik Lucas harus menjadi milikku, termasuk istrinya yang cantik ini!!"
__ADS_1
Ia pun meninggalkan mansion Xiao dan pergi untuk menjemput Serra. Melihat wajah cantik Serra membuat Jerry sangat tidak sabar untuk segera mencicipinya. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan bermain dengan janda Lucas.
-
-
Lucas memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Dia baru saja mendapatkan sebuah informasi yang sangat penting dari salah seorang anak buahnya jika saat ini Jerry sedang bergerak ke tempat tinggalnya untuk menjemput Serra. Karena Jerry berpikir jika Lucas benar-benar telah tiada.
Pria itu bangkit dari kursi rodanya. Keadaan Lucas sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan dia sudah mampir berdiri dan berjalan normal seperti biasanya, meskipun perban masih tampak menghiasi beberapa luka-lukanya.
"Serra, sebentar lagi akan datang para tamu tak diundang. Apapun yang terjadi, jangan coba-coba untuk keluar apalagi menampakkan batang hidungmu!!"
Serra memicingkan matanya. "Tamu tak diundang? Siapa?" Tanya Serra penasaran.
"Orang yang menyebabkanku celaka. Dia pikir aku sudah mati, dan kedatangannya kemari adalah untuk dirimu. Bajingan itu berpikir jika kau adalah seorang janda. Turuti saja apa yang aku katakan. Karena aku sudah mempersiapkan sebuah kejutan besar untuk menyambut kedatangannya." Ujar Lucas menuturkan.
Serra menganggukkan kepala meskipun dia sendiri tidak tau rencana apa yang Lucas miliki, tapi dia berani bersumpah jika rencana itu berhubungan dengan pertumpahan darah mengingat jika suaminya bukanlah pria yang mengenal apa itu kata ampun.
Lucas menoleh saat mendengar suara deru suara mobil memasuki halaman rumah mewahnya. Mereka sudah datang. Lucas segera mendekati Serra dan memintanya untuk pergi ke ruang rahasia yang memang telah dia persiapkan sebagai antisipasi jika ada bahaya yang terjadi.
"Tetap disini sampai aku sendiri yang datang menjemputmu. Jangan coba-coba untuk pergi kemana pun, mengerti." Serra menganggukkan kepala. Dia tidak berani menentang Lucas apalagi saat melihat tatapannya yang dingin itu.
"Aku mengerti, aku tidak akan pergi kemana-mana sampai kau datang menjemputku." Ucapnya menimpali. Lucas mengangguk,dia mengecup singkat bibir Serra dan meninggalkannya begitu saja.
Dengan langkah tenang Lucas menuruni tangga rumahnya. Dia sudah tidak sabar melihat bagaimana ekspresi Jerry ketika melihatnya masih hidup dan bernapas.
-
-
__ADS_1
Bersambung.