
Setiap hari, Serra selalu menolak beberapa makanan yang masuk ke dalam perutnya seperti nasi dan segala jenis daging. Dia hanya makan buah dan sayur serta kentang sebagai pengganti nasi.
Terhitung sudah dua bulan lebih sejak dirinya dinyatakan hamil oleh dokter. Dan hal itu membuat Lucas merasa cemas.
Lucas menghampiri Serra sambil membawa buah-buahan yang telah dipotong dan siap makan. Tak hanya potongan buah saja, tetapi Lucas juga membawakan segelas susu hangat untuk Serra.
"Serra, berhenti dulu. Minum dulu susunya, aku juga membawakanmu buah dan kentang rebus. Ayo dimakan dulu," seru Lucas dan dibalas anggukan oleh Serra.
Serra meletakkan gunting bunganya lalu menghampiri sang suami. Senyum hangat terlukis di sudut bibirnya. "Terimakasih, suamiku. Kau memang yang terbaik."
Lucas membelai kepala Serra. "Apa yang kau katakan, aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan." ucapnya menimpali.
Sungguh betapa Serra sangat beruntung memiliki suami seperti Lucas, dia selalu memberikan perhatian lebih padanya apalagi sejak dirinya dinyatakan hamil oleh dokter.
Dan Lucas yang selalu menjadi orang pertama yang mengingatkan dirinya untuk makan meskipun bukan nasi. Dan dia selalu menyiapkan makanan pengganti nasi agar nutrisinya tetap tercukupi.
"Kau ingin mencobanya?" tawar Serra, Lucas menggeleng. Dan Serra tidak memaksanya. Serra kembali memakan buah-buahan itu dengan lahap sedangkan Lucas menemani dia disampingnya.
Melihat Serra yang memakan buah-buahan itu membuat Lucas merasa tenang. Pasalnya masih ada makanan yang masuk ke dalam perutnya meskipun itu hanya buah-buahan, sayur-sayuran seperti kentang dan sayuran lainnya.
Lukas tidak mempersalahkannya meskipun Serra tidak mau makan nasi, selama protein vitamin nutrisi dan karbohidratnya terpenuhi, itu sudah cukup. Karena menurut ibunya, dulu ketika dia hamil Serra juga seperti itu. Selama beberapa bulan dia menolak makan nasi, hanya buah dan sayuran saja.
"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Ucap Serra melihat Lucas yang terus menatapnya. Jujur saja itu membuatnya tidak nyaman, ya meskipun yang menatapnya adalah suami sendiri.
Lucas menggeleng. "Tidak apa-apa, lanjutkan saja makanya." Ia membelai kepala coklat Sera dengan lembut.
Perhatian Serra dan Lucas teralihkan oleh kedatangan Frans. "Ada apa, Frans?" Tanya Lucas to the poin. Frans tidak mengatakan apapun dia hanya memberikan sebuah dokumen pada Lucas.
Lucas membuka dokumen itu lalu membacanya sebentar dan mengembalikannya pada Frans. "Tolak saja kerjasama ini!! Karena kerjasama ini tidak menguntungkan kita sama sekali." Ucap Lucas dan kemudian dibalas anggukan oleh Frans.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan." Frans membungkuk pada Lucas dan Serra lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Ponsel milik Lucas tiba-tiba berdering menandakan ada satu panggilan masuk. Matanya matanya memicing melihat nomor asing menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Penasaran siapa yang menghubunginya, kemudian Lucas menerima panggilan itu.
"Kakak, ini aku, Jenny. Apa kau sibuk, hari ini aku pulang, bisakah kau menjemputku di bandara?"
Lucas memicingkan matanya. "Kau kembali hari ini, Bukankah kuliahmu masih 1 tahun lagi?"
"Apa Kakak bercanda? Jelas-jelas kuliahku sudah selesai sejak setengah bulan yang lalu. Huh, rupanya kakak terlalu sibuk ya, makanya jadi lupa padaku!! Aku kecewa pada Kakak!!"
"Aku sibuk, biar Frans saja yang menjemputmu di bandara!!" Ucap Lucas lalu mengakhiri sambungan telfonnya.
Lucas memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya, pandangannya bergulir pada Serra. "Sepertinya aku belum memberitahumu ya, jika aku memiliki seorang adik angkat bernama Jenny dan selama ini dia kuliah di luar negeri. Hari ini dia kembali dan akan tinggal bersama kita di rumah ini,"
Serra mengangkat bahunya. "Aku sih tidak ada masalah, selama dia tidak merepotkanku apalagi berusaha memisahkanku darimu. Atau berusaha merebutmu dariku, aku akan bersikap baik dan memberi toleransi padanya!!" Ucap Serra menimpali.
Lucas tersenyum tipis. "Dasar kau ini. Jika dia berani macam-macam apalagi merepotkanmu, aku tidak akan segan-segan memberinya pelajaran meskipun dia keluargaku sendiri!! Jadi kau tidak perlu turun tangan sendiri untuk mengatasi para benalu dan sejenisnya!!"
Serra tersenyum lebar. Ia meletakkan garpunya lalu berhambur memeluk suaminya itu dengan erat. "Terima kasih, Lu. Karena sudah menjadikanku sebagai prioritas utama dalam hidupmu, Aku sungguh beruntung memiliki suami sepertimu. Meskipun terkadang kau menyebalkan, tapi kau tetap yang terbaik!!" Ucap Serra sambil melirik Lucas dari ekor matanya.
"Aku selalu mempercayaimu."
Serra menutup matanya. Jantungnya selalu berdetak kencang setiap kali berada di dekat Lucas, meskipun kebersamaan mereka masih terlalu singkat, tapi tak bisa Serra pungkiri jika dia sangat mencintai suaminya ini. Dan Lucas adalah sumber kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.
-
-
Daniel dan Deriel sedang menghitung keuntungan dari hasil penjualan mereka selama satu minggu terakhir ini. Bukan barang ataupun benda mati, karena yang mereka jual adalah Axel dan kakek Xiao. Awalnya hanya Axel saja, tapi kakek Xiao malah mengajukan diri untuk ikut bekerja dengan Axel.
Meskipun usianya sudah tua, tapi tuannya kakek Xiao adalah tua-tua keladi, yang makin tua makin menjadi. "Jika begini terus kita bisa jadi milyarder muda." Ucap Deriel yang segera dibalas anggukan oleh Daniel.
"Bukankah aku sangat cerdik? Jika bukan karena ideku, kita berdua tidak mungkin mendapatkan keuntungan sebesar ini. Apalagi sekarang kita memiliki dua boneka penghasil uang, dan aku jamin dalam kurun waktu 10 tahun. Kita berdua bisa mengimbangi kekayaan yang dimiliki oleh Lu-Ge." Ujar Daniel.
__ADS_1
"Jangan hanya membanggakan dirimu saja. Karena bagaimanapun juga aku turut andil dan mengambil bagian dalam kesuksesan kita ini, aku yang menjajakan mereka berdua di situ-situs online. Dan akhirnya...BOOM.. meledak. Jadi kita berdua sama-sama membawa keuntungan," ujar Deriel memaparkan.
Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pemuda itu tersenyum tiga jari."Hehehe, betul juga. Kau juga kan ikut ambil andil dalam usaha ini. Sudahlah, untuk apa membahas masalah ini lagi. Ayo pergi makan, aku lapar."
"Asal kau yang mentraktirku,"
"Bayar sendiri-sendiri saja, kau juga tidak terlalu miskin untuk membeli makanan di restoran mewah!!" Jawab Daniel menimpali.
Deriel mempoutkan bibirnya kesal. "Dasar pelit!!"
"Masa bodoh!!"
-
-
Jenny memicingkan matanya dan menatap aneh pada bangunan mewah nan megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Itu bukan mansion keluarga Xiao. Melainkan rumah pribadi milik Lucas, dia tidak tau apa maksudnya Frans menghentikan mobilnya di depan rumah tersebut.
"Mansion Xiao, masih dalam perbaikan. Dan untuk sementara Tuan dan Nyonya tinggal di rumah ini." Ucap Frans seolah mengerti apa yang Jenny pikirkan.
Jenny menatap Frans penasaran. "Nyonya? Maksudmu?"
"Istri, Tuan. Jadi sebaiknya Anda bersikap sopan dan jangan mencari perkara dengannya. Karena Nyonya bukanlah orang yang mudah untuk Anda tindas!!" Frans beranjak dari hadapan Jenny dan pergi begitu saja.
"Apa?! Jadi konversi pers itu benar?! Kakak benar-benar sudah menikah?!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1