"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa

"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa
Drama Tuan Valentino


__ADS_3

Bukan lagi rahasia Jika seorang Lucas Xiao adalah pria kejam yang tak pernah mengenal kata ampun, siapapun yang berani mencari masalah dengannya, pasti nasibnya akan berakhir dengan tragis. Dan hanya orang-orang bodoh, yang berani mencari masalah dan gara-gara dengannya.


Didalam malam yang gelap, seorang pria terlihat berjalan menyusuri sebuah gang sempit yang penuh dengan genangan air. Dari jarak sepuluh meter, terlihat sebuah cahaya lampu yang berasal dari sebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai dan tersembunyi diantara pohon-pohon yang menjulang tinggi.


Pria itu berjalan dengan tenang menghampiri beberapa pria bersenjata yang berjaga di depan gerbang utama. Alih-alih menyerang, pria-pria itu malah membungkuk padanya.


"Cepat buka gerbangnya!!" pinta pria itu yang pastinya adalah Lucas.


Tempat ini adalah salah satu markasnya yang terletak di kota ini. Dan kenapa Lucas harus berjalan kaki dan tidak memakai mobil mewahnya, itu karena tempat ini terpencil dan jauh dari keramaian kota. Dan untuk bisa masuk ke dalam tak ada akses lain, kecuali sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk pejalan kaki.


Lokasinya sangat tersembunyi dan tak banyak orang yang tahu, karena bangunan itu tutup oleh rindangnya pepohonan. Itulah kenapa tak banyak orang yang tau tentang bangunan ini, sekalipun tau, mereka pun tak akan berani untuk mendekat.


Pintu bercak coklat itu dibuka dari luar. Kedatangan Lucas lantas menyita perhatian beberapa pasang mata di ruangan itu. Salah satu dari mereka bertiga membelalakan matanya melihat kedatangan pria dingin itu.


Lucas menyeringai, menghampiri ketiganya dengan seringai yang sama. "Apa kabar Bryan Wong, lama tidak bertemu," ucap Lucas dengan sudut bibir kanannya tertarik ke atas.


"Tu...Tuan," pria itu memanggil Lucas dengan terbata-bata.


"Kenapa kau terlihat begitu tegang, padahal aku tidak menerapkan," ucap Lucas seraya memainkan sebuah pisau kecil pengupas buah yang ada di atas meja. Lalu pandangan Lucas kembali pada Bryan, dia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi lalu melemparkannya ke arah pria itu.


JLEBB...


Jantung Bryan nyaris saja terlepas dari tempatnya. Hampir saja pisau itu menembus kepalanya, pisau yang Lucas lemparkan menancap pada dinding tepat di sebelah kanan kepala Bryan. Dengan kaku pria itu menoleh ke sisi kanannya, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.


Bryan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada dirinya jika pisau itu benar-benar menancap di kepalanya, mungkin saja sekarang dia hanya tinggal nama. "Tu..Tuan..." Serunya dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa Bryan. Tidak perlu tegang, aku hanya bermain-main, saja," Lucas menyeringai tajam ke arah Bryan. "Dan bukannya kau ini sangat senang bermain-main, jadi aku mengajakmu untuk bermain-main sebentar." Ucap Lucas menimpali.

__ADS_1


Bryan menggeleng, dia tidak tahu bagaimana nasibnya setelah ini. Lucas tidak akan melepaskannya lagi, jika dia masih bisa bertahan hidup sampai tengah malam ini saja itu adalah sebuah keajaiban. Tapi rasanya itu sangat mustahil dan tidak mungkin, ia sangat mengenal betul sifat dan watak mantan bosnya ini.


Bryan kemudian berlutut dan memeluk kaki Lucas. "Tuan, tolong maafkan dan ampuni saya. Saya tahu saya salah karena telah berkhianat, tapi semua itu saya lakukan karena terpaksa, saya benar-benar tidak memiliki pilihan lain pada saat itu!!" Bryan coba memberikan penjelasan pada Lucas, meskipun dia tidak yakin jika mantan bosnya itu akan percaya dengan ucapannya.


"Bryan kau tahu bukan, jika aku paling benci dengan namanya penghianatan, kau adalah salah satu orang yang paling aku percayai, tapi kenapa kau sampai hati mengkhianatiku?! Apa kurang kebaikanku selama ini padamu?!"


Bryan menggeleng. "Tidak Tuan, jujur saja jika saya tidak pernah memiliki keinginan untuk menghianati Anda, tetapi keadaan saat itu sangat mendesak. Karena tak ada jalan lain lagi, akhirnya saya memilih untuk berkhianat!!" Jelasnya.


"Aku tidak tahu apa alasan menghianatiku, tapi apapun alasannya aku tetap tidak bisa menerimanya apalagi memaafkan orang sepertimu!! Sekali berkhianat, maka akan ada penghianatan-penghianatan yang lain!! Untuk itu aku tidak pernah memaafkan seorang penghianat!! Seret dia ke ruang bawah tanah dan berikan hukuman yang layak untuknya!!" Perintah Lucas pada Sean dan Kai.


Keduanya mengangguk dengan kompak."Baik, Tuan!!"


Lucas bukanlah orang bodoh yang mudah untuk dikibuli, apa Bryan pikir dengan dia mengatakan kebohongan yang sangat meyakinkan maka Lucas akan percaya pada ucapannya, sayangnya Lucas tidaklah sebodoh itu. Dan penghianatan yang pernah Bryan lakukan membuat Lucas mengalami kerugian yang besar.


-


-


"Hei pak tua sampai kapan kau akan memainkan sandiwaramu yang menjijikkan ini? Jangan kau pikir dengan kau bersikap seperti ini maka aku akan luluh dan menuruti apa keinginanmu!!"


"Serra, Papa tidak meminta apa-apa darimu, Nak. Papa hanya ingin kau mengakui pria tua ini, sejak kecil Papa merawatmu dengan penuh kasih sayang tapi beginikah balasanmu setelah dewasa dan menemukan pasangan hidup yang kaya raya?! Serra, tak banyak yang Papa minta, Papa hanya ingin meminta kau mengakuiku sebagai ayahmu. Hanya itu,"


Serra memperhatikan sekelilingnya, orang-orang tengah membicarakannya. Sepertinya usaha Valentino tua untuk mendapatkan simpati dari orang lain benar-benar berhasil. Lalu apakah dia pikir dengan begini maka dirinya akan menurut permintaannya.


"Ckckck, semakin hari kau semakin mahir saja berakting Papa. Kau pikir dengan mendapatkan simpati dari semua orang maka aku akan bersikap baik padamu?! Jangan bermimpi, sekarang kau bersikap seolah-olah kau adalah yang paling tertindas dan tersakiti. Orang-orang di sini hanya melihat apa yang kau lakukan tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya, apa kau ingin aku membongkar semua kebusukanmu selama ini di depan mereka supaya orang-orang ini tidak tertipu dengan tipu muslihatmu?!" tanya Serra memberi penawaran.


Kembali ia memperhatikan sekelilingnya orang-orang itu sepertinya sangat penasaran dengan apa yang ia katakan barusan. Dan apakah mereka masih bisa memberikan simpatinya pada Valentino tua setelah mengetahui fakta yang sebenarnya? Semua akan segera terjawab.

__ADS_1


Serra mengeluarkan ponselnya lalu memutar sebuah rekaman. Mendengar isi rekaman tersebut membuat Tuan Valentino terkejut, ketakutan dan panik. Cepat ia meminta Serra untuk mematikan rekaman tersebut. "Serra sudah cukup!! Matikan rekaman itu sekarang juga!!"


Serra menggeleng. "Bahkan ini belum sampai setengah masa sudah harus dihentikan, tidak asik dong karena mereka semua bisa mati penasaran." Wanita itu menyeringai tajam.


Sadar usaha dan rencananya telah gagal total, Tuan Valentino memutuskan untuk pergi dari sana. Niatnya adalah untuk menjebak Serra supaya wanita itu mau menuruti semua ucapannya, tetapi malah dia sendiri yang terjebak. Serra benar-benar bukan wanita yang bisa diremehkan.


"Cih, manusia sampah seperti dia ingin bermain-main denganku?! Yang benar saja!!" Kemudian Serra masuk ke dalam mobilnya, mobil mewah itu lalu melaju kencang menuju jalanan kota yang padat kendaraan.


-


-


Jam dinding telah menunjukkan angka 22.30, tetapi belum ada tanda-tanda jika Lucas akan segera pulang. Padahal pria itu bilang hanya pergi sebentar, sampai jam segini belum juga tiba di rumah. Serra sudah mencoba menghubungi ponselnya, tetapi ponsel Lucas tidak aktif, selalu berada di luar jangkauan. Hal itu membuat Serra cemas dan panik.


Baru juga dia hendak pergi mencari suaminya, tetapi suara mobil yang memasuki halaman menghentikan langkahnya. Serra kembali melanjutkan langkahnya, ia bergegas turun untuk memastikan apakah yang datang adalah Lucas atau bukan.


"Kau dari mana saja kenapa jam segini baru pulang? Apa kau tidak tahu bagaimana panik dan cemasnya aku di rumah?!" Kedatangan Lucas langsung disambut oleh omelan Serra. Dia mengomeli suaminya itu habis-habisan.


"Maaf sayang, mobilku tadi sempat mengalami masalah saat dalam perjalanan pulang. Dan itulah yang membuatku terlambat sampai rumah, sekarang aku sudah pulang jadi kau tidak perlu mencemaskan apapun lagi. Ini sudah malam, sebaiknya ayo kita tidur, aku sangat lelah," ucap Lucas dan kemauan dibalas anggukan oleh Serra.


"Baiklah,"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2