
Dorr..
"Aaarrrkkkhhhh..."
Senjata itu terlepas begitu saja dari genggamannya karena timah panas yang Lucas lepaskan. "Kau pikir, sampah sepertimu bisa membunuhku?! Xiao Dante, inilah akhir dari perjalanan panjang mu!!"
Dante tak kehabisan akal. Pria itu mengambil senjatanya yang tergeletak di lantai lalu menodongkannya pada Serra. "Jangan macam-macam, atau kuledakkan kepalanya?!" Seru Dante memberi ancaman.
Melihat nyawa putrinya berada dalam bahaya membuat Nyonya Jung menjadi sangat panik. Nyonya Ivanka lalu menggulirkan pandangannya pada Lucas. "Lucas, cepat lakukan sesuatu. Ba..Bajingan itu ingin membunuh Serra!!" Ucapnya memohon.
"Dia tidak akan berani, Ma." Jawab Lucas menimpali.
Meskipun nyawanya berada dalam bahaya, namun tak terlihat raut ketakutan sedikit pun di wajah Serra. Wanita itu tetap terlihat tenang seolah-olah tak ada bahaya yang mengintai nyawanya.
"Singkirkan senjata itu dariku!!" Pinta Serra dingin dan menuntut.
"Singkirkan?! Kalau aku tidak mau bagaimana, apa yang akan kau lakukan? Melawanku, atau mungkin membunuhku? Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh wanita lumpuh dan gak berguna sepertimu?!" Ucap Dante meremehkan.
Serra melirik pria itu dari ekor matanya. "Yang bermasalah itu adalah kedua kakiku, bukan tangan dan tubuhku!!" Tegas Serra lalu menarik lengan Dante dan membantingnya ke lantai, membuat pria itu mengeram dan meringis kesakitan. Hampir saja kursi roda Serra terguling ke depan, beruntung Lucas dengan sigap menahannya.
Nyonya Jung segera menghampiri putrinya untuk memastikan keadaannya. "Sayang, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Nyonya Jung memastikan.
Serra menggeleng, meyakinkan pada sang ibu jika dia baik-baik saja. "Tidak apa-apa, Ma. Aku baik-baik saja."
Lucas yang masih menahan kursi roda Serra mengangkat kepalanya dan menatap wanita itu dengan marah."Jangan pernah melakukan kebodohan dan hal berbahaya seperti seperti ini lagi, Serra!! Atau aku akan memberikan hukuman yang sangat berat untukmu!!"
Serra mempoutkan bibirnya kesal. "Dasar iblis menyebalkan, kenapa kau suka sekali mengancam orang lain dan membuat mereka ketakutan. Lagipula, orang seperti ini sekali-kali perlu diberi pelajaran!!" Ujarnya membela diri.
"Tapi tidak dengan keadaanmu yang seperti ini!! Bagaimana jika aku tidak ada, bagaimana jika kau sampai terluka? Jadi jangan pernah menempatkan dirimu dalam bahaya apapun alasannya, kau mengerti?!"
Prokk...
Prokk...
Prokk..
"Sungguh sebuah kisah cinta yang sangat manis dan mengharukan. Bagaimana kalau aku kirim kalian berdua ke neraka bersama-sama?!" Dengan tertatih-tatih Dante bangkit dari posisinya. Dia mengacungkan senjata kearah Serra dan Lucas. Senyum culas tersungging jelas di sudut bibirnya.
Lucas bangkit dari posisinya lalu balik menodongkan senjatanya pada Dante. Mereka berdua saling menodongkan senjata dengan tatapan saling membunuh.
"Kau pikir kau saja yang bisa mengancamku?! Sayang sekali, kau tidak mengenalku dengan baik," ucap Lucas menyeringai. "Frans, bawa mereka kemari!!"
"Baik, Tuan!!"
Frans segera memberi kode pada anak buahnya. Kedua pria itu mengangguk. Lalu mereka berdua pun melenggang pergi. Namun tak sampai lima menit kedua orang itu kembali sambil membawa dua wanita berbeda usia yang tubuhnya terikat dan mulutnya tertutup lakban. Mata Dante membelalak sempurna.
__ADS_1
"Dora, Marta?!"
Lucas menarik wanita bernama Marta itu lalu meletakkan ujung pistolnya pada kepala wanita itu. Marta berurai air mata, ibu satu anak itu benar-benar sangat ketakutan karena ancaman Lucas.
"Bangsat, apa yang kau lakukan?! Lepaskan dia brengsek!!"
"Kenapa kau sangat marah, Xiao Dante?! Apa wanita ini sangat berarti bagimu? Tapi sayang sekali, dia akan menggantikanmu menerima hukuman dariku!!" Lucas menyeringai.
Marta adalah istri Dante sebelum dia bertemu dan menikahi Ivanka. Sedangkan Dora adalah putri mereka berdua, Dante pernah mengalami kecelakaan tak lama setelah Dora dilahirkan. Akibat kecelakaan itu, dia menjadi pria mandul yang tak bisa mendapatkan keturunan lagi. Dia bukan seorang Impoten pada awalnya.
Selama ini Dante hanya memanfaatkan Ivanka dengan keluarganya. Demi memberikan kehidupan yang mewah pada Dora dan Marta, Dante sampai merubah identitasnya juga melakukan operasi plastik supaya tidak ada yang mengenalinya, harta yang dia dapatkan dari keluarga Xiao tidaklah seberapa, sementara dia ingin memiliki harta kekayaan yang melimpah.
Dia memainkan sebuah sandiwara yang sangat luar biasa, dan mampu membohongi semua orang selama puluhan tahun lamanya. Dora dan Marta, tentu dua orang yang bisa merasakan hasil dari kelicikan Dante selama ini.
"Lepaskan mereka!! Mereka tidak tau apa-apa!!" Bentak Dante.
"Kau bisa melukai dan menyakiti istri dan ibu angkatku. Lalu kenapa aku tidak bisa melukai orang-orang tercintamu ini?! Bagaimana kalau kita buat semuanya menjadi impas. Kau mengambil kemampuan istriku dalam berjalan, lalu bagaimana jika aku melakukan hal yang sama pada putrimu yang cantik itu?!"
"Jangan coba-coba atau kau akan menerima akibatnya!!" Bentak Dante ketakutan
"HAHAHA!!!" Lucas tertawa keras melihat ketakutan Dante. Dante menggeleng saat melihat Lucas mengarahkan senjatanya pada Dora. "Di dalam senjata ini terdapat tiga amunisi, dua untuk putrimu, dan satu lagi untuk istrimu. Dan kau, akan menyaksikan kehancuran putrimu!!"
"LUCAS, JANGAN!!" Teriak Dante namun terlambat.
Doorrr ..
"DORA!!" teriak Dante melihat dua timah panas menembus paha putrinya dan membuat Dora terjatuh seketika. "LUCAS!! KAU BENAR-BENAR IBLIS!!"
Serra dan Nyonya Ivanka hanya mampu terpaku melihat apa yang baru saja Lucas lakukan. Dia melepaskan tembakannya tanpa berkedip sedikit pun, Lucas tak ragu melakukannya. Dora tengah menangis dan meronta karena rasa sakit pada kedua kakinya. Dia berada di pelukan Dante.
Dante melepaskan lakban pada mulut putrinya. "Pa, sakit!!" Wanita itu merintih kesakitan.
"Dora, tahan dulu, Nak. Papa akan memberi pelajaran pada iblis itu!!" Kemudian Dante menyandarkan punggung Dora pada tembok. Dia mengambil kembali senjatanya lalu berdiri seraya berbalik badan sambil mengarahkan senjatanya pada Lucas.
Mata Serra dan Ivanka membelalak sempurna melihat timah panas yang baru saja dilepaskan oleh Dante. Lucas pun tampak terkejut, dia dalam keadaan tidak siap dan sedikit lengah. Melihat suaminya dalam bahaya tak lantas membuat Serra diam begitu saja.
Wanita itu dengan susah payah bangkit dari kursi rodanya. Melihat Lucas dalam bahaya seolah-olah memberi kemampuan padanya untuk berjalan lagi. Ya, kedua kakinya yang semula tak bisa digerakkan sama sekali kembali berfungsi dengan baik. Serra berlari menghampiri Lucas lalu berdiri tepat di depannya.
"SERRA!!" Teriak Nyonya Ivanka histeris.
Tubuh Serra ambruk kebelakang dan jatuh dalam dekapan Lucas. Dengan gemetar wanita itu memasukkan tangan kanannya ke dalam bajunya lalu mengeluarkan liontin berbentuk hati yang tampak penyok akibat berbenturan dengan timah panas yang Dante lepaskan. Kalung pemberian Lucas menyelamatkannya.
Lucas yang marah melepaskan satu tembakan kearah Dante. Karena hanya itu timah panas yang tersisa di dalam senjatanya. Timah panas itu menembus kening sampai belakang kepalanya dan membuat Dante roboh seketika
"Papa!!" Teriak Dora histeris. Tubuh Dante tak bergerak lagi, dia meninggal di tempat.
__ADS_1
"Bawa mereka berdua pergi dari sini. Kurung mereka di ruang bawah tanah. Potong tub*h bajingan ini dan buang ke kandang singa dan harimauku. Mereka sudah lama tidak makan daging segar!!"
"Baik, Tuan."
Nyonya Ivanka menghampiri Serra dan langsung memeluknya. Tak lama kemudian Johan datang lalu memeluk ibu dan adiknya. Ia sudah mendengar semuanya dari sambungan telfon dari Lucas. Johan juga berhak tau kebenaran jika orang yang selama ini dia anggap sebagai ayahnya ternyata adalah seorang penjahat.
"Ma, Serra. Aku lega kalian berdua baik-baik saja. Rasanya aku tidak percaya selama ini kita sudah dibohongi oleh Iblis itu. Beruntung Lucas segera mengungkapnya sehingga kita bisa lepas dari tipu dayanya." Ujar Johan terisak. Nyonya Ivanka mengangguk.
Ada berkah dibalik insiden yang baru saja terjadi. Serra mendapatkan kembali kemampuannya untuk berjalan. Padahal dokter sempat mengatakan untuk sembuh kemungkinannya sangat kecil. Tapi hari ini miracle datang padanya. Serra bisa berjalan kembali seperti semula.
-
-
"Yaaahhh!! Dia mati sebelum kita mendapatkan keuntungan!!"
Si kembar berujar kecewa saat mengetahui Dante yang sudah tak bernyawa. Saat ini mereka berdua sedang berada di Hawai untuk berlibur. Uang yang mereka dapatkan dari menipu sana-sini mereka pakai untuk bersenang-senang.
Mereka tak akan ketinggalan berita yang sangat luar biasa. Karena ada orang kepercayaannya yang bisa memberitahu mereka segalanya tentang apapun yang terjadi di Mansion Xiao meskipun mereka berdua tak berada di rumah. Bukan berarti mereka adalah musuh dalam selimut juga. Tetapi mereka adalah si kepo yang tak ingin tertinggal berita apapun.
"Lu-Ge terlalu mengetikan. Masa iya langsung di bunuh begitu saja dan tidak membaurkan kita bersenang-senang sebentar dengannya." Ujar Daniel setengah kecewa.
Deriel mengangguk. "Betul sekali, ah rasanya sangat tidak adil. Padahal kita bisa mendapatkan keuntungan besar dari penipu itu." Sahutnya menimpali.
"Sudahlah, lebih baik fokus pada liburan ini." Daniel memakai kembali kaca mata renangnya.
"Ya, kau benar."
-
-
Serra membelalakkan kedua matanya saat melihat tak ada yang salah pada mata kiri Lucas setelah dia melepaskan perbannya. Mata kirinya baik-baik saja. "Lucas, matamu!!"
"Mataku baik-baik saja, Serra. Aku sengaja menutupnya supaya kau tidak terpuruk dengan keadaanmu saat itu. Aku tau kau hancur saat tau jika kemungkinan besar kau tidak bisa berjalan lagi. Maka saat itu juga aku memutuskan untuk menutup mata kiriku supaya kau tidak terlalu terpuruk."
Serra berkaca-kaca mendengar ucapan Lucas."Tapi kenapa kau sampai berbuat sejauh itu, Lu?" Tanya Serra sambil mengunci sepasang biner hitam milik Lucas.
"Karena aku tidak ingin kau hancur sendirian, Serra. Karena pasti tak mudah bagimu menerima kenyataan menyakitkan itu. Aku hanya ingin supaya kau tidak terlalu terpuruk." Ujarnya.
Serra yang terharu mendengar jawaban Lucas segera memeluknya. Dia tidak menyangka jika cinta yang Lucas miliki untuknya ternyata sebesar itu. Nyonya Ivanka dan Johan sama-sama terharu melihat bagaimana besarnya cinta Lucas pada Serra.
Dan sebagai seorang Ibu, tak ada yang lebih membahagiakan dari kebahagiaan putrinya sendiri.
-
__ADS_1
-
Bersambung.