
Wanita itu meringkuk di lantai dengan sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka. Luka yang menghiasi dari ujung rambut sampai ujung kepala.
Wajahnya menunjukkan kesakitan, namun bibirnya tak mampu berkata-kata. Jangankan untuk berbicara, dibuka sedikit saja rasanya sangat menyakitkan. Orang-orang itu menyiksanya dengan brutal dan tanpa ampun.
"Jangan menatapku seperti itu, Nyonya. Kami semua yang ada di sini hanya menjalankan tugas saja, jika kau ingin marah dan membuat perhitungan, nanti saja setelah Bos datang." Ucap seorang pria jangkung yang diketahui bernama Nic.
Nic meminta agar wanita itu tidak menatapnya lagi, bukan karena Nic ketakutan, dia hanya merasa tidak nyaman. "Si...siapa bosmu? Da..Dan kenapa di..dia membuatku sampai seperti ini?" Dengan susah payah dan mengabaikan rasa sakit pada bibirnya, wanita itu memaksa untuk berbicara. Meskipun, itu membuatnya tersiksa setengah mati.
"Aku beritahu juga percuma, nanti saja kau lihat sendiri setelah dia datang. Sebaiknya, sekarang simpan tenagamu untuk nanti. Ketika Bos datang, kau bisa langsung membuat perhitungan dengannya. Sekarang sebaiknya kau diam saja dan Jangan menggangguku, Aku lelah ingin istirahat sebentar." Ujar Nic panjang lebar.
Nic berjalan ke sudut ruangan sambil meregangkan otot-otot lengannya yang terasa kaku, dia berniat untuk istirahat sebentar sambil menunggu Lucas datang. Tapi baru saja Nic hendak menutup matanya, sebuah kanebo basah mendarat mulus pada wajah tampannya.
"Yakkk!!" Lelaki jangkung itu memekik keras, terlihat seorang pria cantik memasuki ruangan itu sambil membawa cup kopi. "Ren, apa kau sudah bosan hidup ya?!" Teriak Nic kesal.
"Dasar tukang molor, Bos membayarmu untuk bekerja bukan untuk malas-malasan!! Jadi jangan sampai kamu makan gaji buta!!" Ucap Ren lalu duduk di kursi usang dihadapan perempuan itu.
Ren menatap Park Minna dengan tatapan polosnya. "Kenapa menatapku terus, kau mau kopi ini?!" Tanya Ren sambil mengangkat cap kopi itu di depan Nyonya Park. Wanita itu menggeleng. Menolak tawaran Ren. "Ya sudah, aku juga tidak memaksa. Lagipula harga kopi ini juga tidak murah, jadi sayang kalau dibagi-bagi." Ujarnya.
Cklekk...
Suara cicitan pada pintu mengalihkan perhatian beberapa orang di dalam ruangan itu. Ren dan Nic buru-buru berdiri saat melihat siapa yang datang. Keduanya membungkuk pada orang itu yang pastinya adalah Lucas.
Rahang Nyonya Park mengeras melihat siapa yang berdiri dihadapannya ini. Lucas Xiao, pria berdarah dingin yang di kenal tak berhati. "Apa kabar Park Minna, kita bertemu lagi." Ucap Lucas seraya berlutut di depan wanita itu.
Nyonya Park menatap Lucas dengan tajam dan penuh kebencian. Dan dengan susah payah Ia membuka suara. "Ka..Kau benar-benar Iblis, Lucas Xiao. Ke..Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?!"
Lucas menyeringai dingin. "Tanpa kau minta pun, aku pasti akan menghabisimu supaya suami dan putrimu tidak kesepian di sana. Pasti akan sangat menyenangkan jika kalian bertiga bisa berkumpul kembali di neraka!!" Jawab Lucas dengan seringai yang sama.
Pria itu menatap ke dalam sepasang mata milik Nyonya Park. "Kau memiliki sepasang mata yang sangat indah, jika dijual pasti memiliki harga jual yang tinggi. Tubuhmu juga sehat dan bugar, organ dalammu juga pasti berharga tinggi jika dijual. Jadilah orang yang berguna untukku sebelum kau mati, supaya kematianmu tidak sia-sia!!"
Tubuh Nyonya Park gemetar hebat saat melihat peralatan bedah yang dibawa oleh salah satu anak buah Lucas. Wanita itu menggeleng kuat, memohon supaya mereka tidak melakukan apapun padanya.
__ADS_1
"Tenanglah, Nyonya. Kau tidak akan merasakan sakit sama sekali, anak buahku akan melakukannya dengan perlahan dan hati-hati. Untuk itu tetap rileks, oke."
"I..Iblis. Ka..Kau benar-benar iblis Lucas Xiao. Kau Iblis!!"
"Bukankah sejak awal kau sudah tahu jika aku ini adalah iblis, tetapi kenapa kau masih saja mencari masalah denganku. Kau telah menggali kuburmu sendiri, Nyonya!! Dan selamat datang di neraka barumu!!" Lucas berdiri seraya merentangkan kedua tangannya. Seringai tajam kembali tersungging disudut bibirnya.
Lucas segera memberi kode pada Ren dan Nic. Mereka berdua adalah orang yang akan mengeksekusi wanita itu. Wajah mereka tampak sumringah, sungguh ini adalah pekerjaan yang paling mereka sukai.
-
-
Serra berlari menyusuri lorong rumah sakit setelah mendapatkan kabar jika Frans telah sadar dari komanya. Awalnya pihak rumah sakit menghubungi Lucas tetapi pria itu tidak mengangkat telfonnya, akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi Serra.
Saat mendengar Frans telah sadar dari komanya. Tanpa membuang banyak waktu, Serra pun bergegas pergi ke rumah sakit. Sungguh sebuah keajaiban, setelah berbulan-bulan tak sadarkan diri, akhirnya Frans bisa sadar kembali.
"Nyonya, Anda sudah datang?"
"Ini sungguh keajaiban, Nyonya. Tubuh pasien dalam keadaan yang normal padahal dia tertidur cukup lama," jawab Dokter pria itu menimpali.
"Boleh saya menemuinya?" Tanya Serra lagi.
"Tentu saja, Nyonya."
Setelah mendapatkan izin dari dokter, Serra pun menemui Frans di ruangannya. Pria itu terlihat duduk bersandar pada ranjang inapnya. Frans terlihat baik-baik saja seperti bukan orang yang baru terbangun dari tidur panjangnya.
"Nyonya," kaget Frans melihat kedatangan Serra.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Serra memastikan.
"Seperti yang Nyonya lihat, saya baik-baik saja. Tubuh saya juga tidak terasa kaku sama sekali." Jawabnya.
__ADS_1
"Senang melihatmu sadar kembali, Frans." Serra menatap pria itu dengan haru.
"Dan saya sangat berterimakasih pada Tuhan karena telah memberikan kesempatan kedua untuk saya hidup kembali. Lalu bagaimana dengan Tuan, Nyonya? Apa Tuan juga selamat dari kecelakaan itu?" Tanya Frans memastikan.
Serra mengangguk. "Lucas baik-baik saja, dia sedang dalam perjalanan kemari. Mungkin sebentar lagi akan sampai." Jawabnya.
Panjang umur. Baru juga dibicarakan, Lucas sudah datang. Melihat kedatangan Bosnya membuat Frans sedikit panik. Susah payah Frans berusaha untuk turun dari tempat tidurnya tapi di cegah oleh Lucas. "Apa yang kau lakukan?" Seru Lucas sambil menahan kedua bahu Frans.
"Tuan, Anda datang jadi mana mungkin saja diam saja. Sudah seharusnya saya membungkuk pada Anda." Ucapnya.
Lucas menggeleng. "Kau bisa melakukannya nanti saat kondisimu sudah membaik, setidaknya tunggu sampai kau pulih terlebih dulu. Jangan memaksakan diri atau aku akan menembak mati dirimu!!"
"Maaf, Tuan. Tidak akan saya ulangi lagi." Frans menunduk penuh sesal.
Rasa takut yang pernah Lucas rasakan sebelumnya hilang seketika setelah melihat Frans telah sadar dari komanya. Ia pikir dia akan kehilangan salah satu orang yang setia padanya. Tetapi Tuhan masih berpihak padanya sehingga menyembuhkan Frans dari komanya.
"Sebaiknya kau kembali istirahat. Aku akan kembali nanti. Felix ada disini, dia akan menemanimu disini." Ucap Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Frans. "Ayo pulang." Serra mengangguk.
"Kami pulang dulu," ucap Serra dan pergi begitu saja.
Serra menghentikan langkahnya dan menatap suaminya itu penuh tanya. "Kau pergi kemana saja sih sebenarnya? Apa yang kau lakukan diluar sana sampai-sampai sulit dihubungi? Jangan-jangan kau sedang asik dengan perempuan lain ya?" Tuding Serra asal.
"Sembarangan. Aku pergi karena ada urusan, memangnya apa untungnya juga aku bermain gila dengan perempuan lain diluar sana? Sudah jangan berpikir yang tidak-tidak, kau lapar tidak?" Serra mengangguk. Kebetulan Serra memang sedang lapar. "Ayo makan siang di restoran mewah."
Serra mengangguk antusias. Dia sangat bersemangat ketika Lucas hendak mengajaknya makan siang di restoran mewah. Saat hamil seperti ini dia memang ingin diperlakukan dengan special.
-
-
Bersambung.
__ADS_1