"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa

"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa
Kesialan Johan


__ADS_3

"AAAHHHHH... LUCAS... HHHMMPP!!"


Johan merinding sendiri mendengar jeritan dan des*han yang berasal dari kamar adik dan adik iparnya. Niatnya Johan ke balkon untuk mencari angin segar, tapi dirinya malah dikejutkan dengan suara yang membuat bulu kuduknya berdiri.


Kamar Johan dan Serra kebetulan bersebelahan, jadi dia bisa mendengar suara apapun dari kamar itu jika suaranya sekeras teriakan Serra.


Johan yang memang dasarnya suka kepo. Akhirnya memutuskan untuk mengintip sedikit. Hanya sedikit, tidak banyak. Bahkan dia sampai melawan ketakutannya pada ketinggian untuk berpindah dari balkonnya ke balkon kamar Serra.


Glukk...


Johan menelan salivanya dengan sedikit bersusah payah. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat dan...


"Huuaaaa.... Siapa pun tolong aku!!" Johan malah tersangkut. Tubuhnya bergelantungan di tiang pagar balkon. Dan teriakannya yang keras tentu mengejutkan semua orang termasuk dua orang yang saat ini sedang bergulat panas di kamarnya.


Lucas dan Serra saling bertukar pandang. Buru-buru Lucas mencabut senjata tempurnya dari lubang kenikmatan itu, dengan cepat ia memakai celana dan kaos singletnya lalu keluar untuk melihat apa yang terjadi. Serra menyusul dibelakangnya.


Setibanya di luar. Lucas dan Serra dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang mendebarkan sekaligus menggelikan, dimana Johan yang sedang tersangkut di pagar balkon. Mereka berdua tidak tau apa yang terjadi dan bagaimana Johan bisa bergelantungan di sana.


"Ya Tuhan, Johan!!" Teriak Nyonya Jung histeris. Dia terkejut melihat putra sulungnya itu sedang bergelantung manja di tiang balkon kamar Serra. "Cepat, bantu Tuan Muda untuk naik."


"Ba..Baik, Nyonya!!"


Lucas pun turut membantu kakak iparnya untuk naik keatas. Dan tangis Johan pun pecah setelah ia berhasil diangkat naik ke balkon. Nyonya Jung menghampiri putranya dan bertanya apa yang terjadi. "Sekarang jelaskan pada, Mama. Bagaimana bisa kau bergelantungan seperti monyet?"


Alih-alih menjawab, Johan malah sesegukan menangis. Bukan karena trauma, tapi karena ibunya menyebutnya seperti monyet. "Ma, kenapa kau jahat sekali, aku terkena musibah tapi kenapa kau malah mengataiku seperti monyet?!" Protes Johan.


"Siapa suruh kau bergelantungan dipagar malam-malam begini?!" Jawab Nyonya Jung menimpali.


"Aku tidak sengaja bergelantungan!! Saat aku sedang mencari angin segar, tiba-tiba aku mendengar suara mengerikan dari kamar mereka berdua!!" Kemudian Johan menunjuk Serra dan Lucas. "Aku yang penasaran memutuskan untuk melihatnya langsung, dan saat melompat kenari, pakaianku malah tersangkut." Jelasnya panjang lebar.


Lucas memijit pelipisnya. Dia pikir karena apa Johan bisa tersangkut, ternyata karena hal konyol semacam itu. Serra yang geram langsung memukul kakaknya dengan keras.


"Dasar tukang intip, makanya jangan sembarangan ngintip orang lain yang sedang bercocok tanam. Menganggu saja!!" Bentak Serra marah.


"Yakk!! Kenapa kau malah mengomeliku?! Bukan salahku sepenuhnya, kalian juga salah, terutama kau Serra. Siapa suruh kau menjerit dan mend*sah seperti tadi. Itu kan membuat orang lain merinding sekaligus penasaran!!" Johan mempoutkan bibirnya.

__ADS_1


"Sudah-sudah, kenapa kalian berdua malah ribut seperti anak kecil?! Johan, kembali ke kamarmu. Kalian berdua sebaiknya juga cepat tidur, jangan begadang terus!!" Nyonya Jung menggelengkan kepalanya. Kemudian dia beranjak dan pergi begitu saja.


Selepas kepergian Johan dan ibunya. Dibalkon hanya menyisakan Serra dan Lucas. Wanita itu menatap suaminya dengan serius, sepertinya keinginannya untuk menginap lebih lama di rumah ibunya bukanlah keputusan yang tepat.


"Kau benar, memang lebih nyaman kita tinggal di rumah milik sendiri. Besok kita pindah ya," Serra menatap Lucas dengan pandangan memohon.


"Kenapa sekarang berubah pikiran? Bukankah kau sendiri yang kemarin tidak mau pindah dan ingin disini lebih lama,"


Serra mempoutkan bibirnya. "Itukan kemarin, sekarang aku mau. Disini benar-benar tidak bebas, apalagi dengan adanya Kak Jo yang keponya kelewatan. Lagipula aku juga ingin tau seperti apa rumahmu yang lain." Ujar Serra.


"Baiklah, besok kita pindah ke sana."


Serra tersenyum lebar mendengar jawaban suaminya. Ia sudah tidak sabar untuk segera pindah dari rumah ibunya. Bukan karena Serra tidak betah, tapi karena dia ingin lebih bebas saat melakukannya.


-


-


"Apa?! Mama meminjam uang pada rentenir?!"


"Sudah habis,"


"Habis?! Memangnya berapa banyak yang Mama pinjam dari mereka, dan untuk apa uang-uang itu?" Tanya Andien.


"Teman Mama menawarkan berlian yang sangat cantik dan harganya lumayan miring. Mama tertarik tapi tidak memiliki uang, lalu Mama memutuskan untuk meminjam pada rentenir sebesar hampir 900 juta won dengan bunga 15%. Mama berjanji akan mengembalikannya dalam waktu satu tahun. Tapi sialnya Mama malah tertipu, berlian itu palsu dan orangnya sudah kabur ke luar negeri."


Andien dan Axel mengusap kasar wajahnya. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran ibunya. Bagaimana mungkin orang terpelajar seperti dia bisa tertipu.


Ternyata pendidikan tinggi tak menjamin orang untuk selalu cerdas dan pintar. Contohnya Nyonya Anita. Meskipun berpendidikan tinggi, tapi dia tetap saja bodoh.


"Kacau, darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Ditambah bunganya yang jelas-jelas tidak sedikit. Ma, lain kali pintar sedikit kenapa!!" Axel memarahi ibunya habis-habisan. Pria itu kemudian berbalik dan pergi begitu saja.


"Mama yang membuat masalah, jadi selesaikan sendiri. Jangan libatkan aku dan kakak!!" Ucap Andien lalu menyusul kakaknya.


-

__ADS_1


-


"Aaahhhh.....!!! Hentikan, aku mohon hentikan. Jangan menyiksaku lagi!!"


Pria itu hanya bisa menangis sambil memohon supaya anak buah Lucas menghentikan penyiksaannya. Dia benar-benar sudah tidak sanggup lagi disiksa seperti ini. Sekujur tubuhnya penuh luka, kulitnya melepuh dan mengelupas akibat siraman air mendidih.


"Kami hanya menjalankan perintah dari bos, hanya dia yang bisa menentukan hukumanmu di hentikan atau tidak. Makanya jangan cari masalah dan perkara dengannya!!"


Apakah dia menyesal?! Maka jawabannya adalah iya, tapi menyesal sekarang tentu saja tidak ada gunanya karena nasi telah menjadi bubur. Dan semua sudah terlanjur terjadi, jika saja waktu bisa diputar kembali. Dia ingin kembali ke waktu sebelum insiden itu terjadi.


-


-


Tuan Valentino mengacak rambutnya dengan frustasi. Sahamnya terus mengalami penurunan setiap harinya. Dan jika begini terus, bisa-bisa dia bangkrut dan jatuh miskin.


Di tambah lagi gaya hidup istrinya, Nyonya Amber sangat suka berfoya-foya dan menghamburkan uang.


"Tuan, karyawan menuntut supaya gajinya segera diberikan. Tapi keuangan perusahaan sedang mengalami masalah, kita benar-benar sedang dalam masalah besar, Tuan."


"Bagaimana dengan dana darurat?"


"Kita tidak bisa mencairkan dana itu. Jika dana itu sampai dicairkan sekarang, tidak menutup kemungkinan keuangan perusahaan akan semakin kritis. Karena dana itu untuk keperluan yang lebih mendesak lagi."


"Baiklah, aku akan mencari solusi lain untuk mengatasi masalah ini. Kau keluarlah dulu dan lanjutkan pekerjaanmu."


"Baik, Tuan."


Sepertinya tidak ada cara lain selain harus menjual salah satu mobil mewahnya untuk mengatasi krisis yang sedang dialami oleh perusahaannya. Sebenarnya ada satu cara lagi, tetapi dia tidak yakin jika Serra mau membantunya.


Tapi Serra juga harus tau diri juga, bagaimana pun juga keluarga Valentino lah yang dulu telah merawat dan membesarkannya. Sudah saatnya dia membalas Budi.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2