
Tubuh Penny terikat kuat dan terkulai tak berdaya di dek kapal yang kotor dan penuh debu. Meskipun banyak pekerja bagian bahan bakar yang menyaksikan, namun tak satu pun dari mereka ada yang berani membantu apalagi melapor pada kapten kapal ataupun bagian keamanan.
Mereka hanyalah pekerja kasar yang tidak memiliki kekuasaan apapun di pesiar ini. Bahkan untuk melihat luasnya samudera pun mereka tidak bisa. Kecuali ketika pesiar tempat mereka bekerja singgah di suatu kota atau negara.
Bahkan dek yang mereka tempati jauh dari kata mewah dan glamor seperti di bagian atas, karena tempat mereka ini hanyalah tempat kotor yang penuh debu dan asap dari sisa bahan bakar.
Byurrr...
Seember air menguyur tubuh Penny dan membuat wanita itu tersadar dari pingsannya. Matanya perlahan terbuka dan mendapati dirinya terikat dan terkulai di sebuah dek kapal yang kotor dan berdebu. M*lutnya tersumpal kaos kaki bekas milik si kembar yang sudah tidak pernah di cuci selama berbulan-bulan.
Dan bagaimana mereka bisa melewatkan sebuah pertunjukan yang begitu luar biasa seperti ini. Dan rasanya sangat kurang jika mereka tidak turut andil dalam memberikan pelajaran pada wanita itu.
"Hehehe, Noona akhirnya kau sadar juga." Ucap Deriel melihat Penny membuka matanya.
"Emmm... Emmm.. Emmm..." Penny melotot pada si kembar, bibirnya mengeluarkan suara namun hanya deheman saja.
"Nunna, kau itu bicara apa? Kami tidak bisa mengerti bahasamu." Ucap Daniel. "Payah!! Bagaimana mau bicara, mulutnya saja masih tersumpal." Daniel menepuk jidatnya sendiri.
Kemudian dia melepas kaos kaki bekas miliknya yang ada di m*lut Penny. Berbagai sumpah serapah seketika keluar dari mulutmu. "Yakk!! Baj!ngan, apa yang kalian lakukan padaku?! Cepat lepaskan aku, apa kalian sudah bosan hidup eo?!" Bentak Penny emosi.
"Nunna, jangan melotot begitu. Nanti cantiknya hilang loh. Dan jangan menyalahkan kami, tapi salahkan dirimu sendiri. Siapa suruh kau berani mencari masalah dengan kakak ipar dan membuatnya hampir mati tenggelam. Jadi ini adalah hukuman yang harus kau terima." Ujar Daniel panjang lebar.
"Kakak ipar?! Maksudmu j*lang itu!!"
"Jangan berani-berani menyebutnya j*lang!!"
Jlebb...
"Aaaahhh.." Penny histeris saat sebuah belati melayang kearahnya dan menancap tepat di depan matanya. Hampir saja belati itu membuat buta mata kanannya. "Tu...Tuan Xiao?!"
Lucas menghampiri Penny dan mencengkram rahangnya. "Buka mulutmu dan julurkan lidahmu." Pinta pria itu. Namun Penny menggeleng, menolak permintaan Lucas. Sorot matanya tajam dan berbahaya. "Jangan sampai aku mengatakannya sekali lagi, jadi cepat buka mulutmu dan julurkan lidahmu!!" Pintanya sekali lagi.
__ADS_1
Dengan ragu, Penny menjulurkan lidahnya dan... 'Crasss' setengah lidah Penny yang menjulur itu terp*tong oleh belati yang tadi hampir membutakan mata kanannya. Membuat darah segar seketika mengucur deras dari luka bekas terpotong itu.
Semua orang yang ada di sana menutup mata ketika Lucas melakukannya. Mereka merasa ngeri sekaligus tidak tega. Diantara para pekerja itu, tak ada satupun yang tau apa alasan Lucas melakukan tindakan sekeji itu pada seorang wanita.
Penny berguling dilantai sambil menangis. Suaranya tak mau keluar, dia sudah kehilangan kemampuan berbicaranya.
Penny benar-benar mengalami nasib yang sangat buruk karena berani membuat seorang Lucas Xiao marah. Iblis dalam diri Lucas seolah-olah mengambil alih kewarasannya saat melihat wanitanya disakiti oleh orang lain.
"Angkat dan buang dia ke laut, supaya jadi santapan ikan hiu." Perintah Lucas pada dua pria yang berdiri di belakang si kembar. Mereka adalah anak buah Lucas yang sengaja dia bawah dalam pelayaran ini.
"Baik, Tuan."
Penny menggeleng. Dia terus meronta ketika tubuhnya diangkat oleh kedua pria itu. Dia tidak mau mati konyol, Penny ingin hidup dan pulang dengan selamat. Tapi sepertinya hal tersebut tak akan menjadi kenyataan karena nasibnya akan berkahir hari ini juga.
Lalu pandangan Lucas bergulir pada para pekerja yang tampak ketakutan tersebut. "Jika ingin melaporkanku lakukan saja, tidak ada yang menahan dan melarang kalian melakukannya. Tapi aku tidak bisa menjamin jika kalian semua akan pulang dalam keadaan hidup dengan tubuh yang masih utuh!!" Ujarnya dan membuat mereka semua menelan ludah.
Sebagai uang tutup mulut. Lucas melemparkan satu tas berukuran sedang yang berisi uang. Sebenarnya ia tidak perlu melakukan hal itu, lagipula jika pun tindakannya di ketahui lebih banyak orang sekalipun tak berpengaruh apapun padanya.
-
-
Serra berjalan diantara istri-istri para konglomerat yang sedang memamerkan perhiasan yang mereka miliki. Dan Serra pun tak mau ketinggalan, dia memakai gelang giok dan cincin pemberian Lucas kemarin.
Bukan maksud Serra untuk pamer, hanya saja orang-orang seperti mereka sesekali perlu di beri pelajaran agar tak terlalu menyombongkan harta kekayaan yang dimiliki oleh suami mereka.
"Lihatlah kalung berlian yang aku pakai. Ini adalah berlian asli yang aku beli dari luar negeri bulan lalu. Dan harganya tentu tidak murah."
"Eh, itu masih belum seberapa, lihatlah anting dan cincin yang aku pakai. Meskipun kecil, tapi ini memiliki nilai harga yang sangat fantastis."
"Milikku tentu lebih baik dari kalian berdua. Ini adalah diamond dari era 100 tahun yang lalu. Dan suamiku mendapatkannya dari sahabatnya di Inggris."
__ADS_1
"Tapi masih lebih istimewa milikku!!" Sahut Serra dan menyita perhatian ketiganya. Sontak ketiga wanita itu menoleh padanya. Serra mendekati ketiga wanita sombong tersebut sambil menyentuh gelang giok dan cincin yang ia pakai.
"Siapa kau? Memangnya siapa yang mengajakmu bicara?! Dan ya, memangnya apa yang bisa kau pamerkan pada kami?!" Salah satu dari ketiga wanita itu bicara dengan sinis.
Kemudian Serra menunjukkan gelang dan cincin yang ia pakai pada ketiganya. "Kalian lihat cincin dan gelang giok ini. Ini adalah peninggalan Dinasti Qin, dan kalian pasti tau sendiri berapa mahal harganya?!" Ucap Serra sambil mengulurkan lengan kanannya.
"A..Apakah ini benar-benar asli?" Satu dari mereka bertiga bertanya dan memastikannya.
Serra mengangguk. "Hu'um." Jawabnya membenarkan. "Oh ya, jika barang ini palsu. Bagaimana aku harus menutupi malu di wajah suamiku?! Lagipula mana mungkin seorang Lucas Xiao membiarkan istri tercintanya memakai barang palsu dong. Dan apa kalian tau berapa harganya? Ini itu bisa sampai 5 kali lipat dari harga perhiasan yang kalian pakai itu." Ujar Serra panjang lebar.
"Ka..Kau, jadi istri dari Tuan Muda Xiao?" Serra mengangguk membenarkan. "Ma..Maaf, Nona. Tadi kami sudah bersikap tidak sopan pada Anda."
"Tidak masalah, aku juga tidak akan mempermasalahkannya. Ups, suamiku sudah datang menjemput tuh. Aku pergi dulu ya, bye-bye..." Serra melambaikan tangannya pada mereka bertiga.
Dengan senyum lebar. Serra menghampiri Lucas yang sedang melipat tangan di ujung tangga. Pria itu menggelengkan kepala lalu menjitak kepala coklat Serra saking gemasnya.
"Sudah pamernya?" Wanita itu mengangguk sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh suaminya.
"Habisnya mereka semua sangat menyebalkan. Masa iya selalu pamer sana-sini di depan banyak orang, ya sudah aku skak saja dengan gelang dan cincin pemberianmu. Ternyata benda-benda ini berguna juga untuk membuat orang lain terbungkam!!"
Lucas mendengus berat. "Dasar kau ini, lapar tidak?" Serra mengangguk dengan cepat. Jika sudah urusan makanan, tentu saja Serra yang terdepan. Karena perutnya tak pernah bisa diajak kompromi.
"Jangan buang waktu lagi, ayo cepat bawa aku makan di dek kapal." Serra menarik Lucas menuju restoran mewah yang terletak disisi Utara. Kebetulan sekali Serra sudah lapar berat dan perutnya tidak bisa diajak kompromi lagi.
Dan Lucas hanya bisa pasrah ketika wanitanya ini menarinya dengan seenak jidat. Tak ada niatan untuk Lucas menolaknya. Karena yang terpenting baginya adalah Serra senang dan tersenyum lebar.
-
-
Bersambung.
__ADS_1