
Brakkkk...
Mobil milik Lucas terpental dan terguling beberapa kali setelah ditabrak oleh sebuah truk besar dari sisi kanannya dengan sengaja. Membuat dua orang yang berada di dalam mobil itu terhempas kesana kemari. Mobil itu terus terguling sebelum akhirnya menabrak pohon di tepi jalan.
Orang-orang yang ada di lokasi kecelakaan segera berdatangan dan menghampiri mobil yang telah hancur itu. Pintu bagian belakang mobil terbuka dan seorang pria keluar dari sana dalam keadaan berdarah-darah, siapa lagi dia jika bukan Lucas.
Beberapa orang menghampirinya dan membantunya keluar dari mobil tersebut. Keadaan Lucas tak bisa dibilang baik-baik saja. Darah segar tampak memenuhi wajah serta lengan dan kakinya. "Masih ada satu orang lagi, selamatkan dia." Pinta Lucas dengan suara lirih.
"Kami akan segera membantu menyelamatkannya. Sebaiknya Anda pergi ke rumah sakit terlebih dulu untuk mendapatkan pengobatan." Ucap seorang pria setengah baya pada Lucas.
"Dia harus selamat, bagaimana pun keadaannya." Ucap Lucas, suaranya semakin lirih. Dia tidak akan pernah rela dan ikhlas jika Frans sampai kenapa-kenapa.
Semakin lama, pandangan Lucas semakin mengabur dan dalam hitungan detik dia kehilangan kesadarannya. Lucas pun jatuh pingsan.
Tanpa membuang banyak waktu. Orang-orang itu pun segera membawanya ke rumah sakit tanpa menunggu ambulans karena keadaannya yang parah. Luka tampak dimana-mana, sedangkan truk yang menabrak mobil Lucas langsung menabrak mobil Lucas kabur entah kemana.
Sementara beberapa orang tampak berusaha untuk menyelamatkan Frans yang masih terjebak di dalam mobil yang terus meneteskan bahan bakar. Mobil itu bisa meledak kapan saja, untuk itu mereka berusaha menyelamatkan Frans dengan segera.
-
-
Serra berlarian di lorong rumah sakit dengan wajah panik dan cemas. Dia mendapatkan kabar dari pihak rumah sakit jika suaminya mengalami kecelakaan. Pihak rumah sakit memberitahu jika keadaan Lucas cukup parah, karena beberapa luka akibat kecelakaan yang dialaminya.
Wanita itu tiba di ruang VIP tempat Lucas di rawat. Jantung Serra berdetak dua kali lebih cepat saat melihat pintu bercat putih di depannya.
Dengan ragu, dia memutar kenop pintu di depannya dan membukanya. Di dalam sana, Lucas yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Beberapa perban tampak menutup beberapa luka di tubuhnya. Mata kanannya tertutup rapat, hati Serra mencelos melihat keadaan Lucas saat ini.
Wanita itu menghampiri Lucas lalu duduk disampingnya. Dan kedatangan Serra membuat mata Lucas yang sebelumnya tertutup kini terbuka. "Kau tidak koma?" Serra berkata lirih.
__ADS_1
Lucas menggeleng. Meyakinkan pada Serra jika dirinya baik-baik saja. "Yang koma bukan aku, tapi Frans. Dia sedang tidak baik-baik saja." Ucapnya.
"Apa kau tau bagaimana takutnya aku tadi saat pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahuku jika kau mengalami kecelakaan dan terluka parah. Aku pikir kau koma Karena kehilangan banyak darah." Ujar Serra.
Lucas mengangkat sebelah tangannya yang tidak diinfus lalu mengarahkan pada wajah Serra. Dia menghapus air mata yang bercucuran itu dengan lembut. "Hei, apa yang kau tangisi? Memangnya sejak kapan istri tangguh seorang penguasa jadi cengeng begini?" Ledek Lucas, Serra mempoutkan bibirnya dan menatap suaminya itu dengan kesal.
"Jangan meledekku, kau menyebalkan!!"
"Kemarilah," Lucas mengulurkan sebelah tangannya lalu menarik Serra ke dalam pelukannya. Ia memahami betul bagaimana perasaan istrinya. Dan Lucas menyakinkan pada Serra sekali lagi jika dia baik-baik saja.
Lucas sedang menyelidiki dan mencari siapa pelaku utama dibalik kecelakaan itu. Karena tidak mungkin truk tersebut menabrak mobilnya tanpa alasan dan perintah seseorang. Tak akan ada ampun bagi siapa pun juga yang berusaha membuatnya celaka. Dia harus mati.
-
-
Seorang pria tertawa dengan keras setelah mendapat kabar dari anak buahnya jika rencananya untuk menyingkirkan Lucas telah berhasil. Orang sewaannya berhasil membuat Lucas celaka dan kemungkinan besar saat ini sudah meregang nyawa karena mengalami luka yang sangat parah.
Pria itu duduk dengan angkuhnya sambil menikmati segelas wine yang baru saja dituang oleh salah satu anak buahnya."Malam ini kita pesta, kalian boleh minum sepuasnya!!"
Dia ingin merayakan kemenangannya. Karena kepergian Lucas akan membuatnya menjadi seorang penguasa tunggal di. Selama ini dia hanya hidup dibawah bayang-bayang pria itu, tapi sekarang tidak lagi. Ia yang akan berkuasa dan menggantikan posisi Lucas sebagai penguasa keluarga Xiao.
Meskipun tak ada darah Xiao yang mengalir di dalam tubuhnya, tapi dia tetap bagian dari keluarga tersebut. Karena bagaimana pun juga nenek Lucas lah yang sudah membawanya masuk ke dalam keluarga Xiao.
-
-
Belum genap satu hari di rawat di rumah sakit. Lucas sudah memutuskan untuk pulang. Dokter tidak bisa menahan dan memintanya untuk tetap tinggal melakukan perawatan. Mengingat jika Lucas adalah orang yang keras kepala dan tidak suka diatur.
__ADS_1
Karena kakinya mengalami cidera, terpaksa Lucas harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu. Sedangkan Frans masih dirawat di rumah sakit karena belum sadar hingga detik ini.
"Apa kau yakin mau pulang sekarang?" Tanya Serra memastikan.
Sebenarnya Serra ingin melarang Lucas untuk pulang hari ini dan melanjutkan perawatannya. Tetapi dia tau betapa keras kepalanya suaminya itu, dan membujuk Lucas bukanlah hal yang mudah. "Ya, kenapa tidak." Jawabnya menimpali.
Seorang pria dalam balutan pakaian formal menghampiri mereka berdua lalu membungkuk pada Lucas. Dia adalah Felix, saudara kembar Frans yang sementara waktu akan menggantikan posisi sang kakak untuk menjadi asisten pribadi Lucas.
Sama seperti kakaknya. Felix adalah orang yang bisa diandalkan. Selama ini Felix berada di luar negeri, meskipun penampilannya sedikit cupu dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya. Akan tetapi dia memiliki kemampuan 11-12 seperti Frans.
"Tuan, saya datang untuk menjemput Anda." Ucap Felix sambil membungkukkan badannya.
"Kita langsung kembali saja ke Mansion. Tamu-tamu tak diundang yang sedang berpesta pora di sana butuh sedikit kejutan dari kita." Ucap Lucas seraya menatap pria di depannya itu.
Felix mengangguk. "Baik, Tuan."
"Apa sebaiknya tidak menunggu sampai kau sembuh dulu, Lu? Kondisimu saat ini masih belum memungkinkan untuk pergi ke sana. Bagaimana jika kau malah dalam bahaya?" Serra tak setuju dengan keputusan suaminya menurutnya Lucas terlalu tergesa-gesa.
Lucas tak memberikan respon apapun. Dia hanya terus menatap Serra dengan tatapan tak terbaca. "Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku merinding, aku hanya memberi saran. Terserah kau mau setuju atau tidak. Aku tidak akan memaksamu!!"
Lelaki itu menghela napas berat. Akhirnya Lucas menuruti saran dari Serta. "Kita pulang saja. Serra, kau benar. Aku memang tidak bisa menghadapi dia dalam keadaan seperti ini."
Serra tersenyum lebar. Meskipun terpaksa, akan tapi Lucas tetap mau mendengarkannya. Wanita itu mengangguk. "Ayo kita pulang,"
-
-
Bersambung.
__ADS_1