
Lucas melepas lilitan perban yang lebih dari satu Minggu membebat mata kirinya dan mendesah berat. Mata kirinya mengalami cidera berat akibat kecelakaan maut yang nyaris merenggut nyawanya dan Frans.
Meskipun 8 hari telah berlalu, tapi cidera di mata kirinya belum juga membaik. Bagian putihnya masih tampak memerah dan sedikit bengkak di kelopaknya. Dokter mengatakan jika kondisi matanya akan kembali normal dalam beberapa Minggu ke depan. Dan sementara, Lucas harus terbiasa menjalani aktifitasnya dengan satu mata yang berfungsi.
Perhatian Lucas teralihkan oleh suara decitan pintu yang dibuka dari luar. Terlihat sosok Serra memasuki kamar lalu melenggang menghampirinya. "Sudah waktunya minum obat," Serra memberikan beberapa butir obat dan segelas air putih pada Lucas.
"Bagaimana, apa kau masih merasa mual?" Tanya Lucas memastikan.
Serra menggeleng. "Aku sudah tidak apa-apa. Sudah cepat minum obatnya, setelah ini temani aku keluar untuk berbelanja bulanan. Stok bahan makanan di rumah sudah mulai menipis, buah dan sayur di kulkas juga sudah hampir habis.'
Lucas mengangguk. "Baiklah, aku ganti baju dulu." Membuka lacinya lalu mengeluarkan sebuah benda hitam bertali yang kemudian dia pakai Dimata kirinya. Terlalu ribet jika harus memasang perban yang baru. Dan terlalu beresiko jika pergi tanpa menutupnya karena bisa saja terkena debu dan bakteri.
Setelah siap, keduanya melenggang meninggalkan kamar. Selain berbelanja kebutuhan dapur, masih banyak lagi yang ingin Serra beli. Salah satunya adalah perlengkapan bayi. Dan Serra sangat senang saat tau jika bayi di dalam perutnya berjenis kelamin perempuan. Karena memiliki anak perempuan sudah menjadi impiannya sejak lama.
Saat ini usia kandungan Serra sudah memasuki bulan ke lima, jadi wajar jika sudah terlibat jenis kelaminnya.
Tak hanya Serra yang bahagia dengan jenis kelamin calon anak mereka, tapi Lucas juga. Itu adalah bukti cintanya dan Serra. Dan apapun jenis kelaminnya, itu tak masalah bagi Lucas, yang terpenting adalah bayi dan ibunya sama-sama sehat dan selamat.
Tak berselang lama Lucas kembali dengan pakaian berbeda dari yang dia pakai sebelumnya. Pria itu menghampiri Serra yang kesulitan menaikkan resleting pada dress-nya. Kemudian Lucas berdiri dibelakang Serra dan membantunya menaikkan resleting tersebut.
"Makasih," ucapnya tersenyum.
"Seharusnya jika tidak bisa kau meminta bantuan padaku." Balas Lucas menimpali.
"Aku pikir bisa sendiri makanya tidak meminta bantuan padamu." Ucapnya seraya berbalik badan. "Sudah siap?" Lucas mengangguk.
Dengan mesra Serra memeluk lengan terbuka suaminya. Lucas memakai singlet putih yang dipadukan dengan vest hitam berleher tinggi serta celana jeans berwarna hitam pula. Kesan misterius pada diri Lucas begitu ketara dari penampilannya, tapi entah kenapa Serra sangat menyukainya.
__ADS_1
"Kak kau mau ke mana?" langkah kaki keduanya terhenti karena kemunculan Jenny. Wanita itu tiba-tiba datang ke kediaman Lucas. "Kak, bolehkan malam ini aku bermalam disini? Aku tidak ingin mendapatkan teror lagi dari kembar laknat itu!!"
"Boleh, kau boleh menempati kamar pembantu!!" Jawab Lucas menimpali.
Mata Jenny membelalak. "What?! Kamar apa kau bilang? Hello, mana mungkin aku yang seorang nona besar keluarga Xiao tidur di kamar pembantu, aku tidak mau!! Lebih baik dia saja yang tidur di sana, karena dia lebih pantas!!" Ucap Jenny sambil menunjuk Serra tepat di depan mukanya.
Serra yang tidak suka sikap dan perilaku jenny segera menyentak tangannya dan menatapnya tajam. "Jaga sikap dan perilakumu, aku adalah Nyonya besar di rumah ini dan lebih tidak mungkin lagi jika aku yang tidur di kamar pembantu. Lagipula mana mungkin Lucas mengijinkannya. Jadi kau jangan banyak bermimpi untuk bisa mengambil posisiku!!"
"Kau~!!"
"Pergilah, kami harus pergi sekarang. Serra, ayo. Sebaiknya jangan hiraukan benalu seperti dia!!" Ucap Lucas, Serra mengangguk.
Keduanya melewati Jenny begitu saja. Bahkan Serra sempat-sempatnya menjulurkan lidah dan menatap Jenny meremehkan. Mau bertarung dengannya, sayangnya Jenny tidak memiliki kemampuan untuk itu.
.
.
Serra meninggalkan Lucas begitu saja dan berjalan kearah buah-buahan dan sayur-sayuran. Serra ingin membeli buah dan sayur terlebih dulu baru yang lainnya menyusul. Buah pertama yang dia ambil adalah anggur hijau dan merah, karena anggur adalah salah satu buah kesukaan Serra.
"Serra Valentino, kau kah ini?"
Perhatian Serra teralihkan oleh teguran seseorang. Sontak ia menoleh dan mendapati seorang wanita yang wajahnya tidak asing berdiri bersebelahan dengannya. Mata Serra memicing, dia mencoba untuk mengingat siapa wanita disampingnya ini.
"Masa kau lupa padaku. Aku Kim, Lee Kim. Dulu kita satu sekolah, ternyata kau banyak berubah ya. Dulu padahal kau itu sangat gendut dan berkacamata. Tapi sekarang kau langsing dan tidak berkacamata lagi. Apa kau melakukan diet ketat?" Tanya wanita bernama Kim tersebut.
Lee Kim. Ya, Serra mengingatnya. Dia adalah seniornya ketika masih duduk di sekolah menengah awal. Serra ingat betul Kim ini orang yang seperti apa. Dia sombong, angkuh dan arogan. Kim merasa paling cantik dan paling popular di sekolah mereka. Meskipun pada kenyataannya tidak.
__ADS_1
Serra meletakkan apel yang ia pegang lalu menatap wanita di sampingnya dengan serius. Seringai tampak di sudut bibirnya.
"Oh, kau rupanya. Ternyata matamu sangat luar biasa, artinya kau bisa mengenaliku setelah aku merubah penampilanku. Pasti karena aku semakin cantik ya? Tapi sayang sekali, karena aku hampir saja tidak mengenalimu. Kau tampak berbeda, kau terlihat lebih tua dengan topeng dempulmu yang hampir satu senti itu!!"
Mata Kim membulat sambil menunjuk Serra dan menatapnya dengan sebal. "Kau~!!"
"Maaf, ya senior. Aku harus pergi. Oya, dulu kau suka memamerkan pacar-pacarmu yang tampan padamu. Aku juga ingin pamer sekarang. Kau lihat pria tampan yang sedang bertelfonan itu? Dia adalah suamiku," ucap Serra sambil menunjuk Lucas.
Bukannya terkejut apalagi mempercayai ucapan Serra. Kim malah tersenyum meremehkan karena dia berpikir Serra kebanyakan menghayal dan bermimpi terlalu tinggi.
"Heh, kau tau Presdir negeri ini? Dia adalah ayahku!! Dasar tukang halu, kau pikir aku akan percaya dengan bualanmu itu?!"
Sudah menduganya. Serra sudah tau reaksi seperti apa yang akan Kim berikan setelah dia mengatakan jika Lucas adalah suaminya. "Lu," panggil Serra dengan keras. Membuat beberapa pasang mata yang ada di dekatnya teralihkan padanya. Sedangkan Lucas yang di panggil tampak melambaikan tangan pada Serra. Membuat Kim kebingungan dan tak percaya.
Setelah memutuskan sambungan telfonnya. Lucas menghampiri Serra. Wanita itu menjulurkan lidah pada Kim yang sebelumnya tidak percaya padanya. "Aku bukan pembual apalagi tukang halu, dia benar-benar suamiku!!" Ucapnya dan berlalu begitu saja.
"Dia benar-benar suamimu?" Kim menatap Serra tak percaya.
"Tentu saja dia suamiku, orang yang sudah membuat perutku buncit!!" Jawab Serra menimpali. "Lu, ayo temani aku berkeliling, masih banyak yang harus aku beli." Serra memeluk lengan terbuka Lucas dan meninggalkan Kim begitu saja.
Kim menghentakkan kakinya kesal. Bagaimana mungkin Serra lebih beruntung darinya. Memiliki suami yang sangat tampan dan super kaya, dan Kim tau betul siapa pria itu. Dia adalah Lucas Xiao, pemilik dari Xiao Empire.
-
-
Bersambung.
__ADS_1