
Lucas mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia langsung tancap gas setelah mendapatkan kabar jika Frans sudah menemukan orang yang telah membakar Mansionnya semalam.
Hampir tiga puluh menit berkendara, Lucas tiba di lokasi. Pria itu segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam sebuah bangunan sederhana yang terletak jauh dari keramaian kota.
Lucas tidak tau kenapa setiap orang yang membuat perkara dengannya selalu bersembunyi di tempat terpencil seperti ini? Apakah mereka pikir dengan bersembunyi maka bisa lepas dari dirinya, oh tidak semudah itu karena Lucas memiliki mata dan telinga dimana-mana. Kekuatan Lucas tentu jauh lebih besar dari yang dibayangkan oleh orang lain.
Brakkk...
Dobrakan keras pada pintu mengalihkan perhatian beberapa orang di dalam ruangan sempit nan pengap itu. Selain tiga orang berpakaian formal, terlihat seorang pria yang tubuhnya terikat pada sebuah kursi tua usang. Wajahnya babak belur dan sudut bibir kirinya mengeluarkan darah.
Tiga pria berpakaian formal itu membungkuk ketika Lucas melewati mereka. Lucas menghampiri pria itu lalu mengangkat dagunya agar menghadap padanya. Melihat tatapan Lucas yang seperti iblis membuatnya merinding sendiri.
"Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu membakar Mansionku?" Tanya Lucas tanpa basa-basi.
"A...Aku tidak tau. Kami hanya bicara lewat telefon saja dan tidak pernah bertemu dengannya. Dia hanya memerintahkan padaku untuk membakar Mansion itu. Orang itu mengirim foto dan alamat serta sejumlah uang padaku, dan sisanya baru dia berikan tadi pagi." Ujar pria itu memberi penjelasan.
Lucas tak melihat kebohongan sama sekali Dimata orang itu. Hanya kejujuran dan ketakutan yang Lucas lihat dari sepasang biner mata itu. Dia juga memberikan nomor ponsel orang yang memerintahnya.
"Frans, segera selidiki nomor ini dan temukan siapa pemiliknya!!"
"Baik, Tuan."
"Lepaskan ikatannya dan segera obati luka-lukanya. Aku akan memberimu satu kali kesempatan untuk hidup. Jika berani mencari gara-gara denganku, kupastikan kau hanya tinggal tulang belulang saja!!"
"Sa..Saya tidak berani lagi, Tuan." Ucapnya terbata-bata.
Dirasa tak ada lagi urusan di tempat ini, Lucas pun memutuskan untuk pergi. Dia harus menjemput Serra yang saat ini sedang berada ditoko bunga milik Jia. Lucas sudah berjanji akan menjemputnya.
-
-
__ADS_1
Cantik, anggun dan menawan. Tiga hal yang mampu menggambarkan dua sosok jelita yang sedang sibuk merangkai mawar dan beberapa jenis bunga yang digabung menjadi satu hingga membentuk sebuah buket bunga yang sangat cantik dan indah.
Dan siapa lagi mereka berdua jika bukan Serra dan Jia. Mereka berdua adalah dua sosok wanita yang sangat cantik jelita. Dua perempuan yang sudah bersahabat sejak lama, dan ikatan yang mereka miliki bahkan lebih erat dari ikatan saudara sekalipun.
Brakkk...
Keduanya terlonjak kaget karena dobrakan keras pada meja kasir. Serra dan Jia saling bertukar pandang, kemudian keduanya sama-sama keluar untuk melihat siapa yang hendak mengacau itu.
Ternyata toko bunga Jia kedatangan dua tamu tak diundang. Ya, mereka berdua adalah preman yang suka membuat keributan dan memalak. "Berikan uang keamanan pada kami berdua jika tidak ingin aman berjualan disini!!" Pinta salah satu dari kedua preman itu.
Serra menahan Jia ketika dia hendak mengambil uang yang mereka minta. Serra menggelengkan kepala. Lalu pandangan Serra bergulir pada mereka berdua. "Jika kami tidak mau kalian mau apa?!"
"Oh, jadi kalian ingin mencari masalah dengan kami?! Kalian berdua tidak tau ya siapa kami ini?!"
"Tau, tentu saja tau. Kalian hanyalah manusia rendahan yang hobinya memalak dari orang lain. Malas bekerja dan suka membuat onar, bagaimana apakah aku benar?!" Serra menyeringai dan menatap mereka dengan sinis.
"Kau~!!"
"Kau benar, wanita seperti ini tidak perlu dikasih hati. Tunggu apa lagi, kita kasih dia pelajaran!!"
Jlebbb...
Dua belati kecil yang dilempar dari jarak lima meter terlihat melayang dan menancap tepat di telapak tangan kedua pria itu. Membuat mereka berteriak dan mengeram kesakitan, sontak Serra dan Jia menoleh. Senyum dibibir Serra mengembang lebar melihat siapa yang datang.
Orang itu yang pastinya adalah Lucas menghampirinya dan Jia. Memastikan pada kedua perempuan itu apakah mereka berdua baik-baik saja?!
"Kalian berdua tidak apa-apakan? Apa mereka menyakiti kalian?" Lucas menatap Serra dan Jia bergantian.
Keduanya menggeleng dengan kompak, meyakinkan pada Lucas jika mereka baik-baik saja. Lega mendengarnya, berani menyakiti mereka berdua terutama Serra, nasib kedua preman itu pasti akan jauh lebih buruk daripada apa yang mereka alami saat ini.
"Tu..Tuan, ampuni kami. Kami tidak akan mengganggu mereka berdua lagi," keduanya berlutut dam memohon ampun pada Lucas.
__ADS_1
"Jangan sampai aku melihat batang hidung kalian membuat onar lagi disini, atau kalian akan tau akibatnya!!" ancam Lucas bersungguh-sungguh.
"Ba..Baik, kami berjanji tidak akan membuat masalah lagi disini. Ta..Tapi, bisakah kau memberi kami sedikit uang untuk berobat. Kami tidak punya uang sama sekali untuk berobat ke dokter," keduanya menundukkan kepalanya.
Jangankan untuk berobat, untuk membeli makanan saja mereka tak punya. Karena malam ini mereka berdua belum mendapatkan uang sama sekali. Biasanya mereka mendapatkan uang hasil memalak dari orang lain.
Lucas mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya lalu menyerahkan pada kedua preman itu. Mereka pun langsung pergi dan meninggalkan toko bunga Jia.
Jia membungkuk pada Lucas sebelum akhirnya meninggalkan pasangan suami-istri tersebut. Dia masih memiliki banyak pekerjaan daripada harus melihat kemesraan pasangan tersebut.
"Kau sudah makan siang?" Lucas menggeleng. Kebetulan aku dan Jia sudah menyiapkan makan siang, bagaimana jika setelah ini kita makan siang sama-sama? Sebenarnya Jia sangat mengharapkan kedatangan Frans. Untuk itu bisakah kau menghubunginya dan memintanya datang kemari? Aku mohon," Serra menatap Lucas dengan tatapan memohon.
Lucas menghela nafas panjang. Pria itu mengangguk mengiyakan. "Baiklah, aku akan segera menghubunginya." Serra tersenyum lebar mendengar jawaban Lucas. Dia tau suaminya ini tidak mungkin mengecewakannya.
-
-
Nyonya Anita terus mondar-mandir di kamarnya. Wajahnya menunjukkan kepanikan. Sesuatu sepertinya telah terjadi, dan kepanikan sang ibu membuat Andien terus bertanya-tanya. Wanita itu menghampiri Ibunya, memastikan jika semua baik-baik saja.
"Ma, sebenarnya kau ini kenapa? Aku perhatikan kau sangat gelisah dan cemas, apa sesuatu yang buruk sudah terjadi?" Tanya Andien memastikan.
Nyonya Anita menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Mama hanya pusing memikirkan perkara keuangan kita belakangan ini. Tabungan kita semakin menipis sementara kebutuhan makin melambung tinggi." Ujarnya.
Tentu Andien tak mempercayai ucapan Ibunya. Dia tau jika wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Apa itu, Andien hanya tidak tau. "Baiklah kalau tidak ada apa-apa. Aku keluar dulu," ucap Andien dan pergi begitu saja.
-
-
Bersambung.
__ADS_1