"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa

"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa
Bercocok Tanam


__ADS_3

Nasib buruk dialami oleh ibu dan anak tersebut. Bagaimana tidak, Dante yang menanam benihnya, malah mereka berdua yang menuai hasilnya. Ya, nasib Dora dan Marta benar-benar sangat memprihatinkan setelah semua kebohongan dan kejahatan Dante terungkap.


Kehilangan semua kemewahan yang mereka nikmati selama ini. Lebih buruknya lagi, kini mereka berdua malah menjadi tawanan seorang Iblis tak berhati, Lucas Xiao.


Sebagai imbas dari perbuatan Dante selama ini, dua orang tercintanya itulah yang harus menerima dan merasakan akibatnya.


Dora dan Marta terkurung disebuah ruang bawah tanah yang gelap dan pengap.


Nasib Dora benar-benar sangat buruk karena Lucas membuatnya tidak bisa berjalan lagi dengan melumpuhkan kedua kakinya. "Makan ini," salah seorang anak buah Lucas memberikan dua porsi makan malam pada Dora dan Marta. Tak ada yang istimewa pada makanan tersebut. Hanya nasi dengan lauk kerupuk plus garam.


"Apa bosmu terlalu miskin sampai-sampai tidak mampu memberi kami makanan yang layak?! Aku tidak Sudi memakannya!!" Seru Dora.


"Cih, dasar tawanan tak tau diri. Bagus bos masih mau berbaik hati memberi kalian makan. Terserah mau kalian makan atau tidak, mati juga bukan urusanku!!" Jawab pria itu menimpali.


"Yakk!!" Teriak Dora emosi.


"Sudah, cepat makan dan jangan berteriak lagi, atau kupotong lidahmu!!" Ancam pria itu dan pergi begitu saja.


Marta mengambil dua piring nasi tersebut lalu memberikannya pada Dora satu dan meminta perempuan itu untuk memakannya. "Sudah, jangan banyak protes. Sebaiknya makan saja, masih mending daripada kira mati kelaparan disini, melawan juga tidak ada gunanya. Kita tidak akan pernah menang melawannya." Ujar Marta menasehati.


Alih-alih memakannya. Dora malah melempar dan membanting piring itu kedinding, piring itu tidak hancur karena terbuat dari plastik, namun semua nasinya tumpah dan berserakan dilantai.


"Dora, apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah tidak mah hidup lagi? Kau bisa mati kelaparan!!" Bentak Marta emosi.


"Aku tidak peduli!! Memang sebaiknya aku mati saja daripada hidup seperti ini!! Aku sudah tidak tahan dan kuat lagi, Ma. Setiap hari mereka hanya memberi kita makan nasi dengan garam dan kerupuk. Dan itu membuatku muak!! Daripada memakannya, lebih baik aku mati saja!!"


"Kalau begitu aku akan mengabulkan keinginanmu itu!!" Sahut seseorang dari arah pintu.


Sontak keduanya menoleh. Terlihat Lucas berjalan menghampiri mereka berdua, tak hanya sendiri saja, dia ditemani oleh anak buahnya. "Sampai kapan kau akan menahan kami disini, Lucas Xiao?! Masalahmu dengan Dante, bukan dengan kami!!"


"Memang benar apa yang kau katakan. Kau dan putrimu memang tidak tau apa-apa, tetapi kalian berdua juga menikmati dari hasil kejahatannya. Bahkan banyak sekali transaksi uang atas nama kalian berdua. Kau terutama, jadi apa bedanya kalian dengan bajingan itu?!" Lucas menatap keduanya bergantian.


Prakkk ..


Dora mengambil botol air mineral disampingnya lalu menghantamkan pada kepala Lucas. Tapi sayangnya gelas itu tak mampu melukainya karena terbuat dari plastik. Dan apa yang Dora lakukan tentu saja membuat Marta terkejut bukan main.


Sorot mata Lucas berubah dingin dan tajam. Marta menggeleng, Dora mulai ketakutan melihat tatapan pria didepannya itu.


"Kau benar-benar perlu diberi pelajaran ya?! C*mbuk dia 100 kali dan cabut satu persatu kuku-kukunya!!"


"Baik, Tuan."


Dora menggeleng. Menangis dan meronta ketika tubuhnya ditarik oleh dua orang yang datang bersama Lucas. Tangannya diikatkan ke rantai dengan posisi terlentang. Dan c*mbuk yang mereka gunakan tentu bukanlah yang seperti biasanya. Karena cambuk itu bergerigi tajam dan runcing.


Marta berlutut di depan Lucas dan memohon supaya dia mencabut hukuman untuk putrinya. Tapi sayangnya keinginannya tersebut tak dihiraukan oleh Lucas. Dia tetap memerintahkan anak buahnya untuk menc*mbuk dan mencabuti satu persatu kuku Dora.


Lucas melenggang, meninggalkan ruang bawah tanah. Dan yang tertangkap oleh kedua telinga Lucas adalah teriakan kesakitan Dora yang menggema dimana-mana. Tampak sebuah seringai tersungging dan menghiasi sudut bibirnya. Teriakan itu terdengar bagaikan sebuah alunan melodi yang indah.


-


-


"Ternyata baju haram ini bagus juga di tubuhku,"


Serra berputar di depan cermin, memperhatikan penampilannya. Tubuh rampingnya dalam balutan lingerie merah yang ia beli bersama Jia kemarin.


Entah apa yang saat itu ada dipikiran Serra, sampai-sampai dia membeli baju haram tersebut. Atau mungkin karena Lucas, karena Serra ingin menyenangkan sang suami.


Cklekkk...


Serra menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu dibuka dari luar. Terlihat sosok Lucas memasuki ruangan, alis pria itu terangkat sebelah melihat gaun tidur yang dipakai oleh istrinya. Namun detik berikutnya sebuah seringai tercetak di sudut bibirnya.


"Heh, coba menggodaku eh?" ucapnya dengan seringai yang sama.


Serra pun menjadi gelagapan sendiri mendengar pertanyaan suaminya dan melihat tatapan mata Lucas yang liar dan nakal. "Ma..Mana ada, aku memakai gaun ini karena terlalu gerah. Kebetulan AC di ruangan ini sedang mati, jadi aku memakai pakaian yang membuatku tidak merasa panas." Ujarnya menuturkan.


Lucas terkekeh geli melihat ekspresi istrinya yang begitu menggemaskan. Dengan cepat ia menarik lengan Serra hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. Mata hitamnya mengunci sepasang biner Hazel milik Serra.

__ADS_1


"Jikapun iya, memangnya kenapa? Toh kita adalah suami-istri yang sah. Dan aku menyukainya, gaun tidur ini sangat cocok denganmu, Sayang." Ujar Lucas setengah berbisik. Serra sedikit merinding karena napas Lucas dilehernya.


Tubuh Serra jatuh kedalam pelukan Lucas, jari-jari Lucas mengangkat dagu Serra lalu mengecup singkat bibir ranumnya. "Seperti biasa, bibirmu sangat manis dan aku menyukainya."


"Jangan menggodaku lagi." Serra mempoutkan bibirnya. Mata wanita itu memicing melihat ada memar diatas alis kanan suaminya. "Eh, ini kenapa?" Serra menyentuh luka memar itu.


Lucas menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya memar saja. Dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, Nyonya Xiao. Malam ini aku membuatmu menyerukan namaku sampai pagi." Ucap Lucas dan kembali menyergap bibir Serra seperti tadi. Ciuman kali ini lebih panjang, lebih dalam dan lebih menuntut dari ciuman yang sebelumnya.


Des*han keluar dari sela-sela ciuman tersebut. Lucas terus mel*mat dan memagut bibir itu dengan brutal, atas dan bawah bergantian. Tak ada penolakan, Serra justru sangat menikmati ciuman tersebut. Posisi mereka tak lagi berdiri, Lucas mengungkung tubuh Serra dengan tubuh kekarnya.


"Aaaahhh..." Des*Han berkali-kali keluar dari sela-sela bibir Serra ketika Lucas menurunkan ciumannya.


Ciuman Lucas kemudian berpindah pada leher jenjangnya, turun lagi menuju dada dan berhenti dibagian bukit kembarnya. Jari-jari Lucas dengan lihai menyingkap kain merah tipis itu hingga terlihat salah satu bukit kembar milik Serra.


"Aaaahhh..." Kembali ia mend*sah ketika Lucas membenamkan mulutnya di bukit kembar yang terbuka itu. Menghisap buah anggurnya dan menggerakkan lidahnya dengan gerakan melingkar. Serra benar-benar terbuai dengan apa yang Lucas lakukan.


Jari-jari lentik Serra bergerak meremas lengan atas Lucas yang tak tertutup apapun karena kemeja lengan terbuka yang dia pakai. Gerakan jari-jari Serra yang sensual membuat ******* turut keluar dari sela-sela bibirnya. Lalu Serra membuka satu persatu kancing kemejanya. Menggerakkan jarinya di dada bidang yang sebagian tersembunyi dibalik singlet putihnya.


Lucas melepaskan tautan bibirnya dan menatap Serra dengan sebuah seringai dibibirnya. "Mencoba menggodaku, eh? Sepertinya kau sudah siap untuk permainan selanjutnya, Sayang." Kemudian Lucas melepas kemeja dan singletnya lalu melemparkan asal.


"Celanamu," Serra menunjuk celana yang masih menggantung pada pinggul Lucas.


Awalnya Lucas ingin melepasnya nanti dan melanjutkan permainannya. Tetapi Serra sepertinya sudah tidak sabar untuk segera bercocok tanam. Lucas menanggalkan celana dan cd-nya, senjata tempurnya yang wow... Menggoda itu telah berdiri tegap dan mengeras.


Lucas memainkan senjata tempurnya dengan jari-jarinya. "Dia sudah bangun dan siap. Bagaimana kalau kita masukkan sekarang?" Serra mengangguk dengan semangat, karena memang itu yang dia inginkan. Dan malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang untuk mereka berdua. Saling berbagi cinta dan kehangatan di tengah malam yang dingin ini.


Malam yang terasa sangat dingin untuk orang lain. Namun terasa panas untuk mereka berdua.


.


.


Percintaan mereka sudah berakhir sejak 1 jam yang lalu, Serra sudah tertidur lelap karena terlalu kelelahan, tetapi Lucas masih terjaga. Pria itu duduk sendirian di ruang keluarga, tak ada satu orang pun yang menemaninya selain sebotol wine dan sebungkus rokok.


Lucas mengangkat wajahnya mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Seorang pelayan baru kembali dari dapur. Melihat Lucas yang duduk sendirian, dia pun memutuskan untuk menghampirinya.


"Siapa yang menyuruhmu duduk disitu?" Ucap Lucas dengan dingin dan tajam.


"Aiyaa, Tuan. Inikan sudah malam jadi kenapa saya tidak boleh duduk disini? Saat siang hari saya memang seorang pelayan, tapi ketika malam hari saya adalah penghuni rumah ini juga seperti yang lain," ujarnya menimpali.


"Pergilah, jangan menggangguku!!" Lucas menatapnya dengan tajam.


Pelayan itu mempoutkan bibirnya. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan Lucas sendiri di ruangan tersebut.


Memang sudah sejak lama dia menaruh hati pada majikannya, bahkan jauh sebelum Serra datang. Tapi sebelumnya dia tidak pernah berbuat selancang dan seberani itu pada Lucas, itu pertama kalinya.


Lucas bangkit dari duduknya dan melenggang pergi. Dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Lucas sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya, ia ingin segera tidur dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


-


-


Ting....


Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Axel. Ada pemberitahuan tentang sebuah transaksi pada kartu debitnya sebesar 5 juta won. Mata Axel membelalak, bagaimana hal itu bisa terjadi sementara dia tidak melakukan transaksi apapun hari ini.


"Apa-apaan ini?! Bagaimana bisa ada transaksi tidak jelas begini?"


Axel buru-buru mengecek isi dompetnya yang dia temukan secara tidak sengaja di depan pintu apartemennya sore tadi. Saat dompet itu dia temukan, uangnya raib dan tak tersisa sedikit pun, sementara identitas dan beberapa card miliknya masih utuh dan lengkap.


"Tunggu dulu, kenapa kartu debit ini terlihat sedikit aneh dan mencurigakan." Ucap Axel kebingungan.


Sekilas memang mirip dengan miliknya, bahkan kodenya pun sama. Tapi Axel merasa ada yang janggal. Dia sedang mencari dimana letak kejanggalan tersebut. Dengan teliti Wxel memeriksanya, memastikan itu benar debit miliknya atau bukan. Lalu Axel memeriksa card-cardnya yang lain, utuh dan itu memang miliknya. Hanya debitnya yang tampak berbeda.


"Apa-apaan ini?!" Axel memekik keras. Ternyata itu adalah kartu pelajar yang ditempeli sebuah stiker. Saking miripnya, sampai-sampai Axel tidak menyadarinya. Dan parahnya lagi, itu adalah kartu pelajar milik Daniel. Yang artinya dialah yang mengambil debit asli miliknya. "DANIEL XIAO, AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!"


-

__ADS_1


-


Serra yang baru saja tiba di lantai satu Mansion mewah suaminya langsung disambut dengan tatapan sinis dan tak bersahabat oleh salah satu pelayan yang bekerja di-sana. Dia menatap Serra dengan tajam dan tak bersahabat sama sekali, membuat wanita itu bingung dan bertanya-tanya.


Namun Serra tak mau ambil pusing dan tak terlalu menghiraukannya. Dia duduk dimeja makan lalu mengambil sehelai roti tawar yang kemudian dia olesi dengan selai coklat peanut kesukaannya.


Baru saja Serra hendak memasukkan roti itu ke dalam mulutnya, dengan berani pelayan itu merebutnya lalu membuangnya ke lantai. Membuat Serra terkejut dibuatnya. "Yakk!! Apa yang kau lakukan?!"


"Kenapa kau menikah dengan, Tuan?! Matra apa yang sudah kau gunakan untuk menguna-guna dia supaya mau dengan wanita m*rahan dan tak tau diri sepertimu?!" Tanya pelayan itu meminta penjelasan.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu!!"


"JANGAN PURA-PURA BODOH!! Kau, pasti sudah menggunakan guna-guna untuk menjeratnya kan. Aku yang lebih dulu menyukainya, sepenuh hati diriku mencintainya, bahkan ku tinggalkan semua kemewahan yang aku miliki demi dekat dengannya. Tapi kenapa kau malah merebutnya?!" Teriak Pelayan itu penuh emosi.


Ya, sebenarnya dia bukan pelayan yang bekerja karena uang, melainkan supaya bisa dekat dengan Lucas. Selena, nama pelayan itu. Dia adalah teman kuliah Lucas, dan Selena sudah lama menaruh hatinya pada pria itu. Tapi sayangnya Lucas tidak pernah meliriknya sedikit pun. Selama lebih dari lima tahun dia menyimpan perasaan itu, tapi tak sekalipun Lucas mau menatapnya.


Selena sendiri adalah putri dari salah satu konglomerat di negeri ini.


Demi cintanya dia rela meninggalkan kemewahannya lalu menjadi pelayan di kediaman Lucas, dia ingin melihat pria itu setiap hari dan berharap Lucas mau melihatnya suatu hari nanti. Tapi sudah tiga tahun dia bertahan di mansion Xiao, tapi tetap saja Lucas tak pernah menatapnya.


"Jangan menuduh sembarangan. Jika kau memang seorang Nona besar, sudah pasti pendidikanmu juga sangat tinggi. Tapi sayang sekali ya, itu tidak bisa membentuk dirimu menjadi manusia yang baik. Ternyata benar, pendidikan tinggi tak menjamin apapun!!"


"Kau~"


"Asal kau tau saja, sampai kadal beranak serigala. Lucas juga tetap tidak akan melirikmu sama sekali. Jadi berhenti berharap dan menyerah saja!!" Serra menyeringai sinis. Dia menyenggol lengan Selena dan pergi begitu saja.


"Dasar ****** kau!!"


"Oya, jangan lupa bersihkan lantainya yang sudah kau kotori itu ya. Lucas tidak suka ada noda dan kotoran di rumahnya. Dan jika perlu, bersihkan dirimu juga, karena kau tak lebih baik dari sampah-sampah busuk di rumah ini!!"


Selena benar-benar tak habis pikir dengan wanita itu. Bagaimana bisa dia begitu berani menyebutnya sampah. Padahal tak seorang pun di rumah ini ada yang berani padanya karena identitasnya yang seorang Nona besar, kecuali Lucas. Karena yang satu itu sudah jangan ditanya lagi.


.


.


Serra menghampiri Lucas yang baru selesai mandi. Dia hanya memakai celana tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh atasnya. Ya, Lucas bertel*njang dada.


Jika sebelumnya Serra akan malu dan gugup sendiri, tapi tidak untuk saat ini. Dia sudah terbiasa dengan Lucas yang bertel*njang dada. "Bagaimana jika aku saja yang memilihkan pakaian untukmu?" Usul Serra memberikan penawaran.


Lucas memicingkan matanya dan menatap Serra penasaran. "Tumben?"


"Kenapa? Apa tidak boleh? Aku ini istrimu dan sangat peduli padamu!!" Serra mempoutkan bibirnya.


"Tentu saja boleh. Aku malah suka jika kau yang melayaniku seperti ini." Jawab Lucas menimpali.


Serra meninggalkan Lucas dan pergi ke Walk In Closet untuk mengambilkan suaminya itu pakaian yang akan dia pakai hari ini. Lucas tak pergi kemana pun apalagi menghadiri acara apapun. Di dalam ruangan itu, semua tertata dengan rapi dan sesuai jenis serta ukuran.


Serra berjalan diantara Vest-Vest koleksi suaminya. Semua warna ada, hingga Serra bingung untuk memilihnya. Dan setelah menimbang cukup lama, dia akhirnya mengambil sebuah Vest berwarna mocca yang senada dengan celana bahannya serta singlet putih sebagai dalaman Vest tersebut.


"Pakai ini saja ya, kan hanya di rumah dan tidak pergi kemana pun."


Lucas tak langsung menerima pakaian yang Serra berikan itu, dia menatap pakaian itu selama beberapa saat sebelum akhirnya menerimanya. Lucas tak ingin membuat Serra kesal karena menolak pilihannya, Lucas menerima pakaian itu lalu memakainya.


Setelah berpakaian lengkap. Keduanya kemudian meninggalkan kamar untuk sarapan. Melihat keberadaan Selena yang sedang menyusun makanan diatas meja tak lantas disia-siakan oleh Serra begitu saja. Wanita itu memeluk lengan terbuka suaminya dengan mesra.


"Kenapa pagi ini kau aneh sekali?" Lucas menatap Serra penasaran.


"Aneh bagaimana, jelas-jelas aku memang begini. Toh semua orang juga sudah tau jika aku adalah istrimu. Kita berdua adalah suami-istri!!"


Suara itu mengalihkan perhatian Selena. Perempuan itu menoleh dan mendapati sebuah pemandangan yang membuat hatinya terbakar. Sebelumnya dia tidak pernah melihat Lucas dan Serra semesra itu, dan hal itu membuat Selena kesal setengah mati.


Serra menyeringai sinis melihat tatapan kesal Selena. Sekali-kali calon pelakor memang perlu diberi pelajaran supaya tidak kurang ajar dan ngelunjak lagi.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2