
Selena jatuh tersungkur di lantai sambil mencengkram perutnya yang terasa seperti terbakar. Selena terus berguling-guling karena rasa sakit dan sensasi terbakar yang sangat luar biasa. Sedikitnya 10 gelas jus cabai yang dia minum dengan paksa, dan masih tersisa puluhan gelas lagi.
Selena menangis, meronta dan meraung. Dia benar-benar sangat kesakitan, mungkin organ bagian dalamnya telah hancur akibat terlalu banyak meminum jus cabai.
Tak ada rasa belas kasihan sedikitpun meskipun mereka melihat Selena yang begitu kesakitan. Bagi mereka yang telah lama bekerja dengan Lucas, hal semacam ini sudah sangat biasa. Bahkan yang Selena alami tak ada apa-apanya, mereka sudah sering melakukan penyiksaan yang lebih parah dari ini.
"He..Hentikan. Aku mohon, aku sudah tidak kuat lagi." mohon Selena dengan suara bergetar.
Tak ada yang mendengarnya, mereka semua seakan tuli dengan permohonan perempuan itu. "Buka mulutmu dan minum lagi jusnya, bukankah ini sangat menyegarkan?! Hahaha..."
"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk .." Selena terbatuk-batuk sampai muntah darah akibat luka parah pada lambungnya. Apalagi jus cabai yang dia minum berasal dari cabai paling pedas sedunia.
"Sepertinya dia sudah hampir sekarat. Sudahlah tinggalkan saja, toh dia juga tidak akan bertahan lama!!" ucap salah satu dari ketiga pria itu.
Mereka melenggang pergi meninggalkan ruangan tempat Selena disekap. Wanita itu terlentang dengan nafas naik turun, bukan ini yang diharapkan, bukan akhir seperti ini yang dia inginkan.
Karena yang dia inginkan adalah Lucas bisa melihatnya sebagai seorang wanita. Akan tetapi apa yang dia dapatkan? Selena mendapatkan penderitaan fisik dan juga batin, karena cintanya pada Lucas yang bertepuk sebelah tangan ditambah lagi dengan penderitaan yang dialami saat ini.
-
-
"Ice skating?!" Serra mengangguk.
Wanita itu merengek meminta supaya Lucas membawanya pergi bermain ice skating. Karena sudah lama sekali Serra tidak pernah bermain ice skating lagi, padahal itu adalah salah satu hobinya.
"Ya, ayo kita pergi main ice skating." Rengek Serra sambil mengguncang lengan Lucas.
"Kau yakin?" Wanita itu mengangguk. "Tapi itu sangat berbahaya, apa kau bisa memainkannya dengan benar?"
__ADS_1
Serra mendecih dan menatap sebal suami tampannya itu. Apa dia meragukan kemampuannya?! "Kau meragukan kemampuanku ya?! Begini-begini aku jago bermain ice skating. Kalau kau tidak percaya, maka cepat bawa aku pergi, biar aku tunjukkan kemampuanku padamu!!"
Lucas menghela nafas berat. "Kalau begitu cepat ganti pakaianmu, kita pergi sekarang," ucapnya.
"Kenapa aku harus mengganti pakaian? Memangnya kenapa jika aku main ice skating dengan memakai Dress? Hp-nya terlihat seperti putri putri di negeri dongeng!!" tegas Serra menimpali.
Lucas menatap istrinya tak percaya. "Kau serius ingin bermain skating dengan memakai dress itu?! Kau tidak sedang bercanda kan?" dia menatap Serra ragu.
"Tentu saja tidak!! Memangnya apa salahnya bermain ice skating dengan memakai Dress, toh di dalam dress ini aku juga masih memakai celana." tuturnya. "Dan akan aku tunjukkan, seberapa mahir dan jagonya aku dalam bermain ice skating. Selain itu, aku juga akan mengkombinasikan permainan ice skating dengan tarian balet."
Kenapa istrinya ini begitu percaya diri sekali. Apakah dia benar-benar bisa melakukannya? Ucapan Serra begitu meyakinkan sehingga Lucas tidak seragu tadi. Dan dia ingin melihat seberapa hebat Serra ketika bermain ice skating.
"Ya sudah, ayo kita berangkat." Serra tersenyum dan mengangguk antusias. Wanita itu memeluk lengan suaminya. Keduanya kemudian meninggalkan kamar super megah tersebut.
-
-
Bagaimana tidak, tagihan pada kartu kreditnya tiba-tiba membengkak. Dia dituntut membayar sebesar hampir 500 juta won. Dan sekarang Axel sampai masuk rumah sakit karena terlalu syok.
"Uangku, mana uang-uangku. Kembalikan semua uang-uangku!!" teriaknya histeris. Dan beginilah keadaan Axel sekarang, dia stress dan nyaris mendekati gila karena uang-uangnya.
Dan kondisi Axel yang semakin hari semakin mengkhawatirkan membuat Nyonya Anita menjadi cemas dan takut. Dia takut jika lama-lama putranya itu menjadi gila. Dan sebagai seorang Ibu, tentu dia tidak akan tinggal diam. Dia harus menemukan Lucas, ia akan menuntut haknya sebagai pewaris yang sah dari harta suaminya.
"Pa, aku titip Axel. Aku harus menemui Lucas, dia harus menyerahkan hak milik Robin padaku. Bagaimana pun juga aku adalah istrinya yang sah!!"
Kakek Xiao menahan lengan Nyonya Anita dan menggeleng. "Sangat berbahaya jika kau pergi sendirian. Aku akan memerintahkan beberapa anak buahku untuk mendampingimu. Mereka terpilih dan bisa diandalkan."
Anita mengangguk. "Baiklah, jika menurut Papa itu yang terbaik. Kita tidak bisa diam saja dan terus-terusan menjadi orang bodoh. Seharusnya kita berempat bersatu untuk melawannya!! Dia hanya sendiri, memangnya apa yang bisa dilakukan olehnya." Ujar Nyonya Anita.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan ikut pergi denganmu,"
Nyonya Anita adalah menantu keluarga Xiao. Dia istri dari putra kedua Kakek Xiao, putranya turut menjadi korban kecelakaan yang juga menewaskan orang tua Lucas. Dan Robin Xiao adalah satu-satunya putra yang bisa dia kendalikan untuk mempermudah semua rencananya. Tapi sayangnya dia harus meninggal dengan cara yang sangat tragis.
"Lalu bagaimana denganku?! Masa iya aku yang harus menjaga kakak disini? Aku tidak mau!!"
"Andien, sebaiknya kau jangan berulah. Jika kita mendapatkannya. Kau juga yang akan merasakan hasilnya. Jadi diamlah dan jangan banyak protes. Pa, ayo pergi sekarang."
Kakek Xiao mengangguk. "Baiklah,"
-
-
Lucas hanya mampu terdiam dan terpaku melihat bagaimana mahir dan hebatnya Serra ketika meluncur diatas ice rink. Wanita itu tak hanya sekedar membual saja tentang kemahirannya dalam bermain ice skating.
Gerakan yang sangat indah dan tubuh yang lentur membuatnya terlihat seperti seorang profesional. Dan Lucas tidak pernah tau jika sang istri memiliki keahlian dalam bermain ice skating. Dia sempat meragukannya ketika Serra memberitahu perihal kemampuannya, tapi kini dia percaya dengan apa yang tengah disaksikan oleh matanya.
Serra tersenyum lebar. Dengan gerakan lincah dia menghampiri Lucas yang hanya diam dan terpaku itu. "Bagaimana, Tuan Xiao? Masih meragukan kemahiranku?!" Ucap Serra. Lucas menggeleng, kini ia percaya.
"Kau benar-benar hebat, maaf sudah meragukanmu tadi. Sebagai permintaan maaf ku, bagaimana kalau setelah ini aku ajak kau makan di restoran mewah, terserah dimana saja kau bisa menentukannya sendiri.",
Mata Serra seketika berbinar-binar."Benarkah?" Lucas mengangguk. "Kalau begitu kita makan di restoran Itali saja. Sudah lama aku tidak makan pasta dan pizza yang lezat."
Lucas menepuk kepala coklat Serra lalu mengangguk setuju. "Baiklah, terserah kau saja. Dimana pun aku sih oke dan tidak masalah." Ucapnya. Memang kebetulan ini sudah hampir jam makan malam, dan Serra sudah sangat lapar.
"Jangan buang waktu lagi, ayo berangkat sekarang." Ia memeluk lengan Lucas, dan keduanya segera meninggalkan ice rink.
-
__ADS_1
-
Bersambung.