
Lucas meninggalkan Mansion mewahnya dan pergi ke suatu tempat. Dia baru saja mendapatkan petunjuk baru tentang kematian orang tuanya. Seseorang menghubunginya dan memberitahu Lucas jika dia memiliki sebuah informasi penting yang sangat ingin dia ketahui.
Dia tidak pergi sendirian, Frans ikut bersamanya. Lucas juga membawa beberapa anak buahnya hanya untuk berjaga-jaga. Mobil yang dikemudikan oleh Frans memasuki kawasan sepi yang jauh dari keramaian kota.
Lucas tidak tau kenapa orang itu mengajaknya bertemu di tempat terpencil seperti ini, dan tentu saja hal itu mengundang curiga. "Tuan, bagaimana jika dia menjebak kita? Bagaimana jika itu hanya jebakan saja?" Ucap Frans ditengah kesibukannya mengemudi.
"Berarti dia cari mati!!" Jawab Lucas menimpali.
Lucas benar-benar penasaran akan siapa sebenarnya dalang di balik kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya. Kenapa dia begitu misterius, jika memang orang terdekat, lalu siapa?
Mungkinkah orang itu adalah Kakek Xiao? Rasanya tidak mungkin, karena sejahat-jahatnya dia, tidak mungkin kakek Xiao merencanakan pembunuhan untuk anaknya sendiri.
Atau mungkin Tuan Jung? Itu lebih tidak mungkin lagi, karena saat peristiwa itu terjadi. Dia dalam keadaan yang sangat kurang baik, jangankan untuk melakukan sesuatu, bahkan untuk bergerak dan berbicara pun dia tidak bisa.
Dan ada satu orang lagi yang menurut Lucas paling masuk akal untuk dijadikan tersangka. Orang ini adalah putra angkat kakek Xiao yang saat ini berada di Eropa, sudah sejak lama ia berselisih dengan mendiang ayahnya. Dia mewakili sifat buruk kakek Xiao, yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
"Tuan, kita sudah sampai."
Mereka berdua segera turun, Lucas dan Frans berjalan memasuki rumah sederhana tersebut. Dan setibanya di dalam, mereka mendapati seorang pria sudah terbujur kaku dengan luka tembak tepat di keningnya. Mereka datang terlambat.
Dan ternyata, menemukan petunjuk tentang siapa pelaku dan dalang utama di balik kematian kedua orang tuanya lebih sulit dari yang Lucas pikirkan.
"Kita terlambat, ternyata orang itu tidak bisa diremehkan. Ayo pergi, tidak ada gunanya lagi kita tetap disini." Ucap Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Frans.
Baru juga menginjakkan kakinya di teras rumah tersebut. Frans dan Lucas sudah disambut sedikitnya sepuluh orang dan mereka semua bersenjata. Tiga orang anak buah Lucas pun telah tewas di bantai oleh mereka semua.
"Kalian pikir bisa keluar dari tempat ini secara hidup-hidup?!" Ucap salah satu dari mereka.
Lucas menghalangi ketika Frans hendak maju melawan mereka. "Jangan ikut campur, biar aku yang membereskan sampah-sampah ini!! Kebetulan sekali tanganku sudah gatal ingin menghabisi mereka semua!!"
Kemudian Lucas melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai sebatas sikunya. Ia kemudian meminta mereka semua untuk maju selama bersamaan. Perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi.
Lucas yang hanya seorang diri dikeroyok sedikitnya 10 orang, sungguh sebuah perkelahian yang tak seimbang. Tapi sayangnya mereka sama sekali tidak mengetahui siapa lawan yang tengah dihadapinya itu.
Dia adalah orang yang telah mengikuti pelatihan selama bertahun-tahun, bahkan Lucas mampu menghabisi beberapa lawan sekaligus dengan mata tertutup. Selain mahir berkelahi, dia juga jago menggunakan senja seperti pistol dan pisau komando.
Lima orang berhasil Lucas tumbangkan hanya dalam hitungan menit saja. Kurang dari 10 menit Lucas berhasil menumbangkan setengah dari mereka. Tak main-main, Lucas benar-benar berniat membantai kesepuluh orang itu.
__ADS_1
Tak hanya sekedar menumbangkan mereka saja, akan tetapi Lucas juga menghabisi orang-orang itu dengan sadis dan tanpa ampun. Membuat lima yang lainnya menjadi ragu untuk maju dan menyerang lagi setelah melihat teman-temannya mati secara mengenaskan di tangan pria tersebut.
"Apa yang kalian ragukan?! Maju kalian semua, biar sekalian aku kirim kalian ke neraka!!" Lucas berkata dengan dingin dan tajam.
Bukannya maju menyerang, akan tetapi mereka malah mundur beberapa langkah sebelum akhirnya memutuskan untuk melarikan diri.
Tapi sayangnya Lucas tak memberikannya. Dia melemparkan pisau komando yang tersimpan di pinggangnya dan membuat mereka tumbang seketika, racun yang terdapat pada mata pisau itu yang membuat mereka semua ambruk dan kejang-kejang.
Lucas menghampiri kelimanya. Dia langsung menebas bagian lehernya ketika kelimanya masih bernapas dan bernyawa. Membiarkan mereka tetap hidup juga tidak ada gunanya.
Sedangkan Frans hanya bisa menelan ludah melihat bagaimana kejam dan sadisnya Lucas dalam menghabisi mereka semua.
"Ayo kita pulang,"
Frans mengangguk. "Baik, Tuan."
Sepanjang perjalanan, Frans terus diam dan tak berkata apa-apa. Dia memang tau jika Tuannya ini adalah pria yang kejam dan tak kenal kata ampun. Tapi melihat Lucas menghabisi musuhnya secara langsung tentu saja hal yang cukup langkah, apalagi sampai sesadis itu. Karena biasanya Lucas tak sampai turun tangan sendiri.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Ucap Lucas seolah mengerti apa yang Frans pikirkan.
"Tuan, Anda membuat saya merinding saat melihat bagaimana Tuan membantai mereka semua. Bahkan saya hampir pingsan melihat begitu banyak darah dimana-mana.
Frans menatap Lucas dari spion depan mobil yang dikemudikannya. "Tuan, Anda benar-benar membuat saya merinding." Ucapnya, Lucas hanya menyeringai.
-
-
"Halo, apa ada orang di dalam?"
Seruan itu menyita perhatian seorang wanita muda yang sedang merangkai bunga di toko bunga miliknya. Wanita itu lantas menoleh, matanya membelalak melihat siapa yang datang.
"Serra!!" Serunya dan langsung menerjang tubuh Serra. Kedua sahabat itu pun kemudian berpelukan dan saling melepas rindu setelah cukup lama tak bertemu. "Serra, aku merindukanmu. Mentang-mentang sudah punya suami super kaya jadi lupa sama sahabat sendiri."
"Sembarangan!!" Serra menyela cepat. "Kau pikir hanya kau saja yang rindu padaku. Aku juga rindu padamu, Jia."
Jia dan Serra adalah sahabat sejak mereka sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Dan Jia adalah orang yang mengerti perjalanan hidup Serra yang bisa dibilang sangat berat. Hidup di lingkungan keluarga yang tidak pernah menyayanginya.
__ADS_1
"Kau terlihat lebih baik, Baby. Melihat wajah bahagiamu saat ini membuatku sangat bahagia." Ucap Jia sambil menangkup wajah Serra.
"Itu berkat Miracle dari Tuhan. Banyak sekali hal yang ingin sekali aku ceritakan padamu, semua hal bahagia yang aku rasakan saat ini seharusnya kau juga ikut merasakannya."
Jia kemudian membawa Serra untuk duduk. Ia ingin tau cerita apa saja yang telah ia lewatkan selama beberapa bulan tentang sahabatnya ini.
Dan akhirnya Serra menceritakan semuanya pada Jia, jika sebenarnya dia bukanlah putri kandung keluarga Valentino dan ia telah bertemu dengan keluarga kandungnya. Serra juga menceritakan perihal perasaan tak wajar yang dia rasakan pada Lucas saat ini.
"Sungguh? Kau benar-benar bertemu dengan orang tua kandungmu?" Jia menatap Serra tak percaya.
Serra mengangguk. "Ya, aku bertemu dengan mereka juga tanpa sengaja?"
"Aku ikut bahagia untukmu BESTie. Dan menurutku, kau sudah jatuh cinta pada suamimu. Itu adalah perasaan yang wajar dan manusiawi, Serra. Dan kau seharusnya berbahagia karena sudah menemukan pasangan hidup yang tepat dan bisa mencintaimu dengan sepenuh hati."
"Ya, itulah yang aku rasakan saat ini." Serra tersenyum lebar.
Memang sudah seharusnya dia bahagia karena menemukan pasangan hidup seperti Lucas, dia mungkin dingin dan kejam pada orang lain. Tapi Lucas selalu memperlakukannya dengan baik dan hangat. Lucas adalah pria terbaik yang pernah Serra temui dalam hidupnya.
-
-
Lucas yang baru saja tiba menemukan sebuah mawar ungu hidup yang terletak diatas meja. Dan Lucas tau akan arti dari bunga cantik tersebut. Mawar ungu memiliki arti sebagai keindahan yang menakjubkan dan misterius.
"Kau sudah pulang," tegur Serra saat mendapati Lucas yang sedang menatap mawar ungu itu dengan penuh makna.
"Kau yang membelinya?"
Serra menggeleng. "Itu pemberian sahabatku, dan dia supaya aku memberikannya padamu."
Lucas memicingkan matanya. "Untukku, kenapa?" Dia menatap Serra penasaran.
Wanita itu mencium bibir Lucas selama beberapa detik. "Bagaimana, apa kau sudah mengerti?" Serra tersenyum lebar. Lucas tak menjawab, dia menarik tengkuk Serra dan mencium bibirnya. Sebelah tangan Lucas menarik Serra lebih dekat, mereka berusaha menyampaikan perasaan masing-masing melalui ciuman tersebut.
-
-
__ADS_1
Bersambung.