
"APA?! PERONTOK RAMBUT?! DANIEELLL!!"
Ketiganya terkejut dan memekik dengan keras. Kedua mata Daniel membelalak sempurna melihat mereka bertiga berancang-ancang untuk mengejarnya. Dengan sigap dia menarik tangan Deriel dan membawanya pergi meninggalkan Apartemen milik Axel.
Tetapi mereka tidak pergi dengan tangan kosong pastinya. Melihat dompet Axel yang tergeletak diatas meja langsung saja Deriel embat dan masuk ke dalam kantong celananya, bahkan Daniel pun tak menyadari apa yang dilakukan oleh saudara kembarnya itu.
Daniel sungguh tidak menduga jika yang dia ambil adalah ramuan yang salah. Tapi tak ada penyesalan sedikit pun diraut mukanya. Niat awalnya Daniel membeli ramuan itu untuk dirinya sendiri karena ingin memiliki rambut yang lebih lebat, dan memakai salah satu dari mereka sebagai bahan uji coba. Benar-benar manjur atau tidak?!
Dan sungguh diluar dugaan. Yang dia beli ternyata bukan ramuan penumbuh rambut super melainkan perontok super khusus untuk ketiak dan bagian bawah. Untung saja dia belum memakainya.
"Yakk!! Kalian berdua jangan kabur!!" Teriak Axel emosi.
Mereka tanpa sengaja malah berpapasan dengan penghuni apartemen lain. Awalnya masih tidak menyadari mereka menertawakan apa, tapi akhirnya Axel dan Kakek Xiao sadar jika yang ditertawakan adalah mereka berdua. Andien tidak ikut mengejar si kembar, dia tidak mungkin pergi dengan keadaan kepala plontos mengkilap.
"Sial!! Pak tua, kita malah jadi badut sekarang. Sebaiknya kita kembali saja dulu. Nanti saja membuat perhitungan dengan mereka." Ucap Axel yang kemudian dibalas anggukan oleh Kakek Xiao.
Setibanya di apartemen. Axel mencari dompetnya, seingat dia dompet itu diletakkan diatas meja makan, tapi kok tidak ada. Axel bertanya pada Nyonya Anita, tapi dia juga tidak tau.
Di dompet itu ada uang tunai senilai satu juta won(11jt) , kartu identitas, ATM, kartu kredit dan debit. Jika dompet itu sampai hilang, Axel bisa berada dalam masalah besar. Apalagi jika dompet itu jatuh ke tangan orang yang salah, si kembar contohnya. Dan Axel tak bisa tinggal diam, dia harus menemukan dompetnya dengan segera.
-
-
"Kau kau yang bernama Bryan Wang?"
Lelaki bertubuh tinggi besar itu mengangkat wajahnya dan mendapati dua pria, satu berkulit putih dan satu lagi berkulit sedikit gelap. Pria bernama Bryan itu menatap keduanya penasaran.
"Ya, siapa kalian dan apa kita saling mengenal?" Bryan menatap keduanya bergantian.
"Kau memang tidak mengenal kami, tapi aku dan bocah ini jelas mengenalmu. Ikutlah dengan kami, seseorang ingin bertemu denganmu!!" Ucap pria berkulit Tan itu 'Kai'
"Kalau aku menolak bagaimana?"
"Maaf, tapi kami tidak akan sungkan." Si putih mengeluarkan sebuah alat kejut dari balik pakaiannya. Bryan jatuh pingsan setelah benda tersebut menyentuh kulit lehernya.
Tugas mereka berdua adalah membawa Bryan ke hadapan bos besarnya, dan jika mereka berdua sampai gagal. Maka bonus yang telah dijanjikan akan melayang. Kan lumayan, bonusnya bisa untuk menyewa kucing-kucing liar favorit mereka.
-
-
__ADS_1
Lucas memicingkan matanya melihat Serra yang tak berkedip ketika menatapnya. Iya baru selesai mandi dan sedang memakai pakaiannya.
Tampak sebuah celana panjang menggantung di pinggul Lucas, kemeja hitam lengan terbuka yang tidak terkancing sempurna. Hingga terlihat singlet putih yang menjadi lapisan dalam kemejanya.
Serra benar-benar Tak berkedip sedikitpun. Membuat Lucas bingung dan terus bertanya-tanya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya pria itu penasaran. "Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" dia memastikan. Serra menggeleng. "Lantas,"
"Malam ini kau terlihat sangat tampan dengan kemeja itu. Dan aku suka stylemu yang seperti ini." Jawab Serra menimpali.
Jadi karena penampilannya, Lucas pikir karena apa. Memang jarang Dia memakai pakaian sesantai itu. Celana jeans dan kemeja lengan terbuka. Entah kenapa malam ini Lucas ingin sekali memakainya. Dan Jika boleh jujur, Lucas lebih nyaman dengan penampilannya saat ini.
Akan tetapi dia tidak bisa berpakaian seperti itu setiap hari. Karena Lucas juga harus menjaga imagenya agar tidak buruk di mata orang lain. Terutama dimata para koleganya.
"Jawabanmu terlalu nyeleneh, Nona." Lucas menepuk kepala coklat Serra sambil mengukir senyum tipis di bibirnya "Ayo, aku bawa kau makan malam di luar."
"Tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu." ucap Serra yang kemudian dibalas anggukan oleh Lucas.
Tak Butuh waktu lama untuk Serra segera mengganti pakaiannya. Dia memakai celana jeans yang mengikuti lekuk kaki jenjangnya dan sebuah blus cantik berenda berbahan brokat kualitas terbaik untuk atasannya.
Serra menghampiri Lucas yang sedang menunggunya. "Ayo berangkat," ucap Serra sambil memeluk lengan terbuka Lucas dengan mesra. Pria itu mengangguk, keduanya kemudian berjalan beriringan meninggalkan kamar. Kebetulan sekali Serra memang ingin makan malam di luar.
.
.
Tak hanya banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang, ada juga para pejalan kaki yang berjalan di trotoar. Lampu-lampu kota terlihat berkilauan bagaikan lautan berlian yang sangat indah.
"Lu, kau melihat para pasangan muda itu? Sepertinya tempat ini adalah surganya para muda-mudi untuk berkencan," ucap Serra mengakhiri keheningan diantara mereka berdua.
"Kenapa? Apa kau iri dengan mereka?"
Serra menggeleng. "Tentu saja tidak, memangnya kenapa juga aku harus iri pada mereka. Toh aku juga sudah memiliki pasangan yang jauh lebih baik dan lebih segala-galanya dari pemuda-pemuda itu. Justru para gadis itulah yang harusnya iri padaku." Ujarnya panjang lebar.
Lucas terkekeh. "Dasar kau ini. Kau harus tidak?" Serra mengangguk. "Kalau begitu tunggu disini sebentar, aku beli minuman dulu." Lagi-lagi Serra mengangguk.
Tiba-tiba Serra kebelet ingin buang air kecil. Wanita itu meninggalkan kursinya lalu pergi ke toilet untuk pipis. Dan tak lama setelah kepergian Serra, tampak seorang wanita berambut coklat panjang berlari dengan dua pria yang mengejar dibelakangnya. Kedua orang itu bersenjata.
Sesekali wanita itu menoleh kebelakang. Ia berteriak meminta tolong, meskipun banyak yang melihatnya, tapi tak satupun dari mereka ada yang berani untuk menolongnya karena pria-pria itu semua bersenjata.
"Tolong... Tolong... Tolong..."
"Jal*ng!! Berhenti dan jangan kabur kau!!"
__ADS_1
Dorrr...
Dorrr..
Dua tembakan yang mereka lepaskan meleset dan tak mengenai wanita itu. Namun tembakan ketiga berhasil menembus punggungnya dan membuat wanita itu jatuh tersungkur. Dua tembakan lagi dilepaskan pada wanita itu yang masih bernapas. Dan tembakan ketiga ia pun meregang nyawa.
Orang-orang berhamburan dan berlarian menyelamatkan diri. Tak satupun dari mereka ada yang berani menyentuh apalagi mendekati wanita itu. Dan kekacauan yang terjadi membuat Lucas yang baru kembali dari membeli minum tampak kebingungan.
Penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Lucas menghentikan seorang pria untuk bertanya. "Apa yang terjadi? Kenapa suasananya jadi sekacau ini?"
"Tuan, sebaiknya kau pergi dan selamatkan dirimu. Ada pembunuhan di-sana, seorang wanita di bunuh oleh orang tak dikenal."
Degg...
Arah yang ditunjuk oleh pria itu adalah tempat dimana Lucas meninggalkan Serra tadi. Rambut panjang berwarna coklat dan warna pakaian yang sedikit menyembul membuat kedua lututnya lemas seketika. Minuman di genggamannya jatuh begitu saja.
Dengan langkah berat dan tertatih, Lucas menghampiri mayat perempuan itu untuk memastikan apakah itu benar-benar Serra atau bukan.
Grepp...
Namun baru dua langkah dia berjalan. Sebuah genggaman menghentikan langkahnya. Lucas menoleh dan matanya membelalak mendapati Serra berdiri dibelakangnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Lu, apa yang sebenarnya terjadi? Saat di toilet tadi aku mendengar suara tembakan dan orang-orang berteriak. Apakah ada pembunuhan?" Tanya Serra penasaran.
Alih-alih menjawab. Lucas menarik lengan Serra dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Ia sangat-sangat ketakutan, karena Lucas pikir Serra-lah orangnya. Tapi Lucas lega, karena itu bukan istrinya.
"Lucas, ada apa?" Tanya Serra kebingungan.
"Aku pikir kaulah yang tertembak itu. Aku sudah sangat ketakutan, Serra. Aku pikir sudah kehilanganmu." Bisik Lucas sambil mengeratkan pelukannya.
Jadi karena hal itu? Serra merasakan tubuh Lucas yang gemetaran dan dia berkeringat dingin. Suaranya terdengar serak dan parau. Apakah Lucas setakut itu ia meninggalkannya.
"Apa yang kau pikirkan, Lu. Aku tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain, dan mereka tidak memiliki alasan untuk membunuhku." Ujar Serra setengah berbisik.
"Kau tidak tau seberapa takutnya aku saat memikirkan jika wanita itu adalah dirimu. Tapi aku lega, itu bukan kau, Serra. Aku tidak mau dengar alasan apapun lagi, ayo kita pulang saja." Lucas melepaskan pelukannya.
Serra membalas tatapan Lucas kemudian mengangguk. Dia setuju ketika Lucas mengajaknya pulang. "Baiklah, ayo kita pulang."
-
-
__ADS_1
Bersambung.