"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa

"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa
Nyaris Kecelakaan


__ADS_3

"Apa kalian masih mengingatku?" Lucas menatap keduanya bergantian.


"Siapa kau?! Dan masalah apa yang kami miliki denganmu, sampai-sampai kau mengirim anak buahmu untuk mengobrak-abrik rumahku ini dan menyekap kami seperti ini?!" Tanya pria itu meminta penjelasan.


"Sungguh kalian berdua tidak mengingatku?! Aku adalah anak dan satu-satunya yang selamat dalam tragedi kecelakaan puluhan tahun yang lalu!!" Jawab Lucas menjelaskan.


Sontak kedua mata pasangan itu membelalak saking kagetnya setelah mendengar dan mengetahui siapa pria dihadapannya ini.


"Apa?! Kau adalah, Lucas Xiao?!" Keduanya memekik dengan terkejut.


Lucas hanya menyeringai dan tak memberikan jawaban apa-apa. Mereka berdua adalah salah satu orang yang telah merubahnya menjadi sosok iblis yang mengerikan. Seorang anak yang polos, hangat dan penuh kasih sayang. Berubah menjadi iblis dalam satu malam setelah kehilangan segalanya. Keluarga dan orang tuanya.


Sebuah pembunuhan berkedok kecelakaan yang disusun dengan begitu rapi dan sempurna. Seolah-olah ingin menyakinkan semua orang jika yang terjadi malam itu benar-benar murni sebuah kecelakaan.


Pada saat itu Lucas masih terlalu kecil untuk mengetahui semua fakta yang sebenarnya. Dia masih terlalu polos untuk mengetahui kebenaran yang tersembunyi dibalik sebuah tabir konspirasi. Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya Lucas menyadari satu hal, jika kematian orang tuanya bukanlah murni kecelakaan melainkan pembunuhan berencana.


Si wanita langsung berlutut didepan Lucas dan memohon supaya tidak dibunuh. "Tuan Muda, saya mohon ampuni kami. Kami tidak pernah ingin melakukannya, kami hanya di perintahkan saja."


"Benar, Tuan Muda. Ampuni kami," suami wanita itu pun ikut berlutut seperti istrinya.


"Aku tidak akan menghabisi kalian berdua, asal kalian mau memberitahuku siapa sebenarnya dalang dibalik kematian orang tuaku?" Ucap Lucas sambil menatap pasangan suami istri itu bergantian.


"Yang menyuruh kami adalah~!!!"


Dorrr...


Dorrr...


Tubuh kedua orang itu ambruk setelah dua timah panas menembus kepala mereka yang dilepaskan oleh seseorang yang sedari tadi bersembunyi di atap rumah. Rupanya kedatangan Lucas dan anak buahnya telah diketahui, dan demi menjaga agar rahasianya tidak sampai terbongkar. Orang itu menyewa seseorang untuk membunuh kedua saksi kunci tersebut.


"Sial!! Kita kecolongan. Segera tangkap dia dalam keadaan hidup-hidup!!" Perintah Lucas pada anak buahnya.


"Baik, Tuan."


"Frans, menurutmu siapa dalang sebenarnya dibalik kematian mereka? Kenapa aku berpikir jika mereka adalah orang dalam, apa menurutmu juga begitu?" Lucas berbalik dan menatap Frans dengan serius.


Frans menggeleng. "Saya juga tidak tau, Tuan. Tapi ada kemungkinan memang orang dalam yang selama ini dekat dengan Anda, sebaiknya mulai sekarang Anda lebih waspada dan berhati-hati karena musuh sebenarnya belum berhasil kita temukan." Ujar Frans.


Lucas terdiam mendengar apa yang Frans katakan. Apa yang dia katakan memang ada benarnya, orang itu pasti orang dalam. Dan tugas Lucas sekarang ada mencari dan menemukan orang itu. Lucas bersumpah dia akan menghabisi orang itu dengan keji, karena nyawa harus dibayar dengan nyawa.


-


-


"Bagaimana? Apa kau berhasil menghabisi dua orang tak berguna itu?"


Seorang pria berbicara pada seseorang melalui sambungan telfon. Dia bertanya perihal dua orang yang merupakan kunci utama dibalik kematian orang tua Lucas.


"Sudah, Tuan. Tapi saat ini saya yang berada dalam bahaya. Mereka mengejar dan berniat untuk menghabisi saya,"


"Apapun yang terjadi jangan sekali-kali kau menyebut namamu. Ingat, keselamatan keluargamu ada di tanganku!!"


"Ba...Baik, Tuan. Saya selalu mengingat pesat Anda. Tapi saya mohon jangan bunuh meraka!!"


Kemudian pria itu memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Dia beranjak dari depan jendela dan melenggang keluar meninggalkan kamar mewahnya. Sebuah seringai penuh kemenangan tercetak disudut bibirnya. Dia ingin melihat seberapa keras usaha yang bisa Lucas lakukan untuk menemukannya.

__ADS_1


"Lucas Xiao, aku bukanlah tandinganmu!!"


-


-


"A...Apa yang terjadi?"


"Ada apa?"


Lucas mengangkat wajahnya dan menatap penasaran sang supir yang sedang mengendarai mobilnya. Dia terlihat panik, kemudian supir itu menoleh kebelakang dan menatap Lucas.


"Tuan, sepertinya mobil ini bermasalah. Remnya, tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik." Jawabnya dengan suara panik dan bergetar.


"Bagaimana bisa? Bukankah tadi baik-baik saja?" Ucap Lucas kebingungan.


"Be..Benar, Tuan. Tapi kenapa sekarang jadi begini, mobil ini juga sulit dikendalikan. Tu..Tuan, bagaimana ini. Kita bisa berada dalam bahaya jika mobil ini tidak bisa dihentikan." Sopir itu semakin panik dan ketakutan.


Lucas tetap mencoba untuk bersikap tenang meskipun sebenarnya dia juga panik. Dia tidak boleh membuat sopirnya semakin panik, Lucas tak takut menghadapi kematian, tapi yang dia takutkan adalah siapa yang akan menjaga dan melindungi Serra jika dirinya sampai mati hari ini.


Mobil itu melaju dengan tak terkendali, kecepatannya tak bisa dikendalikan apalagi dikurangi. Sedangkan di depan sana ada sebuah jurang yang sangat dalam, jika tidak bisa keluar sekarang, akan ada kemungkinan jika ia dan supir itu akan mati terbakar di bawah sana.


"Lepaskan sabuk pengaman mu. Kita harus melompat!!"


"Ta..Tapi, Tuan."


"Sudah tidak ada waktu lagi!! Jika kau mati, bagaimana dengan keluargamu. Lepaskan sabuk pengaman mu dan ikuti aba-aba dariku!!" Sopir itu mengangguk dengan ragu.


Dengan tangan gemetar, sopir itu membuka sabuk pengamannya lalu bersiap membuka pintu di samping kirinya. Beruntung keadaan jalan cukup sepi sehingga tidak berbahaya ketika mereka melompat keluar.


Dan setelah mendapatkan aba-aba dari Lucas, keduanya pun segera melompat keluar dan tubuh mereka terguling diaspal dengan beberapa luka namun tak sampai parah apalagi fatal.


Sopir itu menggeleng. "Ti-tidak apa-apa, Tuan hanya luka benturan di kening dan lengan. Selebihnya aman." Jawabnya dengan suara gemetar.


BLARRR...


Mobil itu terperosok dan meledak di dasar jurang. Tubuh supir Lucas lemas seketika. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika masih terjebak di dalam mobil tersebut.


Tak berselang lama. Mobil Frans tiba, Lucas sempat mengirim pesan singkat pada Frans sebelum melompat keluar jika mobilnya mengalami masalah. Frans dan beberapa pria menghampiri Lucas serta sopirnya. "Tuan, Anda terluka." Seru Frans melihat darah di wajah dan lengan kemeja Lucas.


"Hanya luka kecil saja. Kita ke rumah sakit dulu sebelum pulang,"


"Baik, Tuan."


-


-


Lucas tiba di Mansion mewahnya pukul dua puluh lebih delapan menit. Sebelah tangannya sesekali memegangi pelipisnya yang terbalut perban. Perban lain juga tampak pada membebat lengan kiri atasnya. Darah yang menyembul pada permukaan perban itu menandakan jika lukanya masih baru.


Pria itu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Dan suara decitan pintu terbuka mengejutkan sosok wanita yang sedang sibuk menghapus sisa make up diwajahnya. Wanita itu yang pastinya adalah Serra segera menoleh, matanya membelalak melihat Lucas pulang dalam keadaan terluka.


"Omo!! Lucas, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini?" Tanya Serra penasaran.


"Terjadi kecelakaan kecil. Mobilku mengalami rem blong dan hilang kendali. Tapi kau tidak perlu cemas, ini hanya luka kecil saja dan sudah diobati." Terang Lucas memaparkan.

__ADS_1


Serra menghela napas. Dia mengangkat sebelah tangannya dan menangkup sisi wajah Lucas. "Meskipun hanya luka kecil saja, tapi tetap saja ini luka dan rasanya juga pasti sangat sakit." Dan mengunci sepasang manik hitamnya.


"Memang sakit, tapi tidak seberapa. Lagipula luka sekecil ini tidak mungkin bisa membunuhku."


"Jangan bercanda lagi!! Kau sudah makan malam belum?" Lucas menggeleng. "Sudah aku duga. Aku juga belum, ayo kita makan malam sama-sama. Tunggu disini, biar aku minta pelayan saja yang mengantarkannya kemari."


Serra memang sengaja menunda makan malamnya karena dia yakin jika Lucas juga belum makan malam. Jadi dia menunggu suaminya pulang terlebih dulu baru makan malam sama-sama. Sedangkan Lucas tidak menyangka jika Serra akan melewatkan makan malamnya hanya untuk menunggu dirinya.


Selang beberapa menit Serra kembali dengan beberapa pelayan yang datang untuk membawakan makan malam mereka. Malam ini mereka berdua akan makan malam di kamar saja, dia tau jika Lucas pasti lelah ditambah lagi dia sedang terluka.


"Ayo makan." Lucas mengangguk. Dan selanjutnya mereka melewati makan malamnya dengan tenang.


Usai makan malam. Lucas dan Serra tak langsung tidur. Mereka berdua pergi ke balkon untuk melihat bintang yang menghiasi langit malam.


Malam ini langit memang terlihat lebih cerah dari kemarin malam, bintang-bintang berhamburan menghiasi angkasa luas. Bak sebuah permata yang berkilauan.


"Apa kau percaya jika orang yang telah tiada akan menjadi salah satu dari bintang-bintang itu?" Serra mengakhiri keheningan di antara mereka.


Lucas mengangkat bahunya. "Entahlah, aku sendiri tidak tau. Karena aku tidak percaya pada mitos. Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat." Jawab Lucas.


"Aku juga tidak percaya. Tapi aku sangat suka ketika mendengar ada orang lain yang bercerita tentang mitos, meskipun aku sendiri tak yakin akan kebenarannya." Ujar Serra.


"Tapi aku percaya pada sebuah miracle!!" Serra menoleh dan menatap Lucas yang juga menatap padanya. "Aku melihatnya ketika ayahmu sembuh dari kelumpuhannya ketika bertemu denganmu untuk pertama kalinya. Padahal selama 23 tahun dia tidak bisa apa-apa."


Serra mengangguk. "Ya, kau benar. Karena di dunia ini tak ada yang tidak mungkin. Apa yang kita yakini mustahil, tapi tidak bagi Tuhan. Dan jika Tuhan sudah berkehendak, apa yang tidak mungkin menjadi mungkin." Tutur Serra menyahuti.


Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Lucas maupun Serra, keduanya diam dalam keheningan.


Perhatian Lucas sedikit teralihkan saat dia merasakan bahu kanannya yang sedikit memberat. Serra menyandarkan kepalanya.


Kemudian Lucas mengangkat tangan kanannya dan melingkarkan pada bahu Serra. Keduanya sama-sama diam menikmati keindahan langit malam bertabur bintang.


-


-


"SETANN!!!"


Axel menjerit histeris saat melihat sosok wanita berbaju putih tiba-tiba muncul di balkon kamarnya. Sosok wanita itu menempel pada pintu kaca, dia melotot dengan wajah yang di penuhi cahaya.


Tanpa membuang banyak waktu. Axel bergegas turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar meninggalkan kamarnya. Tapi setibanya di luar, dia di kejutkan dengan kemunculan hantu lainnya. "Aaaahhh... Setan!!" Teriaknya histeris. Axel masuk ke dalam kamar Kakek Xiao dan melompat keatas tempat tidurnya.


"Axel, apa-apaan kau ini? Cepat turun dari ranjang ku!!"


"Diamlah, Pak tua. Aku sedang di ganggu oleh setan-setan laknat itu. Untuk malam ini saja, biarkan aku tidur disini." Pintanya memohon.


"Iya, tapi jangan terlalu dekat begini. Senjatamu menusuk punggungku!!" Teriak Kakek Xiao.


"Kau ini ribut sekali, senjataku tidak akan membuatmu hamil. Jadi diam saja, huhuhu.. Kakek jangan jahat padaku."


Dan sementara itu. Dua hantu tadi yang pastinya adalah si kembar buru-buru mengunci pintu kamar Axel. Tujuan mereka adalah mengusir Axel dari kamar tersebut. Tempat tidur yang mereka beli di jual oleh Axel tanpa sepengetahuan si kembar, jadi ceritanya mereka balas dendam.


"Hehehe!! Kadal kok di kadalin. Kena batunya sendiri kan!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2