12 Badoet

12 Badoet
Selikur


__ADS_3

Dedaunan hijau nampak berembun. Kabut tipis sedingin es berpendar di sekitar. Jalanan cukup ramai saat orang-orang pulang dari masjid selepas sholat subuh. Dengan santainya mereka berjalan berderet menyusuri aspal halus perkotaan sambil bercengkerama. Sesekali terdengar gelak tawa.


Begitupun Adi. Kali ini dia memanfaatkan paginya dengan bersosialisasi bersama warga sekitar kantor. Dari semalam Adi belum pulang. Dia memilih lembur di kantor, memeriksa berkas-berkas tragedi tew*snya Pak Anwar.


Warga sekitar kantor sudah sangat hafal dengan petugas polisi tampan itu. Pembawaannya yang mudah akrab, dan ramah membuatnya diidolakan. Kabar kenaikan pangkatnya pun disukai setiap orang.


Adi kembali masuk ke dalam ruangannya saat jam di dinding menunjukkan pukul 5 pagi. Tarji terlihat masih tidur di atas sofa. Selimut bergambar spongebob dipeluknya dengan erat. Adi tersenyum sekilas saat mendengar dengkuran Tarji. Rekan kerjanya itu, meski sering bertingkah konyol nyatanya sangat rajin dan selalu berada di samping Adi untuk mendukungnya.


"Hey, bangun woy. Subuhan dulu sana," ucap Adi menepuk-nepuk bahu Tarji. Dia berusaha membangunkannya. Bukannya bangun, Tarji hanya menggeliat dan berganti posisi memunggungi Adi.


"Di depan ada cewek cantik banget, lagi jogging. Beuuhh, beneran aku aja naksir Ji," ucap Adi, kali ini dengan suara yang lebih lantang.


"Hah? Mana-mana? Kamu kok nggak segera bangunin aku sih? Sial!" Tarji langsung berdiri, melempar selimutnya.


"Hey hey hey, kok nggak sopan ya kamu. Aku ini sekarang atasanmu lhoh ya," gurau Adi mengacungkan tangan kanannya yang terkepal. Tarji tersenyum masam.


"Eh, ceweknya jogging dimana?" tanya Tarji antusias.


"Di mimpimu. Nggak ada cewek-cewek. Jam 5 lho ini, nggak subuhan kamu?" hardik Adi. Tarji hanya garuk-garuk kepala. Dengan wajah bantal dan terlihat malas, Tarji berjalan ke kamar mandi.


Selepas Tarji pergi, Adi duduk di meja kerjanya. Dia kembali membolak balik berkas yang dikumpulkan dari gudang tadi malam. Adi merasa penasaran dengan kasus peramp*kan pada tahun 91. Tragedi yang sering disebut-sebut Pak Umar sebelum gantung diri.


Beberapa hari sebelum ditemukan meninggal di kamarnya, Pak Umar rutin mengunjungi pos polisi untuk membicarakan tragedi 91. Semua orang menganggapnya pikun dan hanya meracau. Namun Adi tak ingin mengacuhkan setiap kemungkinan yang ada.

__ADS_1


Dalam berkas penyelidikan tragedi 91, Adi menemukan beberapa fakta yang menarik. Pemilik rumah bernama Sumiran tew*s dengan beberapa luka. Istri Sumiran lenyap. Saksi mata dari kejadian itu bernama Burhan, satpam rumah yang mengalami luka di bagian pelipis kanannya. Menurut Burhan, komplotan peramp*k menggunakan topeng berwajah badut.


Harta benda Sumiran dikuras habis. Perhiasan emas, dan permata raib. Bahkan uang bernomor seri berurutan sebesar 800 ribu yang disimpan dalam brankas pun hilang tak bersisa. Saat diselidiki bahkan hingga saat ini, nomor seri dari uang-uang itu tidak pernah muncul dimanapun.


Dalam arsip juga tertulis, pada tahun 92 pernah disayembarakan siapapun yang memiliki uang dengan nomor seri yang hilang akan mendapatkan imbalan yang besar. Namun nyatanya tidak ada satupun uang 50 an ribu itu yang muncul. Bahkan tertulis ada desas desus yang menyebut uang itu menjadi bahan koleksi di pasar gelap.


Adi menghela nafas. Menyandarkan tubuhnya di kursi yang terasa empuk. Matanya mengantuk, tapi otaknya masih terus terjaga. Sekali lagi Adi memperbaiki posisi duduknya. Kini dia membuka berkas lainnya. Sebuah dokumen yang terlihat baru di dalam map berwarna hijau terang.


Adi kembali fokus membaca dokumen yang ada di hadapannya. Pak Anwar yang tew*s dengan luka di bagian leher, merupakan teman masa muda dari Pak Umar, Bapak Wildan. Namun para tetangga mengkonfirmasi hubungan mereka kurang baik di masa tuanya. Tidak ada penjelasan detail akan hal itu.


"Baiyuh, serius banget. Daripada memandangi tumpukan kertas, mumpung masih pagi jalan-jalan yuk ke alun-alun cuci mata sekalian cari sarapan," ucap Tarji tiba-tiba, membuat Adi sedikit tersentak kaget. Laki-laki unik itu tiba-tiba sudah berada di belakang tempat duduk Adi.


"Emm, boleh sih," jawab Adi setelah berpikir sejenak. Rasanya dia memang butuh udara segar untuk me refresh pikiran. Terlalu memforsir kinerja otak tentunya tidak baik. Bukannya lancar untuk berpikir, yang ada malah buntu nantinya.


Dengan mengendarai mobil berwarna biru tua, Adi dan Tarji meluncur di jalanan yang masih terasa sepi. Masih ada sisa kabut tipis yang menempel di kaca depan. Udara pun masih terasa beku, tak perlu AC untuk membuat tubuh menggigil.


Adi dan Tarji memilih membeli dua nasi gegok dan duduk di bawah pohon beringin rindang yang ada di sudut alun-alun. Nasi gegok merupakan nasi berbumbu gurih dengan suwiran ikan laut yang dibungkus daun pisang. Aroma harum dengan asap tipis mengepul, menandakan nasi baru matang. Tarji juga mengambil beberapa gorengan dan memesan secangkir kopi. Sedangkan Adi membeli sebotol air mineral.


"Ji, aku kepikiran sesuatu," ucap Adi tiba-tiba di sela menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Affa?" tanya Tarji dengan mulut penuh.


"Waktu tragedi 91, siapa yang bertanggungjawab dalam penyelidikan?" tanya Adi lirih. Seolah pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tidak adakah dalam catatan berkas yang kamu pelajari?" Tarji balik bertanya. Dia hampir saja tersedak, memegangi lehernya yang terasa sesak.


"Itu anehnya. Tidak ada nama terang dan tandatangan pertanggungjawaban," jawab Adi.


"Hmmm, mungkin saja salah satu dari tiga pensiunan yang hari ini kebetulan berulangtahun bersamaan," sahut Tarji setelah menyeruput kopi hitamnya.


"Benar juga. Hari ini kan kita dapat undangan perayaan ulangtahun mereka ya." Adi teringat dengan kertas undangan yang ada di atas meja kerjanya.


"Pak Sukmoro, Pak Wito, dan Pak Suko. Tiga orang pensiunan yang saat ini menikmati masa tuanya. Pak Sukmoro dan Pak Wito berulangtahun hari ini. Sedangkan Pak Suko sebenarnya besok, tapi memilih merayakan di hari yang sama. Aku punya keinginan masa tua nanti juga seperti mereka. Sukses dengan usaha yang mereka rintis saat masih berdinas. Tua tinggal panen saja," ucap Tarji dengan mata berbinar.


"Tapi masalahnya kamu belum memulai merintis usaha saat ini Ji," bantah Adi. Tarji hanya cengengesan.


"Kalau kamu Di, gimana usaha tanaman hias dan bunga yang bareng Sinta itu?" tanya Tarji. Tanpa terasa satu bungkus nasi gegok ludes tak bersisa.


"Sinta luar biasa. Dia begitu aktif dan tahu betul gimana caranya promo menggunakan media sosial. Progresnya bulan ini 2 jempol Ji," jawab Adi bangga.


"Buruan nikahin. Mau nunggu apalagi?" ledek Tarji. Adi hanya menghela nafas.


"Eh, nanti di acara ulangtahun katanya ada pembagian hadiah lho," lanjut Tarji, teringat desas desus yang beredar dari kemarin.


"Hadiah apa?" tanya Adi acuh.


"Sebuah arloji emas. Kayak nggak hafal saja kamu. 3 pensiunan itu kan hobi koleksi arloji emas Di. Dan salah satu koleksinya akan diberikan secara cuma-cuma," pungkas Tarji antusias. Dalam hati dia berharap menjadi yang beruntung memiliki hadiah mahal itu.

__ADS_1


Bersambung___



__ADS_2