12 Badoet

12 Badoet
Seket Pitu


__ADS_3

Hujan semakin deras mengguyur. Air dari langit itu menghantam genteng berlumut tebal menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga. Suasana hutan yang hening berubah riuh kala guntur ikut menunjukkan eksistensinya.


Angel berdiri tegap sembari mengacungkan parang mengkilat pada laki-laki tua yang duduk bersandar pada daun pintu. Perempuan berambut sebahu itu nampak tidak memiliki belas kasihan meski lawannya seorang laki-laki yang sudah renta.


"Kamu mirip dengan Melati. Si siapa kamu sebenarnya?" tanya Pak Suryono. Bola matanya tak berkedip mengamati Angel.


"Tahun 91, setelah perampokan itu, kalian bawa kemana Bu Melati? Apakah kalian juga menghabisinya?" Angel balik bertanya. Dia enggan menjawab pertanyaan dari Pak Suryono.


"Nyawamu tergantung dari jawabanmu Pak Tua," lanjut Angel menyentuhkan ujung parang yang mengkilat ke hidung Pak Suryono. Laki-laki tua itu menelan ludah.


"Kamu salah Nona. Melati adalah Badut nomor 12. Dia adalah otak dari perampokan itu," jawab Pak Suryono lirih.


Angel yang mendengar ucapan Pak Suryono langsung mundur beberapa langkah. Jawaban yang sebenarnya sudah dia duga. Namun Angel selalu berusaha memungkirinya. Dan kini hal itu menjadi nyata kala komplotan Badut yang mengatakannya.


"Lalu, kemana perempuan itu pergi? Kenapa dia meninggalkan anaknya? Kenapa jika dia masih hidup berkecukupan tidak kembali pada anaknya?" tanya Angel dengan suaranya yang berubah bergetar. Tenggorokan terasa tercekat. Meski banyak orang mengatakan hati Angel sekeras batu, nyatanya dia tetaplah perempuan yang bisa sewaktu-waktu berubah sentimentil dan rapuh. Dari sudut mata, tanpa mampu untuk ditahan, butiran-butiran air terasa hangat meluncur membasahi pipi.


"Kenapa?" bentak Angel penuh amarah.


"Aku tidak tahu Nona. Aku sungguh tidak tahu kemana Melati pergi. Aku hanyalah kroco dalam rencana itu. Aku ikut mereka demi menyelamatkan keluargaku dari kebangkrutan," jawab Pak Suryono sambil mendesis, kaki renta nya kembali terasa nyeri.

__ADS_1


"Cih! Asal kamu tahu saja Pak Tua, komplotan Badut itu tak ada yang menikmati masa tuanya. Hidup dalam rasa bersalah dan ketakutan. Harta rampasan nyatanya tidak bisa membawa kedamaian," ucap Angel mencibir.


"Termasuk dirimu. Masa tua dalam pengasingan yang menyedihkan. Sungguh kehidupan membawa keadilannya sendiri. Hukum tabur tuai," lanjut Angel menyeringai.


Pak Suryono terdiam. Perkataan Angel meresap ke dalam hatinya. Sebuah kalimat yang tajam menyayat dan dia tak bisa membantah.


"Sekarang katakan padaku Pak Tua, siapa Badut nomor 8,9,10,11? Dan jika Bu Melati adalah Badut nomor 12, lalu siapa si nomor 1? Siapa pemimpin kalian?" tanya Angel masih tetap mengacungkan parang di tangannya.


Pak Suryono masih tak bergeming. Pandangan matanya terlihat kosong. Ingatannya menjelajah ke masa lalu. Dia berteman dengan Umar sang badut nomor 2. Umar lah yang mengajaknya ikut dalam rencana perampokan rumah Sumiran. Karena Umar tahu, Pak Suryono tengah membutuhkan banyak uang.


"Nona, maafkan aku. Sepertinya aku tak bisa menjawab pertanyaanmu," ucap Pak Suryono lirih. Laki-laki tua itu mendadak berdiri meski tengah kesakitan. Dia meraih parang di genggaman tangan Angel dan menariknya sekuat tenaga. Karena terkejut, Angel tak kuasa melawan. Parang itu menembus perut Pak Suryono yang sudah renta penuh kerutan.


Angel terbelalak tak percaya. Dia sama sekali tak menduga Pak Suryono akan berbuat nekat seperti itu. Angel melepaskan genggaman tangannya dari parang yang kini beraroma anyir menyengat.


"Orang-orang mengatakan kalau aku nggak waras. Yah, mungkin itu ada benarnya. Aku seringkali merasa takut jika sewaktu-waktu ada yang datang ke tempatku menuntut balas atas masa lalu. Aku menyiapkan jebakan untuk menyambut lawanku. Entah siapapun itu. Namun nyatanya, saat lawan itu benar datang kepadaku, aku malah ingin mati di tangannya. Dan kini, aku benar-benar lega. Uhuukk!" ucap Pak Suryono sambil tersenyum. Dia batuk berdarah. Matanya pun nampak memerah.


"Nona, aku selalu menyukai rubik, puzzle, dan mainan anak-anak yang semacam itu. Kamu tahu kenapa? Itu semua karena aku merasa kesulitan untuk menyusun hidupku yang rumit dan berantakan. Lebih mudah menyusun puzzle atau rubik, meski terkadang mainan itu pun terasa susah dan menjengkelkan. Namun setidaknya saat aku telaten, puzzle juga rubik akan berhasil kususun. Sedangkan hidup ini, meski sudah telaten, sabar, berjuang, ternyata hasilnya tak sesuai keinginanku. Uhukk!" Pak Suryono meracau tak jelas.


Angel berjalan mundur. Dia memperhatikan sorot mata Pak Suryono saat ini. Sebuah tatapan kosong yang menunjukkan pria tua itu sudah kehilangan akal sehatnya. Tumit Angel sempat tersandung batu yang menyebabkan dirinya jatuh terjengkang.

__ADS_1


"He he he he," tawa Pak Suryono pecah saat melihat Angel ketakutan. Mulut kakek sepuh itu berwarna merah, dengan ludah yang menetes mengalir di bibirnya. Air ludah yang sudah bercampur darah, nampak merah dan berbusa.


Angel berdiri dan mengatur nafasnya yang tersengal. Dia memutar tubuhnya dan segera berlari menjauh dari Pak Suryono yang kini sudah memegang obor di tangannya.


Dengan langkah yang terseok, Pak Suryono mulai menyulut tembok rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu menggunakan obor. Api dengan mudah menjalar dan menjilat bangunan reyot itu. Meski udara sedang dingin, cuaca pun tengah hujan, si jago merah tak kehilangan kemampuannya untuk menghanguskan rumah di tengah hutan itu.


Saat api semakin liar, menyala dan melahap semua yang ada di dekatnya, Pak Suryono malah berjalan masuk ke dalam rumah. Udara panas dan asap hitam pengap menyeruak di dalam ruangan. Pak Suryono tertawa memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa berdenyut nyeri. Dia terhuyung dan akhirnya jatuh tengkurap di lantai rumahnya yang terbuat dari tanah. Pada saat yang sama atap rumahnya yang tengah terbakar langsung jebol dan ambruk menimpa tubuh Pak Suryono. Menguburnya dalam bara api yang sangat panas.


Sementara itu beberapa jam sebelumnya, polisi Adi berhasil menemukan akun yang sudah menghubungi Tarji semalam. Akun media sosial bernama Inka itu terlihat aktif beberapa waktu yang lalu. Adi bergegas kembali ke kantor untuk meminta tolong pada petugas bidang IT agar melacak pemilik akun tersebut. Adi juga teringat tentang kakek tua yang tadi sempat meminta untuk ngobrol bersama dengannya.


Sayangnya, saat Adi sudah sampai di kantor, kakek itu ternyata sudah menghilang. Ada rasa menyesal telah berjanji untuk segera kembali namun nyatanya tak sanggup menepati. Begitulah manusia, mudah bertutur kata tapi kesulitan untuk bertindak sesuai ucapannya. Adi menghela nafas perlahan.


Ketika Adi tengah melamun, terdengar pintu ruangan diketuk dari luar. Seorang petugas bagian IT masuk ke dalam ruangan.


"Kami sudah berhasil menemukan posisi handphone target Njenengan, saat media sosialnya masih akif tadi," ucap petugas bagian IT.


"Baik terimakasih. Tolong segera kirimkan koordinat tersebut padaku melalui pesan Whatsapp," jawab Adi tegas.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2