12 Badoet

12 Badoet
Pitungpuluh Papat


__ADS_3

Pada saat Adi tengah duduk dan berbincang dengan Pak Suko, di lain tempat seorang laki-laki tua meringkuk di lantai granit yang dingin dan berdebu. Laki-laki itu dalam keadaan sadar, matanya pun terbuka dan dapat melihat sepenuhnya. Namun tangan serta kaki terasa kebas tidak mampu untuk digerakkan.


Dialah Pak Burhan. Lansia yang hendak menemui Adi, tapi berakhir di tempat antah berantah dengan udara dingin yang menyayat kulit. Dia sempat pingsan dan terbangun dalam kondisi tak berdaya. Hanya bisa memperhatikan kondisi ruangan tempatnya tergolek lemah. Ruang yang tak terlalu luas, sekitar 3x4 meter dengan tinggi plavon kurang dari 3 meter. Sebuah jam berbentuk lingkaran terpasang di dinding menunjukkan pukul 11. Awalnya Pak Burhan bingung, saat ini siang atau malam? Udara dingin hampir mengecohnya, menduga kalau malam belum terlewati. Namun nyatanya dari ventilasi di atas tempat terbaring nampak jelas sinar matahari menerobos masuk.


Terdengar langkah kaki mendekat. Pak Burhan mengenalinya. Petugas yang kemarin mengajak Pak Burhan untuk menemui Adi. Namun entah untuk tujuan apa laki-laki itu ternyata malah membius dan menyekap Pak Burhan.


"Si siapa kamu?" tanya Pak Burhan terbata-bata. Lidahnya pun terasa kebas, sulit untuk berbicara.


"Seharusnya kamu mengenaliku Pak. Kenapa bisa kamu lupa, dengan bocah yang dulu kamu jaga setiap hari? Jari-jari kecil yang dulu pernah merangkulmu kini datang untuk meminta jawaban," ucap laki-laki berbadan tegap itu.


"Hah? Aku benar-benar tidak mengerti," sahut Pak Burhan.


"Wahh, Bapak benar-benar lupa rupanya. Ataukah sudah pikun? Aku Angga Pak. Bocah lima tahun yang sering menumpahkan kopi mu," ucap laki-laki berbadan tegap sambil menunjukkan tanda pengenalnya.


Pak Burhan terbelalak kaget. Tanda pengenal di hadapannya membuat mata renta itu tak sanggup berkedip. Pikiran laki-laki sepuh itu langsung terseret pada masa lampau. Bocah lima tahun yang seringkali berlarian di teras depan. Bahkan suara tawa renyah balita itu terngiang di gendang telinga Pak Burhan.


"Den Angga?" Pak Burhan melotot.

__ADS_1


"Syukurlah, akhirnya Bapak ingat denganku. Aneh rasanya, aku yang waktu itu masih balita bisa mengingatmu Pak, sementara dirimu malah lupa dengan bocah yang dulu sering kamu gendong." Angga menghela nafas. Seolah merasa lega.


"Kenapa Den Angga menyekapku di tempat ini?" tanya Pak Burhan dengan suara lantang. Kali ini rasa kebas di lidahnya sudah mereda.


"Waahh pertanyaan macam apa itu? Bukankah Bapak sudah lama tidak bertemu denganku? Kenapa tidak menanyakan kabarku dulu? Kenapa Bapak hanya mencemaskan diri sendiri? Bagaimana dengan bocah 5 tahun yang tidak tahu apa-apa harus terombang-ambing hidupnya akibat ulah orang-orang yang menyebut dirinya Badut?" sergah Angga dengan segudang pertanyaannya.


Pak Burhan menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Timbul tanya di benak laki-laki sepuh itu, mungkinkah yang telah menghabisi para Badut adalah Angga? Jadi, saat ini adalah giliran dirinya?


"Mungkin Bapak bingung. Darimana aku tahu soal Badut? Padahal pada saat perampokan itu terjadi, aku masih terlalu bocah untuk mengingat. Begitukah? Hingga mulutmu itu terkatup rapat." Angga menyeringai lebar.


"Hingga datang sebuah kabar, Bu Seruni meninggal dunia akibat penyakit paru-paru yang sudah lama diderita. Pak Santoso memutuskan kembali ke kota ini, mengajak serta aku yang sudah beranjak remaja. Ternyata, ada dua anak perempuan yang ditinggalkan Bu Seruni. Salah satunya adalah anak yang terlahir dari rahim yang sama denganku. Aku memiliki seorang saudara perempuan. Lalu, Pak Santoso pun merawat kami semua," lanjut Angga.


"Ta tapi, Santoso yang sudah menembak Pak Sumiran, ayahmu. Apakah dia tidak menceritakan itu padamu?" sergah Pak Burhan.


"Aku tahu. Dan aku tidak peduli. Aku bukan anak Sumiran. Kamu pun pasti tahu, kalau aku adalah anak yang tak diinginkan," sahut Angga menghela nafas.


Pak Burhan terdiam. Dia tidak menduga laki-laki yang berdiri di hadapannya itu sudah tahu kenyataan masa lalu yang rumit.

__ADS_1


"Sayangnya, bunga yang indah akan dipetik terlebih dahulu. Di antara 12 perampok Badut, yang paling memiliki hati hanyalah Pak Santoso. Di usia yang belum terlalu tua, dia harus pergi lebih dulu. Menyisakan 11 temannya yang tidak memilki nurani," ejek Angga menyeringai.


"Sebelum kepergiannya dia sempat menceritakan tentang para Badut, juga tentang aku dan adik-adikku. Namun sayangnya cerita itu tidak lengkap. Sakit yang diderita Pak Santoso menggerogoti ingatan dan kesadarannya. Kami ditinggalkan dalam usia yang masih remaja. Aku memutuskan masuk pendidikan untuk menjadi petugas. Sedangkan adik-adikku hidup sendiri di tengah kota ini. Aku sengaja menjauh dari mereka, agar mereka bisa terlepas dari masa lalu. Tapi nyatanya masa lalu tetap mengikat mereka. Membelenggu, dan menuntut jawaban," Angga berjongkok di hadapan Pak Burhan.


"Lalu, apa maumu? Dari ceritamu, aku tidak merasa kamu mendendam pada para Badut. Lantas, apa tujuanmu menghabisi Badut satu persatu?" tanya Pak Burhan, sambil mencoba menggerakkan tubuhnya. Sayangnya sekujur badan renta itu mati rasa.


"Hah? Aku tidak pernah menghabisi siapapun Pak Tua. Jangan salah. Dibandingkan melihat kalian mati dengan cepat, aku lebih suka membiarkan kalian hidup menderita di masa tua. Aku tengah mengumpulkan bukti keterlibatan kalian dengan kasus 91. Aku memiliki akses untuk melihat file dan detail penyelidikan masa lalu. Tapi sebenarnya setelah tahu keadaan kalian sekarang, rasanya hidup ini sudah adil kok. Hidup kalian se berantakan itu. Hanya satu orang yang sepertinya sukses dengan masa tua nya. Berdasar penyelidikanku sendiri, aku menarik kesimpulan Badut nomor 8 adalah Pak Wito. Pensiunan kaya, bahkan kini anaknya maju dalam pemilihan kepala daerah. Apa dugaanku benar Pak?" tanya Angga. Pak Burhan terdiam dengan bola mata bergetar. Meski mulut tua itu terkatup, Angga tersenyum puas. Dia merasa dugaannya benar.


"Jika Pak Wito terbukti terlibat dengan kejahatan tahun 91, maka semua hal yang ingin dicapainya kini akan berantakan. Dia akan menikmati masa tua nya seperti yang lain. Bukankah itu yang dinamakan keadilan?" Angga menyandarkan punggungnya di dinding. Dia duduk bersimpuh di hadapan Pak Burhan yang tetap tak bisa bergerak.


"Jika tujuanmu seperti itu, lalu siapa yang sudah memburu dan menghabisi para Badut?" tanya Pak Burhan.


"Adikku memang kutugaskan untuk menyambangi kalian satu persatu. Meski awalnya aku tidak berniat melibatkan mereka, namun mereka memaksa untuk ikut ambil bagian. Aku melatih adik perempuan yang manis menjadi sosok yang sanggup mematahkan leher kalian. Tapi kurasa dia bukanlah orang yang tega menghilangkan nyawa. Kamu tahu Pak, apa yang sangat aku dan adikku butuhkan?" Angga membuang muka. Mengamati ventilasi yang menyirami tubuh Pak Burhan dengan sinar matahari.


"Kami hanya butuh sosok Ibu. Ibu yang berhutang penjelasan pada kami. Kenapa aku dibuang? Apakah Ibu masih hidup? Kenapa tidak pernah melihatku, menengokku? Apakah dia membenciku?" Angga terlihat menangis.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2