
"Saat Seruni meninggal, aku sudah berniat untuk mengambil hak asuh Angel, juga anak dari Seruni," ucap Mak Lastri.
"Nilla," sergah Angel.
"Nilla?" Mak Lastri mengernyitkan dahi.
"Iya. Anak Bu Seruni namanya Nilla," jawab Angel.
"Ohhh. . .yah aku sudah berniat membawa kalian. Namun ternyata Santoso datang. Dan kupikir, kalian lebih baik jika bersamanya," ujar Mak Lastri dengan mata yang nampak sendu.
"Ibu macam apa yang lebih suka anaknya diasuh orang lain? Ceritamu semakin membuatku kesal!" bentak Angga. Setiap penjelasan dari Mak Lastri sulit diterima oleh Angga.
"Aku mengawasimu Angga, selalu. Jangan berpikir hanya kalian saja yang menderita, aku pun sama. Sebagai seorang manusia, sebagai seorang perempuan, hidup puluhan tahun hanya untuk bersembunyi dalam pelarian sungguh menyiksa lahir dan batin. Aku tidak ingin kalian bersamaku yang seperti itu. Hidup kalian masih panjang. Ada kesempatan mendapatkan kehidupan yang layak. Dan aku memilihnya, memilih membiarkan kalian bersama Santoso demi masa depan kalian," ujar Mak Lastri dengan bola mata yang berair.
"Lalu saat dunia sudah berubah, seperti hari ini, saat kamu tidak perlu bersembunyi lagi, kenapa kamu tidak mencoba untuk menemui kami?" desak Angga. Tangannya terkepal erat.
"Aku merasa tidak pantas. Aku tidak ingin datang saat kalian sudah bisa hidup mandiri. Di usia ku yang sudah tua bukankah egois rasanya aku hadir dan hanya akan menjadi beban untuk kalian? Aku lebih suka kalian anggap sudah tiada, agar kalian bisa hidup tanpa terbebani olehku," jelas Mak Lastri.
"Tapi nyatanya kami tidak bahagia Ibu," sahut Angel. Mak Lastri cukup terkejut melihat ekspresi wajah putrinya yang nampak tegas dan kuat.
"Dengan menghilang tanpa penjelasan, Ibu malah membebani kehidupan kami dengan dendam. Kami haus penjelasan, kami mencari orang-orang yang disangka bertanggungjawab atas lenyapnya Ibu. Asal Ibu tahu, seorang manusia tidak bisa menapaki kebahagiaan di masa depannya dengan mengacuhkan masa lalu," lanjut Angel. Mak Lastri tertunduk mendengarnya.
"Kenapa Ibu memilih rumah ini untuk tempat tinggal? Ibu sangat dekat dengan aku, tapi tidak pernah berusaha menemuiku," sergah Angga.
"Entahlah. Saat ada lahan kosong di belakang rumah Sumiran aku membelinya. Dengan nama dan identitas baru aku juga tidak bisa kembali ke desa. Pada kenyataannya aku merasa terlanjur dirantai oleh Sumiran. Apalagi Wito memberitahuku jika rumah milik Sumiran akan dialih fungsi menjadi kantor setelah proses pelelangan. Aku merasa aman disini. Sungguh ironis. Tempat paling aman untukku adalah tetap dekat dengan rumah yang kutinggalkan," tukas Mak Lastri menghela nafas panjang.
Suasana berubah hening. Angga dan Angel terdiam, mencoba memahami apa yang sudah Ibu nya alami dan sembunyikan selama puluhan tahun. Dalam kisah mereka pada kenyataannya tidak ada yang meninggalkan satu sama lain. Semua terjerat dengan masalah yang belum tuntas dari masa lalu.
__ADS_1
Dalam kesunyian, terdengar langkah kaki mendekat. Jumani dan Nuryanto ikut masuk ke ruang keluarga. Raut wajah mereka terlihat aneh.
"Kenapa kalian kemari?" tanya Mak Lastri.
"Kami mendengar apa yang kalian bicarakan," ucap Jumani.
"Kalian tadi mengatakan mencari orang-orang yang dirasa bertanggungjawab atas hilangnya Mak Lastri atau Bu Melati. Itu artinya kalian memburu para Badut bukan?" sambung Nuryanto.
"Ya, begitulah," jawab Angel santai.
"Jadi kalian yang sudah menghabisi rekan-rekan kami, padahal bisa dikatakan semua ini hanya kesalahpahaman semata." Nuryanto tampak emosional.
"Kami memang mencari para Badut. Tapi bukan kami yang menghabisi mereka, meskipun aku ingin." Angel menjawab dengan lugas. Nuryanto menelan ludah.
"Lalu siapa? Berarti kita belum aman Nur?" Jumani merengek ketakutan. Nuryanto diam saja tak menyahut.
"Aku tahu satu nama," sambung Angel.
"Siapa?" tanya Jumani dan Nuryanto bersamaan.
"Namanya Inka. Aku tidak tahu darimana asalnya perempuan itu. Yang jelas dia menjebak seorang rekanku. Selama ini perempuan itu mengawasi gerak gerik kami. Apakah dia memiliki komplotan, aku pun tak tahu," jelas Angel.
Jumani dan Nuryanto saling bertukar pandang dalam diam. Mereka berdua sama sekali tidak mengenali orang yang disebutkan Angel.
Secara tiba-tiba Mak Lastri berdiri dari duduknya. Kemudian dia berjongkok di hadapan Angga dan Angel yang duduk di kursi. Perempuan tua itu memandangi dua anaknya dengan bola mata yang bergetar.
"Maafkan Ibu, atas semua yang telah kalian lalui. Semua orang mengatakan kalau guru pertama anak adalah Ibunya. Tapi bagiku, kalian lah yang menjadi guru dalam kehidupanku. Maafkan Ibu, karena telah membawa kalian melihat dunia ini dari sisi yang suram." Mak Lastri menangis tersedu.
__ADS_1
Angel diam saja. Dia memang belum pernah merasakan kasih sayang Bu Melati. Bagi Angel, sosok Ibu adalah Bu Seruni. Jadi saat ini dia sulit untuk memiliki ikatan dengan perempuan yang ada di hadapannya itu.
Sedangkan Angga terlihat menitikkan air mata. Berbeda dengan Angel, sedari kecil Angga memang selalu bersama dengan Bu Melati. Ada ikatan batin yang kuat serta kerinduan yang hebat. Sepanjang hidupnya Angga dihantui kekhawatiran jika Ibu nya sudah tiada. Tapi kini semua terjawab. Bu Melati atau Mak Lastri, terlihat sehat di masa tuanya.
Bersama datangnya senja, orang-orang yang berada di warung Mak Lastri itu menyadari bahwa cinta orangtua itu nyata. Apapun jalan yang dipilih Mak Lastri, semua demi kebahagiaan anaknya. Rintik hujan pun mulai turun, seolah ikut terharu dengan pengorbanan seorang Ibu.
Sementara itu sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobil Angga yang terparkir. Nilla melompat turun dan buru-buru memeriksa mobil SUV di depannya. Rio sang pimpinan hotel menyusul setelah mematikan mesin mobilnya.
"Benar ini kan mobilnya tadi?" tanya Rio penasaran.
"Iya. Bener kok," jawab Nilla sembari mengintip ke dalam mobil.
Rio dan Nilla sedari siang berkeliling kota mencari keberadaan Angel. Dan saat hampir menyerah, mereka tanpa sengaja melihat Angel yang berada di dalam mobil bersama sosok Abang. Namun sayang saat membuntutinya, mereka sempat kehilangan jejak.
"Ada seseorang di kursi belakang," ucap Nilla ketika mengintip ke dalam mobil.
Pak Burhan yang masih kesulitan bergerak, hanya diam saja memandangi Rio dan Nilla dari dalam mobil.
"Siapa Nil?" tanya Rio.
"Aku nggak kenal. Tapi mungkin saja dia salah satu Badut yang tadi kuceritakan," jawab Nilla ragu-ragu.
Nilla mengalihkan pandangan. Dia memperhatikan rumah dengan banner besar bertuliskan warung pecel Mak Lastri itu. Nilla mengernyitkan dahi, memikirkan setiap kemungkinan di otaknya.
"Apa mungkin Angel makan di dalam? Makan pecel sore-sore? Atau jangan-jangan bukan mobil ini yang ditumpangi Angel tadi?" Rio terlihat bingung.
"Aku malah menduga, Bu Melati yang dicari Angel dan Abang sejak dulu, ada di rumah ini," jawab Nilla. Rio manggut-manggut.
__ADS_1
Bersambung___