
Mawar putih, bunga yang indah dan beraroma wangi. Bunga yang mewakili kemurnian, sehingga seringkali digunakan sebagai hiasan dalam pernikahan. Dikatakan juga bunga mawar putih melambangkan kesetiaan, dan hati yang bersih.
Dua buket bunga mawar putih pesanan pelanggan telah diselesaikan Sinta. Bunga pilihan yang mekar sempurna, nampak segar dibalut kain warna perak dan pita emas yang menambah kesan elegan. Sinta puas dengan hasil kerjanya. Sesekali dia melirik sebuah foto yang terpajang di meja kasir. Foto dirinya bersalaman dengan seorang laki-laki di hari pertama pembukaan kios bunga, beberapa tahun yang lalu. Laki-laki itu adalah orang yang menguatkannya, meraih tangan Sinta keluar dari kubangan lumpur.
Pelanggan yang memesan buket bunga sudah datang. Dua perempuan yang mungkin sebaya dengan Sinta. Angel dan Nilla, nampak kompak dengan kemeja berwarna putih.
"Waahh, Mbak Sinta tidak pernah mengecewakan pelanggan. Buket bunganya bagus banget," puji Nilla dengan mata berbinar saat memeriksa buket bunga dari Sinta.
"Syukurlah kalau kalian puas dengan hasilnya," sambung Sinta tersipu.
"Totalnya berapa mbak?" tanya Angel enggan berbasa basi.
"Seperti biasa, semuanya 500 ribu," jawab Sinta dengan senyuman yang meneduhkan.
"Kupikir ada kenaikan harga," sambung Angel menyodorkan 5 lembar uang berwarna merah terang.
"Enggaklah. Harga mawar putih dari petaninya nggak naik kok." Sinta menerima uang dari Angel kemudian memasukkannya ke dalam laci meja kasir.
"Bolehkah aku bertanya? Karena kalian berdua sudah beberapa kali memesan buket mawar putih aku jadi penasaran. Apalagi setelah kulihat pesanan kalian selalu di tanggal dan bulan yang sama setiap tahunnya," ucap Sinta sebelum dua pelanggannya itu pergi.
Nilla tersenyum dan mengangguk sedangkan Angel hanya diam saja tak menyahut.
"Bunga ini sangat disukai oleh Ibu kalian. Dan selalu di tanggal ini kalian datang kemari membelinya. Mungkinkah beliau sudah tiada dan hari ini adalah peringatan kepergiannya?" tanya Sinta perlahan. Dia sadar seharusnya tidak boleh mencampuri urusan pribadi pelanggannya. Bisa saja Sinta di cap sebagai pedagang yang kepo dan cerewet, tapi mau bagaimana lagi? Rasa penasaran sudah tak tertahankan.
Suasana berubah hening. Nilla dan Angel bertukar pandang sekejap.
__ADS_1
"Yah, Ibu yang sangat kami sayangi sudah lama pergi," jawab Nilla setelah menarik nafas panjang.
"Aku turut berduka. Emmm, kalian tahu filosofi bunga mawar putih? Memang bunga ini dikenal sebagai lambang kemurnian. Bisa juga sebagai sebuah cara dan tanda untuk menyampaikan duka cita. Tapi selain itu banyak orang yang percaya, saat bunga mawar putih layu di pemakaman, itu tandanya yang sudah pergi telah memperoleh ketenangan," ucap Sinta dengan suaranya yang lembut.
"Terimakasih Mbak Sinta," Nilla menghamburkan tubuhnya pada Sinta. Mereka berpelukan dengan erat. Angel berdiri bersedekap di belakang. Dia merasa tidak membutuhkan sebuah pelukan saat ini. Mata perempuan itu entah bagaimana seringkali terlihat penuh dendam dan amarah.
"Semangat untuk kalian berdua ya," ucap Sinta menepuk-nepuk bahu Nilla.
"Kami permisi. Terimakasih Mbak Sinta." Angel berjalan keluar kios terlebih dahulu. Nilla menyusul di belakang dengan lari-lari kecil.
Angel memacu motornya dengan kecepatan sedang. Dia tak ingin buket bunga indah yang dipegang Nilla berantakan diterpa angin. Motor memasuki wilayah dengan jalanan terjal di perbatasan kota kabupaten.
Kondisi jalan benar-benar sepi. Beberapa pohon pule nampak rindang di tepi jalan. Mencipta suasana tenang, sejuk, namun membuat bulu kuduk meremang. Tak jauh dari pohon pule paling besar di tepi jalan, ada sebuah gapura berpagar besi warna hitam pekat. Angel menepikan motornya disana.
Puluhan batu nisan berada di area tersebut, nampak kusam dan kurang terawat. Bunga-bunga kamboja putih tumbuh subur bermekaran dan berguguran di hari yang sama. Tanah merah terlihat sedikit becek, mungkin malam tadi telah turun hujan.
"Kami datang bunda," ucap Nilla, berjongkok di hadapan makam yang sudah terlihat lawas itu. Angel masih tetap berdiri di belakang Nilla, sesekali mengusap matanya yang terasa perih.
"Bunda, ini bunga kesukaan bunda. Mawar putih yang mekar sempurna." Mata Nilla berkaca-kaca.
"Bunda tahu nggak? kata penjualnya, kalau bunga mawar putih ini diletakkan di pusara, terus bunga ini layu, maka yang ada di pusara ini sudah tenang di dunia sana," lanjut Nilla lirih. Air matanya mulai sulit untuk dibendung.
"Ayuk kita kirimkan doa untuk Bunda," ucap Angel menghentikan tangis Nilla.
Selama beberapa saat lamanya Angel dan Nilla nampak khusyuk berdoa. Mereka tertunduk menangkupkan kedua tangan. Selesai berdoa, Nilla berdiri setelah mengusap-usap nisan milik Bundanya itu. Kemudian dia beringsut pergi, membiarkan Angel yang masih berdoa dengan mata terpejam.
__ADS_1
Selepas kepergian Nilla, Angel membuka mata. Menatap batu nisan dengan wajah memerah. Tangannya terkepal erat, bibirnya pun terlihat sedikit bergetar.
"Aku tahu, mawar putih ini takkan pernah layu di pusara Bunda. Mawar putih ini akan tumbuh untuk memberi hukuman pada mereka. Mawar putih ini akan layu, saat hukum tabur tuai selesai ditunaikan." Angel tersenyum sekilas kemudian berbalik badan dan berjalan pergi. Nilla terlihat sudah heboh di tepian jalan.
"Kita makan mie ayam bakso, langganan Bunda dulu," ajak Nilla bersemangat. Angel mengangguk setuju. Detik berikutnya, motor Angel sudah meraung meninggalkan area makam di pelosok desa itu. Batu nisan putih pucat yang baru mereka kunjungi bertuliskan 'Seruni binti Kaderi'. Wafat 10-12-1997.
...----------------...
Sementara itu, Wildan baru saja selesai memasak sebuah makanan yang simpel namun lezat dan menggugah selera. Bakwan sayur dengan sambal petis. Wildan mencicipi dan sudah merasa puas dengan rasanya.
Saat hendak merebahkan badan di depan TV, terdengar suara pintu depan diketuk. Ketukan yang cepat dan bertubi-tubi. Wildan mengernyitkan dahi, penasaran. Tidak ada suara motor datang, mana mungkin Nilla dan Angel sudah pulang.
Sedikit ragu, Wildan melangkah ke ruang depan. Dia meraih handle pintu dan menariknya perlahan. Saat pintu terbuka, Wildan cukup kaget dengan tamu yang datang di waktu menjelang siang itu.
"Inka? Ada apa?" Wildan mengernyitkan dahi.
"Aku hanya ingin berkunjung. Tak bolehkah aku masuk?" tanya Inka dengan sebuah senyuman yang aneh.
"Tapi yang punya rumah sedang keluar. Bisakah kita duduk di teras saja?" Wildan mengedarkan pandangan, khawatir ada orang lain yang melihat. Bisa menjadi sebuah praduga yang buruk. Apalagi Wildan baru dua malam numpang tinggal di tempat Nilla.
"Aku mau masuk!" Inka mengacuhkan Wildan dan berjalan masuk ke dalam rumah, setelah dengan sengaja menyentuhkan pundaknya di dada Wildan.
"Hey hey apa maumu?" Wildan bertanya setengah membentak. Inka menjatuhkan tubuhnya di kursi ruang tamu.
"Kenapa kamu terlihat marah? Bukankah wajar jika tetangga berkunjung untuk mengakrabkan diri Willy," ucap Inka menyeringai.
__ADS_1
"Atau sebaiknya kupanggil kamu, Wildan," lanjut Inka menatap tajam pada Wildan yang berdiri termangu di ambang pintu.
Bersambung___