
Udara siang hari terasa menyengat. Raut wajah penuh kekhawatiran terpancar. Sesekali tangan kekar itu meraih handphone, membuka kunci layar, dan menutupnya kembali. Berulangkali dilakukan, menunjukkan kegundahan di hati.
Adi, kepala satuan reserse kriminal itu tengah diliputi perasaan khawatir. Bawahan sekaligus sahabat karibnya, Tarji tidak datang ke kantor pagi ini. Tak jua bisa dihubungi. Dia sempat memeriksa rumah Tarji, ternyata dalam keadaan kosong. Lampu ruangan dan teras depan nampak menyala terang, menandakan dari semalam dia belum kembali ke rumah.
Adi teringat, tadi malam Tarji memamerkan kenalannya yang cantik di media sosial. Adi sangat yakin Tarji tak mungkin bolos kerja demi menghabiskan malam bersama gadis yang baru dikenal. Sahabat karibnya itu meski sedikit 'nakal' tapi tak pernah lupa dengan sumpah tugas dan kewajibannya.
Beberapa saat lamanya dalam kegundahan, seorang petugas terlihat memasuki ruangan Adi. Petugas muda dari bagian IT.
"Keberadaan handphone Pak Tarji sudah kami temukan. Sudah saya kirimkan koordinatnya ke nomor Bapak. Mungkin Bapak tidak perlu terlalu khawatir, karena sepertinya Pak Tarji tengah berada di tempat wisata tepi pantai," ucap petugas dari bagian IT.
"Baiklah, terimakasih atas bantuannya," tukas Adi. Petugas bagian IT membungkuk dan segera kembali ke ruangannya.
Setelah membuka koordinat lokasi handphone Tarji, Adi menyambar jaket yang tergantung di belakang sofa ruang kerjanya. Dia bergegas menuju ke tempat parkir, dan melihat laki-laki tua sedang berada di pos jaga tengah berdebat dengan salah seorang petugas disana. Adi pun menghampiri, melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa ini, kok ribut-ribut?" tanya Adi kepada petugas jaga.
"Oh ini Pak, Mbah nya ngeyel mau ketemu Njenengan. Katanya kenal. Tapi saat ditanya siapanya Njenengan, terus nama lengkap Njenengan, beliaunya nggak tahu. Jadi saya kurang yakin," jawab petugas jaga.
"Ini yang namanya Pak Adi ya?" Kakek-kakek asing itu berjalan mendekat, langsung menyalami Adi.
Sedikit bingung, Adi memperhatikan laki-laki sepuh di hadapannya itu. Usianya mungkin sekitar 70 an tahun. Rambutnya putih dengan perawakan yang masih tegap dan gagah. Ada bekas luka di dahinya membuat bagian depan rambutnya terlihat botak.
"Maaf, kurasa kita belum pernah ketemu Mbah," ucap Adi mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Memang belum Pak," sahut Mbah nya cepat.
"Lhoo, Mbah nya bohong to. Katanya sodara tadi. Nggak boleh kayak gitu lho Mbah." Petugas pos jaga terlihat jengkel. Adi menggerakkan tangan, menepuk-nepuk dadanya sendiri, memberi kode agar lebih kalem dan tenang.
"Ada apa Mbah?" tanya Adi kemudian. Kakek tua itu tiba-tiba merangkul Adi, dan mendekatkan mulutnya pada telinga kepala satuan kepolisian itu.
"Aku mendengar reputasi mu Nak. Aku bisa kan mempercayaimu? Ini soal kematian beberapa orang lansia akhir-akhir ini," bisik kakek tua itu.
Adi terbelalak kaget. Dia menoleh pada kakek tua di sebelahnya. Adi mengamati, mencoba memastikan Mbah kakung itu tidak tengah membual atau mengalami kepikunan. Adi kemudian melambaikan tangan pada petugas pos jaga, memintanya untuk mendekat.
"Antar Kakek ini ke ruanganku. Aku juga minta tolong ambilkan makanan dan minuman di kantin belakang untuknya," ucap Adi memberi perintah.
"Siap Pak," jawab petugas jaga sigap.
"Iya Mbah, saya ngerti. Tolong Njenengan tunggu di ruangan saya. Mungkin 1 atau 2 jam saya sudah kembali," sahut Adi menepuk bahu Mbah nya kemudian bergegas menuju tempat motornya terparkir.
Adi sadar, mungkin saja kakek tua tersebut menjadi kunci untuk mencari titik terang dari kasus yang tengah menyita waktunya. Namun saat ini, dia tidak bisa mengacuhkan menghilangnya Tarji. Ada kekhawatiran yang tidak bisa dia ungkapkan.
Setelah mengenakan helm full face miliknya, Adi langsung menarik gas motor matic nya dalam-dalam. Menyusuri jalanan kota yang padat, kemudian berbelok ke arah pantai. Mengikuti petunjuk dari maps, membawanya ke kawasan wisata yang cukup padat di siang terik.
Adi di arahkan pada sebuah rumah makan yang berdiri sendirian di tepi jalan. Sekilas pandang nampak tempat itu sudah tidak terawat. Beberapa bagian cat nya terkelupas. Adi menepikan motornya. Dia sekali lagi melihat handphone nya untuk memastikan sudah sampai di tempat tujuan.
Dengan berhati-hati, Adi memeriksa bagian depan rumah makan terbengkalai itu. Perhatiannya tertuju pada jejak ban mobil di tepi jalan. Di bagian tanah yang sedikit becek nampak jelas, ada bekas roda yang terbenam. Semalam memang hujan deras, kemungkinan besar, ada mobil yang terparkir di tempat itu kala hujan mengguyur.
__ADS_1
Adi melangkah ke pelataran rumah makan yang sepi. Langkahnya terhenti di dekat selokan dengan beberapa sampah yang dibiarkan menyumbat aliran airnya. Sebuah benda berbentuk kotak berwarna hitam membuat Adi semakin gelisah.
Dengan mengenakan sarung tangan, Adi memungut handphone hitam yang tergeletak di dekat tumpukan sampah. Ada stiker karakter anime Wan Pis di bagian belakang handphone membuat Adi yakin, handphone tersebut milik Tarji. Handphone dalam kondisi mati, dengan layarnya yang pecah. Ada beberapa bercak warna merah yang sudah mengering.
Perasaan Adi semakin kacau. Ketenangan yang biasa dia tunjukkan kini nampak berantakan. Adi panik dan gusar. Dia yakin sahabat karibnya dalam bahaya. Dan semakin kalut saat menyadari, dirinya belum mengetahui siapa lawannya itu.
Dengan membabi buta, Adi masuk ke rumah tempat makan terbengkalai itu. Mengobrak abrik semua yang ada disana. Berharap ada petunjuk atau jejak yang tertinggal di bangunan yang terasa kosong dan sepi. Hingga akhirnya, Adi menemukan sebuah ruangan yang terkunci di bagian belakang.
Adi mendobrak pintu triplek yang penuh coretan cat tak beraturan. Tidak perlu tenaga yang terlalu besar, pintu sudah berhasil dijebol. Ruangan tersebut kosong dengan aroma anyir yang cukup menyengat.
Ada sebuah ranjang kayu di ujung ruangan. Adi mendekat dan memeriksanya. Terdapat bercak kemerahan yang belum kering. Adi yakin cairan tersebut adalah dar*h. Sepertinya seseorang yang tengah terluka baru saja dipindahkan dari tempat itu.
Tidak ada petunjuk apapun yang tersisa kini. Adi terduduk bersandar pada dinding ber cat hijau yang terkelupas di beberapa bagian. Dia benar-benar merasa ketakutan. Takut tidak berhasil menyelamatkan sahabatnya. Bayangan kegagalan dari tugas yang dia tangani selama ini menghantui.
Di dunia ini memang tidak ada manusia yang selalu kuat di setiap keadaan. Begitupun Adi. Ketenangannya menghilang saat ini. Wajahnya tertunduk di antara lututnya yang tertekuk.
Saat keputusasaan datang, semua organ tubuh terasa hilang fungsinya. Pikiran menjadi buntu, kaki lunglai tak bertenaga. Bahkan pandangan pun buram.
"Ji, apapun yang terjadi padamu bertahanlah. Aku tidak akan memaafkanmu, sialan!" umpat Adi kesal. Dia teringat sebuah petunjuk yang mungkin bisa dilacak. Akun media sosial bernama Inka yang menghubungi Tarji semalam. Adi ingat betul foto profil perempuan itu.
Setelah menghela nafas, Adi berdiri dari duduknya. Manusia dikatakan kuat bukan karena tidak pernah merasa jatuh dalam hidupnya. Namun, kuat yang sesungguhnya adalah seberapa cepat sanggup bangkit kala jatuh dan merasakan kekalahan.
Bersambung___
__ADS_1
Agak tersendat lagi update nya gaes. ditinggal ke luar kota akhir tahun. maaf yaa 😅