
Mobil sedan mewah berwarna hitam melaju perlahan di tengah perkebunan tebu. Meski jalanan sepi, bahkan tidak ada satupun kendaraan yang lewat kecuali mobil mewah itu, tetap saja sang sopir tidak menambah kecepatan. Kaca belakang dibiarkan terbuka memperlihatkan rambut putih dan wajah kotak dengan ekspresi tegas nan berwibawa.
Pak Wito merenung sembari menikmati angin semilir sore yang mendung. Bahkan di kaki bukit terlihat beberapa kali kilat menyambar, menjilat langit yang hitam. Sesekali laki-laki sepuh itu menghela nafas. Pengawal garang dengan bekas luka di pipi duduk di sebelah sopir terlihat sedikit gusar memperhatikan majikannya.
"Apakah aku terlihat kurang tenang?" tanya Pak Wito.
"Emm, sejujurnya iya bos. Njenengan terlihat gelisah," jawab sang pengawal.
"Tugas orangtua adalah mendukung impian anaknya. Dan anakku satu-satunya kini tengah berusaha menggapai mimpinya. Tapi kesalahanku di masa lalu bisa menjadi batu sandungan yang membuat anakku terjungkal. Terkadang saat mata ini hendak terpejam aku menyesal telah ikut dalam kasus 91 itu. Seandainya aku tidak turut serta, mungkin saat ini aku bisa fokus mendukung anakku," ucap Pak Wito seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
"Maaf Bos, bukankah apa yang Njenengan capai saat ini juga berkat bos ikut andil pada kasus itu?" sergah Pengawal dengan bekas luka di wajah. Entah dia mendapat keberanian darimana untuk mendebat majikannya itu.
"Ya kamu benar. Pada saat itu, semua petinggi, para golongan atas menginginkan Sumiran lenyap. Dan aku dijanjikan tempat serta karier yang bagus. Kehidupan ini memang hanya untuk pemberani. Yen wedi ojo wani-wani. Yen wani ojo wedi-wedi," ujar Pak Wito tersenyum masam.
Mobil terus melaju. Hanya ada tanaman tebu sejauh netra memandang. Lahan luas yang terlihat kurang terurus itu semua milik Pak Wito. Meski sudah memiliki segalanya, Sang arloji emas tetap saja belum menemukan kedamaian batinnya.
"Kusimpan di tempat semua berawal," ucap Pak Wito di tengah lamunannya.
"Maaf Bos, pripun?" tanya Sang pengawal.
"Aku ingat wasiat Umar yang diucapkan anaknya tadi. Kusimpan di tempat semua berawal. Apa kalian mungkin memiliki ide, maksud wasiat itu?" Pak Wito balik bertanya.
"Mungkin seperti yang Njenengan sampaikan tadi Bos. Tempat semua berawal adalah rumah terjadinya perampokan," jawab Pengawal meyakinkan. Pak Wito diam saja tidak menyahut tapi mimik wajahnya menunjukkan ketidak puasan.
"Lagipula Bos tidak perlu terlalu khawatir. Rahasia itu telah terkubur puluhan tahun yang lalu Bos. Dan saya yakin, selamanya akan tetap terkubur di tempatnya," lanjut pengawal.
"Kamu tahu, aku bisa mencapai kesuksesan seperti sekarang ini karena apa? Bukan hanya soal kerja keras saja. Tapi juga karena aku tidak pernah menggampangkan setiap persoalan. Aku berusaha menjaga perputaran rodaku tidak tersandung meski hanya kerikil kecil," jelas Pak Wito.
Pada saat yang sama mendadak mobil mewah yang Pak Wito naiki oleng. Sopir buru-buru menginjak pedal rem dan menepi.
"Sialan! Kenapa? Ada apa?" tanya Pak Wito kesal. Sopir melongok keluar.
"Wah ada batu di tengah jalan Bos. Maafkan saya kurang memperhatikan jalan," jawab Sopir ketakutan.
__ADS_1
"Bodoh! Tugasmu melihat jalan. Jangan melamun!" Pengawal dengan bekas luka di wajahnya memukul kepala sang sopir.
"Bukan pertanda baik," gumam Pak Wito. Dia mengelus-elus dagu dengan bulu janggutnya yang memutih. Saat mobil kembali bergerak, Pak Wito teringat sesuatu.
"Jangan pulang dulu! Kita ke tempat orang yang mungkin mengerti soal wasiat dari Umar," perintah Pak Wito.
"Kemana bos?" tanya Pengawal dan sopir bersamaan. Keduanya terlihat penasaran.
"Warung pecel Mak Lastri," jawab Pak Wito singkat.
"Ohh bos sedang lapar to," sambung sopir.
"Ndasmu!" sekali lagi pengawal melayangkan tamparannya ke kepala botak sang sopir.
Sementara itu Nilla dan Rio masih berdiri di samping mobil milik Angga. Saat Rio mencoba menarik pintu belakang, ternyata tidak dikunci. Kini, Rio dan Nilla dapat melihat dengan jelas Pak Burhan yang kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya itu.
"Bapak siapa?" tanya Rio ramah.
"Mobil ini benar milik Bang Angga kan?" sergah Nilla.
"Kalian siapanya Den Angga?" Pak Burhan semakin bingung.
"Dia menyebut Angga dengan sebutan Den." Rio menatap Nilla penuh tanya.
"Wes mbuh lah. Pusing aku. Intinya Angga dan Angel ada di dalam kan Pak?" tanya Nilla tak sabar. Pak Burhan hanya mengangguk.
"Rio, kamu tunggu disini. Biar aku yang masuk ke rumah itu," tukas Nilla. Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu berlari-lari kecil meninggalkan Rio bersama Pak Burhan.
"Lhah, aku ditinggalin," gumam Rio geleng-geleng kepala.
"Kalian siapanya Den Angga?" tanya Pak Burhan setelah Nilla pergi.
"Saya kurang faham sih Pak. Saya temannya cewek tadi. Nah cewek itu saudaranya cewek yang bersama Angga. Jadi, mereka itu. . .emmm, gimana ya. Aku jadi pusing." Rio mencoba menjelaskan tapi akhirnya merasa bingung sendiri.
__ADS_1
"Saudaranya Angel?" Pak Burhan mengernyitkan dahi. Rio mengangguk cepat.
"Berarti cewek tadi anaknya Bu Seruni?" Pak Burhan bertanya sekali lagi.
"Waahh, aku nggak tahu siapa nama Ibunya Nilla Pak." Rio menggaruk kepalanya.
"Oh iya Pak. Nama saya Rio. Bapak siapa?" Rio hendak menjabat tangan. Tapi Pak Burhan tak membalasnya.
"Saya Burhan. Dulu saya penjaga rumah Den Angga. Maaf, saya kesulitan bergerak," ucap Pak Burhan.
"Lhah, Bapak kenapa? Sakit?" Rio semakin heran.
Pak Burhan menggeleng perlahan. Dia enggan bercerita. Pak Burhan merasa yang terjadi saat ini adalah sebuah hukuman atas dosanya di masa lalu. Jadi, dia berniat pasrah dan mengikuti kemauan Angga.
Terdengar suara mobil menepi. Rio tidak terlalu memperhatikan. Namun tiba-tiba saja bahunya ditepuk dari belakang. Seorang perempuan asing berdiri di belakang Rio. Rambutnya yang merah menyala terlihat cocok dengan wajah oval nan cantik.
"Temannya Angel dan Nilla kan?" Sapa perempuan itu sambil tersenyum. Rio sempat diam memperhatikan kemudian mengangguk perlahan.
"Nama saya Inka Mas. Saya biasanya yang membantu Angel dan Nilla untuk mencari orang-orang yang terlibat dengan kasus 91."
"Oh ya? Angel tidak pernah cerita tentang Anda. Bagaimana bisa anda tahu kami disini?" tanya Rio penuh selidik.
"Oh saya tadi mengikuti Anda dan Nilla. Kami memang sering bergerak terpisah. Ngomong-ngomong siapa Bapak ini?" Inka menunjuk Pak Burhan yang diam di dalam mobil.
"Dia Pak Burhan. Aku juga kurang faham sih. Katanya dulu penjaga rumahnya Angga, Abangnya Angel," jawab Rio.
"Pak Burhan?" Inka mengernyitkan dahi. Suaranya terdengar melengking, seolah sengaja berteriak.
Rio masih memperhatikan Inka. Padahal Rio cukup kenal dengan Angel. Sepengetahuannya Angel tidak memiliki teman seperti wanita ber make up tebal itu.
Tanpa Rio sadari, sebuah kunci dongkrak menghantam kepalanya dari belakang. Rio terhuyung dan ambruk ke trotoar tanpa perlawanan. Pandangannya mulai buram. Dan bagian belakang kepalanya terasa dingin dengan aroma anyir yang menyengat. Sensasi lengket dan berair Rio rasakan mengalir membasahi wajahnya yang tengkurap di trotoar. Pada akhirnya, pimpinan hotel itu kehilangan kesadaran.
Bersambung___
__ADS_1