12 Badoet

12 Badoet
Patangpuluh Papat


__ADS_3

"Ji, menurutmu siapa di antara ke tiga pensiunan yang mencurigakan? Kamu kan baru bertemu dengan mereka," tanya Adi.


Tarji terdiam. Dia terlihat menopang dagu menggunakan tangan kiri dengan arloji emas yang melingkar disana.


"Kalau pertanyaanmu seperti itu, kurasa ketiganya mencurigakan Di," jawab Tarji setelah diam berpikir beberapa saat lamanya.


"Kenapa begitu?" Adi mengernyitkan dahi.


"Entahlah. Wajah-wajah mereka terlihat kurang ramah," ucap Tarji bersungguh-sungguh.


"Oh iya Ji. Kasus kematian dukun kemarin malam itu bagaimana perkembangannya?" Adi mengalihkan pertanyaan.


"Saksi mata kunci belum sadarkan diri. Sementara itu menurut para centeng yang lain, sebelum Ki Sarno ditemukan tewas mereka tengah diperintahkan untuk mengejar pasien yang sempat menyandera sang dukun," jawab Tarji.


"Pasien menyandera dukun gimana?" Adi memijat-mijat keningnya.


"Detailnya kurang tahu Di. Soalnya kan itu masuk wilayah Kabupaten sebelah. Kenapa kamu juga penasaran soal kasus itu sih? Karena viral?" tanya Tarji penasaran.


"Karena insting dan firasat," jawab Adi singkat.


"Hah? Instingmu selalu meresahkan Di. Aku khawatir di akhir nanti semua terjadi seperti firasatmu. Kamu lebih cocok jadi cenayang daripada kepala satuan," gerutu Tarji.


"Coba pikir, setelah kematian Pak Umar gantung diri, secara beruntun muncul kematian-kematian tidak wajar dari kakek-kakek di kisaran usia 70 tahunan. Terlalu sembrono jika dikatakan kebetulan. Dan lebih mencurigakan lagi, selalu muncul Wildan di tempat kejadian tewasnya para lansia itu," ujar Adi dengan suaranya yang terdengar berwibawa.


"Dalam kasus tewasnya Ki Sarno tidak ada nama Wildan Di," bantah Tarji.


"Apa kamu tidak curiga, pasien yang sempat menyandera sang dukun seperti yang disampaikan oleh para centeng, itu adalah Wildan?" Adi mengusap dagunya.

__ADS_1


"Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Kalau demikian, berarti sekarang kamu juga percaya kalau Wildan adalah pelaku kejahatan?" Tarji balik bertanya.


"Aku mencoba mencari benang merah dari semua kejadian ini Ji. Pak Umar Bapaknya Wildan, dalam beberapa hari sebelum ditemukan gantung diri meracau di kantor polisi kalau dia pelaku perampokan tahun 91, dia mengatakan tahu semua orang yang terlibat. Dugaanku, Anwar, Trisno, juga Ki Sarno terlibat dalam peristiwa 91 itu. Kenapa Wildan selalu muncul di tempat kejadian? Masih dugaanku, dia mencari sesuatu atau mungkin dia mau memperingatkan para korban. Ada orang lain yang mengincar sekumpulan kakek-kakek itu," ujar Adi bersungguh-sungguh. Adi seringkali menyampaikan praduga nya yang kadang terasa tidak masuk akal kepada Tarji. Karena hanya Tarji yang bisa menyimpan rahasia, sekaligus percaya dengan dugaan-dugaan Adi se liar apapun.


"Pusing aku dengarnya Di," ucap Tarji menggaruk-garuk kepalanya.


"Aku sedang menelusuri keluarga dari Sumiran. Sayangnya berkas tentang konglomerat itu tidak lengkap Ji. Sangat aneh. Padahal dulu dia disebut orang paling kaya, berpengaruh, dan menjadi korban perampokan. Tapi mengapa catatan tentang dia di kantor ini hanya sedikit saja?" Adi menggerutu.


"Disini hanya disebutkan Sumiran memiliki seorang istri bernama Melati. Juga seorang anak yang tercatat di kependudukan. Istrinya menghilang setelah peristiwa 91. Anaknya sempat dititipkan di Panti. Kemudian diasuh oleh salah satu penjaga rumah Sumiran. Sepertinya aku perlu menemui anak Sumiran ini Ji," lanjut Adi manggut-manggut.


"Aku mulai faham dengan jalan pikiranmu Di. Pasti kamu menduga, keturunan dari Sumiran menuntut balas pada pelaku perampokan. Begitukah?" tebak Tarji bersemangat.


"Ya bisa jadi begitu," sahut Adi menghela nafas.


Suasana berubah hening. Udara malam tiba-tiba bertambah dingin. Detik berikutnya terdengar rintik hujan menghantam atap seng di teras depan kantor. Suaranya yang nyaring riuh bersahut-sahutan.


"Hmmm, lha kok hujan," gerutu Tarji tiba-tiba.


"Aku ada janji ketemu seseorang," jawab Tarji dengan wajah berbinar.


"Cewek?" tanya Adi penuh selidik.


Tarji mengangguk antusias. Dia mengambil handphone dan membuka sebuah aplikasi. Kemudian menunjukkannya pada Adi.


"Kemarin aku iseng ikut komunitas di media sosial. Komunitas arloji-arloji unik. Aku meng upload foto arloji emas ini, ada yang inbox pengen ketemu dan lihat langsung," ucap Tarji menggebu-gebu.


"Kulihat foto profilnya cantik. Yaudah kita janjian malam ini. Siapa tahu kan bisa jadi judul ftv baru. Jodohku dari arloji emas. Ha ha ha," tawa Tarji pecah mengalahkan suara riuh dari rintik hujan yang turun.

__ADS_1


"Suka-suka kamu sajalah Ji. Terus janjian dimana? Kapan?" tanya Adi.


"Ssttt. Rahasia. Kalau kukasih tahu, khawatirnya kamu membuntutiku. Kamu penasaran kan sama ceweknya cantik beneran atau nggak. Kalau ternyata nggak cantik, kamu pasti mau mengolok-olokku," cibir Tarji.


"Dih, ngapain? Aku khawatir saja kalau ternyata orang itu punya niat jahat padamu. Bisa saja kan, mau merampas arloji mu itu atau apa gitu. Karena kulihat-lihat, sepertinya arloji itu cukup unik. Ada huruf S menggantikan angka 12 nya," sahut Adi dengan ekspresinya yang datar.


"Aman. Tenang saja. Tarji ini kan anak buah kesayangan Bapak Adi yang terhormat. Kemampuan bela diri jelas di atas rata-rata." Tarji menepuk-nepuk dadanya sendiri. Adi hanya menggeleng pelan.


"Dah lah. Mau kencan dulu. Menikmati hidup biar tidak sepertimu. Nikah sama berkas penyelidikan. Hiyaaaa," ejek Tarji sembari berlari keluar ruangan.


Hujan turun dengan lebatnya. Tarji berlari-lari kecil menuju mobil biru dongker yang terparkir di depan lapangan tenis. Sesekali terdengar guntur menyambar, Tarji tidak peduli. Pikirannya sudah dipenuhi dengan rencana makan malam dengan perempuan cantik yang baru dikenalnya. Sedari kemarin dia sudah asyik chattingan dengan perempuan itu. Dan Tarji merasa nyambung dengan obrolan dan candaannya.


Tarji menyalakan mobil dan memutar musik. Sebuah lagu mengalun. Ditemani lagu tahun 2008 dari Lobow berjudul Kau Cantik Hari ini, Tarji menginjak gas mobilnya. Menyusuri jalanan kota yang basah dan sedikit lengang.


Mobil Tarji terus bergerak, mengarah ke wilayah kecamatan W. Jalanan berubah berkelok dan sedikit menanjak. Hujan tak jua berhenti, malah semakin menjadi-jadi. Tarji terus memacu kuda birunya.


Sepuluh menit berikutnya, Tarji sampai di wilayah pesisir pantai. Udara semakin terasa dingin. Dia memeriksa maps di handphonenya. Tinggal beberapa ratus meter lagi, Tarji akan sampai di tempat janjian.


Akhirnya, suara google maps yang nyaring memberitahukan bahwa Tarji sudah sampai di tempat tujuan. Dengan segera, Tarji menginjak pedal rem. Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang nampak gelap. Hanya ada sedikit pencahayaan yang temaram. Terdapat papan nama besar di bagian luar menuliskan lokasi itu adalah rumah makan.


Tarji menekan sebuah nomor di handphone. Dia menelpon perempuan yang membuat janji bertemu dengannya. Tarji menanyakan, apakah dirinya nyasar dan berada di tempat yang salah. Dan perempuan itu mengatakan tidak ada yang salah. Tarji diminta untuk segera keluar dari mobilnya.


"Dih, mau ngasih surprise atau gimana nih? Atau memang konsep resto nya kayak begini?" gumam Tarji sendirian setelah menutup telepon.


Tarji keluar dari mobil dan berjalan menuju ke teras rumah makan. Suara rintik hujan mengelabui indera pendengaran. Hingga Tarji tidak menyadari, ada langkah kaki yang mengendap-endap di belakangnya.


Tanpa Tarji sadari, sebuah balok kayu menghantam kepalanya dengan telak. Cairan merah kehitaman berhamburan bersama rintik air hujan. Tarji jatuh tersungkur, ambruk mencium paving basah beraroma air laut. Pandangannya buram dan berkunang-kunang.

__ADS_1


Handphone di tangan Tarji terlepas dan jatuh melesat hingga ke teras rumah makan. Terpampang di layar android itu, sebuah profil media sosial dari perempuan cantik yang hendak ditemui Tarji. Nama dari perempuan itu adalah Inka.


Bersambung___


__ADS_2