12 Badoet

12 Badoet
Pitulikur


__ADS_3

Tumpukan berkas di meja menggunung. Nampak kurang tertata rapi, dan beberapa berserakan di lantai. Ada pula foto-foto hitam putih yang terlihat buram. Tulisan di kertas berasal dari mesin tik kuno juga memudar dan beberapa bagian sulit terbaca.


Adi tiduran di lantai beralas karpet tipis. Dia terlihat berantakan dengan seragamnya yang belum diganti sedari pagi. Dia masih mengamati kertas yang ada di genggaman tangannya. Hingga akhirnya kertas itu dia jatuhkan menutupi bagian wajah. Adi masih tidur terlentang, enggan untuk bergerak dan beranjak.


Begitulah Adi. Polisi gagah itu memang terkenal workaholic. Mottonya dalam bekerja adalah pantang pulang sebelum tugas tuntas. Sayangnya kali ini dia terlihat buntu dan suntuk. Kasus yang dia pelajari terasa rumit. Beberapa kali Adi menghela nafas, kelelahan secara fisik dan pikiran.


Dalam kesendirian, Adi melamun memikirkan kegagalan dari beberapa kasus yang sudah ditangani. Seringkali dia merasa kurang pantas mendapatkan jabatan yang sekarang. Adi sadar betul dalam jabatannya terdapat sebuah tanggungjawab yang besar.


Di tengah lamunannya, handphone di atas meja bergetar. Adi meraih dan melihat layar handphonenya sekilas. Kemudian menerima panggilan yang merubah wajah kusutnya menjadi sedikit berbinar. Tak berselang lama, Adi buru-buru keluar dari ruangan menuju ke tempat parkir di bagian depan kantor.


Sosok perempuan cantik, dengan rambut panjang tergerai nampak berada di belakang kemudi mobil sedan berwarna merah. Dialah Sinta, sosok spesial yang memberi warna di hari-hari Adi yang terasa membosankan penuh dengan tumpukan berkas. Perempuan itu tersenyum menunggu petugas polisi gagah yang nampak semrawut itu.


"Kucel banget," sapa Sinta kala Adi berdiri di hadapannya. Adi tak menyahut, hanya tersenyum saja.


"Masuklah, aku bawakan makanan, masakanku sendiri," ucap Sinta, meminta Adi masuk ke dalam mobil. Adi pun menurut.


"Apa nih?" tanya Adi melihat wadah bekal tergeletak di atas dasboard mobil.


"Makanlah Mas. Aku tadi masak capcay kuah. Banyak sayuran hijaunya. Ada bakso, juga sosis. Pokoknya mantap. Cobain deh," pinta Sinta sembari menatap Adi yang duduk di sampingnya.


Adi mengangguk. Dia membuka wadah bekal berwarna merah muda itu. Masih tersisa asap tipis mengepul. Aroma harum membuat jakun Adi naik turun. Seketika perutnya keroncongan. Lambungnya seakan dibangunkan untuk mencerna makanan, setelah seharian dibiarkan kosong karena terlalu asyik memandangi berkas yang tidak bisa mengenyangkan.


"Sinta kamu tahu kan, selama ini feeling ku soal kejahatan hampir selalu tepat?" tanya Adi saat makanan buatan Sinta tersisa dua sendok terakhir. Sinta mengangguk cepat.


"Aku sedang menangani sebuah kasus. Seorang guru ngaji ditemukan tak bernyawa di rumah warga yang sehari sebelumnya tew*s gantung diri," ujar Adi memulai cerita.


Sinta termenung. Bulu kuduknya meremang. Mendengarkan kisah-kisah yang dituturkan laki-laki di sampingnya itu selalu membuatnya ngeri. Tapi mau bagaimana lagi, Sinta sadar betul Adi butuh tempat untuk sekedar curhat. Sinta selalu berusaha mendengarkan meski terasa mengerikan.

__ADS_1


"Dari hasil penyelidikan ada satu tersangka. Namun aku kurang yakin. Entah bagaimana firasatku mengatakan kasus ini bukan kasus remeh atau sepele. Aku gelisah dan khawatir kalau feeling ku kali ini sekali lagi menjadi sebuah kenyataan," pungkas Adi mengakhiri cerita sekaligus makan malamnya.


"Sejak mengenalmu pertama kali, aku tahu kamu orang yang sangat mencintai pekerjaanmu Mas. Menurutku, kekhawatiranmu itu karena bentuk tanggungjawab yang besar atas kenaikan jabatan yang baru kamu peroleh. Mungkin kamu merasa kurang pantas mengemban itu semua. Karaktermu memang demikian adanya. Tapi percayalah, kamu adalah orang yang paling tepat untuk menjalankan amanah tersebut. Jadi, bekerjalah dengan maksimal jangan merasa terbebani. Aku tahu kamu, kamu pasti bisa. Tiga S Mas," ucap Sinta menepuk-nepuk pundak Adi.


"Apaan? Senyum Sapa Sopan?" Adi mengernyitkan dahi.


"Serius, Santai, Sukses Mas. Kamu harus serius, tapi juga jangan 'sepaneng'. Gitu lhoo," kelakar Sinta.


Adi tersenyum lebar kali ini. Di bawah sorot lampu parkiran, Sinta benar-benar terlihat mempesona. Perempuan itu cantik, berkulit kuning bersih, dan yang terpenting hatinya baik nan lembut. Selalu bisa meraih dan menarik Adi dari jurang keputusasaan bahkan rasa frustasi dan menggantinya dengan senyum serta tawa.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Sinta tersipu malu.


Kau cantik hari ini, dan aku suka. Kau lain sekali, dan aku suka.


Sebuah reff lagu mengalun dari radio mobil yang dibiarkan menyala. Lirik yang mewakili hati Adi yang sulit mengucapkan kata-kata manis. Laki-laki itu memang sedikit kaku dan kikuk, tak berpengalaman soal perempuan. Dan Sinta menyukai ke kaku an Adi itu.


"Hey, Pak petugas! Jangan berbuat aneh-aneh ya dalam mobil!" hardik Tarji.


"Waahh, bawahanku udah balik nih dari pesta ulangtahun," sahut Adi balik meledek. Sinta hanya tersenyum saja.


Tarji bergegas keluar dari mobilnya. Dia nampak sangat sumringah malam ini. Kening Adi berkerut melihat kelakuan rekannya itu. Heran dan penasaran bercampur menjadi satu.


"Di lihat ini Di. Rejeki Dii," ucap Tarji menunjukkan sesuatu yang melingkar di tangan kirinya. Dia berdiri di samping pintu mobil.


"Apaan?" Adi melongok keluar.


Sebuah arloji emas mengkilap terpasang di lengan Tarji yang berbulu. Terlihat mahal dan vintage.

__ADS_1


"Rejeki Dii. Tadi para pensiunan itu benar-benar membagikan hadiah seperti yang kuceritakan. Nama tamu undangan ditulis dalam kertas dan diambil secara acak. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Hadiah utama, jam tangan seharga ratusan juta, jatuh ke tanganku Dii. Beehhh, rejeki anak sholeeh," ujar Tarji bangga. Pergelangan tangan dia gerak-gerakkan penuh semangat memamerkan perhiasan yang gemerlap diterpa lampu parkiran.


"Kamu siihh nggak mau ikut. Nyesel kan," ledek Tarji. Adi tak menggubrisnya.


"Mas, aku balik dulu ya. Mau nyiapin rangkaian bunga mawar putih untuk besok," ucap Sinta di sela teriakan heboh Tarji.


"Pesanan kah?" tanya Adi.


"Iya. Seorang pelanggan tetap memesan dua buket bunga mawar putih. Katanya kesukaan Ibuknya dulu," jawab Sinta sambil tersenyum.


"Hati-hati di jalan ya," ucap Adi segera keluar dari mobil Sinta.


"Mas Tarji aku pamit ya. Be te we, jamnya bagus, keren." Sinta tersenyum dan mengangguk pada Tarji.


"Iya Sin. Jangan ngebut ya. Nyetirnya pelan-pelan saja, kayak hubunganmu sama si Pak Kepala Satuan ini. Lambatt," sahut Tarji nyengir. Sinta mengangguk tersipu dan segera menyalakan mobilnya setelah melambaikan tangan.


...****************...


Selepas kepergian Sinta, Adi dan Tarji kembali masuk ke dalam kantor. Pada saat yang sama nampak seorang petugas di ruang jaga menerima sebuah telepon. Wajah ramah sang petugas berubah serius sembari mencatat sebuah alamat.


"Ada apa?" tanya Adi setelah panggilan telepon selesai.


"Laporan kemati*n tidak wajar Pak. Di alamat ini," jawab petugas di pos jaga menunjukkan catatannya.


"Bukankah ini di daerah perbatasan dengan kota sebelah?" Kening Adi nampak berkerut.


"Ji, ayo kita ke alamat ini. Sekarang!" ucap Adi menoleh pada Tarji. Tarji nampak menghela nafas dan mengangguk dengan sedikit terpaksa.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2