
Bulan Desember tahun 1991
Langit sore yang semakin gelap. Langit tertutup gumpalan awan mendung menjatuhkan ribuan butir air setiap detiknya. Guntur bersahut-sahutan seolah berlomba menunjukkan suara yang mana paling perkasa. Sesekali suasana muram dan kelam itu berubah terang dalam satu kedipan kilat.
Santoso berdiri di hadapan Surti. Sementara Badut 5 yang bertato kalajengking memegangi kakinya yang diinjak Surti. Tangan kanan laki-laki itu pun nampak terluka bekas gigitan. Ada pula sang dukun, Badut nomor 4 yang membuka tangannya menghalang-halangi agar Surti tidak kabur.
"Matane! Pece! Kakiku diinjak. Pas cantengan lho ini. Tanganku juga digigit. Seperti hewan buas saja perempuan peyot sialan! Bisa rabies nih," umpat Badut nomor 5.
"Bi, tenanglah. Pokoknya Bibi nurut, Bibi akan selamat," ucap Santoso menenangkan.
Surti menelan ludah. Kini dia tahu siapa sosok bertopeng badut yang sedang berbicara padanya. Suara itu memang familiar bagi Surti. Dia pun menurut, tidak ada pilihan lain demi keselamatan dirinya.
Terdengar bunyi berdebum dari arah tangga. Santoso, Badut 4, dan 5 menoleh bersamaan. Sumiran terlihat terjengkang di bawah tangga. Pengusaha kaya raya itu meringis kesakitan. Tangan kanannya tertekuk ke belakang dengan posisi tidak wajar.
Dari lantai atas terlihat Badut 9 dan 10 berjalan menapaki anak tangga sembari memboyong kotak brankas berukuran kecil. Meski ukurannya tak seberapa, namun kotak brankas itu nampak berat. Badut 9 dan 10 kerepotan dengan suara deru nafas yang kasar.
"Hey! Apa yang sudah kalian lakukan?" teriak Santoso melihat Sumiran yang merintih kesakitan.
"Apa sih? Kami kan mau jalan, dia menghalangi. Yasudah kutendang saja," sahut Badut nomor 9.
Santoso hendak berlari untuk menolong majikannya itu. Namun tangan bertato kalajengking meraih dan mencengkeram pundak Santoso.
"Jangan melakukan hal yang tidak perlu. Kamu bisa membahayakan semuanya!" bentak Badut nomor 5.
Santoso terdiam mematung. Dia hanya bisa memandangi majikannya yang menangis. Santoso merasakan pilu di hati. Seburuk-buruknya Sumiran, laki-laki itu telah memberikan pekerjaan yang layak bagi Santoso. Gaji tiap bulan pun tak pernah telat, tak juga kurang. Tapi kini, Santoso malah menusuk sang majikan dari belakang. Dia digaji untuk menjaga keamanan, nyatanya malah dirinya ikut membahayakan Sumiran.
__ADS_1
"Sudah kalian ambil semuanya?" tiba-tiba Badut nomor 2, Umar sudah berdiri di ambang pintu dapur. Suara Umar terdengar serak, sengaja diubah agar tidak dikenali Sumiran.
"Brankas sudah. Perhiasan juga sudah semua," sahut Badut nomor 10.
Sumiran masih meringkuk di lantai. Tangan kanannya patah. Dia mendesis, merasakan ngilu dan sakit yang tak terperi. Beberapa gigi gerahamnya juga rontok saat terguling di tangga tadi. Melihat hal itu, Badut nomor 2 tertegun sesaat. Tangannya terkepal erat, ada rasa tak tega di hatinya.
"Apa yang sudah kalian lakukan?" bentak Badut nomor 2. Suara yang keluar dari tenggorokan itu adalah suara asli. Suara yang seharusnya diubah untuk menyembunyikan identitas.
"Umar?" pekik Sumiran langsung mengenali orang yang ada di balik topeng. Pada saat yang sama, Anwar juga berjalan mendekat menggendong ransel yang berisi sejumlah perhiasan.
"Kamu Umar kan? Aku yakin kamu Umar. Suaramu itu, aku hafal. Kenapa kamu melakukan ini semua?" Sumiran berteriak. Namun sayang, suara hujan meredam setiap teriakan.
"Jangan-jangan, kalian semua orang-orang yang kukenal. Kalian merampokku? Umar, kalau kamu butuh uang kenapa tidak bilang saja?" lanjut Sumiran. Keberanian Sumiran mulai muncul saat mengetahui perampok yang ada di hadapannya adalah seorang teman lama.
Umar terdiam. Anwar pun hanya mematung. Kesunyian sesaat yang terasa lama. Suara hujan deras menimpa atap kian kencang saja, namun semua hiruk pikuk itu tak terdengar di indera pendengar Umar.
Di tengah pikiran Umar yang kalut, muncul satu sosok yang sedari tadi berdiam dalam kamar. Perempuan yang memakai piyama berwarna jingga. Lipstik merah merekah, serta jalannya yang melenggak lenggok terlihat kemayu dan seksi. Dialah Melati, isteri dari Sumiran.
"Istriku, lihatlah orang-orang ini merampok rumah kita. Dan yang mendalanginya adalah Umar," ucap Sumiran menunjuk-nunjuk Umar.
Melati menghela nafas. Dia memandang Sumiran dengan tatapan aneh. Mata perempuan itu menunjukkan rasa tidak peduli, acuh tak acuh.
"Kenapa kalian semua diam saja sih? Kalau semua benda berharga sudah diambil, ya sudah segera pergi dari sini!" bentak Melati tiba-tiba.
Mendengar ucapan sang istri, Sumiran terlihat kaget. Mata bulat laki-laki itu bergetar. Memandangi Melati yang mengacuhkannya.
__ADS_1
"Tidak bisakah kita hanya merampas harta miliknya? Kurasa itu sudah cukup untuk menghancurkannya," ucap Umar setelah beberapa saat lamanya terdiam membisu.
"Aku sama bojomu sudah bulat. Kalau kamu membiarkannya hidup, dia akan tetap mengejarku, juga bojomu. Apa itu maumu?" sergah Melati merogoh sarung tangan di saku piyamanya. Sebuah sarung tangan dari karet tebal berwarna hitam.
"Melati! Ini semua rencanamu ya?!" teriak Sumiran sambil melotot. Bola matanya seolah hendak melompat keluar.
"Wes lah, aku nggak ikut kalau urusan keluarga kayak begini. Yang penting brankasnya tak masukin ke mobil ya," ujar Badut nomor 10 menyela pembicaraan. Jumani dan Nuryanto, kembali mengangkat brankas dan berjalan keluar dari dapur.
"Aku ikut kalian saja deh. Yang penting duitnya bagi lho ya," sahut Badut 4, kemudian ikut menyusul Jumani dan Nuryanto. Sedangkan Santoso tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Rasa takut menjalar di hati kala menyaksikan Melati mengambil senjata yang dibawa oleh Umar.
Surti mulai menangis. Perempuan itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Di depan Surti ada Badut nomor 5 yang tidak terlalu peduli dengan drama yang tengah terjadi.
"Apa yang kamu lakukan disini? Cepat pergi ke mobil. Ranselmu itu penuh dengan perhiasan bukan?" Melati membentak Anwar yang sedari tadi hanya diam termangu. Anwar dengan cepat mengangguk, berbalik badan dan berlari menjauh. Dia sudah tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi.
Detik berikutnya terdengar bunyi tembakan. Bukan dari Melati, melainkan dari tangan Santoso. Laki-laki itu mengarahkan ujung senjatanya ke langit-langit dapur. Dia menangis, terisak dalam ketakutan.
"Sudah cukup. Bukankah kita kesini untuk mengambil uang? Kenapa menyiksa Tuan? Kenapa Nyonya mau mencelakai Tuan?" Santoso menangis. Dia memang paling muda di antara Badut yang lain. Hatinya mudah goyah.
"Hati-hati dengan senjatamu bod*h!" bentak Umar.
"Heh nomor 5, bawa nomor 7 keluar dari sini. Juga pembantu di pojok itu, bawa keluar sekalian! Cepat!" perintah Umar. Badut nomor 5 pun menurut. Dia berjalan mendekati Santoso. Namun, Santoso malah mengacungkan senjatanya ke arah Umar.
"Hey, sialan! Turunkan senjatamu!" bentak Umar.
Dalam kondisi kalut, dan emosi yang tidak stabil Santoso malah semakin kuat mencengkeram gagang senjatanya. Tangan pemuda itu bergetar hebat. Umar merentangkan tangan, menyembunyikan Melati di balik punggungnya.
__ADS_1
Bersambung___