12 Badoet

12 Badoet
Patlikur


__ADS_3

Toko kedua berada di tengah pemukiman warga desa. Berada di kaki bukit yang hijau, udara terasa sejuk dan menyegarkan sepanjang waktu. Toko terlihat sangat ramai pembeli. Karena merupakan satu-satunya toko besar di wilayah tersebut.


Kali ini giliran Angel yang masuk ke dalam toko. Dia berpura-pura membeli beberapa jenis tepung sambil mengamati. Rasanya sulit untuk menawarkan kerjasama iklan radio saat toko dalam keadaan padat dan ramai. Berbaur menjadi salah satu pembeli adalah satu-satunya cara yang terpikirkan.


Ada dua pegawai di toko. Dua-duanya perempuan yang masih belia. Satu sedang mengemas gula dan satunya lagi sibuk mendengarkan permintaan ibu-ibu pembeli. Sedangkan di bagian belakang, ada seorang laki-laki bertubuh kurus kering yang sepertinya pemilik toko sekaligus bertugas sebagai kasir.


Laki-laki itu terlihat belum terlalu tua. Rambutnya masih berwarna hitam seluruhnya. Tubuhnya kurus, dengan tulang pipi yang menonjol. Dia hanya mengenakan kaos singlet warna putih kecokelatan. Bulu keteknya nampak berkibar diterpa kipas angin besar di sebelah tempat duduk.


Angel berjalan mendekat. Dia menenteng barang belanjaan yang tak seberapa banyak. Secara acak Angel mengambil tiga jenis tepung yakni maizena, terigu dan pati singkong. Entah bakal dimasak apa nanti, Angel tak peduli.


"Sudah Non?" tanya laki-laki bertubuh kurus. Dia mengamati Angel dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya nampak genit dengan jakun naik turun menelan ludah sedari tadi.


"Sudah Pak. Berapa?" tanya Angel santai.


"Kok manggilnya Pak. Panggil saja Mas gitu. Nona namanya siapa? Bukan orang sini ya? Nggak pernah lihat aku. Dan rasanya nggak mungkin kalau aku nggak kenal ada permata sebening ini di daerah sini." Laki-laki kurus itu mengedipkan matanya. Angel menahan rasa mual di perutnya.


"Om pemilik toko ini?" tanya Angel sekali lagi. Dia sebenarnya merasa risih, namun tetap berusaha mengamati detail dari laki-laki kurus itu.


"Oh iya jelas dong. Aku juragan, bos besar disini. Perempuan yang mau sama aku, dijamin hidupnya tenteram, sejahtera, loh jinawi," ucap laki-laki pemilik toko dengan bangga. Dia menepuk-nepuk dadanya sendiri dan tanpa sengaja memperlihatkan goresan-goresan hitam di lengan kanan bagian luar. Angel mengamati dengan seksama, namun tak merasa yakin dengan gambar yang ada di lengan lawan bicaranya itu.


"Emmm, maaf nih om. Di lengan itu tattoo?" tanya Angel. Dia mengedipkan matanya, berusaha menggoda sang pemilik toko.


"Iya. Kenapa?" Pemilik toko balik bertanya. Dia membalas kedipan mata Angel dengan meraih punggung tangan perempuan cantik itu.


Angel sebenarnya risih. Dalam hati dia ingin sekali menarik lengan laki-laki kurus itu dan membantingnya ke lantai. Namun, Angel mencoba bersabar untuk mendapatkan tujuannya.

__ADS_1


"Kamu suka dengan laki-laki bertato? Keren kan?" lanjut pemilik toko bertanya.


Pada saat itu datang pembeli lain mendekat. Seorang ibu-ibu paruh baya yang mengenakan daster lusuh.


"Lik, gula ada? Berapa se kilo?" tanya ibu-ibu berdaster.


"Se kilo 10 ons. Tanya sama pegawaiku sana! Ngenganggu orang saja kerjaanmu!" bentak pemilik toko marah-marah. Ibu-ibu berdaster berjalan pergi dengan bibirnya yang menye-menye menggerutu.


"Maaf nih, ada iklan lewat. Gimana-gimana? Kamu tertarik dengan tato di lenganku ini?" tanya pemilik toko sambil menggerakkan tangannya seakan sedang pamer otot bisepnya padahal lengan laki-laki itu hanya tulang terbalut kulit saja.


"Itu gambar apa? Aku suka dengan seni menggambar," ucap Angel beralasan.


"Oh ini tuh dulu gambar bunga mawar. Aku mengagumi bunga yang indah dan berduri. Cantik dan aw aw aw, durinya bisa menusuk ke hatiku. Tapi saat ini tato dalam proses penghapusan memakai laser, makanya gambarnya burem nih," jelas pemilik toko dengan mata genitnya.


"Jadi, bukan tato gambar kalajengking?" tanya Angel memastikan.


"Iya, aku suka. Ingin rasanya ku tato hati, lambung, pankreasmu itu! Tua bangka menjijikkan!" Angel melotot dan memelintir lengan pemilik toko yang sedari tadi mengelu-elus punggung tangannya.


"Aaakhhh! Sudah gila kamu!" pekik pemilik toko kesakitan.


Angel menghempaskan tangan pemilik toko. Semua orang pun menoleh menatap Angel. Tidak sampai disitu saja, Angel kemudian melempar tepung yang ada di keranjang belanjanya tepat mengenai wajah sang pemilik toko. Butiran-butiran halus berwarna putih itu pun berhamburan di udara. Wajah pemilik toko berubah cemong, seperti bayi yang baru saja dimandikan dan dibedaki oleh Ibunya.


Tanpa berucap sepatah kata pun Angel berjalan keluar dan bergegas menghampiri dua orang temannya yang menunggu di tepi jalan. Dari sorot matanya saja Angel terlihat tengah memendam amarah. Nampak beringas dan menyeramkan. Wildan menyadari akan hal itu.


"Ada apa? Sepertinya kamu sedang kesal?" tanya Wildan penasaran.

__ADS_1


"Kamu menemukan si tato kalajengking?" Nilla menimpali.


"Bukan toko ini. Pemiliknya hanya seorang laki-laki kurus yang eM Te Ka eR Je!" jawab Angel sedikit membentak.


"Hah? Apalagi tuh?" Wildan melongo.


"Ma Ta Ke Ran Jang!" Angel melotot. Wildan menelan ludah.


"Dari mata turun ke ranjang. Ha ha ha," ledek Nilla dengan suara tawanya yang nyaring.


"Nenekmu break dance!" Angel menoyor kepala Nilla yang tertutup helm.


"Heheh. Yasudah kita cus lagi. Ke tempat selanjutnya," ajak Nilla. Angel mengangguk setuju.


Akhirnya selama seharian penuh, Angel, Nilla, dan Wildan berkeliling di pinggiran kota P. Berpindah dari satu toko ke toko lain. Mengamati satu orang ke orang yang lain. Namun nyatanya, tidak ada satupun pemilik toko yang berusia dia atas 65 tahun dan memiliki tato bergambar kalajengking di lengan kanannya.


"Jangan-jangan tatonya sudah dihapus. Bisa jadi kan," ucap Wildan memulai pembicaraan. Mereka bertiga kini menikmati secangkir kopi di warkop tepi jalan. Ada sepiring gorengan hangat yang menemani senja mereka yang melelahkan.


"Gimana Nil? Mungkin nggak sih orang yang kita cari itu sudah menghapus tatonya?" tanya Angel kemudian.


"Entahlah. Info yang kudapat sebatas itu." Nilla mengangkat bahunya.


"Info darimana sih? Bisa saja kan informasi yang kamu dapat itu nggak valid. Kita hanya buang-buang waktu dan tenaga jika seperti ini," sambung Wildan.


"Sudah, cukup! Kamu jangan cerewet Wildan. Informasi yang didapat Nilla tidak pernah keliru. Bahkan informasi itu juga yang menyelamatkan nyawamu. Jika saja informasi itu tidak benar adanya, saat ini kamu sudah jadi mayat di tangan badut nomor 6. Aku ada di rumahmu dan menyelamatkanmu malam itu, juga berkat info dari Nilla, sialan!" Angel marah-marah.

__ADS_1


Wildan terdiam kali ini. Dia tak ingin berdebat dengan Angel yang terlihat kesal dan jengkel. Sebenarnya Wildan sangat ingin tahu seluk beluk Angel dan Nilla. Darimana sumber informasi mereka. Bagaimana sepak terjang mereka selama ini dalam mencari para Badut. Dan kenapa baru sekarang mereka bergerak setelah 30 tahun lamanya tragedi topeng badut itu terjadi?


Bersambung___


__ADS_2