
Bulan januari tahun 1992
Musim hujan masih belum usai. Meski tak selebat bulan desember, namun genangan-genangan air masih tercipta di setiap pagi. Jentik-jentik nyamuk nampak menggeliat di dalam kaleng kosong bekas susu yang berkarat.
Pagi ini matahari nampak malu-malu menunjukkan sinarnya di antara awan tipis yang bergerak perlahan. Suara kokok ayam pun tak nyaring seperti biasa. Benar-benar hari yang terasa dimulai dengan sebuah rasa malas.
Empat orang duduk di sofa kumal dalam sebuah rumah yang nampak reyot. Suara radio terdengar sedikit berdengung memutar lagu pop hits berjudul Angan. Salah satu laki-laki yang memiliki tato kalajengking di lengan nampak memegang pisau digunakan untuk mencukur bulu kakinya yang lebat.
"Auwww," pekik Trisno laki-laki yang memiliki tato kalajengking di lengannya kala pisau menggores kulit kakinya yang tipis. Cairan kemerahan menetes dari luka yang menganga.
"Hati-hati guobl*k!" bentak Umar, laki-laki yang asyik mendengarkan radio sedari tadi.
"Mungkin kamu disuruh tobat maksiat Trisno," sahut Anwar, laki-laki yang mengenakan sarung kumal motif kotak-kotak.
"Cangk*mmu War. Setelah merampok dapat uang banyak terus setiap hari kamu ngomongin tobat?" balas Trisno sembari mengusap usap kakinya yang berdarah.
"Heh, jangan keras-keras! Kalau didengar orang lain bisa repot!" bentak Umar.
"Salahin tuh temenmu si Anwar. Setiap hari omongannya tobat tobat tobat. Kayak paling bersih saja!" Trisno menggerutu.
Anwar berdiri dari duduknya. Kumis tipis di atas bibir nampak melengkung dengan rona wajah yang memerah menahan amarah.
"Apa yang terjadi kemarin adalah kesalahan! Kita semua adalah pendosa besar. Apa salahnya kalau kuingatkan untuk tobat hah?" Anwar nampak emosi. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Kalau kamu menyesal dan merasa bersalah, kenapa masih menerima pembagian harta rampasannya? Hah? Kenapa tak kamu sumbangkan saja?" Trisno melotot.
"Sialan! Berdirilah! Ayo ke halaman rumah. Kita selesaikan secara laki-laki. Mengingatkan orang sepertimu perlu dengan kekerasan agar batok kepalamu yang keras itu bisa kupecahkan!" gertak Anwar menantang Trisno untuk berkelahi. Kini laki-laki bertato kalajengking itu terdiam. Dia sadar di antara gerombolan itu hanya Umar yang mampu seimbang kala adu jotos dengan Anwar.
"Sudahlah. Hentikan pertengkaran tak penting ini. Kalian harus ingat, apapun yang terjadi, apa yang telah kita lakukan pada Sumiran tetap menjadi sumpah rahasia yang akan kita bawa sampai ke liang lahat." Umar menekankan kalimatnya.
"Ngomong-ngomong si nomor 4 kemana? Tak terlihat batang hidungnya selama berhari-hari," tanya Umar mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Apa kamu tak tahu? Kabarnya dia sekarang berguru ke dukun langganannya. Kamu masih ingat kan dengan dukun yang diminta menurunkan hujan di waktu itu," jawab Trisno masih mengusap-usap kakinya yang berdarah. Umar manggut-manggut.
Pada saat yang sama, suara lagu di radio berhenti mengalun. Berganti sebuah siaran berita yang dibacakan oleh penyiar perempuan dengan nada dan intonasi yang kaku. Diberitakan bahwa uang lima puluh ribuan yang raib di rumah pengusaha kaya raya Sumiran memiliki nomor seri yang urut. Disebutkan pula deretan angka dari nomor seri uang tersebut. Sekaligus sebagai sayembara untuk siapapun yang memiliki uang dengan nomor seri yang disebutkan agar segera melaporkan ke pihak berwajib dan diberi imbalan 3 kali lipat dari jumlah uangnya.
"Untung uang itu tidak buru-buru kita belanjakan." Umar menepuk dahinya sendiri.
"Dimana kamu simpan uang itu?" tanya Anwar penuh selidik.
"Aman pokoknya, tenang," jawab Umar enteng.
"Itu kan barang bukti, jangan sampai kamu pakai lhoh ya," tegur Anwar mengingatkan.
"Iya aku tahu. Lagipula seharusnya uang itu kan untuk bos kita si nomor 1. Sayangnya kalau seperti ini mungkin dia tidak tertarik lagi," gumam Umar, pandangannya mengawang jauh.
"Dia nggak butuh duit. Dari awal rencana itu dibuat, bukan masalah uang kan tujuannya," sanggah Anwar. Umar manggut-manggut setuju.
"Aku mau pulang. Mendengarkan kalian ngoceh disini tidak akan membuatku kaya. Mending aku minum dan mabuk sampai malam," ucap Trisno tiba-tiba. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar rumah. Kakinya masih nampak memerah akibat luka gores tadi.
"Dia teman kita. Kenapa menatapnya dengan penuh kebencian seperti itu?" Umar bergumam.
"Tanganku gatal. Di antara yang lain Trisno adalah yang paling sulit diatur. Aku tak pernah setuju dia gabung dengan kita." Anwar mendengus kesal. Umar hanya tersenyum mendengar perkataan Anwar.
Ada satu orang yang sedari tadi diam saja di sudut ruangan meski rekan-rekannya yang lain berdebat bahkan nyaris saja adu pukul. Dialah Santoso. Laki-laki itu kian hari nampak semakin kurus. Cekungan mata yang menghitam menandakan kurang tidur. Dia tengah menggigiti kuku jari tangannya dengan tatapan kosong.
"Biarkan si Trisno. Aku malah khawatir sama dia," ucap Umar menunjuk Santoso.
"Kamu terlalu memaksanya Mar. Kupikir seharusnya kemarin dia tidak ikut." Anwar menghela nafas.
"Dia butuh uang itu. Aku tahu banget. Orangtuanya terlilit hutang dalam jumlah besar. Kalau dia tidak ikut, teman-teman yang lain juga ogah memberinya bagian. Mau bagaimana lagi." Umar mengangkat kedua bahunya.
"Lagipula, dia sendiri yang awalnya meminta. Meski pada akhirnya dia hendak mundur, namun sudah terlanjur ikut menyusun dan tahu rencana itu," lanjut Umar.
__ADS_1
"Masalahnya, meskipun dia punya banyak uang untuk melunasi hutang beserta bunganya, ternyata dia tidak bahagia. Orangtuanya tetap saja tak berhenti berhutang. Kita memakai uang yang kotor untuk hal baik, hasilnya tetap kotor Umar," ucap Anwar, ekspresinya tiba-tiba berubah sendu.
"Bagiku uang itu tidak kotor War. Ada hak kita di dalamnya. Sumiran memulai bisnisnya menggunakan uang milik rekan-rekannya. Bukankah wajar aku memintanya kembali saat sedang butuh? Anakku sakit War. Aku tak memegang uang sepeser pun," sahut Umar.
"Anakmu? Anak janda itu maksudmu?" sanggah Anwar sinis.
"Kamu mulai membuatku kesal Anwar. Setiap hal yang dilakukan orang lain selalu salah di matamu. Yang benar hanyalah kamu seorang. Sudahlah, aku mau pulang saja!" bentak Umar jengkel. Dia berjalan keluar rumah dan menyambar sepeda jengkinya yang tersandar di dinding teras depan.
"Cih. Punya dua rekan sama-sama pemabuk. Yang satu mabuk minuman yang satu mabuk perempuan," Anwar terkekeh.
Tiba-tiba Santoso berdiri dari duduknya, membuat Anwar sedikit kaget. Santoso masih diam melamun, dahinya mengkerut seperti memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Anwar penasaran.
"Aku mau ke panti," jawab Santoso singkat.
"Hah?" Anwar mengernyitkan dahi.
"Aku mau ambil anaknya Pak Sumiran. Kasihan bocah itu disana." Santoso meracau.
"Kamu sudah nggak waras!" bentak Anwar.
"Bagaimanapun Pak Sumiran baik padaku. Setidaknya aku akan merawat anaknya," jawab Santoso masih dengan tatapan kosong.
"Kamu pikir dengan begitu dosamu terampuni?" Anwar melotot.
"Aku tidak mencari pengampunan!" pekik Santoso dan langsung berlari keluar rumah.
"Hey hey hey, sialan! Yang satu ini sudah gil*!" Teriak Anwar tak dapat mencegah Santoso yang berlari kencang kesetanan.
Bersambung___
__ADS_1