12 Badoet

12 Badoet
Telungpuluh Telu


__ADS_3

Sebagian orang menunggu hadirnya senja. Waktu dimana udara gerah perlahan berganti dengan angin sepoi-sepoi nan sejuk. Menatap warna langit yang jingga dengan secangkir kopi susu, tentu memberi rasa nyaman untuk hati yang tengah rindu. Rindu pada orangtua, rindu pada rumah, rindu pada kekasih, atau sekedar rindu pada keadaan yang dulu.


Wildan duduk melamun di halaman belakang. Otaknya menjelajah, mencari memori dan kenangan saat dimana dia menghabiskan waktu dengan berjudi sabung ayam. Kala itu tak pernah terpikirkan dalam hidupnya akan menjadi seorang buron yang hidup dalam pelarian. Apa kabar Jawara? Mungkinkah ayam jago itu sudah masuk di penggorengan?


Wildan ingin sekali menelpon Ika. Dia hafal nomor handphone mantan kekasihnya itu. Sudah beberapa kali dia mengetik deretan angka di layar android nya. Namun niat itu diurungkan. Wildan tak ingin berbagi problem hidup yang semakin pelik dan kacau pada sang mantan yang masih memiliki tempat di sudut hati.


"Melamun?" sebuah suara membuyarkan lamunan Wildan. Angel berdiri di ambang pintu dapur. Dia bersedekap menatap Wildan dengan sorot mata yang terlihat lebih kalem sore ini.


"Bukankah kamu sendiri yang ngomong kalau waktu 'surup' itu adalah waktu yang paling buruk dalam satu hari. Kenapa malah menggunakannya untuk melamun? Nggak takut kesambet?" tanya Angel sedikit mengejek.


"Entahlah. Aku merasa lebih baik aku kesambet, hilang ingatan atau digantikan saja peranku di dunia ini daripada menjalani keadaan seperti saat ini," ucap Wildan sambil menghela nafas.


"Mendengar kalimat itu dari mulutmu rasanya cocok," sahut Angel ikut duduk di sebelah Wildan memandangi langit kemerahan.


"Hah? Maksudmu?" Wildan mengernyitkan dahi.


"Kamu cocok putus asa. Sungguh, baru pertama kali aku bertemu orang se psimis dirimu. Ha ha ha." Angel tergelak, tawanya pecah.


"Tertawalah, sesukamu saja." Wildan bersungut-sungut.


"Tapi sejujurnya, bertemu denganmu membuatku merasa lebih waras. Kamu orang yang baik Wildan. Kamu terasa mudah memaafkan. Bahkan saat si Anwar itu hendak menghabisimu pun kamu masih bisa memaafkannya. Kamu bukan seorang yang pendendam, berbeda denganku," gumam Angel lirih. Matanya berbinar menatap langit. Wildan sempat tertegun memperhatikan perempuan yang biasanya galak itu terasa bersikap lembut saat ini. Angel nampak memeluk lututnya yang ditekuk.


"Siapa yang membuatmu mendendam Ngel? Sejujurnya aku masih belum mengenalmu dengan baik," tanya Wildan menatap Angel.


"He he he. Lupakan Wildan. Mungkin terpapar aura 'surup' membuatku meracau. Tunggu disini, akan kuambilkan sesuatu," ucap Angel beranjak dari duduknya. Sekilas terlihat sudut mata perempuan itu berair.


Dada Wildan berdesir. Seingatnya, baru kali ini Angel menunjukkan sisi rapuhnya. Biasanya perempuan itu terlihat kuat, tak mudah patah, dengan sorot mata yang selalu tajam menakutkan. Namun hari ini, Angel terlihat berbeda. Lebih lembut, dengan tatapannya yang sendu.


Wildan jadi penasaran, apa yang terjadi hari ini? Kemana Angel dan Nilla tadi pagi? Setelah kembali dari tempat yang dirahasiakan itu, Nilla terus berada di kamarnya. Sedangkan Angel berubah sendu dan lembut. Sungguh aneh.


Handphone di saku celana Wildan tiba-tiba bergetar. Ada sebuah telepon masuk. Nama Inka dengan emoji hati terlihat di layar. Wildan sedikit ragu untuk mengangkatnya.

__ADS_1


"Sayang, aku sedang duduk di sebelah menguping dan mengawasimu," ucap Inka setengah berbisik setelah panggilan teleponnya diangkat Wildan.


Wildan diam saja. Dia kesal merasa dijebak untuk menjadi pacar perempuan aneh itu. Inka yang menamai kontaknya sendiri dengan tambahan emoji hati di handphone Wildan. Dan parahnya lagi, kini dia memata-matai Wildan.


"Sebagai seorang perempuan, kupikir Angel menyukaimu," lanjut Inka.


"Hah?" pekik Wildan tak percaya.


"Kenapa kamu kaget? Jangan bilang kamu juga tertarik padanya. Ingat ya, you are mine. Kalau sampai kamu selingkuh, kupastikan polisi datang menjemputmu," ancam Inka masih dengan berbisik.


"Aku hanya tak percaya dengan ucapanmu. Angel adalah perempuan sangar, kuat, dan menganggapku laki-laki lemah. Kupikir aku tidak akan masuk di kriterianya," sahut Wildan akhirnya membuka mulut.


"Jika ternyata benar dia tertarik padamu gimana?" desak Inka.


"Sudah kukatakan aku tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, termasuk dengan Angel, juga denganmu. Aku mau fokus untuk membersihkan namaku dari tuduhan kejahatan," jawab Wildan tegas.


Belum sempat Inka menyahut, suara langkah kaki Angel dari dalam rumah membuat Wildan buru-buru mematikan teleponnya. Angel mengernyitkan dahi kala menemukan Wildan yang terlihat salah tingkah.


"Kamu kenapa?" tanya Angel penuh selidik. Tangannya memegang sebuah mangkuk kecil berwarna hitam.


"Terlihat panik. Wajahmu kayak kebo ketulup. Dlongap dlongop," ejek Angel.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Wildan mengalihkan pembicaraan.


"Semir rambut warna hitam. Kupikir kamu harus mengubah penampilan sekali lagi," ujar Angel menunjukkan cairan hitam beraroma menyengat di mangkuk.


"Ohh Tuhan bukankah rambutku bisa saja rusak jika terus menerus terpapar bahan pewarna kimia? Bagaimana kalau aku jadi botak?" Wildan geleng-geleng kepala.


"Terima nasib saja. Lagipula usia mu sudah kepala tiga. Wajar dong kalau mengalami kebotakan," jawab Angel enteng.


"Aku belum menikah sial," sahut Wildan kesal.

__ADS_1


"Sudah, nurut! Jangan bawel atau kuikat kamu di jemuran baju dan kuguyur kepalamu dengan cat besi!" bentak Angel sambil melotot. Watak perempuan itu kembali ke pengaturan awal. Galak dan menyeramkan.


Wildan pun menurut. Kepalanya diacak-acak oleh Angel. Beberapa kali cairan cat rambut itu terciprat dan menetes ke wajah Wildan.


"Bisa sedikit lembut nggak sih? Wajahku cemong semua nih," gerutu Wildan.


"Sudah, jangan berisik!" bentak Angel dengan suara yang lantang. Wildan mengatupkan mulutnya segera. Angel menahan tawa tanpa diketahui Wildan.


Saat Angel tengah asyik mengoleskan cat rambut di kepala Wildan, Nilla datang dengan mata yang nampak sembab di balik kacamata tebalnya. Nilla hanya mengenakan tanktop ketat yang menunjukkan kulit putih nan mulus.


"Ada informasi baru," ucap Nilla lirih. Suaranya terdengar serak.


"Apa?" Sahut Angel cepat. Wildan yang awalnya ingin bertanya kenapa Nilla nampak muram akhirnya memilih untuk diam dan menyimak.


"Badut nomor 4. Seorang dukun yang tinggal di kaki bukit," jawab Nilla sambil membetulkan letak kacamatanya.


"Dukun?" Angel bertanya meyakinkan. Nilla hanya mengangguk dan berbalik badan, kembali ke dalam rumah.


"Nilla kenapa?" tanya Wildan setelah Nilla pergi.


"Hari ini adalah peringatan kematian Bunda," jawab Angel lirih.


"Bunda?" Wildan mengernyitkan dahi.


"Ibuknya Nilla. Sudahlah, itu bukan urusanmu. Besok pagi sepertinya kita harus ke tempat dukun. Bersiaplah untuk pura-pura kesurupan," sahut Angel dengan sedikit membentak.


"Hah? Bukannya nanti bakal ketahuan kalau aku pura-pura?" tanya Wildan menoleh mendadak. Serta merta sisir penuh cat rambut di tangan Angel menggores dahi Wildan memanjang hingga ke pelipis.


"Ha ha ha. Lihatlah wajahmu cemong," tawa Angel benar-benar pecah kali ini. Wajahnya nampak memerah dengan mata yang tertutup sepenuhnya.


Di kejauhan, langit senja yang jingga mulai tergantikan dengan warna abu-abu kelam. Sayup-sayup terdengar adzan maghrib berkumandang, menutup siang, menyambut datangnya malam.

__ADS_1


Bersambung___



__ADS_2