12 Badoet

12 Badoet
Pitungpuluh Pitu


__ADS_3

Udara terasa sangat dingin. Angin berhembus cukup kencang melewati lubang ventilasi yang tak terlalu lebar. Ada suara pohon bambu berderak beradu menandakan tempat itu jauh dari perkotaan. Beberapa kali kicau burung liar juga terdengar nyaring bersahut-sahutan.


"Bahkan induk ayam pun akan mencari anaknya saat senja tiba. Tapi, perempuan itu untuk berpamitan saja tak sudi. Seolah aku ini bukan darah dagingnya. Meski demikian tujuan hidupku hanya untuk mencarinya. Aku masih menyebutnya Ibu," ucap Angga dengan mata berkaca-kaca.


"Sekarang jawab aku Pak Burhan. Dimana Bu Melati berada?"


"Aku sudah memeriksa semua file yang ada di kantor tentang kasus 91 itu, namun tidak ada satupun petunjuk keberadaan Ibu," lanjut Angga.


"Kamu tidak akan menemukannya dengan nama Melati," sahut Pak Burhan lirih.


Angga memicingkan mata, ada banyak tanya di benak laki-laki itu.


"Bu Melati mengganti identitasnya. Setahuku dia ingin terlepas dari semua hal yang berkaitan dengan Pak Sumiran," lanjut Pak Burhan.


"Jadi, Ibu masih hidup?" desak Angga.


"Ya, kupikir dia cukup sehat meski usianya sudah tua," sahut Pak Burhan.


Angga terduduk lemas. Ada perasaan lega di hati laki-laki itu. Dari dulu Angga khawatir dan cemas, jika Ibunya itu sudah tiada.


"Melihat reaksimu, sepertinya kamu sempat menduga Bu Melati sudah meninggal. Pada kenyataannya dia masih sehat. Dia hidup tenang, menjalani hari-hari yang dia impikan sejak dulu." Pak Burhan menghela nafas.


"Bawa aku padanya. Antarkan aku pada Ibu," ucap Angga lirih. Suaranya terdengar bergetar dan terasa memohon. Suara yang membuat Pak Burhan teringat akan masa lalu. Bagaimana bocah lima tahun itu berjalan di dunia yang penuh derita mencari sang Bunda.


Terdengar suara motor mendekat. Angga segera berdiri dan beranjak meninggalkan Pak Burhan. Angga memang sedang menunggu seseorang sedari tadi. Sedikit terburu-buru, dia membuka pintu depan.

__ADS_1


Di bawah sinar matahari yang terang benderang, seorang perempuan dengan wajah menghitam bekas arang berdiri tegap. Kulit mulusnya nampak penuh luka gores, dengan lengan kaos terbakar di bagian ujungnya. Meski terlihat kelelahan, namun sorot mata perempuan itu tetap tajam menusuk.


Angel tersenyum sekilas pada Angga yang berdiri menyambut. Dia mengibas-ibaskan rambut yang penuh debu berwarna hitam.


"Nilla mencarimu," ujar Angga singkat.


"Asal Abang tahu, badut nomor 3 merepotkan. Laki-laki sepuh yang edan," sahut Angel mengacuhkan ucapan Angga.


"Jadi berita heboh, sialan. Kakek tewas di rumah atas bukit. Kamu menghabisinya?" tanya Angga penuh selidik.


"Tidak. Dia bun*h diri. Kakek itu nggak waras. Dia tidak tahu dimana Ibu berada. Dia hanya bilang Ibu adalah Badut nomor 12. Apakah kamu percaya itu? Si tua Suryono sudah gendeng!" keluh Angel.


"Itu memang benar," sahut Angga tersenyum masam.


"Hah? Untuk apa Ibu merampok suaminya sendiri? Otakmu ikutan geser Bang?" bantah Angel.


"Gimana sih? Apa maksudmu Bang?" tanya Angel penasaran.


"Di dalam rumah aku menyandera Badut nomor 11, Burhan namanya. Satpam rumah pada tahun 91. Kamu belum pernah bertemu dengannya. Kalau aku, meski ingatanku samar-samar tapi aku masih bisa mengenalinya. Dia tahu dimana Ibu berada." Angga menepuk-nepuk telapak tangannya. Debu hitam beterbangan di udara. Angel sudah beberapa kali bersin.


"Kenapa tidak meminta penjelasan nomor 11 saja jika dia tahu semuanya?" tanya Angel lagi.


"Bukankah kamu ingin mendengar langsung penjelasan dari Ibu? Orang yang kita cari selama ini. Dia lah yang memiliki hutang penjelasan, hutang maaf pada kita anak-anaknya. Bukan para Badut itu," sanggah Angga.


"Sekarang masuklah. Mandi dan ganti bajumu. Setelahnya kita segera berangkat," perintah Angga berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Angel menghela nafas. Dia hanya bisa menuruti permintaan Abangnya itu. Angel mengedarkan pandangan ke sekitar. Sebuah rumah milik Angga yang cukup megah. Berada di tengah hutan dengan banyak tanaman bambu di sekeliling. Sebuah tempat yang cocok dihuni oleh orang yang menutup mata untuk masa depan dan terpaku menuntaskan segala hal dari masa lalu. Dengan langkah gontai, Angel pun menyusul masuk ke dalam rumah.


Sebelum ke kamar mandi, Angel melihat terlebih dahulu sandera yang tadi diceritakan oleh Angga. Laki-laki tua yang dibiarkan tergeletak dalam kamar. Angel merasa heran, kenapa laki-laki itu tidak diikat oleh Angga.


"Hoe Bang, kenapa tidak kamu ikat Pak Tua itu?" Angel meneriaki Angga yang mengambil air minum di dapur.


"Dia tidak akan kabur. Awalnya aku menyuntikkan bius total hingga dia tidak sadarkan diri. Nah, tadi aku juga menyuntikkan bius regional. Jadi dia sadar tapi tak mungkin bisa bergerak untuk beberapa jam ke depan. Apalagi usianya sudah setua itu," sahut Angga santai.


"Kamu? Anak bayinya Bu Melati?" tanya Pak Burhan pada Angel tiba-tiba.


Angel tak menyahut. Dia pergi meninggalkan Pak Burhan yang terlihat penasaran. Angel menuju ke kamar mandi. Kini, Angga yang kembali masuk ke dalam kamar dan berjongkok di hadapan Pak Burhan.


"Aku akan melepaskanmu setelah semua ini berakhir Pak. Asalkan kamu tunjukkan dimana Ibu tinggal sekarang," ucap Angga menyeringai.


"Jika hanya itu maumu, kenapa kamu tak memintanya saja Den Angga? Kenapa harus menculik bahkan membiusku seperti ini? Toh aku tidak keberatan mengantarkan pada Ibumu," sergah Pak Burhan.


"Yah pada awalnya aku tidak yakin Ibu masih hidup. Ada sedikit kecurigaan kalian para Badut telah menghabisi Ibu, sebagaimana yang terjadi pada Pak Sumiran. Dan jika itu benar terjadi, maka kurasa aku akan menghabisimu sebagai bentuk pembalasan dendam," jawab Angga santai, seolah nyawa Pak Burhan tidak berharga di hadapannya. Jiwa laki-laki itu hanya terisi masa lalu. Dia kehilangan cinta, dan hatinya karena sepanjang hidup digunakan untuk mencari jawaban atas tragedi masa lampau.


"Jadi kalian menghabisi Para Badut karena kesalahpahaman? Menganggap kami sudah melenyapkan Ibumu?" tanya Pak Burhan sekali lagi.


"Bukankah tadi kamu sudah menanyakan hal itu Pak? Sudah mulai pikun kah akibat obat bius yang kusuntikkan berulang? Kukatakan sekali lagi, bukan aku dan adik-adikku yang sudah membanta* kalian!" jawab Angga sedikit membentak. Pak Burhan tidak melihat adanya kebohongan dari ucapan Angga.


"Lalu siapa yang mengincar kami?" tanya Burhan dengan dahi yang semakin mengkerut.


Pada saat itu, Angel sudah selesai dari kamar mandi. Perempuan itu kini terlihat bersih mengenakan kaos oblong putih dan celana jeans dengan lubang di kedua lututnya. Beberapa luka gores di lengannya juga sudah diplester.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang," ucap Angga pada Angel. Kemudian dia meraih tangan Pak Burhan dengan sedikit kasar. Laki-laki tua tak berdaya itu kemudian diangkat oleh Angga. Angel mengekor di belakang. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman depan dengan tanah basah bekas hujan semalam.


Bersambung___


__ADS_2