12 Badoet

12 Badoet
Sangangpuluh Siji


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Laki-laki bertongkat naga yang memiliki nama asli Bono Bin Sukito meringkuk di tahanan. Dia sangat kooperatif dan menjelaskan setiap tindak kejahatan yang sudah dilakukan. Setiap detail rencana, serta alasan perbuatan yang sudah dilakukan dijelaskan tanpa keraguan.


Wajah Bono terlihat sumringah, bangga dan tidak ada penyesalan. Dia seolah menunjukkan bahwa tujuan hidupnya sudah tercapai.


"Hidup ini tidak akan bergerak maju, sebelum kamu menyelesaikan masa lalu. Aku tidak lagi memiliki rasa takut, entah itu soal sakit, ataupun kematian," ucap Bono dengan mata berbinar.


Kasus kematian misterius para lansia akhirnya selesai. Wildan terbebas dari tuduhan. Bahkan dia dianggap pahlawan oleh orangtua dari Ika. Bapaknya Ika yang dulu sangat membenci Wildan, kini berhutang budi pada laki-laki yang hobi sabung ayam itu.


Kejayaan Pak Wito runtuh akibat skandal masa lalu. Pencabutan gelar, pangkat dan jabatan dilakukan meski Pak Wito sudah tiada. Pencalonan anaknya pun gagal imbas ketidak percayaan masyarakat pada sang ayah. Begitulah kehidupan, tidak ada yang abadi. Kesuksesan yang dibangun bertahun-tahun lamanya runtuh dalam satu hari.


Angga, Angel, dan Nilla berdiri di atas tanah merah, di bawah teriknya sinar matahari. Mereka bertiga mengenakan pakaian serba hitam, memandangi gundukan tanah yang terlihat sedikit basah. Batu nisan bertuliskan Melati masih nampak baru, menguarkan aroma bunga mawar dan kenanga.


"Kami datang lagi, untuk menabur bunga," ucap Angel lirih sembari berjongkok di depan makam Bunda nya. Angga terdiam mematung.


Nilla ikut berjongkok. Di beberapa bagian tubuhnya terlihat luka bakar yang mulai mengering. Pada saat kejadian rumah Bu Melati atau Mak Lastri terbakar, Nilla juga berada disana. Dia berada di toilet rumah kala asap mulai masuk ke bagian dapur. Dia berhasil lari keluar meski mendapatkan beberapa luka.


"Sudahlah, kalian berdua jangan terus bersedih. Semua yang ada di dunia ini berjalan sesuai porsi masing-masing. Takaran kebahagiaan setiap orang itu berbeda. Dan kurasa kalian sudah cukup lama berada dalam kepedihan. Aku yakin setelah ini kebahagiaan akan datang," sahut Nilla mencoba untuk menyemangati Angel.


"Ya, sudah saatnya kita bergerak maju. Jalani hidup kalian sebaik mungkin. Jika butuh apa saja hubungi aku. Bagaimanapun kita tetap saudara. Bukan karena ikatan masa lalu, ataupun ikatan darah. Melainkan karena kebersamaan, amanah Bu Seruni, dan juga Pak Santoso." Angga melepaskan kaca mata hitam dan mengusap kelopak mata yang sedikit basah. Suasana berubah hening. Angin berhembus lembut, membawa kesunyian sesaat yang terasa panjang.


"Aku dan Nilla balik dulu Bang," ucap Angel kemudian.


"Aku mau disini dulu," ucap Angga. Angel dan Nilla mengangguk. Mereka beranjak pergi meninggalkan Angga sendirian.

__ADS_1


"Seharusnya Ibu selamat, jika aku tidak gegabah dan ceroboh," ucap Angga setelah Angel dan Nilla menghilang dari pandangan.


"Aku berjanji Bu, sebagai seorang petugas, aku akan mencari dan menemukan perempuan bernama Inka itu. Dunia ini tidak terlalu luas hanya untuk mengejar penjahat sepertinya." Angga mendongak menatap langit biru cerah.


Inka memang menghilang setelah terbakarnya rumah sekaligus warung pecel di belakang kantor kepolisian itu. Setelah dia berhasil melukai Mak Lastri, Inka lenyap bagai tertelan asap di tengah suasana riuh dan panik. Sedangkan Bono, tidak tahu sama sekali asal-usul pasangannya itu. Inka menjadi sosok yang misterius dan buron hingga sekarang.


Senja datang bersama langit berwarna kemerahan di ufuk barat. Suara kodok terdengar dari sekitar selokan. Wildan duduk di teras depan tanpa mengenakan baju. Otot perutnya terlihat sedikit basah. Dia baru saja memandikan Jawara.


"Hey Jawara, siapa menduga hidup pas pasan seperti ini sangat nikmat setelah kemarin aku menjadi buron. Memang ya, kunci kebahagiaan itu adalah bersyukur," ucap Wildan mengajak ngobrol ayam jagonya. Namun Jawara tetap asyik mematuk-matuk tanah gembur di bawah kakinya.


Handphone di saku celana Wildan bergetar hebat. Dia merogoh dan melihatnya. Ternyata nama Angel dengan emoticon sayap terlihat di layar.


"Hallo Wildan," sapa Angel lirih. Entah kenapa suara perempuan itu terdengar lebih lembut kali ini. Dan entah bagaimana dada Wildan bergetar hebat.


"Ah, iya Ngel?" Wildan tergagap sembari memegangi dadanya. Tanpa disadari, ada rasa rindu yang sulit terungkap.


"Kemarin lusa Rio siuman. Luka di kepalanya cukup serius, tapi syukurlah dia bisa melewati masa kritis," ucap Angel.


"Alhamdulillah. Rasanya semua berakhir baik ya," sahut Wildan menghela nafas lega.


"Lalu, begini Wildan. Aku ingin tahu pendapatmu," ujar Angel terdengar ragu-ragu.


"Apa?" Wildan mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Rio melamarku. Aku . . .aku belum menjawabnya. Tapi dia memberiku waktu hingga malam ini," jelas Angel. Wildan menelan ludah. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering.


"Aku ingin meminta pendapatmu. Bagaimana sebaiknya? Haruskah aku terima?" tanya Angel. Sebuah pertanyaan yang membuat suasana langsung senyap. Keheningan terasa sangat panjang.


"Kenapa bertanya padaku Ngel? Kamu berhak atas kebahagiaan, asalkan kamu bahagia, aku pasti mendukung," jawab Wildan setelah menghela nafas beberapa kali.


"Oh, begitukah? Bagaimana denganmu?" tanya Angel sekali lagi. Wildan kembali termenung.


Langit senja yang indah kemerahan, kini nampak suram dan muram di mata Wildan. Laki-laki itu tidak bisa memungkiri hatinya ada rasa pada Angel. Bahkan berbicara melalui sambungan telepon saja sudah mampu membuat mata berbinar. Meskipun kini mata itu berubah menjadi berair.


"Aku laki-laki yang tidak bisa diharapkan Ngel. Jangan membuang permata hanya untuk sekedar batu kali," jawab Wildan tegas. Tangan kirinya terkepal erat.


"Baiklah. Aku mengerti. Terimakasih sudah memberiku saran yang sangat berharga. Kudoakan kebahagiaanmu ya Wildan. Dan satu lagi, kurasa kamu adalah batu kali yang paling bersinar meski di dalam air keruh. Sekali lagi terimakasih Wildan. Selamat tinggal," ujar Angel mengakhiri panggilannya.


Tuutt tutt tuutt


Panggilan berakhir. Wildan masih termangu menempelkan handphone di telinga selama beberapa detik. Dadanya terasa seperti dihimpit dan ditekan hingga sesak. Bahkan udara segar di sekitar terasa tak cukup untuk bernafas.


Lidah memang tak bertulang. Mudah berucap namun mampu mencipta perih melebihi tergores senjata tajam. Wildan mendongak, menahan agar air bening di sudut netra itu tidak jatuh dan menetes.


Pada saat itu tiba-tiba saja Jawara berkokok nyaring. Suara yang menyadarkan Wildan dari lamunan. Wildan kemudian tersenyum menatap ayam jago kesayangannya itu.


"Hanya kamu yang bisa mengerti tentang hatiku," gumam Wildan menunjuk ayam jagonya.

__ADS_1


"Aku sempat diberi beberapa lembar uang oleh Bapaknya Ika kemarin. Jawara, malam ini siapkan fisikmu. Kita gandakan uangku dengan pertarunganmu. Ha ha ha." Wildan tertawa di bawah langit senja. Sebuah tawa yang terasa menutupi kesedihan.


Bersambung___


__ADS_2