
Suara tembakan bergema di antara deretan ruko kosong yang terbengkalai. Kawasan kumuh masih berada di pusat kota, yang sudah cukup lama ditinggalkan. Beberapa kucing liar nampak berlarian mendengar bunyi asing di tempat yang terbiasa sunyi.
Darah segar terciprat bersamaan dengan terlemparnya senjata api. Dua manusia jatuh terguling di badan jalan tak rata. Pak Wito terengah-engah memegangi pundaknya yang tertembus peluru. Dia berhasil melayangkan tinju tepat mengenai wajah laki-laki bertongkat naga. Bahkan dalam waktu yang singkat Pak Wito juga berhasil merebut uang 50 ribuan lawas dari tangan lawannya.
"Cuih!" Laki-laki bertongkat naga meludah. Sudut bibirnya berbau anyir dengan cairan kental yang terasa seperti besi berkarat.
Senjata api milik laki-laki bertongkat naga terlempar cukup jauh. Dia mendengus kesal menyadari tembakannya tidak berhasil melubangi bagian dada Pak Wito.
"Di antara semua Badut yang pernah kutemui, kamu lah yang paling merepotkan. Tapi terasa menarik, karena selama ini tidak ada yang bisa memberi perlawanan. Semua hanyalah kakek tua yang hendak menemui ajalnya. Tidak ada tantangan dan kepuasan untuk menghabisi mereka," ucap laki-laki bertongkat naga.
"Memalukan. Bahkan untuk melawan seorang lansia kamu menggunakan sebuah senjata api. Pakailah daster jika nyali dan mentalmu hanya sebatas ini," ejek Pak Wito.
Sejujurnya saat ini Pak Wito kesulitan mengatur nafas. Sendi dan tulang di sekujur tubuhnya serasa hendak rontok semua. Hal yang wajar mengingat usia yang sudah tak lagi muda. Tenaga yang tidak prima, serta luka menganga di atas dada.
Pak Wito mengamati uang lawas yang berhasil dia rebut. Nomor seri yang memang dia cari selama ini. Tidak salah lagi, uang itu adalah milik Sumiran yang tersembunyi di dalam brankas pada tahun 91.
"Aku akan menghabisimu dan setelah itu, aku akan menggagalkan pencalonan anakmu. Lihat dan menangislah dari neraka Pak Tua. Ha ha ha," tawa laki-laki bertongkat naga pecah. Bersamaan dengan suara rintik hujan yang kembali turun dalam bentuk butiran halus.
Pak Wito kembali berdiri. Dengan pundak kanan yang terluka dia masih sanggup pasang kuda-kuda. Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba dia memutar tubuh dan melayangkan tendangan ke arah lawan. Laki-laki bertongkat naga sempat menutupi wajah menggunakan siku. Namun tendangan Pak Wito sangat kuat hingga mampu mendorong laki-laki bertongkat naga.
__ADS_1
Serangan masih berlanjut, Pak Wito mengayunkan tinju tepat ke ulu hati laki-laki bertongkat naga yang terbuka. Seketika anak Mak Surti itu terjerembab jatuh ke aspal. Mulutnya memuntahkan cairan berwarna putih pekat.
Pak Wito berjalan terseok, hendak memungut senjata api yang tergeletak di rerumputan. Namun dari belakang, sebuah sabetan dari ujung tongkat berbahan besi berhasil melukai betis Pak Wito. Laki-laki tua itu mengerang dan menjatuhkan tubuhnya ke jalanan aspal yang basah.
"Anak setan!" umpat Pak Wito. Otot betisnya robek mengeluarkan cairan merah kental.
Laki-laki bertongkat naga berusaha berdiri dengan nafas tersengal. Ada sensasi pahit yang dia rasakan di pangkal lidah. Sedangkan langit kian mengamuk, menghujamkan air hujan dengan lebatnya.
Laki-laki bertongkat naga berdiri di hadapan Pak Wito yang masih tergeletak kesakitan. Dia mengayunkan tinju ke arah wajah Pak Wito sekuat tenaga. Beberapa kali pukulan telak menghantam kelopak mata, membuat bagian netra lansia itu membengkak dengan warna ungu kehitaman.
"Hah hah hah, aku akan menyiksamu sepuas hatiku." Laki-laki bertongkat naga terengah-engah.
"Mamakmu masih beruntung mayatnya kuantarkan pulang ke rumah. Padahal bisa saja, aku membuangnya ke laut jika mau. Aku masih memiliki hati, tapi tak kusangka kemurahan hati ini membawaku pada dirimu," lanjut Pak Wito. Ada seulas senyum masam yang terlihat di antara gigi yang rontok terkena pukulan.
"Di dunia ini ada yang namanya hukum tabur tuai kakek peyot. Apa yang kamu tanam, pasti akan kamu panen. Meski mungkin seandainya Mamakku kamu buang atau sembunyikan sekalipun, roda takdir akan selalu memiliki cara tersendiri untuk mengungkap kebusukanmu!" Laki-laki bertongkat naga menghela nafas. Matanya memerah. Dia menangis bersamaan dengan air hujan yang mengalir membasahi seluruh kepalanya. Kemarahan itu menyambar bersama guntur di langit malam.
Tangan kekar menggenggam erat tongkat berujung besi lancip. Tanpa aba-aba anak Mak Surti itu menghujamkan tongkatnya tepat di pundak sebelah kiri Pak Wito hingga tembus dan menancap erat di aspal. Pak Wito mengerang pilu. Rasa sakit yang tak terperi. Kedua pundaknya kini lumpuh, tak mampu digerakkan.
Anak Mak Surti menyeringai puas. Liurnya menetes dengan rambut basah kuyup menutupi sebagian wajah. Mata bulat nampak mengkilat dalam kegelapan malam. Laki-laki itu kemudian beranjak, melangkah pincang ke tepian jalan. Memungut senjata api yang tergeletak di atas rerumputan basah.
__ADS_1
"Kakek peyot, jangan mati dulu. Aku masih memiliki satu peluru yang sengaja kusiapkan untukmu. Mari sama-sama kita nikmati buah dari masa lalu. Hidupku yang berantakan, dan kematianmu yang mengerikan. Impas bukan?" Anak Mak Surti terkekeh. Suara tawa nya terdengar serak.
"Ahhh arrghhh. Tunggu dulu. Tolong ampuni aku," ucap Pak Wito mengiba. Kali ini arogansi dan nyalinya telah runtuh. Bagaimanapun dia tidak ingin mati dalam kondisi mengenaskan seperti saat ini. Dalam lubuk hatinya dia ingin bisa melihat anaknya berada di puncak kesuksesan. Pak Wito menggeliat, tubuh tua yang masih cukup kekar itu terpaku pada bumi.
Anak Mak Surti berdiri tepat di atas kepala Pak Wito. Tubuhnya menutupi air hujan yang menghujam wajah Pak Wito. Mereka bertemu pandang dalam diam beberapa saat lamanya.
"Waktunya sudah tiba Pak. Waktu untuk pembalasan. Berkumpullah dengan rekan-rekan Badut mu di neraka. Aku akan menyusul nanti," ucap Anak Mak Surti. Detik berikutnya terdengar suara letupan senjata yang bergema di antara rintik hujan.
Pada saat yang sama, Adi mengendarai motor maticnya mengenakan jas hujan ponco yang berlubang di bagian dada. Suara letupan senjata mengagetkannya. Dia menghentikan motor, dan bergegas berputar arah. Jalanan sangat sepi. Apalagi jalan yang Adi lalui memang wilayah yang terbengkalai. Banyak aspal yang berlubang. Namun rute yang paling cepat untuk menuju ke klinik tempat Tarji dirawat.
Adi berbelok masuk ke kawasan ruko yang ditinggalkan. Tembok ruko warna warni yang indah saat pembangunan dulu, namun kini penuh lumut dengan pencahayaan yang temaram. Udara dingin meniup tengkuk Adi, membuatnya merinding.
Dari kejauhan samar-samar terlihat dua buah mobil di tepi kiri dan kanan jalan. Tak jauh dari sana, terlihat seseorang berdiri tegap di tengah jalan dan di bawah kakinya tergeletak sosok lain dengan tongkat yang menancap di tubuh bagian atas.
Lampu motor Adi mengarah tepat pada wajah Anak Mak Surti. Laki-laki itu tertawa lirih. Rambut putihnya basah kuyup menutupi sebagian wajah.
"Telpon polisi! Aku sudah membun*h orang!" perintah Anak Mak Surti santai.
Bersambung___
__ADS_1