12 Badoet

12 Badoet
Seket Wolu


__ADS_3

Adzan maghrib berkumandang kala Adi dan beberapa petugas kepolisian melewati jalanan perkotaan yang padat. Mereka bergerak setelah berhasil melacak lokasi dari pemilik akun media sosial bernama Inka. Meski dalam benaknya Adi merasa ada yang terlewatkan, namun dia tak mau menunda untuk mencari keberadaan Tarji. Keselamatan Tarji merupakan prioritas utamanya kini.


Rombongan motor kepolisian itu memasuki wilayah pemukiman padat penduduk. Dan berhenti di sebuah bangunan dengan papan warna warni bertuliskan 'Homestay Mbut Gawe'. Adi yang sudah kehilangan ketenangannya memarkir motor secara sembarangan dan langsung berlari ke bagian resepsionis.


Satpam homestay tersebut nampak berjalan tergopoh-gopoh hendak menegur Adi namun mengurungkan niat kala anggota kepolisian yang mengikuti Adi menunjukkan tanda pengenal dan memintanya untuk diam. Adi sebenarnya tidak ingin bersikap arogan, atau mengintimidasi siapapun. Namun perasaannya berantakan saat ini. Dia melihat sendiri bekas darah yang diduga milik Tarji di lokasi terbengkalai wilayah wisata pantai.


"Mbak, saya dari kepolisian. Tolong antarkan saya pada kamar yang dihuni oleh seorang perempuan bernama Inka," perintah Adi pada resepsionis.


"Ah, ya Baik Pak. Mohon tunggu sebentar," jawab Mbak resepsionis gelagapan. Dia memegang mouse dan menatap layar komputer dengan gusar. Sebenarnya resepsionis itu cukup kagum dengan wajah tampan Adi. Namun sayangnya ekspresi yang ditunjukkan petugas kepolisian itu benar-benar menakutkan.


Setelah beberapa saat memeriksa file nama tamu yang menginap, resepsionis itu meminta Adi mengikutinya. Adi mengangguk setuju dan bergegas menyusuri lorong homestay menuju kamar yang disewa Inka. Dua petugas polisi bawahan Adi mengekor di belakang. Sedangkan anggota lainnya berjaga di luar untuk memastikan tidak ada yang kabur.


Sampailah di sebuah pintu kamar bertuliskan angka 12. Resepsionis mengetuk pintu berulangkali. Setelah beberapa saat barulah pintu dibuka. Nampak seorang perempuan dengan wajah bantal hanya mengenakan daster bermotif pulkadot menyambut. Rambut perempuan itu berwarna merah menyala. Dia terlihat kebingungan kala Adi memaksa masuk kamar bersama 3 orang bawahannya.


"Ada apa ini?" bentak Inka dengan mata melotot.


"Kami dari kepolisian. Benar Njenengan pemilik akun media sosial ini?" Adi bertanya menunjukkan foto profil dari sebuah akun media sosial.


Inka terdiam. Dia tidak segera menjawab pertanyaan Adi. Perempuan itu dapat menerka kenapa polisi mencarinya. Namun Inka sama sekali tak menduga akan secepat ini.


"Maaf, bukankah petugas kepolisian membutuhkan surat tugas untuk melakukan hal semacam ini? Bapak jangan sembarangan ya," bantah Inka dengan seulas senyum di sudut bibirnya. Perempuan itu sama sekali tidak gentar.


Tangan Adi terkepal erat. Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. Kepala terasa berdenyut seperti hendak mau pecah.


"Nona kuyakin Anda sudah tahu kenapa saya kemari. Anda kemarin memiliki janji bertemu dengan laki-laki bernama Tarji. Dan hingga kini laki-laki itu menghilang," ucap Adi menghela nafas panjang. Dia mencoba mengontrol emosinya yang bisa meledak sewaktu-waktu.

__ADS_1


"Hah? Siapa Tarji? Aku tidak mengenalnya. Pak polisi jangan-jangan salah orang nih. Tolong keluar dari kamar saya," tukas Inka berbalik badan hendak berjalan menjauhi Adi. Namun kepala satuan reserse kriminal itu langsung menangkap lengan Inka dan menggenggamnya erat-erat.


"Auw auww, apa-apaan ini! Sakit Pak! Lepaskan!" Inka mengaduh. Perempuan itu terlihat hendak menangis.


"Sekarang juga, ikut kami ke kantor!" perintah Adi langsung menggelandang Inka.


"Lepaskan! Saya punya hak untuk menghubungi rekan saya yang pengacara!" bentak Inka dengan berani. Adi semakin geram. Giginya gemeretak beradu.


"Silahkan saja, Nona!" Adi melotot.


Pada akhirnya, Inka dibawa ke kantor kepolisian. Tak berapa lama, datang rekan Inka yang seorang pengacara. Dalam kurun waktu satu jam dalam ruang interogasi, Inka pun dilepaskan. Inka tidak terbukti melakukan apa yang dituduhkan oleh Adi.


Tepat pukul 8 malam, Adi mendapat surat teguran sekaligus penghentian sementara dalam pekerjaannya. Dia dinilai grusa grusu, salah tangkap, dan bertindak berdasar prasangka tanpa memiliki bukti kuat.


Adi membanting tumpukan map di mejanya. Di bersimpuh dan tertunduk menghadap lantai granit yang terasa dingin. Dia menyesali kenapa kemarin kurang peduli dengan cerita Tarji?


"Dasar sial! Kenapa kamu tak curiga saat diajak bertemu dengan orang asing? Apalagi berkenalan via media sosial. Kenapa silau hanya dengan foto profil yang cantik? Brengsek!" Adi mengumpat sendirian di tengah ruangannya.


Sungguh Adi sulit memaafkan kesalahannya saat ini. Tarji adalah sahabatnya sejak di pendidikan dulu. Mereka selalu bersama, hingga semua orang merasa aneh saat Adi bertugas sendirian tanpa Tarji ataupun sebaliknya. Hubungan persahabatan yang jauh lebih kental dari hubungan karena darah.


Tumpukan map yang dibanting oleh Adi tadi terbuka sebagian. Sebuah catatan yang sedikit buram menggelitik minat Adi untuk membacanya. Tertulis di bagian tengah kertas, penjaga rumah Sumiran bernama Burhan terluka di dahi kala perampokan terjadi.


Adi mengusap dagunya. Teringat akan kakek sepuh yang tadi sempat meminta untuk bertemu. Kakek itu memiliki bekas luka memanjang di dahi, sesuai deskripsi yang ada dalam catatan.


"Sial! Pantas saja aku merasa ada yang terlewat. Kakek itu kuncinya!" pekik Adi sembari memijat-mijat keningnya yang berdenyut. Dua kecerobohan yang sudah dia lakukan seharian ini membuatnya semakin jauh dari pemecahan kasus.

__ADS_1


"Kurasa aku memang tidak layak untuk mengemban jabatan sebagai kepala satuan," gumam Adi menyandarkan punggungnya pada kaki meja. Dia mendongak menatap langit-langit. Kesal, sedih, dan kecewa terasa menusuk jantung hatinya.


Sementara itu Mbah Burhan kini berada di sebuah mobil hitam yang bergerak di jalanan pedesaan yang sepi. Dia duduk di kursi samping kemudi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi kebingungan.


"Lho Pak kita kok semakin jauh ke desa? Masak Pak Adi rumahnya daerah sini?" tanya Mbah Burhan penasaran.


"Wes ta lah Mbah, Njenengan manut saja. Saya itu rekan kerjanya Pak Adi yang paling dekat dan beliau percaya. Menurut Pak Adi, njenengan kunci dari kasus yang beliau tangani saat ini. Dan beliau khawatir ada orang jahat yang ada di kantor. Makanya Njenengan tadi diminta menunggu di mobil. Nah, kemudian saya juga disuruh mengantar Njenengan ke rumahnya, begitu," jawab laki-laki yang duduk di kursi kemudi. Laki-laki itu berseragam kepolisian lengkap dan rapi.


"Memangnya apa sih Mbah, yang mau Njenengan sampaikan pada Pak Adi?" tanya laki-laki di kursi kemudi.


"Maaf Pak, saya hanya bersedia menceritakan ini pada Pak Adi," sergah Mbah Burhan.


"Oh Baiklah. Pak Adi memang reputasinya jempolan Mbah," sambung laki-laki di kursi kemudi.


Mobil berbelok, memasuki halaman sebuah rumah dengan pohon palem besar di sekelilingnya.


"Kita sampai Mbah," ucap laki-laki di kursi kemudi sambil menarik tuas hand rem mobilnya.


"Lha kok peteng ndedet begini Pak." Mbah Burhan celingak celinguk bingung.


Tiba-tiba paha Mbah Burhan terasa tertusuk sesuatu. Sedikit kaget Mbah Burhan menoleh dan melihat sebuah suntikan menancap di atas lutut sebelah kanan.


"Lho, apa ini Pak?" pekik Mbah Burhan ketakutan. Dalam hitungan detik, laki-laki sepuh itu merasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Tanpa sanggup melawan, Mbah Burhan terkulai lemas dengan sabuk pengaman masih terpasang di tubuhnya.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2