12 Badoet

12 Badoet
Sangangpuluh Loro : Akhir


__ADS_3

Selepas adzan isya' berkumandang, Wildan pulang ke rumahnya dengan tertunduk. Jawara terlihat penuh luka gores. Sama seperti Tuannya, ayam jago itu nampak tak bersemangat. Jenggernya tak lagi tegak, terlihat loyo dengan beberapa bercak darah.


"Yahh, kita kalah lagi," keluh Wildan sambil duduk di teras rumahnya yang sunyi. Jawara dibiarkan terduduk di tanah. Paruhnya mematuk-matuk kerikil kecil.


"Uangku tinggal itu saja Jawara. Besok puasa dong. Ah, gimana sih. Kamu sepertinya kurang berlatih. Makanya jangan males aja. Perbanyak olahraga," gerutu Wildan. Sayang, ayam jago tidak mengerti ucapan Wildan.


Dari kejauhan samar-samar terlihat sosok yang berjalan mendekat. Dari cara berjalan dan posturnya jelas sosok itu adalah seorang perempuan. Dengan mengenakan hoodie hitam dan celana ketat, berlenggak lenggok dengan langkah kaki yang nampak tergesa-gesa.


"Ika?" gumam Wildan menyipitkan mata. Mencoba melihat lebih jelas. Tidak ada penerangan di jalan kecil menuju ke rumahnya itu.


Dada Wildan bergetar tiba-tiba. Dia menduga sekaligus berharap, sosok itu adalah Angel. Ada rindu yang tak terbendung. Hatinya terasa kosong berhari-hari tidak melihat perempuan yang selalu bersikap galak itu.


"Angel?" pekik Wildan dengan bola mata berbinar. Meskipun belum jelas betul siapa yang datang, namun harapan telah membuatnya yakin.


Saat jarak semakin dekat barulah terlihat jelas sosok perempuan dengan seulas senyum di bibirnya. Lain yang diharapkan lain pula yang datang. Bukan Angel, bukan pula Ika. Sosok perempuan cantik itu melepas tudung hoodie, menampilkan warna rambut perak diterpa cahaya rembulan.


Wildan tercekat, diam tak bersuara. Seolah melihat hantu yang tak terduga datang dari lembah kematian. Wildan menelan ludah membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Perempuan yang ada di hadapannya adalah seorang buron. Perempuan yang pernah menjebaknya, dan bekerja sama dengan Bono Bin Sukito.


Inka, datang dengan warna bibir ungu gelap. Potongan dan warna rambutnya yang baru terlihat semakin liar dan nakal. Inka menatap Wildan sembari berkacak pinggang dengan kakinya yang jenjang hanya terbalut celana jeans pendek nan ketat di atas lutut.


"Wildan, apa kabar?" Inka menyapa Wildan dengan suara yang lembut. Wajahnya pun terlihat meneduhkan tapi sorot mata terasa sangat mengintimidasi.


"Sialan! Mau apa kamu kemari?" bentak Wildan berdiri dari duduknya. Jawara pun nampak ikut waspada meskipun kepala ayam jago itu penuh dengan luka.


"Slow down baby. Aku hanya menanyakan kabarmu. Kenapa pula kamu terlihat marah? Apa karena pertemuan terakhir kita yang waktu itu? Oh ayolah aku diperalat untuk menjebakmu," ucap Inka dengan manja.


"Aku akan menelpon polisi," ancam Wildan seraya mengambil handphone di saku celana. Dengan gerakan yang cepat Inka langsung meraih dan menggenggam lengan Wildan.


"Jika kamu lakukan itu, maka kamu tidak akan pernah tahu maksud surat wasiat dari Pak Umar." Inka melotot. Kelopak matanya berwarna hijau terang, terlihat seperti poison ivy musuh dari batman.


"Hah?" Wildan mengernyitkan dahi. Dia kembali memasukkan handphone di saku celananya.


"Ikut aku," ajak Inka.

__ADS_1


"Kamu mau menipuku lagi?"


"Untuk apa menipumu? Memangnya kamu punya apa Wildan? Bahkan harta satu-satunya milikmu, si Ayam jago itu juga tidak laku dijual," ejek Inka. Wajah Wildan memerah. Ada rasa kesal di hati namun dia tidak bisa membantahnya.


"Ayo," ajak Inka sekali lagi. Perempuan itu berjalan lebih dulu. Wildan sempat ragu, tapi pada akhirnya dia menurut dan mengekor di belakang Inka.


Sampai di depan gang ternyata Wildan telah ditunggu mobil SUV berwarna hitam. Sebuah pemandangan yang membuat Wildan merasa dejavu. Dia teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Angel.


"Ayo masuklah," perintah Inka membuka pintu bagian tengah. Wildan pun menurut, duduk di sebelah Inka yang tersenyum penuh arti. Di belakang kemudi terlihat seorang laki-laki paruh baya berpakaian serba hitam.


"Ayo jalan Pak sopir," perintah Inka singkat. Mobil pun bergerak perlahan.


"Aku akan membawamu ke sebuah tempat dimana semua kejadian ini bermula," ucap Inka. Kali ini perempuan itu memandangi jalanan dari kaca jendela. Lampu kerlap kerlip terlihat indah di malam hari. Wildan hanya duduk termenung dengan segudang tanya di benaknya.


"Aku, Kamu, dan Angga adalah korban. Kita memiliki nasib yang serupa," ujar Inka setelah menghela nafas panjang.


"Apa maksudmu?" Wildan menatap Inka meminta penjelasan.


"Kata Mamakku, kehidupan saat masih menjadi 'milik' Sumiran tidaklah buruk. Kami punya hunian yang nyaman, keuangan yang cukup, dan aman dari kejaran petugas. Lalu, ketika Sumiran tewas, saat itulah awal mula kesulitan yang dilalui Mamakku. Tidak memiliki keahlian apapun, kami hidup berpindah-pindah dan kadang kesulitan untuk sekedar makan. Cerita soal Sumiran terus bergaung hingga ke generasi sekarang Wildan. Bagi kami, Sumiran adalah pahlawan yang terbunuh oleh orang-orang yang menginginkan kedamaiannya sendiri. Egois, karena tidak memikirkan bagaimana nasib yang lain. Dan takdir mempertemukan ku dengan Bono. Di ending nya semua terasa berakhir dengan memuaskan," ucap Inka tersenyum masam.


"Gila!" sahut Wildan.


Mobil tiba-tiba bergerak pelan. Mereka tiba di wilayah ruko kosong tempat pertarungan Bono dan Pak Wito. Mobil berhenti di bagian ujung ruko dengan bangunan yang terlihat paling besar. Warna cat ungu tua nampak terkelupas, berjamur dan penuh lumut di beberapa bagian.


"Ini dulunya adalah ruko tempat Sumiran dan Umar ber transaksi," jelas Inka. Sebuah papan di bagian pelataran dari kayu terlihat lapuk namun masih bisa terbaca tulisannya yang samar. Selamat datang di rumah Singgah Arum Dalu.


"Di tempat inilah semua tragedi yang menimpa kita bermula. Temukan wasiat Bapakmu. Kamu lah yang berhak memilikinya," lanjut Inka membukakan pintu mobil pada Wildan.


Meskipun sedikit ragu, Wildan menurut. Dia turun dari mobil, berjalan gontai ke teras bangunan ruko yang usang. Kemudian mendorong pintu depan yang penuh debu. Pengap dan gelap. Sensasi pertama yang Wildan rasakan.


Bagian dalam tidak seburuk yang Wildan kira. Dengan bantuan lampu flash handphone Wildan mengamati setiap sudut bangunan terbengkalai itu.


"Barangnya ada di dalam lemari besar itu," ucap Inka tiba-tiba. Wildan sedikit kaget, perempuan itu sudah berdiri di belakang Wildan sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


Wildan pun mendekati lemari yang dimaksud. Memang nampak lebih bersih dibandingkan perabotan yang lain. Seolah lemari itu pernah dibuka beberapa hari sebelumnya.


Sambil mengatur nafas, Wildan membuka perlahan lemari berbahan kayu jati itu. Ukiran yang unik membuat terlihat mahal dan klasik. Di dalam lemari terdapat dua peti kayu berukuran besar.


Peti pertama berisi lembaran uang 50 ribu lawas dengan nomor seri yang urut. Sedangkan kotak kedua berisi beberapa perhiasan emas yang berkilau. Ada pula sebuah foto, 12 orang berjejer dengan latar senja di tepi pantai. Foto masa muda 12 Badut. Merupakan bukti kuat bahwa 12 orang yang ada dalam foto itu lah pelaku perampokan 30 tahun silam.


Di bagian dasar peti tergeletak sebuah topeng Badut. Wildan mengernyitkan dahi. Timbul tanya di benaknya, milik siapa topeng itu? Perlahan dia menarik topeng badut yang tersangkut beberapa perhiasan dalam peti.


Dengan cahaya flash handphone, nampak jelas topeng Badut yang sama persis dengan milik Pak Umar ataupun Pak Anwar. Di bagian dahi topeng tercetak sebuah angka. Angka yang melambangkan kekosongan. Angka 0.


"Angka 0?" Wildan nampak bingung.


"12 Badut bukan berarti 12 orang. Karena angka dimulai dari 0. Angka 0 merupakan suatu angka yang digunakan untuk mewakili angka dalam angka." Inka tersenyum penuh arti.


...TAMAT...


12 Badut selesai.


Mohon maaf jika tidak memuaskan.


Penulis masih perlu belajar lebih tentang kepenulisan.


Banyak plot hole, dan beberapa bagian yang terlalu dipaksakan.


Saat menulis cerita ini entah bagaimana, ada saja halangan dan kendala.


Mulai dari sakit selama 3 minggu, kerjaan akhir tahun yang menumpuk, kecelakaan saat naik motor, dan beberapa hal lain yang membuatnya update bab tersendat.


Sekali lagi, mohon maaf jika tidak memuaskan.


Sampai bertemu lagi di tulisan-tulisan ku berikutnya.


Semoga masih ada yang berkenan baca.

__ADS_1


__ADS_2