12 Badoet

12 Badoet
Pitungpuluh


__ADS_3

Setelah hujan semalam, mendung tak lagi muncul pagi ini. Sinar matahari yang hangat menimpa permukaan aspal hitam nan kasar. Air yang tergenang di lobang-lobang jalan mulai menguap dan mengering. Meski rintik tak lagi turun, hujan tidak hanya meninggalkan genangan tapi juga kenangan. Udara yang sejuk dan dingin menjadi pertanda bahwa air langit itu baru saja meredakan dahaga tanah di bumi.


Adi menapaki paving kantor kepolisian tempatnya bertugas. Dia memang sedang menjalani masa hukuman dibebastugaskan selama beberapa hari, tapi bukan berarti dia tidak diperbolehkan datang ke kantor. Adi sudah meminta ijin untuk mengunjungi ruangannya guna mengambil berkas kasus yang tengah dia selidiki. Adi juga memiliki tujuan lain, yaitu untuk memeriksa nomor khusus yang kemarin sempat dihubungi oleh Nilla.


Adi masuk ke dalam ruangannya yang sunyi. Dia mengumpulkan berkas dan file yang dirasa perlu untuk dibaca sekali lagi. Dia juga mencabut flash disk yang sedari kemarin tertancap di CPU berwarna hitam itu.


Rupanya komputer dalam kondisi menyala, tidak dimatikan sejak kemarin. Adi iseng-iseng meng klik mouse kemudian nampak wallpaper foto dirinya dan Sinta tersenyum menghadap kamera. Adi teringat gadis manis itu. Pesan dari Sinta sejak se malam tak juga dia balas. Adi tak sempat membuka handphone. Pikirannya sulit lepas dari Tarji, Inka, Wildan dan semua yang berkaitan dengan kasus kematian para lansia.


Dalam lamunan, mata Adi tertuju pada aplikasi cctv di komputer nya. Dia teringat dengan laki-laki sepuh yang kemarin ingin bertemu dengannya.


"Seharusnya kakek kemarin menunggu di ruangan ini," gumam Adi sembari meng klik aplikasi cctv. Kemudian Adi memeriksa rekaman kamera pengawas di depan ruangannya di hari kemarin.


Beberapa menit mengamati, akhirnya Adi menemukan gambar laki-laki tua yang masuk ke dalam ruangannya. Namun berselang beberapa waktu terlihat petugas dari bagian IT menyusul. Dan setelahnya mereka keluar ruangan bersama-sama.


Adi bergegas keluar dari ruangannya. Dia berlari masuk ke ruang bagian IT. Terlihat di dalam ruangan tersebut hanya ada 3 petugas yang tengah menghadap layar komputer.


"Mohon maaf Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu petugas perempuan. Adi diam tak menjawab. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Namun tak menemukan sosok yang dia cari.


"Pak?" panggil petugas perempuan, menyadarkan Adi dari lamunan.


"Ah, dimana Pak Angga?" tanya Adi gelagapan.

__ADS_1


"Pak Angga hari ini tidak masuk. Kami juga kurang tahu kemana beliau," jawab petugas perempuan ragu-ragu.


Adi terdiam kembali. Dahinya nampak mengkerut menandakan dia tengah memeras otak untuk berpikir. Kemudian Adi merogoh handphone di saku celana. Dia membuka log panggilan dan menunjukkan pada petugas IT yang berdiri di hadapannya.


"Apakah nomor ini milik Pak Angga?" tanya Adi penuh selidik. Petugas perempuan itu melihat sekilas layar handphone milik Adi kemudian mengangguk meyakinkan.


"Baik, terimakasih," ucap Adi langsung berbalik badan dan keluar ruangan. Kini satu nama sudah dikantongi Adi. Angga, petugas polisi yang berusia beberapa tahun di atas Adi. Angga bertugas di bagian IT. Selama ini dia memiliki akses untuk melihat setiap data dan file milik kepolisian.


Masih ada beberapa pertanyaan di benak Adi. Apa hubungan Angga dan Wildan? Lalu, kenapa Angga membawa pergi kakek yang hendak bertemu dengan Adi? Apa hubungan Angga dengan kasus 91?


Adi kembali ke ruangannya. Dia menancapkan flash disk yang tadi sudah dimasukkan ke dalam tas. Adi membuka folder yang berisi data identitas semua petugas. Kemudian menyalinnya ke dalam flash disk. Butuh waktu beberapa menit untuk menyelesaikan salinan.


Handphone Adi tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan dari klinik tempat Tarji dirawat. Ternyata klinik memberi kabar yang melegakan. Tarji sudah siuman dan kondisinya stabil saat ini. Terucap syukur dari bibir Adi. Bahkan sudut matanya nampak berair.


Setelah selesai menyalin data, Adi mematikan komputer, menyambar tas ransel dan segera beranjak meninggalkan ruangannya. Kepala satuan satu itu terlihat gagah dengan jaket boomber berwarna hijau tua dengan tas ransel hitam di pundak. Beberapa petugas perempuan di unit lain seringkali terkesima, dan merasa heran, bagaimana mungkin laki-laki yang nyaris sempurna belum jua memiliki pasangan?


Dengan menggunakan motor matic nya, Adi bergegas menuju ke klinik. Jalanan yang padat bukan rintangan untuk Adi memacu motor. Dia cukup hafal jalur yang harus dilewati untuk menghindari kemacetan. Salah satu alasan Adi lebih memilih naik motor daripada mobil karena motor lebih fleksibel dan cepat.


Sekitar 15 menit Adi sudah sampai di klinik. Dengan berlari-lari kecil dia menyusuri lorong yang baru saja dibersihkan. Meskipun sedikit licin Adi tidak peduli. Yang ada di benak Adi kini adalah segera bertemu dengan rekan kerja sekaligus sahabat karibnya.


Di kamar perawatan nampak Tarji terbaring dengan perban di kepala. Di samping Tarji ada kedua orangtua nya yang terlihat menyunggingkan senyum lega. Anak bungsu kebanggaan keluarga itu sudah dalam kondisi yang sehat.

__ADS_1


"Hallo Pak Adi," sapa Tarji sambil tersenyum. Bibir laki-laki itu masih nampak putih pucat.


"Punya anak buah sepertimu benar-benar merepotkan," ujar Adi mendongak menatap langit-langit. Dia mencegah air matanya jatuh. Menangis adalah hal memalukan bagi Adi.


"Bagaimana kamu menemukanku kawan?" tanya Tarji lirih.


"Aku menelusuri akun perempuan yang menggodamu. Aku membuntuti perempuan itu, dan menemukanmu dalam kondisi yang mengenaskan. Dasar sial! Kupikir kamu bakal mati brengsek!" Adi meluapkan kekesalannya. Mata bulat itu nampak berkaca-kaca.


"Ha ha ha orang sepertiku tidak gampang mati boss. Seperti di film-film, karakter yang ceroboh akan tetap dipertahankan hingga akhir cerita karena disukai banyak penonton." Tarji tergelak, tawanya pecah. Adi berjalan mendekat dan memeluk sahabat karibnya itu. Pelukan yang hangat, menguapkan segala kekhawatiran yang pernah terlintas di pikiran. Kedua orangtua Tarji tersenyum kemudian beranjak keluar kamar. Mereka memberi waktu agar Adi dan Tarji bisa bercengkerama lebih leluasa.


"Arloji mu hilang. Diambil Inka?" tanya Adi setelah menyeret kursi dan duduk di samping tempat tidur Tarji.


"Inka bersama seorang laki-laki. Aku tak mengenalnya. Mereka mengincar arloji emas itu," jawab Tarji mengingat-ingat.


"Menyandera seorang polisi hanya untuk sebuah arloji? Itu tidak masuk akal," sela Adi tersenyum masam.


"Mereka tidak tahu kalau aku polisi. Dan sepertinya semua itu bukan soal arloji emas. Tapi mereka ingin tahu, siapa pemiliknya," ujar Tarji dengan mimik muka serius.


"Sekarang katakan padaku Ji. Di antara 3 pensiunan, siapa sebenarnya pemilik Arloji emas? Aku yakin arloji emas berhubungan dengan kematian acak para lansia akhir-akhir ini. Pak Sukmoro, Pak Wito, atau Pak Suko?" tanya Adi penuh selidik.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2