12 Badoet

12 Badoet
Telungpuluh Pitu


__ADS_3

Kakek tua terduduk lemah dengan sebuah pisau lipat beberapa senti di depan lehernya. Beberapa bulir keringat menetes di kening. Sementara jenggotnya yang lebat seperti rambut jagung nampak mulai terkelupas. Rupanya bulu-bulu yang menutupi dagu kakek itu palsu, hanya tempelan saja. Saat wajahnya basah oleh peluh yang mengalir deras, berewoknya pun ikut luntur.


"Siapa kalian sebenarnya?" pekik Ki Sarno lirih. Dia beberapa kali menelan ludah. Dinginnya mata pisau terasa menyentuh kulit lehernya yang tipis. Dia membayangkan satu goresan saja pasti cukup untuk membuatnya terjungkal bermandikan cairan merah kental.


"Jangan berteriak! Bicaramu biasa saja dukun palsu!" bentak Angel. Suaranya lirih namun terasa menakutkan. Ditambah dengan sengaja Angel menggoreskan pisau di tangannya pada kulit renta Ki Sarno yang bergelambir.


"Isshhhh," Ki Sarno mendesis merasakan perih.


"Apa kamu mengenal Umar dan Anwar?" giliran Wildan kali ini yang bertanya.


"Si siapa itu? Aku tak mengenalnya," jawab Ki Sarno gelagapan.


"Jawab yang benar! Jangan berbohong! Atau pengen request lehermu kuukir seperti daun pintumu itu!" ancam Angel. Ki Sarno menelan ludah. Tenggorokannya terasa sangat kering saat ini.


"Baiklah Baik. Mereka teman lamaku," ucap Ki Sarno lirih.


"Kamu adalah Badut nomor 4," sambung Angel.


"Kalau kalian tahu soal itu, berarti kalian adalah hantu dari masa lalu untukku. Maafkan aku, sungguh. Aku pun menyesal sudah ikut dalam perampokan itu. Apapun kerugian yang kalian dapatkan dari masa lalu, aku akan menggantinya." Ki Sarno mengiba.


"Mana bisa kamu mengganti masa-masa sulit yang telah kami lalui?" Angel menggeram menahan amarah. Dalam benaknya tergambar keinginan untuk menggores kulit kakek tua itu lebih dalam. Memutuskan arteri karotis yang ada di leher Ki Sarno, Sang Badut nomor 4. Hal itu tentu menghapus dahaga kebencian yang ada di lubuk hati Angel.


"Sstt sssttt!" Wildan mendesis, menyadarkan Angel dari lamunan.


"Apa yang kamu pikirkan? Fokus Ngel!" Wildan sedikit membentak.


"Apa kalian orang-orang yang sudah menghabisi Anwar dan Trisno? Apa kalian juga hendak merenggut nyawaku?" tanya Ki Sarno ketakutan.


"Semua tergantung dari jawabanmu, Kakek Tua!" balas Angel menyeringai.

__ADS_1


"Baiklah, akan kujawab semua pertanyaan kalian. Tapi yang harus diingat, pasien yang masuk ke kamar pengobatan tidak lebih dari lima belas menit. Jika lebih dari itu, para centengku pasti akan curiga. Dan jika mereka sudah datang kemari, kupastikan kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup," jelas Ki Sarno.


"Cih, masih punya nyali rupanya. Berani kamu mengancamku?" Angel melotot. Tangannya yang memegang pisau lipat benar-benar terasa gatal.


"Tenang Ngel," ucap Wildan mencoba membuat Angel lebih kalem.


"Sebelum kematiannya, Umar menuliskan sebuah surat wasiat yang menyebutkan kalau sesuatu yang merujuk pada hasil rampokan disimpan di tempat semuanya berawal. Apa maksudnya itu? Kamu kan komplotannya, pasti tahu tempat yang dimaksud," tanya Wildan mendesak Ki Sarno.


Ki Sarno mengernyitkan dahi. Laki-laki sepuh itu nampak berpikir sejenak. Kemudian dia tersenyum, bibirnya yang berwarna hitam tersembul di antara bulu jenggot palsu yang mengelupas.


"Kenapa hal seperti ini saja kalian harus menyanderaku untuk tahu jawabannya? Bukankah sudah jelas, tempat semuanya berawal adalah rumah dari pengusaha kaya almarhum Sumiran?" Ki Sarno terkekeh menertawakan Wildan dan Angel.


"Hanya itu maksudnya? Semudah itu jawabannya?" Wildan nampak tidak percaya.


"Iya, dimana lagi? Aku tidak berbohong. Yang terpikirkan hanya tempat itu. Sumpah," jawab Ki Sarno meyakinkan.


"Anggap saja kami percaya. Sekarang giliranku. Dimana Bu Melati berada?" Angel kini yang bertanya.


"Melati? Kamu mengenalnya? Siapa sebenarnya kalian ini?" Ki Sarno berusaha menoleh untuk menatap wajah Angel. Sayangnya, satu gerakan yang tiba-tiba membuat lehernya kembali tergores cukup dalam.


"Bergerak jika kuminta bergerak. Atau kamu ingin mempercepat pindah dunia? Hah?" Angel menyeringai puas.


Ki Sarno kembali merasakan perih di leher. Ada cairan kental yang terasa mengalir di kulit arinya yang tipis. Mencipta aroma anyir di indera penciuman yang sudah renta.


"Sekarang jawab pertanyaanku. Dimana Bu Melati berada?" Angel mengulangi pertanyaannya.


"Sumpah demi apapun, aku tidak tahu. Aku hanya kroco yang bertugas mencari pawang hujan waktu itu. Aku hanya nurut pada nomor 2," jawab Ki Sarno dengan suara parau.


"Nomor 2? Maksudmu Umar?" tanya Angel dan Wildan bersamaan.

__ADS_1


"Iya," tukas Ki Sarno singkat.


"Satu lagi. Aku ingin tahu identitas komplotan 12 Badut. Sebutkan semuanya," desak Angel.


"Nomor 2 Umar. Nomor 3 Suryono," jawab Ki Sarno sambil mengingat-ingat.


"Ceritakan tentang Suryono. Dimana dia sekarang tinggal?" Angel memotong ucapan Ki Sarno.


"Suryono itu hobinya main rubik. Seingatku setelah perampokan itu dia mendirikan sebuah toko mainan. Aku nggak tahu kabar dia sekarang, sumpah!" ucap Ki Sarno meyakinkan.


"Sialan! Sepertinya kamu sengaja memberi informasi sepotong-sepotong." Angel mendengus kesal.


"Memang diantara rekan lain aku lah yang paling nggak ngerti nan. Aku tuh hanya angka ikut. Jadi, aku memang kurang tahu detail waktu itu. Apalagi setelah mendapat bagian hasil rampasan, kami semua berpisah," bantah Ki Sarno.


"Sekecil apapun peranmu, tetap saja kamu memiliki andil menghancurkan hidup orang lain!" bentak Angel dengan tangan gemetar. Ada dorongan kuat dibenaknya untuk mengakhiri hidup Ki Sarno. Wildan menatap Angel dan menggelengkan kepalanya perlahan. Mencoba memberitahunya agar tidak terbawa emosi.


"Ya apa yang kamu katakan benar Nona. Aku pun selama ini merasa bersalah dan ketakutan. Maka dari itu aku menyewa para centeng untuk menjaga dan menemaniku yang hidup sendirian. Aku tak berkeluarga karena takut anak keturunanku kelak mendapat karma atas apa yang kulakukan dulu," jelas Ki Sarno lirih.


"Rupanya kamu orang yang mempercayai kalau karma itu ada." Angel tersenyum sinis.


"Asal kamu tahu saja, meskipun tak se sakti yang diceritakan orang-orang aku benar-benar belajar soal perdukunan. Aku percaya tentang karma, hukum sebab akibat. Setiap tindak tanduk manusia di dunia ini pasti memiliki konsekuensi di masa depan. Aku memilih untuk sendiri sepanjang hidupku, karena tak mau jika menikah dan keturunanku menyandang gelar anak perampok. Meski sebenarnya tak ada satupun orang yang tahu tentang itu. Aku sangat tersiksa selama ini. Tapi aku belum mau mati sekarang. Jika kalian adalah keluarga dari Sumiran, ampuni aku. Apapun kuberikan, asalkan kalian membiarkanku hidup," ucap Ki Sarno mengiba.


"Sungguh ironi yang lucu. Kamu mengatakan hidupmu tersiksa dan penuh penyesalan tapi juga sekaligus memohon untuk dibiarkan hidup. Bukankah penebusan atas rasa bersalahmu itu seharusnya adalah kematian?" Angel mencibir.


"Aku tidak ingin mati dalam keadaan seperti ini. Terbunuh oleh hantu masa lalu, terasa buruk untuk dikenang orang lain. Aku ingin mati dengan wajar, dikenal orang sebagai Ki Sarno dukun kondang," tukas Ki Sarno.


"Menjijikkan dan tak tahu malu. Mengiba, memohon ampun atas nyawa yang tak berguna. Padahal sendirinya telah merenggut nyawa orang lain dan merampas harta benda, serta kehidupan anak keturunannya," ujar Angel dengan suara bergetar.


Wildan tertegun. Dia merasa heran. Kenapa Angel bersikap sedemikian emosional? Bukankah Angel mengaku sebagai anak Santoso, salah satu Badut? Tapi saat ini Angel terasa seperti anak atau mungkin saudara dari Sumiran. Emosinya yang meluap-luap, dan amarahnya yang terlihat sulit untuk dikontrol serta sorot mata penuh dendam membuat Wildan merasa yakin Angel memiliki hubungan dengan Sumiran.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2