12 Badoet

12 Badoet
Pitungpuluh Nem


__ADS_3

Bulan Desember tahun 1991


Hujan kian deras, mendung hitam di langit tak kunjung memudar. Malam hampir datang, suhu udara semakin turun. Bulan tak mungkin mampu menunjukkan sinarnya malam nanti. Meski saat ini waktunya purnama datang.


Dengan tangan gemetar Santoso menggenggam gagang senjatanya. Laki-laki itu baru kali ini memegang senjata api. Benda berbahaya mematikan itu didapat dari Badut nomor 8. Entah barang sitaan, atau selundupan.


Umar memasang badan, menyembunyikan tubuh mungil Melati yang ketakutan. Sumiran menutupi kepalanya dengan sebelah tangan. Siapa yang tidak takut, saat ada seorang amatir yang gemetar mengacungkan senjata. Sementara Badut nomor 5 melompat hendak menubruk Santoso yang kehilangan kontrol diri akibat tekanan batin.


Doorrrr


Suara letupan senjata bergema di dalam rumah. Suara yang tersamarkan oleh guntur dan petir. Badut nomor 5 menubruk Santoso tepat saat dia melepas tembakan. Sebenarnya Santoso hanya berniat menakut-nakuti Melati, majikan perempuannya. Namun karena mentalnya yang lemah, dan baru pertama kali memegang senjata, tangan yang gemetar itu menarik pelatuk dengan mata terpejam.


Timah panas melesat tak tentu arah. Dalam beberapa detik, Umar sempat menduga dadanya bakal berlubang. Namun ternyata, malah Sumiran yang ambruk ke lantai. Di bagian bawah ketiak kiri Sumiran nampak cairan merah tua merembes, membuat laki-laki itu pingsan seketika.


"Apa sih yang ada di otakmu?" bentak Badut nomor 5 dengan tubuhnya yang menindih Santoso sekuat tenaga. Senjata yang dipegang Santoso sudah berhasil direbut.


Santoso diam saja tak menyahut. Badut nomor 5 merasa aneh saat menyadari tubuh Santoso lemas tak berdaya. Badut nomor 5 melonggarkan cengkeramannya.


"Heh, dia pingsan," pekik Badut nomor 5.


"Sial! Kupikir sudah bolong perutku," sahut Umar menghela nafas. Lututnya nampak gemetar.


Melati berjalan mendekati Sumiran yang tidak sadarkan diri. Perempuan itu memandangi wajah suaminya. Wajah yang setiap hari membentaknya, bertindak kasar, bahkan untuk urusan ranjang sekalipun. Mata perempuan cantik itu penuh api kebencian.


"Sekarang gimana?" Badut nomor lima bertanya pada Umar.


"Bawa sialan itu pergi dari sini. Sesudah dia bangun nanti, katakan padanya Sumiran mati karena ulahnya. Katakan hal itu pada yang lain juga. Biarkan dia menanggung penyesalan dari tindakan yang ceroboh. Aku sedikit menyesal membawa dia, dasar bocah! Otaknya belum mateng," keluh Umar kesal.


Badut nomor 5 menurut, dia mengangkat tubuh Santoso. Meski awalnya sedikit kesulitan, Badut nomor 5 tetap melaksanakan perintah Umar. Santoso yang pingsan setengah diseret meninggalkan dapur.


Dooorrrr

__ADS_1


Kembali suara letupan senjata bergema. Umar terlonjak kaget dan seketika menoleh, menatap Melati yang tersenyum lebar di hadapan suaminya. Sumiran kali ini benar-benar tak bergerak. Dada laki-laki itu tidak lagi naik turun, nafasnya sudah berhenti. Sumiran tewas di tangan istrinya yang cantik.


Surti menjerit sekuat tenaga. Dia tidak menyangka, Melati akan tega menghabisi suaminya sendiri. Seburuk-buruknya perlakuan Sumiran pada Surti, perempuan tua itu tetap sayang pada majikannya. Tanpa Sumiran, Surti tidak memiliki penghasilan. Tidak ada orang lain yang mau memperkerjakannya karena Surti memang lamban dan tidak cekatan. Namun Sumiran cocok dengan masakan Surti. Meski sering membentak, mengumpat, Sumiran tetap menggaji Surti dengan layak.


"Nyonyaaa, kenapa?" teriak Surti tertahan.


Umar tertegun beberapa saat. Sama halnya dengan Surti, laki-laki itu juga sama sekali tidak menduga Melati dengan mudah menarik pelatuk di tangannya.


"Brengsek! Rencananya tidak begini!" umpat Umar sambil memukul dinding di belakangnya.


"Apa yang kamu harapkan? Ini sudah ku sepakati dengan bojomu," sahut Melati enteng.


Terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang petugas yang memakai jas hujan terlihat berlari dari ruang depan. Dialah Wito, Badut nomor 8. Jejak kakinya terlihat basah dan berlumpur di lantai marmer rumah megah milik Sumiran.


"Kalian terlalu lama. Cepat pergi dari tempat ini!" bentak Wito.


Mata Wito kemudian tertuju pada sosok Sumiran yang terkapar di lantai dengan cairan merah membanjiri sekelilingnya.


"Tugasmu untuk membereskan semua ini," sahut Melati.


"Mana bisa? Ini di luar rencana lho." Wito mengusap-usap dagunya.


"Jangan berpura-pura dungu. Bukankah banyak dari atasanmu yang menginginkan dia mati?" Melati mendebat.


"Hmmm, tapi beri aku lebih dari pembagiannya. Bukankah pekerjaanku jadi yang paling banyak?" Wito menyeringai.


"Dasar mata duitan!" pekik Umar geram.


"Sudah, berikan saja." Melati mengalah, malas melanjutkan perdebatan. Umar hanya menghela nafas.


"Oh iya, ini dokumen yang kamu minta kemarin. Setelah ini, hidup yang kamu impikan akan terwujud," ucap Wito seraya menyerahkan amplop cokelat besar pada Melati. Tangan perempuan itu terlihat sedikit gemetar saat menerimanya.

__ADS_1


"Sekarang, kalian cepatlah pergi!" perintah Wito sekali lagi.


"Bagaimana dengan pembantu itu?" tanya Umar menunjuk Surti yang menangis di sudut dapur.


"Biar aku yang bereskan. Bagaimanapun dia adalah saksi kunci," gumam Wito menatap Surti.


"Satu lagi, Wito. Aku titip Angga," tukas Melati sambil menghela nafas. Kedua mata perempuan itu nampak berair di bagian sudutnya.


"Ya, aku mengerti. Aku punya tempat kok. Yang dikelola istriku," jawab Wito.


Melati mengangguk, dan beranjak melangkahkan kaki. Meski air mata mengalir di pipi, perempuan itu sudah yakin dengan semua tindakannya. Batinnya terus menguatkan, tidak boleh ada keraguan. Dia merasa yakin, setelah hari ini adalah kehidupan yang selama ini diinginkan.


Umar mengekor di belakang Melati. Mereka berjalan dengan cepat melewati Burhan di teras depan yang masih tergeletak pingsan dengan pelipis yang terluka. Baik Umar dan Melati mengacuhkannya.


Badut 3, 4, 5, 6, dan 7 sudah pergi beberapa waktu sebelumnya menggunakan mobil kijang merah maroon. Sedangkan Badut nomor 9, dan 10 menggunakan motor bututnya. Melati dan Umar berhenti di depan pagar, meski hujan membasahi tubuh mereka.


Beberapa saat berikutnya datang sebuah mobil sedan yang dikemudikan seorang perempuan berparas cantik. Rambutnya hitam terurai dengan mata yang nampak sayu. Melati segera membuka pintu samping kemudi dan menerobos masuk. Sedangkan Umar ke kursi belakang dan melepas topeng badutnya.


"Setelah ini, kalian bisa hidup bahagia," ucap Melati. Mobil sedan meraung kencang dan melesat meninggalkan rumah Sumiran.


Selepas kepergian Melati dan Umar, Wito mengambil jam tangan yang dikenakan oleh mayat Sumiran. Sebuah arloji emas mengkilap dengan lambang S di tengahnya. Wito tersenyum sumringah.


Pada saat yang sama, bocah lima tahun terbangun dari tidur sejak siang tadi. Bocah itu berjalan turun menapaki tangga dan termenung saat melihat laki-laki yang dia panggil ayah tergeletak di lantai. Wito berdiri dan tersenyum menyambutnya.


"Wah, kamu pasti Angga ya?" ucap Wito ramah. Balita yang tidak tahu apa-apa itu hanya mengangguk perlahan.


Di bagian sudut dapur, Surti juga tergeletak pingsan. Wito memukul bagian belakang leher perempuan tua itu untuk melumpuhkannya. Detik berikutnya, Burhan terbangun dan berjalan ke dapur dengan sempoyongan.


"Kamu akan menjadi orang yang paling dicurigai, Burhan. Tapi kamu kan pingsan, setiap pertanyaan penyidik jawab saja kalau kamu sedang pingsan. Kamu akan aman. Kamu tidak berbohong, karena begitu kenyataannya." Wito tersenyum menggenggam arloji emas di tangan kanannya.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2