
Hari beranjak sore. Jarum pendek jam dinding mengarah pada angka 3. Angel baru kembali ke rumah setelah setengah hari berada di hotel pinggiran kota. Wildan dan Nilla menunggu di teras depan. Wajah Wildan nampak sedikit pucat.
"Lama banget? Melepas rasa rindu dengan Pak Manajer tampan?" ledek Nilla setelah Angel memarkir motor matic nya.
"Mulutmu! Nih kubelikan wedang ronde," ucap Angel meletakkan plastik hitam di depan Wildan. Aroma jahe menguar di udara.
"Ehem! Perhatian banget. Bukankah seharusnya warung wedang ronde jam segini belum ada yang buka?" Nilla terus meledek Angel.
"Karena kalau laki-laki lemah ini sampai sakit, aku juga yang bakalan repot. Makanya kubelikan minuman itu, biar hangat masuk angin minggat. Lagipula, setelah ini kita harus segera berangkat ke tempat Badut nomor 3," sahut Angel bersungut-sungut.
"Harus sekarang?" tanya Wildan.
"Iya. Kalau kamu nggak kuat, ya sudah di rumah saja. Aku ogah menunda pekerjaan," tukas Angel ketus.
Wildan pun terdiam. Dia segera meraih wedang ronde yang dibawa oleh Angel. Ada sedikit rasa tersanjung di benak Wildan. Se galak-galak nya Angel, dia masih perhatian pada kondisi kesehatan Wildan.
Angel menjatuhkan tubuhnya di tepian teras rumah. Punggungnya bersandar pada tiang dari beton ber cat kusam. Mata perempuan gahar itu nampak mengamati langit dengan beberapa burung kecil yang terbang bebas tanpa beban.
"Apa yang kamu dapatkan dari hotel?" tanya Nilla penasaran.
"Sebuah fakta, bahwa perempuan bernama Inka yang menjebak laki-laki guobl*k yang saat ini sedang minum wedang ronde itu memiliki komplotan," jawab Angel sembari memicingkan mata ke arah Wildan.
"Uhuuk uhukk!" Wildan tersedak seketika.
"Si Inka itu dijemput oleh seorang laki-laki," lanjut Angel.
"Siapa?" Nilla penasaran. Angel menghela nafas dan menggeleng perlahan.
"Kamera bagian luar hotel kurang jelas. Seorang laki-laki dengan cara berjalannya yang pincang. Hanya itu yang kutahu," tukas Angel dengan ekspresi yang nampak kesal.
"Bagaimana jika Inka itu komplotan dari pelaku yang sudah menghakimi para Badut?" Nilla membetulkan letak kacamatanya.
"Itulah yang membuatku kepikiran. Bisa jadi kan selama ini mereka sudah tahu tentang pergerakan kita dan mengintai dari rumah sebelah. Kita yang menemukan para Badut, dan entah untuk tujuan apa mereka yang menghabisi para lansia itu." Tangan Angel terkepal erat.
__ADS_1
"Dan semua ini gara-gara laki-laki 'mendho' bernama Wildan," lanjut Angel melirik Wildan dengan tatapan yang hendak menerkam.
"Uhukk uhuukk uhuukk!" Wildan tersedak kembali.
Nilla terkekeh. Kemudian menepuk-nepuk punggung Wildan. Laki-laki yang tengah menikmati wedang ronde itu terlihat memerah matanya. Tersedak jahe hangat tentu menyiksa tenggorokan.
"Aku mau mandi. Kalian segera bersiaplah. Sore ini juga, kita berangkat ke tempat tinggal Suryono, badut nomor 3!" perintah Angel.
"Sekalian keramas Ngel?" goda Nilla. Angel menoleh, melotot dan mengangkat tangannya yang terkepal. Kemudian berlalu masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi.
"Kalau badanmu belum fit benar, lebih baik kamu di rumah saja," ucap Nilla pada Wildan.
"Aku akan ikut. Entah kenapa perasaanku nggak tenang kali ini," sahut Wildan cepat. Nilla tak menyahut, hanya menghela nafas perlahan.
Satu jam berlalu. Pukul empat sore, cuaca sedikit mendung. Langit redup dengan awan berwarna abu-abu tua menegaskan hujan siap turun kapan saja. Angel sudah berada di atas motor matic nya, berteriak memanggil Nilla yang masih sibuk dengan kaosnya yang kekecilan. Sedangkan Wildan diam saja bersandar pada daun pintu depan.
"Ayok lah Nil," pekik Angel setengah membentak.
"Berat badanku naik, sial! Hampir semua kaos ku nggak muat. Padahal aku yakin bulan lalu masih sangat nyaman ku kenakan," keluh Nilla.
"Kalau sekiranya belum sehat benar, ada baiknya kamu di rumah saja Wil," pekik Nilla.
"Aku tidak apa-apa kok," sahut Wildan dengan ekspresi wajah yang datar.
"Kurasa kita terlalu berisik. Padahal bisa saja komplotan si Inka itu tengah mengawasi pergerakan kita dari suatu tempat. Seharusnya kita bergerak dengan senyap." Angel geleng-geleng kepala.
"Rumah sebelah sudah ku pastikan kosong. Kuyakin tidak ada yang mengintai di wilayah sini. Lagipula aku hanya mengkhawatirkan kondisi Wildan. Lihatlah, bukankah dia terlihat pucat?" Nilla menunjuk Wildan yang ada di belakang.
"Aku nggak peduli," sahut Angel ketus. Dia segera menyalakan motor dan melesat keluar dari perumahan di tengah kota itu. Wildan mengekor di belakang.
"Nilla aku tahu, mungkin bagimu pencarian para Badut ini tak terlalu penting. Tapi beda denganku dan Abang. Kami harus menemukan 'orang itu' untuk meminta penjelasan," ucap Angel, setelah motor yang dikendarainya keluar dari dalam gang dan melaju di jalan raya.
"Bukannya aku tidak mendukungmu Ngel. Hanya saja terkadang aku merasa kita terkurung di masa lalu. Padahal kehidupan saat ini yang seharusnya kita perbaiki, agar masa depan kita lebih baik lagi," gumam Nilla di pundak Angel.
__ADS_1
"Tidak ada masa depan Nilla. Selama masa lalu kelam itu terus menggoreskan luka. Pencarian para badut ini, adalah upaya untuk mengobati luka!" tukas Angel.
Nilla terdiam seketika. Dia sadar percuma berdebat dengan Angel. Wataknya keras dan terpaku pada tujuan. Nilla menoleh pada Wildan. Laki-laki itu terlihat berkendara dengan ekspresi yang datar. Nilla berharap, Wildan bisa membawa perubahan pada Angel.
Udara senja semakin terasa dingin. Motor Angel memasuki wilayah pedesaan yang berkabut. Jalanan dari semen di beberapa bagian nampak berlumut, seolah siap membuat ban motor depan yang dikendarai Wildan selip karena sudah tipis.
Rumah warga berjejer di lereng perbukitan yang rimbun penuh pohon akasia. Motor yang dikendarai Angel menepi di depan halaman rumah yang luas, dengan pohon mangga besar di bagian tengah. Rumah yang nampak gelap gulita tanpa pencahayaan.
"Yakin ini rumahnya?" tanya Nilla seraya mengusap tengkuknya yang dingin.
"Menurut info dari 'Abang' kayaknya benar ini deh. Si Suryono itu tinggal di rumah Tusuk Sate. Berarti ya ini," jawab Angel yakin.
"Rumah Tusuk Sate?" Nilla mengernyitkan dahi.
"Begitulah sebutannya. Rumah yang berdiri tepat di ujung pertigaan," jawab Angel singkat.
Angel dan Nilla turun dari motor, disusul Wildan yang sedari tadi diam saja merasakan badannya yang tak bertenaga. Bahkan saat ini akibat udara yang terlampau dingin, membuat Wildan semakin meriang dan menggigil.
"Kelihatannya rumah ini sudah tidak ditempati Ngel," ucap Nilla pada Angel.
"Kita tetap harus memeriksanya. Jauh-jauh sampai tempat ini, rugi rasanya kalau tak memastikan." Angel melangkahkan kakinya menuju ke rumah yang terlihat kosong dan sedikit menyeramkan itu. Rumah bergaya limasan dengan tiang penjaga di bagian depan berupa kayu yang dicat berwarna merah terang.
Dengan langkah perlahan dan hati-hati tiga orang itu mengendap-endap di pelataran rumah penuh dedaunan kering. Namun baru beranjak beberapa meter dari tepi jalan, terdengar suara laki-laki menghardik dengan nada tinggi.
Bersambung___
Selamat tahun Baruu.
Untuk diriku
Semoga di tahun yang baru semakin semangat menulis.
Semakin banyak ide-ide, semakin banyak pembaca, semakin baik-baik deh pokoknya.
__ADS_1
Dan untuk yang baca tulisanku, semoga kalian semakin bahagia, sehat, dan sukses yaahh.
Yuk semangat yuukk.