
Dengan menggunakan sarana transportasi online, tiga orang perempuan menuju ke sebuah rumah kosong. Mereka turun tepat di halaman yang sudah ditumbuhi rumput liar dan semak belukar. Nampak sebuah mobil hitam terparkir di garasi. Debu tebal menempel meski baru beberapa hari mobil tak dipanasi.
Perempuan berambut sebahu segera menghidupkan mobil, sementara dua perempuan lain duduk di teras rumah yang tak terawat itu. Perempuan berkacamata tebal beberapa kali menatap papan nama yang tertempel di dinding depan. Papan nama bertuliskan Seruni, nampak kusam dan usang.
Sedangkan perempuan satu lagi, berambut merah dengan warna lipstik yang mencolok. Dia mengibas-ibaskan tangan, sepertinya merasa gerah. Ada sedikit keanehan dari perempuan itu. Saat rok panjangnya tersingkap terlihat bulu-bulu kaki dengan ukuran yang panjang dan tak wajar.
Mobil keluar dari garasi dan berhenti tepat di tengah halaman rumah. Angel, perempuan dengan rambut sebahu itu keluar dari mobil dengan langkahnya yang tegap dan gagah. Dia melirik sekilas pada perempuan berambut merah, kemudian terlihat menahan senyum.
"Kamu cocok juga berdandan seperti itu," ucap Angel mengejek.
Perempuan berambut merah itu melotot ke arah Angel. Dia menarik rambut panjangnya dengan sedikit kasar. Saat rambut panjang berwarna merah itu terlepas, barulah nampak kalau perempuan itu adalah Wildan yang tengah menyamar.
"Kepalaku gatal," keluh Wildan menggaruk-garuk rambut cepaknya yang kini sudah kembali berwarna hitam. Beberapa butir ketombe terlihat melayang di udara.
"Tapi serius, kamu cocok berdandan seperti itu. Kita bertiga jadi seperti trio gadis pemberantas kejahatan," ujar Angel sambil tertawa.
"Kayak di film-film aksi maksudmu?" Wildan bersungut-sungut.
"Atur suaramu. Kamu harus lemah lembut," sahut Angel.
"Ehem ehem. Kayak di film-film aksi begitu maksudmu Kak Angel?" Wildan mengulangi kalimatnya dengan suara dan intonasi yang melengking. Angel tergelak mendengarnya. Tawanya pecah.
"Ha ha ha. Sungguh kamu cocok seperti ini Wildan. Uppss sorry, namamu sekarang Wilnona," ucap Angel. Perempuan itu pagi ini terlihat lebih ceria. Penampilan Wildan berhasil membuat mood Angel lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.
Hal berbeda terlihat dari raut wajah Nilla. Perempuan berkacamata itu semenjak turun dari taxi online tadi langsung berwajah murung. Kacamata ber lensa tebal tak mampu menutupi sorot mata sayu. Seolah ada kesedihan yang tak terucap dari bibir mungilnya.
"Are you oke Nilla?" tanya Wildan merasa khawatir dengan kondisi Nilla.
"Yahh," ucap Nilla mengangguk setelah menghela nafas panjang.
"Emm, aku hampir lupa dengan rencana kita hari ini." Nilla mengeluarkan handphone dari tas slempang kecil yang membelah dadanya.
"Target bernama Sarno. Saat ini lebih dikenal dengan julukan Ki Sarno Legowo. Predikat legowo ini karena katanya yang berobat kesana bayarnya sesuka hati saja. Tidak ada patokan harga, ataupun mahar khusus," ucap Nilla membaca layar handphone nya.
"Berarti dia ini orang baik dong," sahut Wildan.
"Masalahnya dia hanya mau menerima pasien perempuan. Kebanyakan pasien yang datang kesana untuk pasang susuk, pelet, dan hal-hal semacam itu. Reputasinya sangat baik. Meskipun ada juga beberapa orang yang mengeluhkan katanya si Sarno ini suka menggoda pasiennya," lanjut Nilla menjelaskan.
"Sarno memiliki 3 sampai 5 centeng di rumahnya. Yang bertugas mengawal, dan menjaganya saat bermeditasi. Menurut informasi, pengawalnya itu akan selalu membuntuti Sarno ini kemanapun dia pergi. Kecuali ke satu tempat," ucap Nilla menatap tajam pada Wildan.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Wildan tak sabar.
"Kamar ritual, atau kamar penyembuhan untuk pasien," jawab Nilla.
"Jadi, tugasmu adalah pura-pura kesurupan menjadi korban pelet dari laki-laki yang menyukaimu. Aku akan ikut bersamamu, masuk ke dalam kamar ritual. Dan disanalah kita akan menyergap si paranormal itu," sahut Angel menjelaskan rencananya.
"Lhah, gimana kalau ketahuan sebelum aku dibawa masuk ke ruang ritual? Bukankah dia paranormal yang sudah terkenal? Pasti mudah untuk membedakan mana yang benar dan pura-pura kesurupan," bantah Wildan. Dia merasa rencana Angel kurang matang.
"Maka dari itu, aktingmu harus benar-benar meyakinkan. Dan jika tetap ketahuan, maka lakukan rencana kedua," jawab Angel sambil tersenyum penuh arti. Wildan mengernyitkan dahi.
"Gunakan taktik menggoda dan merayu Wilnona. Si Sarno terkenal genit, kalau dia tidak percaya dengan akting kesurupanmu maka buat dia percaya kalau kamu menginginkan waktu berduaan dengannya," lanjut Angel.
"Kamu sudah gila. Lagipula, apa kalian tidak khawatir kita salah orang? Bagaimana jika si Sarno ini bukan badut nomor 4, orang yang kita cari?" debat Wildan kesal.
"Informasi ini valid, dan tak mungkin keliru. Percayalah," sahut Nilla dengan wajah datar.
"Kita bisa membuktikan kebenaran informasi ini, dengan menanyai si Sarno. Sudahlah, lakukan saja tugasmu Wilnona!" hardik Angel. Wildan diam saja.
Tanpa sepengatahuan Wildan, Angel mengibaskan tangannya, memberi tanda pada Nilla agar mendekat padanya. Dua perempuan itu segera berjalan ke garasi mobil, meninggalkan Wildan sendirian yang sibuk menata wig merahnya.
"Kenapa kamu terlihat murung Nilla?" tanya Angel ketika sudah yakin Wildan tak akan mendengar percakapan mereka.
"Apakah pertanyaanmu ini perlu kujawab? Kupikir kamu sudah tahu alasannya," jawab Nilla memalingkan wajah.
"Kalau bukan karena memikirkan Bunda, sudah kujual rumah ini. Terlalu banyak kenangan indah yang akhirnya terasa menyedihkan jika dirasakan sekarang," sahut Nilla menatap dinding garasi yang kusam di hadapannya.
"Angel, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku dari kemarin," ucap Nilla kemudian.
"Apa itu?" Angel mengernyitkan dahi.
"Siapa yang sudah menghabisi Badut nomor 5, menyuntik Trisno dengan cairan natrium bikarbonat? Mungkinkah 'dia'?" tanya Nilla dengan sorot mata yang tajam.
"Tak mungkin." Angel menggeleng penuh keyakinan.
"Bukankah pelakunya sudah mempersiapkan cairan itu? Berarti sudah tahu persis kalau Trisno menderita stroke. 'Dia' tahu kan? Tahu darimu?" desak Nilla.
"Iya, dia tahu. Tapi tak mungkin 'dia' mempersiapkan cairan itu dengan instan Nilla," bantah Angel.
"Lalu siapa?" tanya Nilla.
__ADS_1
"Kemungkinan besar, si Arloji emas. Atau . . ." Angel tak melanjutkan kalimatnya. Dia terlihat ragu.
"Apa?" desak Nilla.
"Ada orang lain yang mengincar para Badut," jawab Angel ragu-ragu.
"Hah? Mana mungkin?" Nilla nampak tak percaya dengan ucapan Angel.
"Apa yang tak mungkin?" tiba-tiba Wildan bertanya. Laki-laki itu sudah berdiri di belakang Angel dan Nilla.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Jangan-jangan sedang membahas penampilanku ini ya?" tanya Wildan dengan wajah cemberut.
"Ah ya. Kita lagi atur strategi saja," jawab Angel beralasan.
"Aku masih belum yakin dengan rencana kali ini. Terasa konyol dan bod*h," ucap Wildan sambil mengibaskan rok panjangnya.
"Peluang gagal sangat tinggi. Kalau kita malah disandera para centeng si Sarno itu bagaimana?" Wildan nampak panik.
"Nilla akan tetap berada di dalam mobil. Kalau dalam satu jam kita belum keluar dari rumah si dukun itu, maka Nilla akan memanggil bantuan," jawab Angel santai.
"Bantuan?" Wildan mengerutkan keningnya. Angel mengangguk cepat.
"Aku semakin curiga kalau tim ini bukan hanya kita bertiga. Ada orang lain di belakang kalian yang memberi informasi, memberi dukungan, moril dan materiil," ujar Wildan dengan suaranya yang serak. Tenggorokannya terasa perih karena sedari tadi belajar mengubah suara selayaknya perempuan.
Bersambung___
Beginilah aku.
Nulis pun akhirnya bolong-bolong.
Tapi kuharap yang baca tetap bertahan.
Cerita ini akan kutulis sampai selesai.
Akhir tahun Alhamdulillah lagi banyak kesibukan.
Tapi bagiku menulis adalah salah satu prioritas, kegiatan yang menyenangkan.
Jadi, mari bersenang-senang dengan kisah para Badut hingga usai.
__ADS_1
Jangan bosan, jangan berpaling.
Love U All.