
Suasana klinik yang sepi mendadak menjadi sedikit riuh kala salah satu pasien di ruang UGD dinyatakan menghilang. Perawat yang bertugas jaga disalahkan karena dianggap lalai. Perawat tersebut beralasan pergi ke toilet sebentar dan saat dia kembali, pasien beserta ranjangnya telah raib. Pengantar pasien pun tidak ada lagi di ruang tunggu.
Adi mendengar kehebohan yang terjadi, segera beranjak dari duduknya. Rasa khawatir kembali mencuat, terbayang di benaknya jika sosok Tarji yang menghilang dari ruang perawatan. Adi mendorong pintu masuk ruang UGD yang sebenarnya adalah jenis pintu geser. Saking panik dan gusar, Adi tetap memaksa membuka pintu hingga akhirnya seorang perawat datang mendekat.
"Mohon tetap tenang Pak," ucap perawat berparas ayu.
"Teman saya ada di ruang UGD. Dan kudengar terjadi kehebohan ada pasien yang menghilang. Saya harus memeriksanya," ujar Adi tak sabar.
Perawat menggeser pintu dan mempersilahkan Adi untuk masuk ruang UGD. Ternyata Tarji masih ada disana dengan perban di kepala yang sudah diganti. Laki-laki itu terlihat tidur dengan pulas.
"Rekan Njenengan dalam kondisi yang stabil Pak," ucap perawat kalem. Seketika Adi berjongkok, kekhawatiran di hatinya menguap.
"Terimakasih Mbak," tukas Adi setelah menghela nafas.
"Mohon maaf, saya seorang petugas kepolisian. Jika boleh saya tahu, siapa pasien yang hilang dan membuat klinik ini menjadi heboh?" tanya Adi penuh selidik. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk membantu membuatnya tak bisa menahan pertanyaan yang muncul di benaknya.
"Sebenarnya semua sudah terkondisikan Pak. Kami menduga mungkin pengantarnya tidak memiliki uang untuk membayar. Jadi mereka lari. Dari pihak klinik sudah memeriksa cctv dan memang terlihat jelas, pengantarnya lah yang mengajak pasien itu keluar dari klinik. Kami tidak ingin memperpanjang urusan ini," jawab Perawat menerangkan.
"Oh begitu. Apakah pengantarnya adalah perempuan yang duduk di sebelah saya tadi? Karena kulihat sepertinya dia memang benar-benar dalam kesulitan. Menangis saja sepanjang waktu." Adi berdiri dari jongkoknya.
"Iya Pak, benar. Pasien bernama Wildan. Dan perempuan di sebelah Bapak tadi adalah pengantarnya," jawab perawat membenarkan.
__ADS_1
"Wildan?" Adi terbelalak kaget.
Perawat hanya mengangguk meski melihat ekspresi Adi yang nampak aneh.
"Bisakah saya melihat catatan identitas pasien tersebut?" tanya Adi setelah mengatasi rasa terkejutnya. Bisa saja Wildan itu bukan Wildan yang tengah menjadi buronan kepolisian. Hanya sekedar memiliki nama yang serupa.
"Mohon maaf, identitas pasien tidak bisa kami tunjukkan secara sembarangan Pak," balas perawat tegas.
"Mungkin Njenengan pernah dengar di berita, baik itu Tv lokal ataupun media cetak tentang kasus tewasnya para lansia dengan tersangka seorang laki-laki bernama Wildan. Aku harus melihat data pasien yang kabur tadi. Mungkin bisa saja hanya nama yang sama, tapi sudah menjadi tugas saya untuk tidak melewatkan satupun petunjuk meskipun berasal dari sebuah kebetulan," jelas Adi dengan tatapan mata yang tajam.
"Mohon maaf, ada baiknya Njenengan langsung bicara saja dengan kepala klinik di ruangannya. Saya tidak berhak memutuskan, apalagi ini tentang kebijakan yang sudah tertulis," jawab Perawat sembari menunduk. Adi menghela nafas. Meski dia sedang tak ingin membuang waktu, namun prosedur dan aturan memang harus tetap dipatuhi.
Setelah berdiskusi dengan kepala klinik selama beberapa menit, akhirnya Adi mendapatkan ijin dan akses untuk melihat biodata pasien juga rekaman cctv. Adi memeriksa dengan teliti biodata pasien bernama Wildan itu dan mencocokkannya dengan biodata buronan yang dia cari. Tempat tanggal lahir juga nomor kependudukan sama persis.
"Tidak salah lagi," gumam Adi memegangi dagunya.
"Mbak, untuk pengantar pasien tadi siapa namanya? Yang mana biodatanya?" tanya Adi pada perawat yang duduk di sebelahnya.
"Ini Pak. Namanya Nilla," jawab perawat dengan ramah.
Adi memfoto biodata Nilla. Sebuah alamat tertera disana. Adi tersenyum kali ini. Benang kasus yang awalnya sangat kusut kali ini terasa mulai terurai dengan bantuan roda takdir.
__ADS_1
Setiap hal, baik dan buruk, selalu ada hikmah di ujungnya. Adi benar-benar percaya akan hal itu saat ini. Cidera yang dialami Tarji nyatanya mengantarkan dirinya lebih dekat dengan Wildan dan siapapun yang terlibat dengan kasus tewasnya para lansia.
Tepat jam 9 malam, Tarji sudah dipindahkan dari ruang UGD ke kamar perawatan. Adi meminta ruangan terbaik untuk sahabatnya itu. Selepas memastikan Tarji sudah dalam kondisi yang stabil, Adi bergegas keluar klinik. Dia menyambar motor di parkiran dan melesat membelah udara malam yang beku.
Adi menuju ke sebuah alamat di wilayah kota sebelah. Suasana jalanan terasa lengang padahal malam belum terlalu larut. Hanya ada satu dua truk yang melintas. Mungkin hujan dan udara dingin membuat orang-orang enggan keluar rumah.
Tidak butuh waktu lama. Dengan kecepatan tinggi, hanya sekitar 15 menit saja Adi sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah dengan halaman yang luas terlihat kurang terawat penuh rumput liar di bagian depan. Lampu dua jari berpendar temaram di bagian teras.
Adi memarkir motornya di seberang jalan. Dia berjalan mengendap-endap menuju ke bangunan yang nampak usang itu. Sekilas pandang pun semua orang akan tahu, rumah itu sudah tidak dihuni. Adi merogoh handphone di saku celana dan melihat foto tangkapan layar komputer dari klinik tadi. Dia berusaha memastikan kalau dirinya tidak salah alamat.
"Benar disini, tapi rumahnya kosong. Sial! Kupikir aku sudah dekat dengan penyelesaian kasus itu, nyatanya masih juga seperti benang kusut," gerutu Adi kesal.
Adi mengamati rumah di hadapannya. Papan nama di dinding teras terbaca jelas nama Seruni. Kemudian pandangan Adi tertuju pada garasi di sebelah teras yang gelap gulita. Saat Adi mendekat barulah terlihat sebuah mobil hitam terparkir disana.
Mobil dalam keadaan terkunci. Adi mengintip melalui kaca jendela dan tidak menemukan sesuatu yang aneh ataupun mencurigakan. Satu hal yang pasti, mobil itu nampak cukup terawat. Ada beberapa kemungkinan yang terbersit di benak Adi. Bisa jadi mobil itu milik tetangga sekitar yang sengaja menitipkan disana. Atau mungkin sang pemilik rumah secara berkala mengunjungi bangunan tak terawat itu.
"Haruskah aku menunggu dan mengintai rumah ini?" gumam Adi nampak bingung.
Di tengah kebimbangannya, Adi teringat suatu petunjuk penting. Ekspresinya berubah dan terlihat bersemangat kala melihat ponsel di tangannya.
Adi baru teringat kalau Nilla tadi meminjam handphone dan menghubungi seseorang. Adi pun segera memeriksa riwayat panggilan keluar di handphone miliknya. Dan benar saja, tersimpan sebuah nomor tanpa nama disana.
__ADS_1
"Nomor ini . . .nomor khusus biro kepolisian," pekik Adi tertahan. Sebelas digit nomor telepon yang unik terlihat di layar. Adi mengenalinya, kini sebuah petunjuk besar ada dalam genggaman.
Bersambung___