
Jam 5 pagi, Wildan terbangun karena suara berisik tetangga sebelah rumah yang tengah bertengkar hebat. Sedangkan Angel dan Nilla yang tidur di dalam kamar tak terusik sama sekali. Mereka sudah terbiasa hidup di tengah bisingnya kota.
Wildan beranjak dari kasur lantai lusuh dan berjalan gontai ke halaman belakang. Udara dingin menerpa wajah membuat hidungnya terasa gatal. Sayup-sayup masih terdengar suara umpatan, dan benda-benda dibanting dari rumah sebelah.
Ingatan Wildan kembali ke masa lalu. Saat keluarganya masih utuh. Ibuknya yang selalu tulus, sabar dan penyayang membuat keluarga kecil sederhana itu selalu tenteram. Bapaknya tak pernah sekalipun berbuat kasar, baik itu verbal ataupun fisik.
Masa-masa yang teringat bagai album foto lawas. Ada di pelupuk mata, namun terlihat sedikit buram. Bahkan terkadang Wildan susah membedakan mana ingatan sebenarnya dan mana yang hanya mimpi semu belaka.
Wildan melangkah keluar dari halaman belakang. Dia menemukan sebuah parit dengan airnya yang cukup jernih. Ada beberapa berudu hitam yang berenang melawan arus, nampak lucu dengan bentuk badannya yang bulat utuh.
"Bahkan berudu saja tahu tujuan hidupnya adalah untuk menjadi seekor katak. Sedangkan aku, nggak punya gambaran di masa depan mau jadi apa," gumam Wildan sendirian.
Terdengar suara pintu dibanting dari rumah sebelah. Wildan spontan berdiri dan menoleh. Seorang perempuan berambut panjang dengan warna merah menyala terlihat berjalan dengan kaki menghentak. Meski udara pagi terasa beku, namun perempuan itu hanya mengenakan piyama tipis dengan dua kancing atasnya yang terbuka.
Sadar ada yang memperhatikan, perempuan cantik itu balik menatap Wildan. Matanya nampak memerah, mungkin dia baru saja menangis setelah pertengkaran hebat yang baru saja terjadi.
"Apakah pertengkaranku mengganggu pagimu?" tanya perempuan itu pada Wildan.
"Emm, tentunya aku bohong kalau menjawab tidak terganggu," sahut Wildan berusaha berkelakar.
"Oohh," gumam perempuan itu, menyulut rokok di bibirnya. Menyesap dalam-dalam, kemudian menghembuskan asap putihnya ke udara. Karbonmonoksida melayang-layang mengotori udara pagi yang bersih.
"Maaf, bukannya mau ikut campur. Tapi menurutku semua hal bisa dibicarakan tanpa harus emosi, apalagi dengan suami sendiri," ucap Wildan mencoba memberi nasehat. Entah kenapa dia teringat dengan Ika yang kabarnya juga tengah dirundung masalah rumah tangga.
"Suami? Ha ha ha. Aku belum menikah," sahut perempuan yang kini sudah menghabiskan sebatang rokok.
"Hah? Lalu yang bertengkar denganmu tadi?" Wildan bingung.
"Dia pacarku. Mantan sih lebih tepatnya. Kami bertengkar dan baru saja putus," jawab perempuan itu santai. Wildan melongo dibuatnya.
__ADS_1
"Kamu terlihat kaget. Kenapa?" Perempuan itu balik bertanya.
"Kalian baru pacaran sudah tinggal bareng? Gilak!" Wildan geleng-geleng kepala.
"Ha ha ha, tak usah heboh begitu. Di daerah sini apa yang kulakukan sudah biasa terjadi. Waahh, kamu baru ya tinggal disini? Pantas saja aku nggak pernah lihat wajahmu. Kenalin aku Inka." Perempuan cantik itu tiba-tiba memperkenalkan diri.
"Ah, ya rumah ini milik temenku sih. Aku cuma numpang. Namaku Wil-." Wildan tiba-tiba terdiam tak meneruskan kalimatnya. Dia ragu untuk memberitahukan namanya. Bagaimana kalau perempuan bernama Inka itu sudah melihat berita di media sosial? Bukankah nama Wildan sudah menjadi target yang dikejar polisi? Meskipun banyak varian Wildan di dunia ini, namun terlalu beresiko rasanya.
"Hah? Siapa namamu?" Inka bertanya penasaran.
"Emm, anu namaku Willy," jawab Wildan berbohong.
"Darimana asalmu?" tanya Inka sekali lagi.
"Dekat-dekat sini aja kok," jawab Wildan beralasan.
"Oohh oke. Aku mau masuk dulu beresin piring yang tadi dibanting sama lelaki sial*n itu!" gumam Inka sembari melempar puntung rokok ke sembarang tempat.
"Maaf, aku tidak ngerokok," sahut Wildan menggeleng pelan.
"Waah, padahal penampilanmu cocok rasanya kalau 'ngudud'. Dan satu lagi, berhubung saat ini aku resmi menjomblo kamu boleh datang ke tempatku kalau sedang luang. Akan kubuatkan kopi." Inka mengedipkan sebelah mata kemudian beranjak masuk ke dalam rumahnya. Wildan diam membatu, seolah terhipnotis oleh kecantikan medusa.
Pada saat yang sama, pintu dapur dibuka dari dalam. Sepasang kaki nampak melangkah gontai menuju kamar mandi. Rambut sebahu yang sedikit acak-acakan tak mengurangi aura kecantikannya. Angel menghentikan langkah kala menyadari tengah diawasi oleh Wildan.
"Ngapain kamu disitu? Mau ngintip orang mandi ya?" hardik Angel ketus.
"Baru bangun tidur sudah langsung makan rawit. Mulutmu pedes!" gerutu Wildan kesal.
"Hari ini aku dan Nilla mau pergi sebentar. Kamu kutugasi untuk jaga rumah. Jangan coba-coba kabur ya. Ingat, kamu sekarang adalah buron!" Angel melotot.
__ADS_1
"Daripada kamu khawatir aku kabur, bukankah lebih baik kemanapun kalian pergi aku ikut," sahut Wildan sambil tersenyum.
"Untuk kali ini kamu di rumah saja. Diam dan tunggu kami pulang!" bentak Angel.
Wildan mulai terbiasa dengan sikap ketus dan galak Angel. Dia tak terlalu tertekan dengan ucapan-ucapan bernada ancaman dari perempuan cantik itu.
"Memangnya mau kemana sih?" tanya Wildan cengengesan.
"Bukan urusanmu!" Angel berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya dengan kencang. Wildan geleng-geleng kepala.
Jam 8 pagi, Angel dan Nilla nampak rapi mengenakan kemeja berwarna putih. Nilla begitu kalem dengan sebuah bando hitam di kepala. Begitupun Angel sedikit berbeda dari biasanya. Dia mengenakan celana jeans hitam, terlihat rapi tak ada lubang di bagian lutut.
"Jaga rumah!" Angel melotot ke arah Wildan yang tengah tiduran di depan tv.
"Satu lagi. Tolong masakin sesuatu dong buat makan siang nanti," pinta Nilla kalem.
"Memangnya ada bahan masakan di dapur?" tanya Wildan.
"Ada kok, tadi sempat belanja ke tukang sayur keliling aku," jawab Nilla. Wildan pun mengangguk setuju.
Angel keluar rumah terlebih dahulu. Menghidupkan motor maticnya selama beberapa menit, kemudian mengajak Nilla untuk segera berangkat. Wildan sebenarnya sangat penasaran, hendak kemana dua perempuan itu meninggalkan dirinya di rumah sendirian. Namun, hingga suara motor matic Angel menghilang di kejauhan, Wildan tak mendapatkan jawaban.
Angel mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia memeriksa spion, berjaga-jaga kalau Wildan ternyata membuntutinya. Motor terus melaju, menuju ke kota T.
Tak butuh waktu lama, setelah dua puluh menit di perjalanan, motor Angel berbelok di sebuah pasar bunga yang terletak di tepian sungai. Tanaman warna warni yang memanjakan mata berjajar di depan kios-kios dengan cat dinding beraneka rupa.
Angel memarkir motornya tepat di depan sebuah kios yang nampak paling luas di antara yang lain. Pintu kacanya terlihat bening tanpa noda. Sebuah pamflet dari kayu tergantung di depan toko bertuliskan 'Selamat datang di toko bunga AdiSinta'.
Seorang perempuan cantik dan anggun menyambut kedatangan Angel dan Nilla. Senyuman yang selalu nampak tulus dan ramah membuat Nilla kagum dengan pemilik kios bunga itu. Pun dengan Angel. Perempuan yang galak dan sedikit urakan itu seringkali seperti terhipnotis bertingkah kalem kala bercengkerama dengan sang pemilik kios.
__ADS_1
"Mbak Angel dan Mbak Nilla selamat datang. Mau ambil pesanan buket mawar putih kan?" sapa pemilik kios bunga dengan ramah.
Bersambung___