12 Badoet

12 Badoet
Telungpuluh Wolu


__ADS_3

"Sungguh aku menyesal Nona. Bahkan benda hasil rampasan itu tak secuilpun kusentuh. Tetap tersimpan dalam lemari kamar," ucap Ki Sarno bersungguh-sungguh.


"Apa kamu pikir aku akan percaya? Bukankah hidupmu penuh dengan kemewahan?" bantah Angel.


"Sungguh. Semua harta benda yang kumiliki ini adalah pemberian pasien yang datang kemari. Se ujung kuku pun tak kuambil harta benda milik Sumiran." Ki Sarno berusaha meyakinkan Angel.


"Kalau kamu sedemikian menyesal, kenapa tak menyerahkan diri saja ke polisi untuk penebusan dosa mu?" bantah Angel cepat.


Ki Sarno terdiam kali ini. Raut wajahnya menunjukkan kebimbangan. Wildan merasa iba, menyekap orang tua hingga ketakutan seperti itu. Bukankah tujuannya sudah tercapai, menanyakan soal isi surat wasiat Bapaknya. Kenapa Angel malah menanyakan hal yang di luar rencana?


"Aku tidak mungkin melapor ke polisi," ucap Ki Sarno lirih.


"Kenapa?" desak Angel tak sabar.


"Karena nomor 8 adalah seorang petugas. Setelah kasus perampokan itu, dia naik pangkat. Pada akhirnya dia menjadi orang berpengaruh di wilayah kota kabupaten. Kalau aku melapor atau menyerahkan diri, mungkin saja aku takkan selamat," jawab Ki Sarno.


"Dasar pengecut! Itu membuktikan penyesalanmu hanya sebatas di bibir saja," sahut Angel mengejek.


"Nona, aku hanya ingin hidup damai dengan ilmu yang kupelajari. Aku ikut komplotan itu pun karena rencana awal hanya mengambil harta Pak Sumiran yang ada di rumah. Aku tak menduga bakal ada yang kehilangan nyawa," bantah Ki Sarno.


"Siapa yang sudah menghabisi Sumiran?" tanya Angel dengan tangan gemetar. Suasana mendadak hening. Wildan pun merasa gugup menunggu jawaban Ki Sarno. Bagaimanapun dia berharap bukan Bapaknya yang telah merenggut nyawa sang pengusaha kaya raya itu.


Belum sempat Ki Sarno menjawab, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Angel mencengkeram kuat-kuat pundak Ki Sarno.


"Ki, nuwun sewu. Sudah lebih lima belas menit. Apa ada masalah?" suara salah satu centeng Ki Sarno bertanya.


"Cepat jawab agar mereka diam di tempatnya!" Angel berbisik memberi perintah. Pisau lipat ditekannya kuat-kuat.


"Ah ya, beri waktu sebentar lagi. Kalian diam saja disana!" ucap Ki Sarno setengah berteriak.


"Baik Ki," jawab centeng Ki Sarno dari balik pintu. Suasana kembali sunyi.


"Waktu kalian tidak banyak. Lepaskan aku dan kita lupakan pertemuan ini. Aku akan memberikan uang atau apapun yang kalian mau. Selama ada dan mampu, aku pasti akan memberikannya. Sungguh, percayalah." Ki Sarno kembali mencoba bernegosiasi.


"Aku tak butuh uangmu! Jawab saja pertanyaanku! Siapa yang sudah membun*h Sumiran?" Angel mengulangi pertanyaannya.


"Sumpah aku nggak tahu. Waktu itu terdengar bunyi tembakan. Dan Sumiran sudah tergeletak di lantai. Seingatku ada 3 orang yang memegang senjata dan mengepung tubuh Sumiran yang tengah tersungkur," ujar Ki Sarno mengingat-ingat.

__ADS_1


"Siapa?" desak Angel.


"Nomor 2 Umar, Nomor 7 Santoso dan satu lagi aku nggak kenal. Sumpah," jawab Ki Sarno bersungguh-sungguh.


"Brengs*k! Bertanya padamu tak ada gunanya!" bentak Angel sambil mengayunkan telapak tangannya tepat ke arah tengkuk Ki Sarno.


"Upphhh!" Ki Sarno mengaduh, kemudian terhuyung dan jatuh pingsan.


"Apa yang kamu lakukan? Dia mati?" Wildan melotot menatap Angel. Dia sama sekali tak menduga Angel bakal memukul lelaki sepuh sekuat tenaga.


"Hanya pingsan. Sekarang kita baringkan tubuhnya. Lepas ikatan tangannya, juga kancing baju, dan biarkan rambutnya yang beruban itu acak-acakan!" perintah Angel. Meski Wildan tak memahami rencana Angel, dia tetap menurut dan mengikuti arahan Angel. Tidak ada waktu untuk berdebat.


"Bau sekujur tubuh kakek tua ini benar-benar busuk, seperti kelakuannya!" gerutu Angel kesal.


"Huh, sekarang buat rambut dan kaosmu sedikit acak-acakan!" perintah Angel sambil menghela nafas setelah membaringkan Ki Sarno di karpet. Dia mengusap peluh yang membasahi pelipisnya.


"Ayo cepat! Jangan bengong saja!" bentak Angel saat melihat Wildan yang diam mematung. Dengan sedikit gelagapan, Wildan menuruti perintah Angel. Mengacak-acak rambut palsu, juga kaosnya. Angel membantu dengan sedikit menarik rok Wildan agar melorot.


"Sekarang ayo kita keluar," ajak Angel sambil tersenyum penuh arti. Dia menarik badan Wildan dan merangkulnya, seperti saat mereka masuk ke dalam kamar tadi.


Angel membuka pintu. Para centeng terlihat sigap berdiri dari duduknya. Centeng yang berambut gondrong berjalan mendekat. Memperhatikan Wildan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Kenapa lama sekali?" tanya centeng penuh selidik.


"Apa matamu tak melihat? Temanku dibuat acak-acakan begini? Hah?" bentak Angel tak gentar. Wildan buru-buru mengeluarkan suara mengerang lirih.


"Bagaimana dengan Ki Sarno? Dimana beliau?" Centeng itu terlihat sedikit panik.


"Lihat saja sendiri. Dia tertidur dalam kamar." Angel sedikit membentak. Centeng berambut gondrong melongok ke dalam kamar. Dan memang mendapati Ki Sarno yang terlihat tidur pulas. Dari kejauhan nampak sedikit senyuman di bibir laki-laki sepuh itu.


Angel masih merangkul Wildan dan segera meninggalkan ruangan para centeng. Mereka kembali melewati lorong sempit nan gelap. Angel sempat menjewer telinga Wildan karena laki-laki itu tetap berpura-pura lunglai bahkan ketika tidak ada orang yang melihat dan menempel-nempel di dada Angel.


Mereka berhasil keluar dari rumah Ki Sarno Legowo. Saat melewati halaman depan, langkah kaki pun dipercepat. Wildan melemparkan wig nya kala sudah masuk dalam mobil. Angel segera menghidupkan mobil dan menginjak pedal gas nya dalam-dalam.


"Gimana?" tanya Nilla di kursi belakang. Perempuan berkacamata itu terlihat sedang makan keripik singkong.


"Halah, percuma. Dukun itu tidak tahu apapun," gerutu Angel.

__ADS_1


"Siapa Melati?" tanya Wildan tiba-tiba sambil melepas bulu mata palsu.


"Sudah kukatakan untuk tidak banyak bertanya," sahut Angel ketus.


"Soal surat wasiat Bapakmu gimana Wil?" tanya Nilla mengalihkan perhatian.


"Menurut Ki Sarno, yang dimaksud tempat semua berawal itu adalah rumah Pak Sumiran. Jadi, kita bisa segera kesana. Kalian pasti sudah tahu kan rumahnya?" sahut Wildan balik bertanya.


"Tidak segampang itu." Angel menggeleng perlahan.


"Kenapa?" Wildan mengernyitkan dahi.


"Rumah Bapakku sekarang sudah beralih fungsi." Nilla terdengar menghela nafas.


...****************...


Sementara itu di dalam kamar tidurnya, polisi Adi tengah mengamati berkas-berkas usang yang tadi dia pungut dari gudang penyimpanan kantor. Secangkir cokelat panas menemani malamnya yang dingin. Sebenarnya dia sedang kurang enak badan, tapi matanya yang memerah masih sulit untuk terpejam.


Adi memang memutuskan tidak lembur di kantor malam ini. Namun tetap saja, di rumah pun dia masih bergelut dengan berkas-berkas penyelidikan. Kalau Tarji atau Sinta tahu kelakuan Adi yang seperti ini, pasti langsung ngomel panjang lebar kali tinggi.


Ada sebuah artikel dan catatan yang menarik perhatiannya. Adi memijat-mijat keningnya yang terasa berdenyut.


"Jadi, kantor yang sekarang kutempati adalah bekas rumah dari korban perampokan tahun 91. Bekas rumah Pak Sumiran," gumam Adi sendirian. Asap tipis dari cangkir berisi cokelat panas menerpa wajahnya.


Bersambung___


Hai Gaes.


Setelah kubaca ulang tulisanku yang ini kok berasa agak ruwet yak 😅.


Komentar dong, kritik dong, saran dong.


Lagi butuh banget, suwer deh.


Yang pedes pun boleh kok. Untuk perbaikan.


Tengkiyu.

__ADS_1


__ADS_2