12 Badoet

12 Badoet
Sewidak Siji


__ADS_3

Takdir memiliki cara tersendiri untuk membuat lelucon jalan hidup manusia. Tanpa disadari, malam ini Adi dan Tarji satu lokasi dengan buron yang mereka cari. Adi duduk dengan ekspresi cemas di ruang tunggu UGD salah satu klinik swasta di pinggiran kota. Di sebelahnya ada Nilla yang tak kalah gusar tengah menggenggam gawai nya yang mati total.


Dua orang yang tidak saling mengenal dalam ruangan yang sama. Terdiam membisu dengan pikirannya masing-masing yang rumit. Meski tidak kenal satu sama lain mereka memiliki satu hubungan yang unik, yaitu sama-sama berurusan dengan laki-laki bernama Wildan.


Adi sedari tadi terdiam membisu, terbayang kondisi Tarji yang mengenaskan. Beberapa kali tangannya terkepal erat. Geram, marah, kesal namun tidak tahu harus kemana semua emosi itu disalurkan. Selama beberapa waktu Adi terjebak dalam pikirannya sendiri. Hingga akhirnya suara terisak yang berasal dari perempuan yang duduk di sebelah menyadarkannya.


"Maaf Mbak, adakah yang bisa saya bantu?" tanya Adi setelah berdehem, menekan emosinya, mengeluarkan suara yang terdengar lebih lembut. Meskipun amarah menguasai hati, tapi Adi sadar betul bahwa manusia tidak boleh kehilangan rasa pedulinya terhadap sekitar. Apalagi dia adalah seorang aparat yang bertugas mengayomi warga.


Nilla menoleh seketika. Sebenarnya sejak tadi Nilla tidak menyadari ada orang lain yang duduk di sebelahnya. Rasa sedih dan bingung membuat matanya seolah tertutup. Kini dia mengamati sosok tegap berparas tampan yang menyapanya.


"Maaf Mbak bukannya saya sok kenal atau sok akrab. Tapi mungkin Mbak nya membutuhkan bantuan? Apapun itu, kalau saya bisa, akan saya bantu," ujar Adi sekali lagi.


Nilla menggeleng perlahan, kemudian menunduk kembali. Membenamkan wajahnya dalam tangisan. Dia bingung harus bagaimana. Nilla merasa tak sekuat dan setegar Angel. Saat orang-orang terdekatnya terluka, dia hanya bisa menangis.


Adi menghela nafas. Merasa bersalah, telah menyapa perempuan di sampingnya. Dia lupa bahwa ada kalanya seseorang lebih nyaman dibiarkan sendiri saat sedang bersedih. Tidak semua kesedihan membutuhkan pertolongan. Terkadang kesedihan hanya butuh ketenangan untuk meluapkannya.


"Mas?" panggil Nilla setelah mengusap air matanya.


"I iya mbak?" Adi gelagapan.


"Bolehkah saya pinjam handphone nya? Handphone saya mati Mas," pinta Nilla lirih.


Adi mengangguk cepat dan segera menyerahkan gawai dengan logo jeruk di bagian belakangnya itu.


"Bolehkah saya memakainya untuk menelpon?" tanya Nilla sekali lagi. Adi pun hanya mengangguk cepat.


Nilla segera beranjak dari duduknya dan berdiri di sudut ruangan sembari menekan beberapa angka di layar handphone. Adi sempat mengamatinya sekilas, kemudian mengalihkan pandangan pada langit-langit ruang tunggu klinik.

__ADS_1


Nilla menghubungi sebuah nomor. Setelah berdering beberapa saat barulah telepon diangkat. Suara laki-laki terdengar. Terlihat ekspresi Nilla lebih tenang kali ini.


"Abang, ini aku Nilla," ucap Nilla pertama kali saat panggilan diterima.


"Hah? Kamu ganti nomor? Ada apa?" tanya laki-laki yang dipanggil Abang.


"Ak aku sedang di klinik. Aku pinjam handphone orang," jawab Nilla terbata-bata. Dia bingung hendak memulai cerita darimana.


"Sedang apa di klinik? Bukankah seharusnya kalian pergi ke tempat si nomor 3?" tanya Si Abang.


"Ceritanya panjang Bang. Aku hanya ingin meminta bantuan," ujar Nilla dengan suara yang semakin lirih.


"Apa?" tanya Si Abang dengan nafas yang terdengar berat. Terdengar pula bunyi pintu mobil yang ditutup.


"Angel Bang. Dia tertinggal di rumah nomor 3. Aku khawatir sesuatu yang buruk menimpanya. Abang kali ini harus turun tangan. Bagaimanapun dia adalah adikmu Bang," pinta Nilla mendongak menatap langit-langit. Ada air mata yang tertahan pada pupil yang bening di balik kacamata berlensa tebal.


"Kamu tidak perlu mengatakan tentang hal itu. Aku tahu, aku ngerti. Aku akan mencari Angel. Tapi aku harus menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu. Kurasa aku menemukan salah satu Badut yang menyerahkan diri. Ambil nafas, minum air, dan tenangkan dirimu," tukas Si Abang mengakhiri telepon. Panggilan ditutup meski Nilla masih ingin berbicara.


Nilla hanya bisa pasrah kini. Tidak ada yang bisa dia lakukan.


"Terimakasih banyak Mas," ucap Nilla sambil menunduk mengembalikan ponsel milik Adi.


Belum sempat Adi membalas ucapan terimakasih dari Nilla, namanya dipanggil oleh seorang perawat. Rupanya perawat itu menanyakan identitas pasien dan pengantarnya. Nilla sempat melihat Adi mengeluarkan dompet, dan sebuah tanda pengenal.


Betapa terkejutnya Nilla saat menyadari kalau Adi adalah seorang petugas kepolisian. Pikirannya semakin kalut dan gusar. Tanpa pikir panjang dia menerobos masuk ke ruang UGD.


Ruang UGD terasa dingin. Suasana begitu sunyi. Hanya ada 2 orang yang tengah terbaring di ranjang dengan sprei berwarna hijau. Salah satunya adalah Wildan yang cukup terkejut dengan kedatangan Nilla.

__ADS_1


Wildan sudah diperban bagian kakinya yang terluka. Selang infus pun telah terpasang. Laki-laki itu berusaha untuk duduk melihat kedatangan Nilla yang terlihat buru-buru.


"Kita harus segera pergi dari tempat ini!" ujar Nilla panik.


"Ada apa?" Wildan mengernyitkan dahi tak mengerti.


Nilla mengedarkan pandangan. Toleh kiri kanan dan memperhatikan pasien yang berbaring di ranjang sebelah. Pasien itu diam dengan mata terpejam.


"Laki-laki itu adalah polisi. Dia bersama seorang teman yang juga seorang petugas. Bisa bahaya jika dia mengenalimu," jawab Nilla, masih terus mengedarkan pandangannya. Dan menemukan sebuah jas dokter yang tergantung di sudut ruangan.


Buru-buru Nilla menyambar jas putih tersebut. Kemudian mengenakan masker dan mempelajari peta klinik yang terpasang di dinding ruang UGD. Selanjutnya Nilla mendorong ranjang tempat Wildan terbaring. Dia keluar ruangan lewat pintu bagian belakang sembari menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya agar tak ada yang mengenali.


Hujan masih mengguyur dengan lebat. Udara pun terasa sangat beku. Klinik yang besar itu terasa lengang nan sepi. Hanya sesekali terlihat perawat yang berjalan di lorong. Nilla terus mendorong ranjang Wildan hingga sampai di gudang belakang.


Saat dirasa tak ada orang yang memperhatikan, Wildan melepas selang infus dengan sedikit kasar. Cairan infus menyembur membasahi ranjang. Sedangkan lengan Wildan nampak berdarah.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nilla dengan nafas tersengal.


"Aku sudah sempat disuntik pereda nyeri juga anti tetanus. Kurasa akan baik-baik saja," jawab Wildan bersungguh-sungguh.


Wildan berusaha turun dari ranjang. Namun sayangnya, luka di kaki kembali terasa nyeri. Wildan hampir saja ambruk ke lantai. Beruntung Nilla cukup cekatan untuk menangkap dan merangkulnya.


Luka di kaki Wildan kembali terbuka. Perban yang melilitnya nampak basah dengan bercak kemerahan yang beraroma anyir. Wildan meringis kesakitan. Nilla kian gusar, jika tidak cepat berpindah tempat pasti perawat yang seharusnya berjaga di UGD segera menyadari salah satu pasien melarikan diri.


"Jangan panik, Nil. Kita memutar lewat belakang. Kita pulang saja ke rumah, sambil menunggu Angel," usul Wildan dengan bibirnya yang terlihat pucat bahkan sedikit membiru.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2