
"Bukankah sudah kukatakan untuk diam dan nurut saja!" bentak Angel galak.
"Kita bertiga adalah sebuah tim, seharusnya kalian jujur padaku agar rencana-rencana kita berjalan pada jalurnya," balas Wildan melotot. Dia mulai berani membantah Angel.
"Siapa bilang kalau kita adalah tim? Yang harus kamu ingat di dalam kepala adalah tanpa kamu pun aku dan Nilla bisa melakukan pencarian para Badut. Selama ini kami bergerak berdua. Pertemuanku denganmu hanya sebuah kebetulan karena aku membuntuti Badut nomor 6 hingga ke rumahmu." Angel mengacungkan telunjuknya ke wajah Wildan.
"Kubiarkan kamu ikut dengan rencana kami berdua tak lebih karena kebaikan hatiku. Kupikir kamu senasib sepertiku. Hidup hancur gara-gara topeng Badut sial*n itu! Jangan berpikir aku membutuhkanmu dalan pencarian para Badut ini. Big No! Dengan atau tanpamu, aku akan tetap bertindak. Jadi, berhenti merengek kalau masih ingin bergerak bersama kami!" ancam Angel dengan wajahnya yang memerah. Wildan kali ini terdiam, kehabisan kata-kata.
Angel bergegas meninggalkan Wildan yang masih berdiri mematung. Nilla mengekor di belakang Angel menuju ke mobil yang ada di tengah halaman rumah.
"Apa kamu tidak merasa berlebihan padanya Ngel?" tanya Nilla setengah berbisik. Angel mendadak menghentikan langkahnya dan menoleh pada Nilla.
"Tidak ada waktu untuk merengek Nilla. Apa yang kukatakan adalah sebuah kenyataan. Kalau dia berguna silahkan ikut di perburuan ini. Kalau dia hanya menjadi duri, lebih baik dicabut mulai sekarang sebelum tertancap lebih dalam," jawab Angel tegas.
Nilla pun tak mampu membalas ucapan Angel. Dia hafal betul, sikap Angel yang keras kepala, dan sulit menerima pendapat orang lain. Meski demikian, Angel adalah orang yang mengedepankan tujuannya lebih dari apapun.
Terkadang Nilla merasa prihatin pada Angel. Perempuan itu selalu terlihat penuh amarah. Terasa kurang bisa menikmati ragam warna dunia. Padahal dalam kehidupan, bukan hanya ada warna kelam penuh dendam. Namun juga ada warna-warna cerah yang melambangkan cinta dan kebahagiaan.
Beberapa hari ini, Nilla mengamati Angel sedikit berubah saat bersama Wildan. Ada tawa yang terdengar, ada wajah merah merona, ada juga ekspresi-ekspresi lain yang ditunjukkan perempuan yang biasa memasang wajah sangar. Nilla menduga, Angel ingin menutupi atau menekan perasaannya itu.
Nilla berharap dalam hatinya, semoga Wildan masih bersedia bersama mereka. Nilla ingin melihat Angel memiliki ekspresi ceria dan bisa memandang dunia dari sudut yang berbeda. Kehidupan bagai sekeping koin. Selalu ada dua sisi yang harus dilihat. Jika ada sisi dendam dan kesedihan pasti ada sisi lain berupa rasa bahagia dan keceriaan. Jika seseorang hanya berada di satu sisi saja, maka hidupnya takkan seimbang.
Harapan Nilla pun nyatanya terkabul. Saat mereka masuk ke dalam mobil, nampak dari kaca spion, Wildan menyusul dengan cara jalannya yang terseok-seok. Sepertinya dia kesulitan melangkah akibat sepatu high heels yang dikenakan.
__ADS_1
"Aku ikut dengan kalian," ucap Wildan setelah ikut masuk ke dalam mobil. Dia mengambil duduk di kursi sebelah Angel yang berada di belakang kemudi.
"Aku akan berusaha untuk tidak banyak bertanya. Karena setelah kupikir-pikir, jika tidak bertemu kalian mungkin hidupku sudah tak memiliki tujuan lagi saat Bapak pergi," lanjut Wildan dengan suaranya yang lirih.
"Sekarang pasang sabuk pengaman. Dan persiapkan aktingmu. . .Wilnona," sahut Angel menghidupkan mesin mobilnya. Nilla tersenyum di kursi belakang mengamati dua orang yang duduk di kursi depan. Bagi Nilla, tingkah Angel dan Wildan bagai tokoh komik Vegeta dan Bulma. Sering berselisih tapi ada kepedulian dan mungkin saja perasaan sayang.
Mobil yang dikemudikan Angel melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota yang padat dan bising. Suara klakson bersahut-sahutan di tengah jam padat orang-orang berangkat ke tempat kerja.
Saat mobil mencapai sebuah tikungan di perbatasan wilayah kota, nampak beberapa petugas kepolisian sedang menggelar razia kendaraan. Tak mungkin untuk putar balik karena malah akan terasa mencurigakan, Angel memperlambat laju mobilnya. Wildan terlihat mulai panik. Keringat dingin menetes di keningnya. Melunturkan bedak yang sedikit terlalu tebal.
"Gimana nih?" tanya Wildan menggeser posisi duduknya.
"Tenanglah. Anggap saja ini ujian untuk aktingmu," sahut Angel menenangkan.
"Selamat siang Mbak," ucap petugas kepolisian dengan sopan setelah kaca mobil diturunkan.
"Siang Bapak," balas Angel sambil tersenyum. Nilla ikut tersenyum, sedangkan Wildan diam mematung tak menoleh.
"Mohon maaf mengganggu perjalanan. Bisa tunjukkan surat-suratnya?" tanya petugas polisi berbadan tegap itu.
Angel menyodorkan STNK mobil juga Surat Ijin Mengemudi terbaru miliknya. Petugas polisi segera memeriksa surat-surat tersebut, sambil sesekali melihat plat nomor, juga melirik orang-orang yang ada di dalam mobil hitam itu.
"Maaf Mbak. Apakah teman Njenengan sedang sakit? Kok kelihatan pucat?" tanya petugas kepolisian menunjuk Wildan yang diam mematung.
__ADS_1
"Ah, tidak Pak. Dia lagi PMS," sahut Nilla asal-asalan.
"Ohh. Baiklah. Silahkan lanjutkan perjalanan dan selalu hati-hati serta waspada," ucap petugas kepolisian dengan senyum ramah.
Angel mengangguk, kemudian segera menginjak pedal gas. Mobil kembali melaju, kini dengan kecepatan yang lebih tinggi.
"Sial! Wajah tegangmu malah mencurigakan guobl*k!" umpat Angel kesal.
"Huhh, sorry sorry. Kupikir mereka akan mengenaliku." Wildan menghela nafas.
"Tenanglah, hasil make up ku di wajahmu itu nyaris sempurna. Kamu harus rileks Wildan. Juga lebih sering menunduk, untuk menutupi jakunmu," sambung Nilla sambil tersenyum.
"Di tempat Ki Sarno nanti kamu harus bisa menghilangkan grogi mu." Angel menasehati. Wildan hanya mengangguk.
Mobil hitam milik Angel kini melewati jalanan desa yang terbuat dari semen. Sepanjang jalan nampak pepohonan jati berdaun hijau karena sedang musim penghujan. Saat kemarau, pemandangan tentunya akan terlihat berbeda. Pohon jati akan meranggas, menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan. Bagai kayu mati, berdiri tinggi dan kokoh tanpa lembaran daun di dahannya yang kering.
Setelah beberapa belokan, dan sedikit tanjakan, mobil akhirnya menepi di depan sebuah rumah bergaya joglo dengan ukiran-ukiran yang menawan. Terparkir beberapa mobil mewah di garasinya. Selain itu, ada pula belasan motor di halaman depan rumah, sepertinya mereka calon pasien sang dukun yang tengah mengantre.
Di halaman depan rumah terpasang plakat besar bertuliskan Ki Sarno Legowo. Juga sebuah tulisan aksara jawa yang tidak mampu dibaca oleh Angel, ataupun Nilla. Sedangkan Wildan nampak tak peduli, sibuk memainkan jari tangannya yang terasa dingin.
Angel mengamati rumah yang berdiri megah di area tanah desa penuh pohon jati itu. Tepat di samping pintu depan dengan ukiran yang indah meliuk-liuk, berdiri gagah dua orang centeng berpakaian serba hitam dengan ikat kepala batik yang seragam. Mereka mengedarkan pandangan pada setiap orang yang datang berkunjung ke tempat majikannya itu.
"Kita harus menunggu hingga semua pasiennya pulang. Kita akan jadi pasien yang terakhir," ucap Angel. Nilla mengangguk setuju. Wildan masih saja menghela nafas dengan sorot mata yang tertekan.
__ADS_1
Bersambung___