12 Badoet

12 Badoet
Sewidak Wolu


__ADS_3

Pagi datang bersama mentari yang membuat embun di dedaunan menguap. Sinar hangatnya menembus celah kecil di antara deretan rumah yang berhimpitan. Udara segar dan murni tanpa asap kendaraan berhembus sejuk. Membelai orang-orang yang masih enggan keluar dari selimutnya.


Wildan terbangun dalam kondisi yang lebih fit dari semalam. Kakinya masih terasa sakit, namun sudah bisa digerakkan. Di sebelahnya nampak Nilla masih tertidur pulas dalam posisi tengkurap. Perempuan itu ketiduran semalam saat menunggui Wildan yang masih terbaring lemah. Sementara televisi dibiarkan menyala menyiarkan berita lokal pagi hari.


Perlahan Wildan menyingkap selimut di kakinya. Meski sedikit sulit Wildan akhirnya mampu berdiri. Sakit dan ngilu masih terasa di betis yang terbalut perban. Luka bekas tembakan panah si gil* Suryono masih belum mengering sepenuhnya.


Wildan melangkah ke ruang depan. Cara berjalannya terlihat pincang, sesekali tangan kanan Wildan meraih dinding untuk pegangan. Dia memeriksa ke dalam kamar. Sunyi, dan gelap, tidak ada siapapun disana. Orang yang Wildan cari nyatanya belum juga kembali. Angel belum pulang ke rumah.


"Dia belum pulang," ucap Nilla tiba-tiba. Dia sudah bangun, dan membetulkan letak kacamata di hidungnya.


"Aku menunggunya hingga jam 3 pagi tadi. Angel seolah menghilang, tidak ada kabar beritanya," lanjut Nilla dengan tatapan nanar. Nampak jelas kekhawatiran di bola mata yang tersembunyi di balik lensa berbahan kaca tebal.


"Bagaimana kalau kita coba ke rumah orang yang kamu panggil Abang? Sangat mungkin Angel pergi kesana bukan?" Wildan memberi usul.


Nilla menghela nafas. Dia menggeleng perlahan.


"Hanya Angel yang tahu rumah Abang," ujar Nilla.


"Hah? Bagaimana bisa?" Wildan terbelalak kaget.


"Hanya Angel yang memiliki hubungan darah dengan Abang. Sedangkan aku sebenarnya tidak memiliki ikatan apapun dengannya," sahut Nilla cepat. Tatapan matanya nampak mengawang jauh.


"Jelaskan padaku Nilla. Jangan membuatku bingung. Tadi malam kamu mengatakan kalau dirimu dan Angel bersaudara beda Ibu. Kini kamu mengatakan Angel bersaudara dengan orang yang kamu sebut Abang. Sementara kamu tidak. Apa maksudnya itu?" Wildan terlihat kesal.

__ADS_1


Nilla menghela nafas. Dia hendak membuka mulutnya, saat terdengar suara televisi menyiarkan sekilas informasi. Suara televisi terdengar jelas dan nyaring di tengah kesunyian. Perempuan bernama Ika dilaporkan menghilang subuh tadi selepas pulang beribadah. Saksi mata melihat Ika dibekap dan dimasukkan ke dalam mobil box berwarna hitam tanpa plat nomor. Hingga kini pihak keluarga masih kebingungan mencari perempuan cantik yang tengah dalam proses perceraian itu.


"Ika?" Wildan mendadak berlari ke ruang televisi. Dia menghiraukan rasa sakit di kakinya. Matanya yang bulat bergetar kala melihat di layar televisi nampak foto Ika dipajang dan diberitakan hilang diculik.


"Siapa?" tanya Nilla penasaran.


"Ika, mantanku. Brengsek! Ini bukan kebetulan. Pasti dia diculik oleh orang-orang yang berkaitan dengan para Badut," ujar Wildan sembari memukul dinding.


"Tenanglah Wil. Belum tentu juga kan hal itu berhubungan dengan para Badut. Siapa yang tahu kalau dia itu mantanmu? Terlalu maksa jika kamu mengaitkannya dengan para Badut," sanggah Nilla.


"Kamu nggak ngerti Nilla. Semua orang di tempat tinggalku tahu kalau Ika adalah mantanku. Aku itu tidak memiliki siapapun lagi selepas kematian Bapak. Jadi saat ada orang yang mencari tahu tentangku, hanya Ika lah satu-satunya target yang dianggap mengenal dan dekat denganku," ucap Wildan menjelaskan.


"Aku akan coba menghubungi nomor handphone nya," lanjut Wildan dengan mata berapi-api.


"Apa kamu sudah gila?" Nilla melotot.


Telepon tersambung. Suara serak seorang laki-laki terdengar. Wildan tercekat beberapa saat lamanya, bingung hendak berbicara apa.


"Kami hanya mencari orang yang bernama Wildan. Jadi jika kamu bukan orang yang dimaksud, atau bahkan anggota kepolisian yang hendak melacak lokasi perempuan bernama Ika yang saat ini sedang bersama kami, bisa kami pastikan itu sia-sia saja. Bawa Wildan pada kami, dan Ika akan kami lepaskan!" ucap laki-laki bersuara serak mengancam.


"Aku yang kalian cari. Aku Wildan!" jawab Wildan tegas.


"Hey!" Nilla membentak dan melotot. Wildan meletakkan telunjuk di bibir, meminta Nilla untuk diam.

__ADS_1


"Katakan kemana aku harus pergi. Dan kupastikan aku akan datang sendiri," ucap Wildan berani.


Tak berselang lama, panggilan diakhiri. Wildan telah mencatat sebuah alamat. Nilla menatapnya dengan ekspresi sedih menahan tangis.


"Apa yang mau kamu lakukan Wil?" tanya Nilla dengan suara bergetar.


"Aku akan datang ke alamat ini Nilla," jawab Wildan penuh keyakinan.


"Kamu terluka. Bisa apa kamu kesana? Kamu tidak tahu siapa lawanmu!" cegah Nilla meraih lengan Wildan dan mencengkeramnya erat.


"Entahlah, aku pun tidak punya rencana Nil. Tapi, sejujurnya aku lelah menjadi laki-laki pengecut yang hanya terus berlari. Kali ini aku ingin datang pada lawan bukan untuk menyerah tapi menunjukkan jika aku masih punya harga diri dan layak disebut jantan." Wildan tersenyum masam.


"Dia hanya mantan Wildan. Biarkan polisi yang bekerja. Kita memiliki urusan yang lebih penting," bujuk Nilla sekali lagi.


"Karena dia mantanku itu lah maka aku harus menolongnya Nil. Dia adalah perempuan baik yang sialnya pernah bersama laki-laki sepertiku. Bahkan saat hubungan kami berakhir pun dia tertimpa kemalangan gara-gara aku. Dia tidak ada hubungannya dengan para Badut atau apapun tentang hidupku namun dia harus menjadi umpan agar aku keluar dari persembunyian. Ini tanggungjawab ku Nilla. Seandainya aku menyerahkan diri dari awal, semua ini tidak mungkin terjadi." Wildan terlihat kekeuh dengan pendapatnya.


Nilla terdiam kini. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Semua orang terdekatnya pergi satu persatu. Nilla selalu takut kala tiba masanya dimana semua orang meninggalkannya.


"Terimakasih Nilla. Jaga dirimu. Jika Angel kembali, katakan padanya untuk menghentikan setiap upaya untuk mencari para Badut. Hiduplah dengan tenang, lupakan dendam masa lalu. Aku pergi dulu," ucap Wildan berpamitan. Laki-laki itu menyempatkan diri memeluk Nilla dengan erat. Kemudian melangkah keluar rumah dengan kaki pincangnya. Tak berselang lama, suara motor matic meraung pergi menjauh meninggalkan Nilla yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


"Nilla ayo berpikir, apa yang harus kamu lakukan?" gumam Nilla dengan tangan bersedekap. Kaki kanannya menghentak-hentak lantai cukup kuat.


Selama ini Nilla membantu Angel untuk mencari para Badut, agar Angel terlepas dari masa lalu yang menjeratnya. Nilla hanya ingin Angel bisa menikmati hidupnya. Namun pada akhirnya dia sadar, tidak ada kebahagiaan dalam dendam. Di ujung dendam hanya ada perasaan hampa. Seperti halnya Nilla kini, yang kehilangan orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Nilla teringat sesuatu. Dia mengambil dompet di dalam kamar dan berlari kesetanan keluar rumah. Dia tidak peduli lagi dengan dandanannya yang acak-acakan baru bangun dari tidur. Nilla menuju ke pangkalan ojek yang terletak di seberang gang rumahnya.


Bersambung___


__ADS_2