12 Badoet

12 Badoet
Telungpuluh Nem


__ADS_3

Tepat jam 8 malam, antrean pasien Ki Sarno berakhir sudah. Para centeng yang seharian penuh berdiri dan berjaga di depan pintu, nampak kelelahan. Begitupun Angel, Nilla dan Wildan. Wajah mereka berminyak dan berantakan. Lelah, letih, dan jenuh tergambar jelas di sorot mata mereka. Memang benar, hal yang paling melelahkan di dunia ini adalah menunggu.


Nilla dengan cekatan mengambil kotak make up dan kembali memperbaiki dandanan Wildan yang terlanjur semrawut. Tak lupa parfum impor disemprotkan untuk mengurangi aroma asam kecut dari keringat dan daki yang terkumpul. Setelah penampilannya terlihat lebih baik, barulah Wildan keluar dari mobil. Sesekali dia berdehem untuk melemaskan tenggorokannya agar tak keluar suara laki-laki yang serak dan nge bass.


"Gimana? Udah siap?" tanya Angel saat memperhatikan Wildan yang beberapa kali menghela nafas.


"Oke," ucap Wildan dengan suara kecil melengking. Dia menggerakkan jarinya dengan lentik.


"Eh, tunggu sebentar!" cegah Angel saat Wildan hendak melangkah.


"Apa lagi?" gerutu Wildan kesal. Suara laki-lakinya kembali keluar.


"Spons di dada kananmu melorot guobl*k!" bentak Angel setengah tertawa. Wildan buru-buru membetulkan posisi spons di dadanya.


Udara malam cukup dingin. Langit hitam tak berbintang kali ini, meski tak ada mendung dan sepertinya tidak ada tanda-tanda akan hujan. Namun tetap saja kegelapan merayap menambah aura menyeramkan kala memperhatikan rumah sang dukun yang sudah kondang kawentar itu.


Para centeng yang hendak masuk ke dalam rumah terlihat menghela nafas kala melihat kedatangan Wildan dan Angel. Sepertinya centeng-centeng itu ingin segera beristirahat, karena menduga sudah tidak ada lagi pasien yang datang.


"Maaf Nona-nona, ini sudah terlampau larut. Silahkan kembali kesini besok pagi," ucap laki-laki berkepala plontos.


"Ini baru jam 8 malam Bapak. Ayoklah, ijinkan kami bertemu dengan Ki Sarno. Lihat, temanku kena guna-guna, badannya gemetar terus sedari tadi. Bahkan dia sempat kejang dan meracau tidak jelas," sela Angel. Dia memeluk Wildan yang tengah berpura-pura menggigil. Wildan sangat erat mendekap Angel, menyandarkan kepalanya di dada perempuan galak itu.


"Aku khawatir kalau tidak segera mendapat pertolongan, jiwa temanku dalam bahaya. Kumohon," ucap Angel mengiba. Dua centeng Ki Sarno bertukar pandang dalam diam, kemudian keduanya mengangguk bersamaan.


Pintu depan dibuka, Wildan dan Angel dipersilahkan masuk. Wildan masih tetap mendekap Angel dengan erat.


"Apakah Nona butuh bantuan untuk membopongnya?" tanya centeng berkepala plontos, mencoba bersikap ramah.


"Jangan sentuh aku! Singkirkan tangan kotormu!" bentak Wildan dengan suara yang melengking. Centeng Ki Sarno langsung terdiam, dan mundur beberapa langkah.

__ADS_1


Akhirnya Wildan dan Angel masuk ke dalam rumah Ki Sarno. Mereka langsung disambut oleh lorong sempit dengan lukisan-lukisan abstrak berwarna gelap yang menyeramkan. Di ujung lorong terdapat sebuah lukisan bergambar buto dengan gigi sebesar kepalan tangan. Matanya yang buat seolah mengawasi Wildan dan Angel yang melangkah perlahan. Wildan semakin erat merangkul Angel, membenamkan kepalanya di pelukan perempuan berambut sebahu itu.


"Heh sial*n! Kamu sedang berakting atau curi-curi kesempatan? Hah?" Angel berbisik dan mendengus kesal.


"Apaan sih?" goda Wildan cekikikan dengan suara yang dibuat-buat manja dan melengking.


"Jangan ngelunjak ya! Dari tadi kamu nempel-nempel padaku." Angel mengacungkan tangannya yang terkepal pada Wildan.


"Aku takut, aku kan cewek lemah lembut," sahut Wildan, semakin centil dan manja.


Wajah Angel memerah. Hampir saja dia lepas kendali dan meluncurkan sebuah bogem mentah pada Wildan. Tiba-tiba saja pintu kayu di ujung lorong tepat di bawah lukisan buto terbuka dari dalam. Seorang laki-laki berambut gondrong nampak menyambut kedatangan Wildan dan Angel.


"Darimana mereka tahu ada tamu yang datang?" bisik Angel penasaran.


"Pasti di salah satu lukisan ada kamera cctv. Makanya aku terus kekeuh berakting seperti ini Ngel," jawab Wildan sambil berbisik. Angel memicingkan matanya, mendengus kesal.


"Langsung saja masuk ke dalam kamar Nona," ucap salah satu laki-laki menunjuk sebuah pintu kayu yang penuh ukiran bergambar gunungan.


Angel pun menurut. Sembari menyeret Wildan yang pura-pura gemetar hebat dia mendorong pintu yang ditunjuk dan masuk ke dalam ruangan tempat ritual sang dukun. Ruangan bercat putih bersih dengan sebuah karpet berwarna merah maroon terhampar di lantai.


Tepat di tengah ruangan, duduk bersila kakek-kakek renta dengan senyumnya yang menakutkan. Wajah penuh bulu, kumis dan jenggot yang berwarna kuning kemerahan. Persis seperti rambut jagung. Jari jemari kakek itu nampak penuh dengan cincin bermata batu akik. Dia menghadap meja kecil dengan sebuah gulungan berwarna putih lusuh di atasnya.


"Silahkan duduk, Nona," ucap Ki Sarno ramah.


Angel dan Wildan menurut. Mereka duduk sambil terus mengedarkan pandangan, memindai setiap detil dari ruangan itu.


"Ada perlu apa datang kemari?" tanya Ki Sarno. Matanya bergantian memandangi Angel dan Wildan.


"Ini Mbah, teman saya . . ." Angel hendak menjelaskan, namun Ki Sarno tiba-tiba meletakkan telunjuknya di bibir. Angel pun terdiam. Dia mulai takut, paranormal itu bisa menebak maksud dan tujuan kedatangannya.

__ADS_1


"Jangan panggil Mbah. Itu pantangan. Panggil saja Ki Sarno, atau Mamas Sarno juga boleh," ucap Ki Sarno sambil tersenyum. Angel melongo dibuatnya.


"Heerrrrrrrr heerrrrr herrrr," tiba-tiba saja Wildan menggeram. Matanya ke atas dengan tangan yang semakin erat menggenggam Angel.


"Waahh, sepertinya teman Nona bermasalah. Mungkin ada yang mengganggunya," ucap Ki Sarno manggut-manggut.


Angel kini bingung. Dia merasa sulit membedakan apakah Wildan tengah berakting, atau jangan-jangan laki-laki itu benar kesurupan.


"Coba Nona, baringkan teman Njenengan," perintah Ki Sarno panik. Dia segera berdiri dan mendekati Wildan yang kini semakin bergerak liar. Menggeliat-geliat seperti cacing terkena air garam.


Ki Sarno membantu Angel membaringkan Wildan. Setelah itu, dia komat kamit membaca mantra dan menekan jempol kaki Wildan. Pada saat itulah Ki Sarno menyadari kaki Wildan yang penuh dengan bulu. Belum sempat reda rasa terkejutnya, Angel sudah mengalungkan sebuah pisau lipat di leher Ki Sarno.


"Apa-apaan ini?" bentak Ki Sarno.


"Jangan berteriak atau kupastikan dukun gadungan sepertimu akan kehilangan kepalanya," ancam Angel sambil menyeringai lebar.


Wildan pun bangun. Dan mengambil sebuah tali yang tadi dia sumpalkan dalam spons yang tertempel di dadanya. Dengan cekatan Wildan mengikat Ki Sarno.


"Apakah kalian hendak merampokku? Sudahlah, kalau kalian butuh uang, ambil saja di laci meja itu. Hasil praktekku seharian," ucap Ki Sarno berusaha tenang.


"Merampok? Untuk apa merampok rumah mantan perampok?" Angel tersenyum sinis.


Mendengar ucapan Angel, Ki Sarno nampak syok. Bola matanya membulat dan bergetar.


"Siapa kalian sebenarnya?"


Bersambung___


__ADS_1


__ADS_2