
Sepasang tangan mendekat, mengendap-endap tanpa suara. Dalam cahaya lampu yang temaram, tangan-tangan itu terlihat hendak mencengkeram leher di atas sebuah kasur lantai lusuh. Hanya tinggal beberapa senti saja, tangan itu akan menyentuh kulit leher yang terbuka. Namun secara tiba-tiba gerakannya terhenti.
Angel menarik kedua tangannya yang gemetar. Dia berjongkok, memandangi Wildan yang masih terlelap dalam tidurnya. Sorot mata Angel nampak gelisah. Ada pergulatan dalam batin perempuan dengan rambut sebahu yang kali ini dikuncir kuda itu.
"Kamu seharusnya tidak boleh tidur dengan wajah seolah tak tahu apa-apa seperti ini, seolah tak ada beban di hidupmu. Dasar sialan! Bukankah kamu seharusnya ikut bertanggungjawab atas hancurnya kehidupanku?" gumam Angel lirih. Suaranya nyaris tak terdengar, hanya bibirnya saja yang nampak bergerak-gerak.
Jam di dinding berdetak dengan suaranya yang seakan bergema. Pagi yang terasa sunyi. Bahkan di perumahan pusat kota pun, jam 5 pagi menjadi waktu ter malas bagi setiap insan untuk keluar dari tempat tidurnya. Udara dingin membuat siapapun memilih bersembunyi di balik selimutnya.
"Eheemm!" tiba-tiba terdengar suara seseorang berdehem.
Nilla berdiri bersedekap di belakang Angel. Rambutnya terlihat acak-acakan. Mata nampak segaris tanpa kacamata tebalnya. Gadis itu tersenyum jahil, nampak imut dan menggemaskan. Angel tersentak kaget dengan kedatangan Nilla yang tiba-tiba.
"Masih pagi lho ini." Nilla geleng-geleng kepala.
"Apanya?" tanya Angel sedikit membentak.
"Yah, masak pagi-pagi sudah menatap laki-laki dengan penuh hasrat kayak gitu," ledek Nilla.
Wildan perlahan membuka mata. Perdebatan dua perempuan itu mengusik tidurnya. Wildan mengusap-usap mata yang masih berat untuk terbuka sepenuhnya. Dia sedikit terkejut kala menyadari, Angel berjongkok di hadapannya.
"Ada apa ini?" tanya Wildan setelah menguap lebar.
"Angel sepertinya hendak menerkammu Wildan. Rawwrrrr," ucap Nilla sambil menggerakkan kedua telapak tangannya seolah mencakar angin.
"Lambemu sempal! Aku hanya mau membangunkannya. Pagi ini kita harus berkeliling mencari si tato kalajengking." Angel bersungut-sungut.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu. Nilla segera nyuci sana! Dalemanmu di bak cucian numpuk. Apa nggak khawatir dilihat laki-laki setengah tua ini? Hah?" Angel memicingkan matanya ke arah Wildan.
"Iya deh iya. Tapi kalau aku nyuci, yang masak siapa? Kita butuh energi yang cukup untuk hari ini. Ingat, logistik dulu baru logika. Tanpa logistik, logika nggak bakal jalan lhoh." Nilla berkacak pinggang.
Wildan diam memperhatikan polah tingkah dua perempuan di hadapannya. Ada sedikit rasa terkejut dalam hati. Di awal pertemuan, Nilla terasa kaku, acuh, bahkan tak mau berjabat tangan. Nyatanya dia adalah gadis yang ceria, dan auranya terasa positif. Sedangkan Angel, hingga kini terasa misterius, seolah ada sesuatu yang dipendam dan disembunyikan.
"Emm, bagaimana kalau aku saja yang masak?" usul Wildan setelah terdiam beberapa saat.
"Hah? Emang bisa?" tanya Nilla.
"Di rumah biasanya yang nyiapin makan aku. Kan Bapakku sudah tua," jawab Wildan.
"Ohh, si Badut nomor 2 ya," sambung Nilla cepat. Ekspresinya terlihat berubah. Dia berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Wildan menelan ludah. Dia menyadari, bagaimanapun Nilla tetap menyimpan dendam pada Pak Umar, Bapak Wildan. Meski orangnya sudah tidak ada lagi di dunia, bahkan kemat*annya pun dengan cara yang menyedihkan, namun perasaan tak terima dan sakit hati itu masih ada.
"Baik," sahut Wildan lirih, sembari menghela nafas pelan.
Angel berdiri dan berjalan pergi. Wildan sempat mengamati punggung gadis itu. Langkah kakinya begitu senyap, nyaris tak terdengar. Cara berjalannya melenggak lenggok, nampak anggun dengan tubuh yang proporsional.
"Astaga. Apa yang kupikirkan." Wildan menepuk-nepuk pipinya sendiri. Tersadar dirinya terhipnotis tubuh langsing perempuan misterius itu. Mata lelaki memang susah untuk dikendalikan. Meski otak sedang banyak beban pikiran, nyatanya netra selalu menemukan hal-hal indah untuk dikagumi.
Tak mau berlama-lama melamun, apalagi hari masih pagi, Wildan segera menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan cekatan dia melipat kain tebal itu, dan menumpuknya di sudut kasur lantai. Sesekali Wildan meraba alisnya yang terbelah. Dia belum terbiasa dengan penampilan baru yang membuatnya merasa aneh.
...----------------...
__ADS_1
Jam setengah 7 pagi, nasi goreng dan telur dadar tersaji di meja makan. Ada aroma harum dari makanan yang masih hangat itu. Tiga cangkir kopi juga mengepulkan asap tipis. Bau kopi semerbak membuat mata yang masih menyisakan sedikit kantuk terbuka lebar.
"Waahh, kelihatannya enak," ucap Nilla bertepuk tangan manja. Kali ini perempuan berkacamata tebal itu mengenakan kaos oversize berwarna biru langit, dengan celana jeans yang agak longgar. Sedangkan rambutnya dibiarkan tergerai.
"Don't judge a book by its cover. Jangan terlalu antusias dengan apa yang terlihat. Daripada ujung-ujungnya nanti kamu kecewa," sahut Angel sinis. Angel mengenakan kaos ketat warna putih dan celana berwarna hitam. Rambutnya yang tak seberapa panjang juga dibiarkan tergerai. Bibirnya terlihat merah muda natural tanpa goresan lipstik yang berlebihan.
"Kupikir awalnya ada banyak bahan masakan, nyatanya di dapur hanya ada nasi, telur, daun bawang. Bahkan bumbu pun tak lengkap. Untung masih ada kecap asin, yang bisa menambah aroma nasi goreng lebih harum. Kalian nggak pernah masak ya?" gerutu Wildan sedikit kesal. Dia mengenakan kaos hitam polos dan celana jeans selutut. Terlihat cocok dengan penampilannya kini. Rambut silver, anting magnet di telinga kiri, serta goresan yang membelah alis kanannya semakin menambah kesan liar.
"Kita nggak pernah masak. Lapar ya beli," jawab Angel enteng.
"Ngomong-ngomong kalian dapat uang darimana? Apa yang kalian kerjakan?" tanya Wildan penasaran. Angel dan Nilla bertukar pandang.
"Sudah-sudah, jangan gunakan meja makan untuk ngobrol. Katanya wong sepuh jaman dulu 'ra ilok', nggak baik. Makan yookk," sahut Nilla mengalihkan pembicaraan, sembari menuangkan nasi goreng ke piringnya.
Angel juga menuang nasi, meniru apa yang Nilla lakukan. Namun dia terlihat mengambil nasi dengan porsi yang lebih sedikit dibanding Nilla. Bukan karena diet, Angel tak yakin dengan rasa masakan Wildan.
Sedikit ragu, Angel menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulut mungilnya. Dia mengecapnya sesaat. Dan akhirnya menyadari, nasi goreng buatan Wildan terasa gurih, manis, dan asin yang lengkap.
"Waahh, bagaimana bisa seenak ini? Rasanya seperti nasi goreng buatan abang-abang depan gang," pekik Nilla kagum.
"Aku menghaluskan bawang putih dan direndam dalam minyak goreng beberapa menit. Baru kunyalakan api kompor. Dengan pengapian yang kecil, setelah aroma harumnya keluar baru kumasukkan bumbu yang lain," terang Wildan bangga. Baru kali ini masakannya ada yang memuji.
"Sudahlah, kita segera selesaikan makannya. Ingat, tujuan kita bersama-sama di tempat ini bukan untuk bermain rumah-rumahan. Kita harus mencari para Badut. Dan setelah semua ini selesai, kita bisa menjalani hidup masing-masing dengan tenang. Kita hanyalah orang asing yang dipertemukan oleh takdir kelam dari masa lalu," ucap Angel penuh penekanan.
Pada akhirnya semua terdiam. Masakan yang awalnya terasa gurih dan sedap, kini hambar di indera pengecap.
__ADS_1
Bersambung___