
Sebuah mobil SUV berwarna hitam melaju di jalanan berlumpur di tengah rindangnya pepohonan bambu. Angga duduk di kursi kemudi, berkonsentrasi pada jalan yang tidak rata. Angel berada di kursi belakang menjaga Pak Burhan yang tergolek tak berdaya. Hanya mata tuanya saja yang mampu bergerak mengawasi sekitar, tangan dan kaki masih mati rasa.
"Jika kamu membohongi kami, lihat saja, disisa hidupmu kupastikan penuh derita," ancam Angga. Matanya nyalang menatap Pak Burhan melalui kaca tengah kabin mobil.
Mobil yang dikemudikan Angga keluar dari jalanan pedesaan. Melewati jalur poros kecamatan yang terasa lebih halus. Mobil tak lagi berguncang, terasa nyaman. Angga pun menambah kecepatan. Dadanya berdegup lebih kencang. Bagaimanapun ada banyak tanya di benaknya, ada kerinduan yang dalam pada Sang Bunda.
"Kalau benar Ibu ada di alamat yang kamu katakan, maka selama ini aku berjarak sangat dekat dengannya. Sialan! Sebuah permainan hidup yang tidak lucu!" Angga nampak emosional. Dia mencengkeram roda kemudi dengan erat.
Angel hanya diam saja tak menyahut. Pikirannya mengawang jauh. Dia merasa lega, sebentar lagi tujuan Abangnya bakal tercapai. Namun, Angel pun bimbang. Hidupnya selama ini hanya untuk membantu Sang Kakak. Lalu setelah tujuan tercapai, apa yang harus Angel lakukan? Tiba-tiba bayangan wajah Wildan terlintas di benaknya.
"Ah, kenapa harus si gobl*k itu sih?" gumam Angel kesal.
"Apa Ngel?" tanya Angga penasaran. Dia mendengar adiknya meracau tak jelas.
"Ah, bukan hal penting," sahut Angel singkat. Dia sedikit tergagap dengan wajah merah padam. Angga mengacuhkannya, dan terus memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Tanpa disadari, ada mobil lain yang tengah membuntuti.
Lima belas menit berlalu. Mobil yang dikendarai Angga sudah masuk di wilayah pusat kota. Jalanan cukup padat, sehingga Angga memperlambat laju kendaraannya. Melewati alun-alun dan berbelok ke arah kantor kepolisian. Dan akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana tepat di belakang kantor kepolisian.
Rumah ber cat hijau muda, dengan pohon mangga manalagi di halaman depan. Sebuah mobil terparkir di bawah pohon. Di teras depan nampak banner lusuh bertuliskan 'Warung Sego Pecel Mak Sulastri'. Namun sepertinya hari ini warung itu tidak beroperasi. Suasana nampak lengang dari luar.
"Ini rumahnya Bang?" tanya Angel ragu-ragu.
"Dia mengganti identitasnya dengan nama Sulastri. Sulastri adalah Bu Melati, Ibu kalian," sahut Pak Burhan meyakinkan. Angga memukul dasboard mobil. Dia merasa kesal.
"Sialan! Jika kamu berkata yang sebenarnya, itu berarti selama ini Ibu sangat dekat denganku, dengan tempat kerjaku," ujar Angga dengan suaranya yang bergetar.
__ADS_1
"Aku kemarin, sebelum datang ke kantor pun sempat mampir kesini," sambung Pak Burhan.
"Ayo kita menemui Ibu Ngel," ucap Angga.
"Bagaimana dengannya?" Angel menunjuk Pak Burhan.
"Biarkan saja dia menunggu disini," jawab Angga acuh. Angel mengangguk dan membuka pintu mobil lebih dulu.
Angga dan Angel berjalan beriringan memasuki halaman rumah yang rindang dan sejuk itu. Saat sampai di teras tepat di depan pintu masuk, mereka melihat dua laki-laki sepuh di ruang tamu yang nampak asyik bercengkerama. Melihat kedatangan Angga dan Angel, dua kakek tua itu bertukar pandang dalam diam. Ekspresi mereka terlihat aneh.
Pada saat itu dari dalam rumah, muncul perempuan tua yang sedang membawa nampan berisi dua cangkir kopi. Angga dan perempuan tua beradu pandang dalam diam. Bola mata renta itu terlihat bergetar sesaat.
"Maaf, warungnya hari ini tutup," ucap perempuan tua dengan senyum yang nampak dipaksakan.
"Jangan pura-pura tidak mengenalku brengsek!" Angga membentak. Angel diam saja.
"Hey kenapa berteriak pada orangtua?" Laki-laki sepuh berbadan gemuk yang duduk di kursi ruang tamu menyahut.
"Diam! Aku tidak ada urusan dengan para jompo sepertimu. Atau, tunggu . . .jangan-jangan kalian adalah Badut nomor 9 dan 10?"
Tebakan Angga memang tepat. Dua kakek yang tengah duduk bersantai itu adalah Jumani dan Nuryanto. Mendengar pertanyaan Angga, Jumani nampak gelisah. Wajahnya berubah pucat pasi.
"Apa kamu yang sudah menghabisi para Badut? Jangan bertindak bodoh. Tempat ini sangat dekat dengan kantor polisi. Kalau kalian bertindak nekat, membahayakan kami, kupastikan kamu akan meringkuk di tahanan!" ancam Nuryanto. Dia terlihat lebih bernyali dibanding Jumani.
"Bukan dia Nur. Dia adalah petugas kepolisian," sahut perempuan tua meletakkan nampan di tangannya ke atas meja.
__ADS_1
"Jadi, Ibu tahu kalau aku menjadi petugas kepolisian?" Angga melotot tak percaya.
"Kalian masuklah. Kita bicara di depan tv saja. Emm, apakah gadis cantik ini Angel?" perempuan tua tersenyum ramah.
Angel diam membisu. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Kalau dari perkataan Angga, Angel yakin perempuan yang sekarang ada di hadapannya itu adalah Bu Melati, Ibunya. Tapi Angel memang belum pernah bertemu. Sejak bayi dia dirawat oleh Bu Seruni, Bunda nya Nilla. Jadi, Angel tidak merasa memiliki ikatan apapun. Perempuan tua itu terasa asing baginya.
"Apa maksudnya Lastri?" tanya Nuryanto tidak mengerti yang sedang terjadi.
"Mereka berdua adalah putra putriku Nur. Angga, bocah 5 tahun yang tertidur pulas di kamarnya, saat kamu mengangkat brankas dari kamar Sumiran. Serta Angel yang baru beberapa bulan lahir dari rahimku, namun harus kutitipkan pada Mbak Seruni saat rencana perampokan itu disusun," jawab perempuan tua yang sering disebut Mak Lastri itu.
Nuryanto mengatupkan mulutnya. Dia tidak bisa berkata-kata mendengar penjelasan Mak Lastri.
"Ayuk, masuklah. Sepertinya banyak hal yang ingin kalian tanyakan," ajak Mak Lastri kalem. Dia berjalan ke ruang tengah. Angga dan Angel menyusul.
Kini mereka bertiga duduk berhadap-hadapan di kursi rotan depan tv. Sebuah meja bulat berbahan kayu jati yang dipelitur cokelat tua berada di tengah. Di atas meja ada satu toples kacang goreng yang nampak besar-besar.
Mak Lastri duduk bersedekap menatap dua orang yang ada di hadapannya. Perempuan itu terlihat anggun di usianya yang sudah renta. Kecantikannya tidak luntur meski sedikit tertutup kerutan dan keriput di dahi.
"Sekarang namaku Lastri. Penjual pecel di belakang kantor kepolisian itulah pekerjaanku. Hidupku sederhana, tapi memang kehidupan yang seperti inilah keinginanku sejak dulu," ucap Mak Lastri memulai percakapan.
"Sialan! Padahal kita sedekat ini tapi aku tidak pernah menyadarinya. Bahkan saat jam-jam istirahat, beberapa teman seringkali bercerita tentang tempat ini. Nasi pecel murah dan enak katanya. Ternyata penjualnya adalah orang yang belasan tahun kucari." Angga menggebrak meja.
"Sekarang jawab aku Ibu atau kupanggil saja Mak Lastri, jelaskan padaku kenapa kamu membuangku? Membuang Angel, membuang kami! Hah? Kenapa?!" Angga terlihat sangat emosional.
Bersambung___
__ADS_1